Category Archives: Umum

Mutiara Hari Minggu : Persaudaraan Yang Rukun

Katanya Hari Minggu adalah hari istirahat. Namun tidak demikian dengan hari Minggu kemarin 9 Juni 2013.  Hari itu saya harus menghadiri setidaknya 3 acara dimana waktunya hampir bersamaan. Kegiatan hari Minggu kemarin tentunya diawali dengan menghadiri Ibadah Minggu di Pos Pelayanan GPIB Pancaran Kasih Depok Gereja Mahanaim Cilodong. Ibadah Minggu di lingkungan Divisi Infanteri I Kostrad Cilodong sesekali kedatangan entah itu para prajurit yang sedang mengikuti latihan atau karyawan dari sebuah perusahaan yang sedang membekali karyawan mereka dengan pembetukan karakter kebangsaan. Khusus hari Minggu kemarin Jemaat yang hadir patut berbahagia sebab saat itu mereka diberikan kekuatan melalui pujian seorang prajurit US ARMY dengan pakaian loreng lengkap melantunkan sebuh lagu “He Knows my Name”. Ia bukan sekedar prajurit tapi beliau ternyata juga seorang Pendeta yang bertugas di ketentaraan Amerika Serikat. Mr. Esteguero yang berasal dari Hawaii pada pagi hari itu datang dengan membopong sebuah gitar ditemani seorang prajurit wanita. Keduanya bersama beberapa prajurit US ARMY lainnya berkesempatan turut dalam ibadah Minggu di Mahanaim. Mereka sedang mempersiapkan diri dalam pasukan perdamaian PBB ke Lebanon. Usai ibadah jemaat langsung menghampiri para prajurit US ARMY untuk bersalaman dan ada juga yang mengajak berfoto.

Selepas ibadah Minggu sayapun kembali kerumah. Saat itu, saya masih terlintas berpikir pasti ada hikmat yang ingin Tuhan berikan dengan 3 kegiatan atau acara hari ini. Saya pergi ke daerah Halim Perdanakusuma tapi bukan untuk melihat jenasah Alm Bapak Taufik Kiemas yah. Saya ke Halim untuk menghadiri acara pernikahan anak seorang rekan pensiunan Indosat. Saat tiba di sebuah gedung di dalam pangkalan TNI AU saya langsung menuju ke dalam ruangan. Still sok yakin saya kemudian mengisi buku tamu dan seorang penerima tamu memberikan sovenir. Sebuah hal menggelikan terjadi manakala saya berada dalam ruang serba guna itu tak ada sama sekali seorangpun saya kenal. Ternyata saya salah masuk. Seharusnya saya menghadiri pernikahan Mas Adji eh saya malah datang ke pesta Mas Yuli. Terang saja saya kemudian bergegas menuju pintu keluar sambil pura-pura ke toilet dahulu supaya gak malu-maluin banget. Pada waktu diluar sang Juru Parkir bertanya kenapa cepat pulang pak, saya pun menjawab sambil tersipu malu. Akhirnya saya diberitahu arah gedung yang seharusnya saya datangi. Tak jauh dari gedung pertama, sampai dimuka pintu dekat penerima tamu, seorang pensiunan sudah menyapa, nah ini baru deh benar.
Setelah berchit chat dengan Bapak/Ibu pensiunan Indosat dan tentunya menikmati jamuan pesta saya balik kanan menuju ke acara berikutnya. Kali ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu lebih padahal acara kedua sesuai jadwal seharusnya mulai pukul 12.00 WIB. Daripada tidak hadir pada acara Ibadah bulanan Ikatan Persekutuan Maluku Kota Depok yang sudah sekian lama tak saya ikuti, saya pun mengarahkan diri menuju ke perumahan Jatijajar. Eh tahunya pas tiba disana ibadah belum dimulai. Ketua Persekutuan Bung Hong pun meminta saya untuk menjadi Diaken Bertugas. Jadilah saya mengikuti Ibadah Bulanan yang merupakan acara kedua pada hari Minggu itu. Dan disinilah saya baru mendapatkan “Mutiara” dari ke-3 kegiatan yang jatuh pada hari yang sama. Tuhan menaruh Berkat Rohani melalui bacaan siang itu dari Mazmur 133 yakni tentang Persaudaraan Yang Rukun.

Sesudah Ibadah saya pulang ke rumah sebentar untuk kemudian sekitar pukul 4 sore kembali bepergian menuju Meruyung Depok. Kali ini menghadiri acara Syukur Pembaptisan seorang anggota keluarga saudara saya. Acaranya sebenarnya diadakan pukul 10.00 namun biarlah yang penting hadir daripada tidak sama sekali. Meski panas terik masih menyengat bersama anak istri saya meluncur ke sana.

Dari ketiga kegiatan ditambah perjumpaan saya dengan para prajurit Amerika saat ibadah Minggu semuanya ternyata berbicara mengenai Persaudaraan. Ibadah Minggu, Pesta Pernikahan, Ibadah Bulanan Persekutuan Maluku dan Acara Syukur Pembaptisan semua bermuara kepada perwujudan Persaudaraan diantara saya dengan saudara dan teman. Persaudaraan yang tumbuh untuk saling mendoakan satu dengan lainnya. Sepertinya semua pengikatnya adalah Kasih. Kalau bukan karena Kasih buat apa saya panas terik keliling dari Barat ke Timur kemudian ke Selatan. Terima Kasih atas Kasih yang Kau ajarkan sehingga saya dapat menemukan Mutiara pada hari Minggu itu.

