Category Archives: Putra Cijantung

Surutnya Semarak Kemerdekaan

.
Satu minggu lagi Bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya. Tujuh hari lagi kita akan memperingati hari lahirnya persada nusantara terbebas dari jerat penjajahan. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dari kaum penjajah mencapai puncaknya saat Bapak Bangsa ini menyampaikan deklarasi kemerdekaan yang membebaskan rakyat dari kesengsaraan penjajahan Belanda.

Kini 67 tahun sudah Indonesia merdeka, kita tunda dulu berbicara soal kemajuan apa yang sudah dicapai selama ini sebab sama saja membuka wacana untuk diskusi yang tak berkesudahan. Tak usahlah berbicara soal makna kemerdekaan bagi tiap-tiap warga negara karena pastilah beragam suara dalam kemajemukan yang ada.

Saat ini saya hanya ingin mengatakan dari tahun ke tahun perayaan peringatan HUT Kemerdekaan terasa mengalami degradasi. Beda sekali bila dibandingkan ketika saat kecil dahulu tinggal di Kompleks Kopassus Cijantung. Ketika menginjak bulan Agustus mulailah pernak-pernik tujuh belasan menyemarakkan dipelbagai lokasi. Setiap tahun di lingkungan perumahan yang namanya pengecatan trotoar dengan warna putih selalu dilakukan. Kepala keluarga bertanggung jawab masing-masing atas area trotoarnya, Trotoar di Jalan Sungai Luis dan semua Jalan di lingkungan Kompleks Baret Merah memutih, bersih. Sisi kanan atau bagian tengah setiap rumah Bendera Merah Putih senantiasa berkibar di bulan Agustus baik dengan menggunakan potongan bambu yang sudah dicat merah putih juga atau beberapa menggunakan besi bundar permanen. Di setiap pojok dan siku jalan umbul-umbul terpasang dengan ramainya. Belum lagi berbagai lomba juga diselenggarakan, sebelum dan pada saat hari H perayaan. Kemeriahan seperti itu ditambah lagi dengan setiap sekolah mengadakan upacara penaikan bendera merah putih. Pada waktu malam perayaan kerap di tutup dengan pemutaran Lanyar Tancap bagi penghuni kompleks di area perkantoran Grup 4 Cijantung (dulu) atau Lapangan Gatot Subroto Cijantung III. Itu baru di dalam perumahan belum lagi ditempat lain semarak kemerdekaan sangat terasa denyutannya. Seluruh masyarakat seolah bergerak merayakan dengan berbagai kreatifitas dan keberdayaan yang mereka miliki. Jalan-jalan ramai dengan spanduk, baliho dan umbul-umbul mewarnai setiap sudut daerah di bumi Indonesia.

Apa yang saya ingat dan alami ketika masih beranjak dewasa semua seolah sirna sejak 1998. Memang di beberapa daerah, tempat peringatan HUT Proklamasi ini tetap terus dipertahankan apalagi di lingkungan Militer pasti denyut kemerdekaan tetap terjaga hingga kini. Akan tetapi denyutan itu kurang terasa detaknya hingga keluar asrama. Contoh di perumahan tempat saya tinggal bisa dihitung dengan jari berapa rumah yang memasang bendera di depan rumahnya saat 17 Agustus tahun yang lalu. Memang nasionalisme timbul bukan hanya karena kita memasang bendera sebab akan panjang debatnya nanti. Namun buat saya bagaimana seseorang memiliki semangat patriotisme seperti pendahulu kita bila memasang bendera saja tak punya niatan. Sungguh teramat disayangkan bila kita sebagai warga negara dari Bangsa yang besar ini sudah semakin memudar memiliki kebanggaan terhadap Bangsanya sendiri. Bendera Merah Putih adalah Jati Diri Bangsa yang besar ini.

Dalam hati saya tetap berharap akan memiliki semangat berjuang dan kebanggaan terhadap bangsa ini terlepas dari semua kebobrokan yang terjadi. Siapa lagi yang akan merasa bangga jika bukan anak bangsanya sendiri. Semangat tanpa pamrih berjuang demi bangsa ”sepertinya” hanya ada di lingkungan militer saja yang tetap mempertahankan tradisi yang selama ini sudah berlangsung 67 tahun lamanya. Saya mohon maaf bila memiliki pendapat seperti ini dan sangat menyayangkan bila hal ini benar-benar terjadi. Saya merindukan suasana atau atmosfir gemerlapan perayaan kemerdekaan dalam kesederhanaan seperti masa-masa kecil hingga 1998. Saya ingin menyaksikan banyak lomba di lingkungan, ditempat-tempat lainnya di persada Indonesia.