Kiranya apa yang difirmankanNya pasti akan digenapiNya. Terima kasih untuk Persaudaraan Yang Rukun sampai saat ini. Kata pemazmur seperti embun gunung Hermon yang turun keatas gunung-gunung Sion. Sebab kesanalah Tuhan memerintahkan Berkat sampai selama-lamanya. Amin

Iklan

Ingot Martangiang : Mangulosi Boru

Indonesia itu kaya. Tak hanya kaya akan sumber daya alam namun juga budaya. Salah satu budaya yang hingga kini masih dipertahankan yang sering saya saksikan adalah seni budaya ketika pernikahan. Adat Betawi misalnya, ketika rombongan pengantin pria masuk diawali oleh bunyi petasan kemudian dihadang pengawal pengantin wanita, terjadilah “Perkelahian” antara pendekar rombongan pria dengan pengawal pengantin wanita. Saat itu percakapan antara pendekar dilakukan dengan cara berbalas pantun. Drama singkat dibumbui “perkelahian” itu merupakan prosesi pengantin menuju pelaminan dalam adat betawi. Hari ini Sabtu 1 Juni 2013 tepat pada hari jadinya Pancasila yang adalah Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya kembali untuk kesekian kali menyaksikan sebuah acara pernikahan adat Suku Batak. Kali ini di Gedung Pertemuan yang baru pertama kali saya kunjungi yakni “Sima” Kranggan Cibubur. Dari rentetan acara Pesta Pernikahan Batak yang panjang dan melelahkan ada sebuah momen yang paling saya tunggu. Bukan saat menerima amplop putih berisi sejumlah uang yang dimaknai sebagai uang lelah namun ketika orang tua atau keluarga pengantin wanita “melepas” kepergian anak gadis yang mereka kasihi. Momen seperti itu sangat saya nantikan. Kata-kata nasihat yang disampaikan kepada kedua mempelai oleh orang tua atau keluarga yang membuat suasana saat itu haru. Sebab sebelum rombongan keluarga mempelai wanita berdiri dihadapan sepasang pengantin lagu pengantar seperti Boru Nabasa yang penuh makna telah dinyanyikan dengan penuh perasaan oleh team musik pesta pernikahan. Saat inilah orang tua penganten wanita akan membekali untuk “terakhir” kali anak gadisnya yang dipinang pria pilihannya. Seperti kemarin semua yang mengelilingi anak borunya tak kuasa menahan haru. Air mata pun menetes dipipi orang tua pengantin tak terkecuali keluarga terdekat yang menyaksikan. Bekal nasihat akan ditutup dengan pemberian Ulos Pengantin dan Ulos Hela sebagai lambang cinta kasih orang tua terhadap kedua pengantin. Lagu yang mengantarkan seorang anak gadis mengarungi bahtera rumah tangga dengan lelaki pujaannya menambah haru biru suasana ketika pemberian kedua ulos dilakukan. Peluk cium dalam tangisan mewarnai pengalungan Ulos Pengantin dan Ulos Hela (Ulos Hela ini berupa Sarung). Lirik lagu yang penuh makna terus mengalir hingga selesai pemberian kedua Ulos. “Marsiamin aminan Marsianju-anjuan Da Inang Dohot Hela Ki…” Yang artinya kira-kira “Saling menyanyangi dan mengasihilah diantara kalian berdua”. Dan satu kalimat yang saya paling suka selain itu dan selalu diulang saat pemberian ulos dilantunkan adalah “Ingot Martangiang” yang artinya “Berdoalah senantiasa, ingatlah selalu”. Saya ingin lagi menyaksikan pesta pernikahan dengan Budaya lain yang dimiliki Indonesia yang maha kaya. Ayo siapa yang undang saya diluar adat-adat cerita diatas termasuk adat Kisar Maluku Selatan Daya kampung halaman saya sendiri.

Selamat Buat Golda dan Forkas ! Marsiamin-aminan dan marsianju-anjuan serta Ingot Martangiang ya Tuhan Memberkati !

Gedung Pertemuan Sima
Kranggan Cibubur
Sabtu 1 Juni 2013 Pkl 18.20 WIB

Ini Dia Cara Mengurus ROYA

Selepas menyelesaikan urusan dengan sebuah Bank Swasta di daerah Bintaro pada bulan Oktober 2012 lalu, saya diberitahukan oleh petugas Bank tersebut untuk mengurus Roya di kantor Pertanahan terdekat. Roya ? Apa lagi nih dalam hati ketika disebutkan kata itu. Jujur, itu adalah satu istilah yang sama sekali baru saya ketahui selama hidup 40 tahun lebih didunia ini. Seingat saya dulu pada waktu mengambil rumah dengan kreditur sebuah Bank Swasta tidak ada disinggung-singgung terkait Roya kok sekarang saat Sertifikat sudah ditangan malah ada Roya-Royaan segala. Untung saja ada mesin pencari yang tersedia saat ini sehingga memudahkan perolehan informasi yang di butuhkan. Melalui blog seseorang saya setidaknya memperoleh sedikit gambaran apa dan bagaimana mengurus Roya. Satu hal yang menimbulkan perbedaan terkait biaya yang dibutuhkan guna pengurusannya. Ada yang mengatakan biayanya diatas 500 ribu hingga 1,2 juta rupiah, ada juga yang menulis pengalamannya mengeluarkan biaya dibawah 150 ribu. Rupanya perihal biaya ini sangat bergantung kepada siapa yang mengurus. Biaya akan sangat lebih besar bila pengurusan Roya diserahkan kepada pihak lain/dikuasakan. Akan tetapi biaya akan sangat lebih kecil/sesuai ketentuan peraturan yang berlaku apabila pengurusan Roya dilakukan sendiri.

Mengacu kepada informasi tersebut saya pun berinisiatif untuk mencoba mengurus sendiri saja. Yah hitung-hitung cari pengalaman berurusan dengan aparat pemerintahan. Mudah-mudahan tidak mengecewakan lagi seperti waktu mengurus Akta Kelahiran anak beberapa bulan lalu.

Berikut langkah-langkah pengurusan Roya berdasarkan pengalaman mengurus sendiri pada hari Rabu 2 Januari 2013 :

1. Sebelum mengurus terkait pertanahan, pastikan setidaknya kita sudah mengetahui apa yang hendak kita urus melalui pelbagai sumber informasi yang tersedia di alam semesta.
2. Datang ke kantor Pertanahan setempat sesuai dengan alamat sertifikat.
3. Di kantor Pertanahan kita cari Koperasi Pegawai untuk membeli Map Pengurusan Roya (di Koperasi tersedia juga Map untuk urusan pertanahan lainnya)
4. Di dalam Map Permohonan Roya warna Orange tersedia ;
– 1 lembar Sampul Warkah/Roya warna kuning
– 1 lembar Surat Permohonan yang biasa disebut Lampiran 13.
5. Kemudian Sampul Warkah diisi oleh kita sesuai dengan KTP dan data yang tersedia di sertifikat, sekaligus juga Surat Permohonan atau Lampiran 13 diisi sesuai KTP dan lingkarilah No. 10 sebagai pilihan yang isinya Roya atas Hak Tanggungan.
6.Masukkanlah Dokumen yang dibutuhkan sesuai persyaratan yang tercetak di Map Permohonan Roya (Kota Depok warna Orange) yaitu ;
– Surat Permohonan (petugas Koperasi menyebutkan Lampiran 13)
– Asli Sertifikat Tanah
– Asli Sertifikat Hak Tanggungan
– 1 Lembar Foto Kopi KTP
– Surat Permohonan Roya dari Bank/Kreditur (diberikan oleh Bank saat pelunasan)
– Surat perubahan nama bila ada pergantian nama institusi kreditur (bila ada akan diberikan oleh Bank saat pelunasan)
7. Bawalah semua dokumen seperti tertulis di nomor 6 diatas ke Kantor Pertanahan setempat.
8. Serahkan dokumen Roya yang sudah kita siapkan ke Loket Pelayanan Pendaftaran Roya setelah sebelumnya mengambil Tiket Antrean Pengurusan di depan Pintu Masuk (kita menekan/pilih tombol sesuai urusan yang akan dilakukan).
9. Setelah menunggu beberapa waktu, petugas akan memanggil dan meminta kita untuk ;
– Mengisi Formulir Sampul Warkah/Balik Nama (Warna Hijau) untuk diisi (cara pengisian sama seperti pengisian Sampul Warkah/Roya).
– Petugas memberikan 1 dokumen perubahan nama Institusi Kreditur (bila ada) untuk difoto kopi oleh pemohon dan selanjutnya akan dimasukkan dalam Map Permohonan Roya pemohon.
10. Formulir Sampul Warkah/Balik Nama (warna hijau) yang telah diisi dan dokumen perubahan nama kreditur (bila ada) yang sudah difoto kopi diserahkan kembali ke Loket Pengurusan Roya.
11. Setelah menunggu beberapa saat petugas akan memanggil lagi untuk menerima Surat Perintah Setor dan meminta kita menyelesaikan pembayarannya di kasir (di Depok berada dalam satu ruangan).
12. Bila sudah lunas, Kasir akan memberikan Bukti Setor atau Kwitansi 2 lembar (bentuknya seperti Purchase Order). 1 Lembar Warna Merah dan 1 Lembar Warna Putih.
13. Selanjutnya Pemohon menyerahkan Surat Perintah Setor dan Bukti Setor/Kwitansi warna Putih dan Merah kepada petugas di loket Roya.
14. Petugas Loket Roya akan memanggil lagi dan memberikan ;
– Surat Perintah Setor warna putih
– Bukti Setor/Kwitansi warna putih
– Tanda Terima Penyerahan Dokumen warna putih
15. Petugas Loket Roya memberikan informasi bahwa dalam waktu 1 minggu sertifikat dapat diambil di Loket Pengambilan dengan membawa Tanda Terima Dokumen yang Asli.

Itulah tata urut pengurusan Roya atas Hak Tanggungan, saya jadi lebih paham bagaimana mengurus Roya yang sesungguhnya termasuk Biaya yang dibutuhkan untuk pengurusannya. Tadinya saya pikir akan memakan biaya lebih dari 500 ribu ternyata cukup dengan biaya Rp. 118.000 (seratus delapan belas ribu) saja. Itupun sudah termasuk biaya parkir.

Adapun rincian biaya yang saya keluarkan adalah sebagai berikut :

– Membeli Map Permohonan Roya di Koperasi Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah)
– Membayar Kegiatan Pelayanan Pemeliharaan Data Pendaftaran Tanah 2 unit @ Rp. 50.000,- = Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah)
– Biaya Foto Kopi Dokumen Perubahan Nama Kreditur (bila memang ada) Rp. 6000 (enam ribu rupiah)
– Biaya Parkir Rp. 2000 (dua ribu rupiah)

So, tidak perlu ragu lagi siapa saja yang akan mengurus Roya. Lebih baik mengurus sendiri dari pada diurus pihak lain. Biayanya lebih murah, mudah dan dengan waktu pengurusan tidak lebih dari 1 jam sudah termasuk menunggu antrian foto kopi. Paling tidak itu yang saya alami ketika mengurus Roya tersebut. Apakah libur tahun baru juga mempengaruhi antrean menunggu, saya tidak tahu persis. Akan tetapi begitulah syarat dan waktu yang dibutuhkan untuk mengurus Roya atas Hak Tanggungan.

Semoga ketikan ini bermanfaat bagi orang lain yang ingin mengurus Roya paling tidak dapat mempertimbangkan untung ruginya bila ingin memberikan pengurusan ini kepada pihak lain yang tentunya akan memakan biaya yang lebih besar.

Selamat Tahun Baru 2013, Kesehatan dan Kesuksesan kiranya diberikan oleh Allah Yang Maha Kasih !

E-KTP : 3 Jam Tunggu, 5 Menit Selesai

Setelah mendengar ceritera pengalaman beberapa teman yang sudah memenuhi pemanggilan pemotretan guna pembuatan E-KTP akhirnya kesempatan itu datang juga buat saya. Tepat 14 tahun hari Kejatuhan rezim Orde Baru pada hari Senin 21 Mei 2012 panggilan pemotretan buat saya dan istri diterima dari Kelurahan. Saya pun datang ke kantor Kelurahan yang tidak terlalu jauh dari rumah bersama istri dan anak pada pukul 08.00 pagi. Tampak dari pintu masuk Kelurahan kerumunan puluhan orang terlihat di depan pintu samping. Usai memarkirkan sepeda motor dan menyapa beberapa tetangga, saya pun menyerahkan undangan kepada seorang petugas berseragam PNS. Tumpukan kertas undangan terlihat di meja sebelah kiri petugas. Beberapa orang yang sedari tadi hadir melakukan konfirmasi ulang kepada petugas itu. Mereka memprotes kenapa memperoleh nomor yang besar padahal menurut pengakuannya sudah meletakkan undangan sejak pukul 04.00 subuh. Saya tak mempedulikan hal itu dan langsung menyerahkan kepada seorang petugas lain yang duduk bersebelahan.

Selang beberapa waktu, saya mulai mendekat ke meja pendaftaran. Alih-alih mengecek mana tahu surat undangan saya terselip. Lewat 5 surat panggilan terbaca nama saya pada surat undangan. Syukurlah akhirnya saya memperoleh nomor urut 55. Babak pertama penantian sudah selesai. Selanjutnya memasuki Babak Kedua yakni menanti pemanggilan menuju ruang foto. Setelah menanyakan kepada seorang tetangga yang sudah selesai melakukan pemotretan rupanya saya mesti pulang dulu sebab lupa tidak membawa Kartu Keluarga yang mesti ditunjukkan saat pengambilan foto.

Akhirnya setelah menunggu 3 jam, nama saya pun dipanggil oleh petugas pendaftaran. Waktu itu jam tangan saya menunjukkan angka 11.10 WIB. Setelah menyerahkan surat panggilan selanjutnya dilakukan pengechekan administrasi seperti nama lengkap, alamat dan tempat tanggal lahir. Lantas petugas meminta saya untuk membubuhkan tanda tangan pada mesin elektronik yang disediakan. Sepertinya semacam konfirmasi.

Pemotretan dilakukan dengan latar belakang kain merah disesuaikan dengan tahun kelahiran, apakah ganjil atau genap. Setelah itu petugas meminta saya untuk meletakkan 4 jari tangan kiri dan tangan bergantian. Dilanjutkan dengan ibu jari atau jempol tangan kiri dan kanan dan tak lupa telunjuk kiri dan kanan juga diambil datanya pada mesin yang tersedia diatas meja kayu persis di sisi kanan komputer.

Setelah itu petugas mengambil sebuah alat yang bentuknya seperti kekeran, saya diminta menatap alat tersebut untuk direkam retina matanya.

Tak habis waktu sepuluh menit pemotretan diakhiri dengan pengechekan data nama lengkap sekali lagi yang ditutup dengan tanda tangan pada mesin elektronik.

Luar biasa, menunggu antrean saat pengurusan e-KTP ternyata memakan waktu cukup lama. Meskipun sesungguhnya hal itu masih dapat dipercepat apabila petugas kelurahan bertindak lebih smart dan mencari tehnik atau cara baru. Mengapa mesti menuliskan kembali nama warga saat daftar ulang di meja pendaftaran. Hal tersebut seharusnya cukup dengan memberikan nomor kepada warga sehingga ketika pemanggilan dilakukan tidak terjadi nama warga yang tak dapat dibaca oleh rekan petugas kelurahan yang bertugas di pintu pemotretan.

Selain itu saat pemanggilan nama warga petugas kelurahan juga sebaiknya menggunakan alat pengeras suara jadi tidak mengandalkan suaranya sendiri sebab pada siang hari itu aktifitas di kantor kelurahan cukup ramai sehingga acap kali warga tak mendengar manakala namanya dipanggil.

Oh Kelurahan Kelurahan dari dulu kini dan selamanya sepertinya akan tetap sama.

Change Your Words, Change Your World

Sehari sesudah Perayaan Paskah pada tahun 2012 ini sebuah video motivasi yang saya tonton melalui sebuah website rohani menyentuh hati. Ceritera yang diangkat dalam film pendek berdurasi kurang dari 5 menit ini membuat saya semakin mempercayai bahwa kekuatan sebuah kalimat dalam kehidupan akan mengambil peran yang cukup buat mengubah sesuatu. Pakailah kalimat positif dari pikiran positif agar memberikan dampak positif pula. Tak hanya apa yang ditulis bahkan yang diucapkan juga mesti membawa energi positif dalam penggunaannya. The Power of words dapat menjadikan kita kuat bila tepat penggunaannya.

Seorang pengemis tua di sebuah kota duduk bersila dibawah anak tangga sebuah gedung. Duduk di tengah lalu lalangnya masyarakat kota. Sisi sebelah kiri pengemis buta ini menulis sebuah kalimat pada karton bekas warna coklat. Kalimatnya berbunyi ”I’m blind, please help”. Karton coklat berisi tulisan itu didirikan di sebelah kanannya. Banyak orang yang merasa kasihan pada lelaki tua itu lantas menghampiri dan meletakkan uang koin ke dalam sebuah kaleng bekas yang dijadikan tempat menerima uang pengasihan warga kota. Beberapa lelaki atau perempuan yang melewati dirinya tak kuasa menahan rasa iba kemudian memberikan sebuah uang koin dari kantong atau saku mereka dan dilemparkan ke alas duduk yang dipakai pengemis tua itu. Tiba giliran seorang wanita muda melintas didepan lelaki tua ini. Tak seperti orang lain yang mengeluarkan koin mereka, wanita berkaca mata hitam dengan sepatu hak tinggi ini malah berbalik badan dan menghampiri pengemis tua. Wanita muda dengan tas di tangan kanan ini kemudian mengambil kardus bekas warna coklat yang tertulis “I am blind please help”. Di balikkannya kardus bekas ini kemudian dengan spidol warna hitam ia menuliskan sebuah kalimat lain yang lebih berdaya. Setelah menulis dan meletakkan kardus itu kembali, wanita dengan sepatu high heels warna hijau keabuan yang diraba oleh pengemis tua itupun pergi meninggalkannya.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah setiap orang yang lalu lalang dihadapan pengemis tua itu baik pria ataupun wanita semua memberikan koin mereka kepadanya. Tidak hanya cuma sebuah koin bahkan lebih dari satu sehingga kaleng kosong milik pria pengemis itu semakin banyak isinya. Pengemis tua itupun memperoleh banyak uang koin dari orang yang lalu lalang dipusat kota tempat dia duduk mengais rejekinya.

Hari menjelang sore, wanita muda yang pagi tadi membantu menuliskan kalimat baru itu lewat lagi dan berhenti sambil berjongkok dihadapannya sama seperti saat perempuan itu menuliskan kalimat baru dikardus coklat. Pria pengemis tua itu pun mengenalinya melalui sepatu high heels yang dirabanya pagi tadi.

Sebuah perubahan yang dialami oleh pengemis tua itu rupanya terjadi karena wanita muda berkaca mata hitam itu mengganti tulisan pada kardus coklat ”I am blind please help” menjadi kalimat yang terbaca ”It’s a beautiful day and I can’t see it !”.

Perubahan penulisan kalimat itu menjadi sebuah kunci kekuatan yang luar biasa sehingga membuat banyak orang seolah tersentuh nurani mereka dan memberikan banyak koin kepada pengemis tua itu. Mari ubah kalimat-kalimat negatif menjadi positif. Kalimat positif keluar dari pikiran-pikiran positif.

Change your words, Change your world !

Sebuah Pelajaran Dari Nyekar

Hari ke-28 pada bulan Desember 2011 saya mengantarkan ibu terkasih mengunjungi makam salah seorang adiknya di TPU Pondok Rangon. Almarhum adik ibu saya dulunya seorang Pelaut. Dia meninggal tahun 2004 karena sakit dalam usia 70 tahun. Saya sempat menanyakan ke mama apakah masih menyimpan Surat Pemakaman dari TPU Pondok Rangon. Namun sayang sekali surat yang dimaksud ternyata entah sudah terselip dimana. Bermodalkan ingatan yang terbatas saya memberanikan diri mencari lokasi makamnya. Setibanya dipintu gerbang langsung menuju sisi bagian kiri TPU Pondok Rangon dekat tanggul bahagian belakang. Yang paling saya ingat di dekat makam paman juga dimakamkan seorang ibu teman gereja mama saat di Cijantung tempo dulu. Setelah mondar mandir kedepan ke belakang tak ada lagi tanda-tanda dari makam. Petugas jaga berulang kali ingin membantu namun saya masih ingin berusaha lebih dulu. Selain tidak ada lagi tanda salib berisi nama almarhum, tanggal lahir dan tanggal wafatnya juga tidak dijumpai gundukan makam seperti layaknya sebuah kuburan. Dari pada salah tabur bunga saya memutuskan untuk menanyakan hal ini ke kantor pengelola. Awalnya disana malah ditanya macam-macam. Mulai dari kapan meninggal, siapa yang bertanggung jawab dan lain-lain. Padahal saya hanya membutuhkan lokasi tepatnya makam paman saya itu. Setelah mengingat-ingat seraya mengatakan bulan dan tahun meninggal seorang petugas langsung mencari di data mereka. Akhirnya ditemukanlah Blok dimana almarhum Oom Atu dimakamkan. Tepat dugaan saya ketika balik lagi ke tempat yang tadi saya datangi sudah benar seperti ingatan saya. Bladnya sudah tepat yakni di Blad 113 akan tetapi saya tetap saja tak dapat menemukannya selain karena makamnya memang sudah ditumbuhi rumput liar. Rupanya salah satu makam yang berada di sebelah kiri makam oom, pihak keluarga salah menuliskan nomor urut. Seharusnya nomor urut makamnya 96 tetapi malah dicetak di nisan nomor 97 yang nota bene merupakan nomor urut milik oom saya. Jadilah saya ragu kembali dan sayapun pergi lagi bersama seorang penjaga makam yang sedari tadi membantu agar mengantar ke kantor pengelola bertemu petugas yang tadi memberikan informasi. Sayapun meminta ibu untuk tetap dimobil dahulu sementara saya mencari informasi. Dalam perjalanan diatas sepeda motornya penjaga kubur memberitahukan kepada saya katanya Bapak sebaiknya menanyakan siapa saja yang dimakamkan disebelah kiri dan kanan serta atas dan bawah. Informasi yang saya peroleh dari tukang jaga makam ini sangat berharga sekali. Saya pun mencatat nama-nama orang yang berada dikiri kanan dan atas bawah makam oom atu. Setelah mantab lansung saja saya bersama penjaga kubur mulai mengecek satu persatu dan akhirnya diyakini dengan benar ada kesalahan dalam pembuatan nomor dinisan “tetangga“sebelah kiri makam almarhum oom Atu. Sebab dari catatan yang tersedia di Log Book kantor pengelola jelas tertulis nomor makam almarhum oom Atu adalah 97. Setelah yakin barulah acara tabur bunga dimakam paman dilakukan oleh kami semua termasuk mama yang dengan tertatih turun dari mobil menuju makam adiknya.

Wah rupanya rada susah juga ya jika kita punya keluarga yang sudah meninggal kemudian surat-surat kematiannya terselip atau hilang. Pelajaran yang dapat dipetik dalam kunjungan ke TPU Pondok Rangon adalah perlunya menyimpan surat sewa tanah dengan baik. Kedua bila makam keluarga belum ada batu nisan, tanda salib pastikan kita menanyakan kepada petugas pengelola TPU siapa saja di sebelah kiri kanan atas bawah makam keluarga. Tentunya paling tidak kita mengetahui minimal bulan dan tahun meninggalnya sehingga tidak didapat kesulitan saat pencarian di Log Book.

Setiap peristiwa atau kegiatan yang kita lakukan pasti akan menghasilkan pelajaran berharga seperti yang saya dapatkan disini.

12 Menit Uji Nyali @ Suramadu

Ajakan seorang sobat kental pada hari Jumat 21 Oktober 2011 membuat saya tak dapat menolak. Dia mengajak saya kembali ke Jembatan Suramadu padahal malam sebelumnya saya sudah berkunjung kesana bersama teman-teman satu Divisi. Kali ini dia ingin membawa saya dengan sepeda motor.

Perjalanan dengan kendaraan roda 2 ditengah panasnya cuaca kota Surabaya di sore hari pun diawali dengan menjemput saya disalah satu rumah makan di bilangan Jalan Kartini.

Dalam perjalanan tantangan lain ditawarkan oleh sobat saya itu. Ia menyampaikan bagaimana bila saat kembali saya yang membawa motor. Siapa takut boleh saja sahut saya sesaat sebelum memasuki gerbang tol.

Perjalanan kali ini dengan jelas terlihat hamparan air laut dikiri kanan jembatan. Angin semilir menyapu air laut membuat riakan kecil ombak bergulung menuju pesisir. Beberapa buah sampan milik nelayan yang sedang mencari ikan menambah indahnya suasana sore hari itu. Setibanya pada jarak 2,5 KM sesuatu lain mulai saya rasakan. Ada rasa cemas mendekati takut. Sampai-sampai pandangan pun saya alihkan kearah depan saja. Sesekali mata tak kuat memandang ke kiri atau kanan jembatan. Entah berapa menit waktu dibutuhkan saat menuju ke Pulau Madura, tak sempat melihat jam di tangan kanan saya. Namun hati ini bergetar disela-sela kesenangan yang diraih. Persis di dekat baliho ucapan selamat datang di Madura dengan foto Bupati, saya pun mengambil beberapa foto dengan latar belakang jembatan Suramadu. Kemudian menghabiskan sore sejenak dengan mampir di salah satu ”Angkringan” untuk menikmati Rujak Cingur, Tahu dan makanan lain termasuk membeli beberapa asesoris untuk kenang-kenangan. Soal harga yah relatif lah. Paling tidak bisa dijadikan buah tangan meskipun kualitasnya tak terlalu menjanjikan.

Tepat pukul lima sore sobat saya mengajak kembali ke Surabaya. Inilah saatnya saya diberi kesempatan membawa motor menuju ujung jembatan Suramadu di tanah Jawa. Sehabis membayar tol sebesar tiga ribu rupiah, saatnya melaju menyeberangi jarak 5 km diatas Selat Madura.

Awalnya biasa saja akan tetapi saat memasuki persis di area tengah Jembatan barulah kecemasan meningkat. Betapa tidak angin kencang menyapu motor yang saya kendarai dari arah kiri dan depan. Kencang sekali. Sampai-sampai helm yang dipakaipun kerap terangkat ke arah belakang. Kali ini selain angin kencang menyambut dibawah jembatan terlihat air pasang menggulung menjadi gelombang cukup besar. Situasi itu menambah meningkatnya adrenalin dalam tubuh saya. Rasanya berbeda sekali saat dibonceng apalagi jika dibandingkan dengan menumpang kendaraan roda empat malam sebelumnya. Sesuatu berbeda terasa pada waktu angin kencang menghantam motor. Luar biasa ! Meskipun penyeberangan hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit akan tetapi benar-benar cukup membuat dag dig dug jantung ini. Perasaan seperti itu dirasakan saat persis berada ditengah-tengah Jembatan Suramadu. Konsentrasi dan nyali yang cukup kuat rupanya dibutuhkan saat menyeberang dengan kendaraan roda 2. Sekali lagi jika dibandingkan antara saat mengendarai mobil, dibonceng dan bawa motor sendiri saya akan pilih menumpang mobil saja. Namun bila memang ingin mencari sensasi mengendarai motor pastinya akan lebih mengeluarkan adrenalin. Apabila disetarakan dengan kegiatan lain, menurut saya menyeberang Suramadu dengan motor itu sama dengan kegiatan High Rope dalam sebuah Outbound. Pengalaman membawa motor di Suramadu di sore hari sepertinya sebanding dengan games Two Line Bridge di ketinggian 5 meter keatas atau juga games Elvis dan Burma Bridge. Perlu mental yang kuat untuk menjalankan kegiatan itu. Keduanya sama-sama menguji nyali para penikmatnya.

Penyeberangan sore hari saat angin kencang sudah mulai menyapu sisi jembatan berakhir selama 12 menit. Mulai dari gerbang tol di tanah Madura sampai sisi kanan gerbang tol tanah Jawa membutuhkan keberanian ekstra. Bagi siapapun yang memiliki rasa takut ketinggian sebaiknya berpikir ulang bila menyeberang dengan sepeda motor saat air pasang. Pengalaman selama 12 menit buat saya cukup untuk menguji nyali. Angin kencang diudara dan riak gelombang dibawah jembatan Suramadu adalah sebuah pengalaman tersendiri. 12 menit uji nyali membawa saya kembali ke Kota Pahlawan yang kini luar biasa memiliki suhu udara yang panas.

Terima Kasih Jembatan Suramadu dirimu sudah membuat nyali saya naik tingkat lagi. Suatu hari nantikan saya kembali menyeberangi Jembatan Suramadu. 12 Menit menguji nyali menjadi catatan tersendiri bagi saya dalam perjalanan kali ini.

Eh Mereka Datang Lagi : Mereka Pikir Masuk Surga

Sepulangnya tugas dari pelayanan Ibadah Minggu di Gereja Mahanaim kabar tak mengenakan kembali terdengar. Sebuah running text pada salah satu stasiun televisi swasta mengusik canda saya dengan anak. Kali ini Kota Solo yang menjadi target mereka. Bom kembali meledak di salah satu Gereja disana pada hari Minggu 25 September 2011 pukul 10.55. Meskipun termasuk jenis low eksplosive namun pastinya peristiwa tersebut memakan korban tak kurang dari 22 orang terluka. Niat untuk membunuh jemaat yang hadir pada ibadah tersebut memang sengaja direncanakan. Hal tersebut terbukti dengan campuran bahan baku Bom yang berisi paku dan skrup. Untungnya peristiwa itu hanya menimbulkan satu orang korban tewas, diduga pelaku sendiri. Kasihan deh Loe !

Teror bom yang kembali terjadi ini seolah mengingatkan para pengurus gereja untuk lebih memperhatikan lagi jemaatnya. Artinya mengenal wajah anggota jemaat akan sangat membantu mengenali ciri-ciri pengebom. Anak-anak Tuhan harus lebih mengamati lagi orang-orang yang tak dikenal yang lalu lalang dilingkungan gereja tanpa alasan yang jelas. Penampilan seseorang yang sedikit berbeda dengan jemaat mesti diwaspadai apalagi sampai memakai rompi. Memang tidak selamanya pembom sepereti itu namun paling tidak modusnya pernah diketahui.

Mereka yang mencoba melakukan teror ini sepertinya sedang latihan atau training. Paska kematian 2 orang pakar pembuat Bom kini kelompok yang sama atau lain sedang berusaha mendidik, mengorbitkan penerus perjuangan mereka. Itu terbukti dengan bom yang meledak belum sedahsyat yang pernah dibuat kedua ahli bom yang sudah almarhum terkena timah panas.

Selaku pengurus gereja mesti secara aktif bahu membahu dengan anggota jemaat mencegah kejadian ini terulang kembali di gereja lain di Indonesia paling tidak di gereja kita sendiri. Kelompok apapun namanya mereka masih akan terus melakukan teror bom ini. Kerja sama yang kokoh antar pengurus dan jemaat merupakan pilar utama dalam membantu tugas aparat keamanan mencegah terulangnya peristiwa sejenis.

Pada sisi lainnya Tuhan Yesus mengajarkan kita tidak untuk mendendam. Pembalasan adalah milik Tuhan. Kasih itu sabar oleh karena itu tetaplah kita mendoakan siapapun mereka yang sudah melakukan atau yang sedang merencanakan. Kiranya Roh Kudus bekerja atas mereka sehingga kelompok itu membatalkan niatnya. Bahkan dengan mendoakan mereka siapa tahu akan banyak ditangkap Allah menjadi Paulus Paulus lain yang akan lahir.

Kiranya Tuhan Yesus Kristus menguatkan kita dalam menghadapi akhir zaman. DIA sudah menubuatkan dimana anak-anak Tuhan akan mengalami banyak penganiayaan.

Mereka akan kerap datang dan pergi namun percayalah tak ada satupun kuasa yang melebihi kuasa anak domba. Tiada kekuatan apapun diatas dan dibawah bumi ini yang mampu mengalahkan kekuatan Allah yang Maha Kuasa.

Gedung Gereja bisa saja tidak. memperoleh ijin pembangunan. Rumah Tuhan dapat saja dirubuhkan dengan segala macam cara. Namun Gereja yang satu itu akan tetap senantiasa ada dimana-mana dan kapan saja. Si Iblis memang memakai para pembom itu memuluskan tujuannya dengan alih-alih pelakunya akan masuk sorga. Iblis berusaha menghentikan segala pujian hormat serta kemuliaan yang diangkat dengan cara melakukan Bom itu lagi dan lagi. Padahal Pujian dan Penyembahan takkan pernah surut sampai Tuhan datang kembali menjemput anak-anak yang dikasihiNya meski mereka si pembom selalu datang dan pergi.

Rasa Itu Masih Ada

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku Kobarkan semangatmu, Tunjukkan sportivitasmu,
kuyakin hari ini pasti menang. Siapa bilang rakyat Indonesia sudah tak memiliki rasa Nasionalisme lagi ?. Sepenggal lirik diatas rasanya setidaknya mampu menggeser tudingan itu. Apabila masih ada yang memiliki pendapat seperti itu, sekali tempo datanglah ke Gelora Bung Karno(GBK). Saksikan pertandingan sepak bola saat Kesebelasan Indonesia tampil di lapangan hijau. Ketika berada di dalam Stadion megah yang dibangun saat Indonesia menjadi tuan rumah Pesta olah raga Asia itulah semua yang hadir dapat melihat, merasakan bagaimana tingginya semangat patriotisme rakyat Indonesia. Penonton yang hadir disana tidak peduli yang duduk di Tribun atas, VVIP atau VIP Barat Timur semua bersatu padu mendukung kesebelasannya.

Bulu kuduk ditangan serta merta berdiri ketika Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Semangat menggelora bukan hanya terdengar namun juga terlihat jelas dengan aksi-aksi yang dilakukan penonton. Tanpa memerlukan seorang Dirijen seluruh penonton langsung tancap gas angkat suara. Tak ada komando dari siapapun namun penonton sambil berdiri menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman itu dengan lantang. Bahkan bisa jadi malam itu mereka “baru“ menyanyikan lagi lagu kebangsaan.

Gerakan-gerakan indah senantiasa dilakukan serempak dari bangku penonton. Disamping itu lagu-lagu penyemangat juga dilantunkan memecah langit diatas Gelora Senayan. Dan sekali lagi semua dilakukan tanpa komando dari siapapun.

Semangat, kekompakan yang ditunjukkan sayangnya tak jarang dinodai oleh segelintir orang namun itu bukan penghalang. Pihak keamanan seharusnya lebih mampu mencegah terjadinya pelemparan petasan dan kembang api saat pertandingan Indonesia versus Bahrain. Seandainya pengamanan diselenggarakan dengan kualitas sama persis dengan Piala Asia rasanya tak mungkin terjadi kejadian tersebut.

Kembali ke semangat yang menggelora. Siapapun yang hadir pada malam pertandingan Internasional kesebelasan Indonesia mestinya sepakat bahwa Indonesia itu masih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Rakyat tetap mempunyai rasa itu.

Hanya kesebelasan Indonesia saja yang mampu meski sesaat menaikkan tensi nasionalisme dalam sanubari rakyat. Menyaksikan pertandingan sepak bola di Senayan masih menyisakan rasa kebanggan menjadi bagian bangsa ini usai lelah mendengar pola tingkah korup para petinggi negeri yang silih ganti terungkap menunjukkan betapa bobroknya mental pejabat. Kelakuan pejabat korup sepertinya hampir sama dengan penonton yang melempar mercon ke lapangan hijau. Meskipun nama negara jadi pertaruhannya mereka tetap saja melakukan perbuatan keji itu. Apakah itu korupsi maupun pelemparan petasan ke lapangan hijau sepertinya sama saja. Kedua perbuatan tersebut memalukan bangsa beradab ini.

Kembali ke lapangan hijau. Selama hampir 2 jam penonton sudah disuguhi apa arti nasionalisme sesungguhnya. Itu rasanya cukup menjadikan contoh tanpa mempedulikan hasil akhir pertandingan yang diraih. Menang Kalah itu sudah biasa. Takkan selamanya menjadi kebiasaan sebab pemain Indonesia memiliki pemain keduabelas yang senantiasa mendukung kesebelasan garuda kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Rasa Nasionalisme masih ada.
Terbang terus Garudaku engkaulah pemersatu bangsa ini.

Persidangan Tikus : Sisi Lain The Power Of Action

Sebuah ilustrasi ini cukup menggambarkan bagaimana setiap manusia pun seringkali memilih untuk melakukan hal yang sama seperti dibuat oleh tikus-tikus itu. Cerita ini saya peroleh dari seorang atasan yang telah pensiun dini sewaktu kami berdiskusi atas belum turunnya sebuah keputusan yang seyogianya segera dikeluarkan.

Alkisah diceriterakan waktu itu hewan tikus banyak sekali yang telah menjadi korban keganasan Kucing. Mereka diburu, diterkam dijadikan makanan oleh para kucing. Banyak sekali tikus-tikus yang mati sia-sia karena ketidakberdayaan mereka menghindari buasnya kucing-kucing yang saban hari menerkamnya. Kondisi ini lambat laun membuat gerombolan tikus yang masih hidup berusaha mencari jalan keluar akan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah mengadakan sebuah Konfrensi atau Pertemuan tikus. Tujuan diadakan acara itu adalah mencari cara bagaimana agar tidak lagi jatuh korban pada keluarga besar tikus. Setelah diatur sedemikian rupa akhirnya Konfrensi Tikus itu jadi diselenggarakan.

Pada hari yang ditentukan berkumpullah Tikus-Tikus disebuah tempat yang dirahasiakan guna menghindari bocornya apa yang akan mereka perbincangkan. Mereka khawatir Kucing-Kucing akan mengetahui apa yang didiskusikan oleh gerombolan tikus tersebut.

Saat harinya tiba banyak sekali Tikus-Tikus yang menghadiri pertemuan itu. Para Tikus terlihat sangat serius memperbincangkan permasalah yang sedang mereka hadapi. Usai pemilihan ketua sidang agenda pertemuanpun disusun. Hari itu setidaknya permasalahan pokok Bagaimana Cara Mengurangi Jumlah Kematian Akibat Terkaman Tikus dibicarakan dan mesti diselesaikan. Usulan demi usulan bermunculan pada pertemuan itu. Perdebatan alot pun terjadi saat mendiskusikan sebuah usulan yang dilempar oleh anggota rapat. Sampai akhirnya seekor Tikus betina yang anaknya telah mati diterkam Kucingpun angkat bicara. Dia mengusulkan sebuah cara yang paling ampuh yakni mengalungkan Kalung Bergemerincing pada leher kucing. Si Ibu Tikus ini pun menyampaikan alasan yang cukup kuat. “Jika kita berhasil mengalungkan Kalung itu di Leher Kucing-Kucing itu maka kita semua akan mengetahui akan adanya bahaya yang datang“, begitu ucapnya dengan berapi-api. Peserta Pertemuan yang hadirpun menyetujui usulan itu. Mereka menganggap inilah cara yang paling jitu menghadapi banyaknya korban yang jatuh akibat terkaman Kucing. Ketua Sidang terpilihpun langsung mengetuk palu sidang di mejanya menyatakan usulan tersebut diterima dan disetujui oleh semua peserta Sidang Tikus. Tepuk tangan membahana seantero ruangan. Senyum tawa tangis bahagia campur menjadi satu diruangan itu. Air mata bahagia keluar dari hampir separuh peserta yang hadir. Semua peserta Sidang merasa lega akhirnya solusi atas permasalahan yang dihadapi terpecahkan. Ditengah hiruk pikuknya suasana ruangan sidang yang bergemuruh atas ditemukannya jalan keluar, seekor Tikus yang agaknya sudah berumur lantas berdiri. Ia menggeser tempat duduknya seraya meminta ijin Ketua Sidang untuk angkat bicara. Setelah diijinkan berbicara Sang Tikus berumur ini menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana, “Jalan keluar sudah ditemukan akan tetapi siapakah diantara kita yang bersedia untuk memasang kalung bergemerincing itu ke leher Kucing-Kucing itu?“ Mendengar perkataan itu suasana yang tadinya riuh pun menjadi hening. Satu per satu dari Tikus yang hadir mulai mencari alasan agar tidak ditunjuk menjalankan tugas tersebut. Hingga sidang ditutup tak ada satupun dari Tikus-Tikus yang hadir mengajukan diri untuk menjadi eksekutornya.

Peristiwa ilustrasi Sidang Tikus ini sepertinya juga kerap terjadi dalam kehidupan manusia seperti anda dan saya. Enteng sekali bagi kita mengusulkan sesuatu. Mudah juga buat kita menyetujui usulan yang diajukan. Namun seperti Tikus Tikus yang heroik menyambut usulan terbaik, manakala manusia diperhadapkan kepada sebuah resiko semua tidak ada yang rela melakukannya. Padahal resiko yang akan ditanggung sebenarnya belum tentu juga membahayakan dirinya. Akan tetapi itulah kenyataannya, pengusul boleh saja banyak, pembuat ide lusinan namun pada kenyataannya pelaksana usulan tidaklah sebanyak yang diharapkan bahkan terkadang malah berhenti hanya sampai sebatas usulan saja.

Dalam dunia kerja pun demikian. Ambil contoh saat pengambilan keputusan atas seseorang yang akan diputus kontraknya peserta rapat biasanya akan mengutarakan beribu macam alasan yang mendukung pemutusan tersebut. Namun ketika pimpinan rapat mengatakan atau menunjuk salah seorang sebagai eksekutornya biasanya mereka malah
mengelak.

Bagaimana jika dihubungkan dengan dunia Pelayanan di Gereja ? Sepertinya sama saja. Kalau bukan mengelak karena alasan tak punya waktu atau kesibukan mereka akan mengatakan “Aduh mohon maaf saya sebenarnya rindu melayani namun cari orang lain saja ya sebab saya tak pandai berdoa“. Manusia oh Manusia.