Denyut semarak hari jadi Bangsa Indonesia mesti terus kita gelorakan agar alam semesta merestui apa yang kita lakukan bagi bangsa ini. Tuhan Maha Kuasa kiranya memberikan Berkatnya

Iklan

Sobekan Kertas Dibuang Sayang : Janji Prajurit, Mars & Hymne Komando

Susah juga kalau punya sifat sayang sama barang hingga sobekan kertas saja tidak dibuang-buang. Sobekan kertas dari Agenda milik almarhum papa rasanya dieman-eman sekali kalau di buang. 2 lembar kertas yang warnanya tidak putih lagi rupanya berisi syair lagu Baret Merah kebangaan Bangsa. Selain lagu Mars Komando ada juga Hymne Komando dengan latar belakang seorang Prajurit Komando yang sedang melompat dengan loreng darah mengalir, ransel lengkap dan Senjata M16 plus Bayonet diujung laras. Itu ada pada lembaran pertama. Lembar kedua tercetak Janji Prajurit Komando dimana pada bagian tengah terlihat Baret Merah dengan tulisan Kopassandha (nama lain Kopassus). Barangkali itu sebabnya yang membuat saya tidak berniat segera membuangnya. Ada juga dirumah sebuah gelas kecil dengan gambar yang sama masih tersedia disederetan gelas lainnya di lemari makan.

Khusus untuk 2 lembar kertas yang “kembali” ditemukan dari pada nanti hilang lebih baik saya ketik saja lagi di blog ini. Semoga bermanfaat yah siapa tahu anak cucu Opa dapat melanjutkan kiprahnya di lingkungan Pasukan Baret Merah. Mana tahu saya masih diberikan kesempatan untuk tinggal kembali di Kompleks Cijantung tempat saya melewati masa kanak-kanak hingga teruna atau bahkan di Kompleks Grup 1 Kopassus Serang Banten tempat saya menghabiskan masa remaja..

Berikut saya ketikan ulang ; Janji Prajurit Komando dilengkapi Lagu Mars Komando dan Hyme Komando :

Janji Prajurit Komando

1. Saya berjanji bahwa saya akan tetap setia dan menepati isi dan jiwa Sapta Marga

2. Saya berjanji bahwa saya akan memegang teguh dan tetap berpedoman pada Sumpah Prajurit

3. Saya berjanji bahwa saya akan menjunjung tinggi dan mempertahankan derajat nama, kehormatan dan jiwa kesatuan Para Komando pada setiap saat tempat dan keadaan bagaimanapun juga.

Janji Prajurit Komando diucapkan pada setiap Hari Ulang Tahun Kopassus diiringi dengan dentuman meriam yang menggelegar pengunjung yang hadir dalam upacara itu.

Lagu MARS KOMANDO

Komando Panji Buana
Abdi Nusa dan Bangsa
Berpedoman Satya Dharma
Tribuana Chandrasa
Pengawak tujuan kita
Membela keadilan
Siap Siaga Waspada
Majulah Maju

Bersumpah kesatuan kita
Baret Merah berjuang
Ksatria dan Perwira
Cita rasa dan karsa
Majulah maju serentak
Bhayangkari Negara
Prajurit Para Komando
Indonesia

Lagu HYMNE KOMANDO

Sikap Nan tegap waspada dan wibawa
Prajurit Komando berjiwa Satria
Bagi Nusa bangsa dan negara
Pantang kan menyerah di medan laga
Dibawah Dwi Warna Sang Panji
Diatas Persada negri kami
Demi Tuhan kami ini berjanji
Rela binasa membela bu pertiwi

Indonesia kami puja
Tanah Air kami cinta
Baret Merah jiwa hamba
Sudah janji kita semua
Lebih baik pulang nama daripada. Gagal di Medan Laga

Kiranya Tuhan Memberkati Kopassus dalam setiap perjuangannya membela kehormatan bangsa dan negara Republik Indonesia. NKRI harga mati !

Stealing

Sewaktu masih tinggal di Kompleks Kopassus Cijantung banyak peristiwa yang masih terekam dalam pikiran ini. Masa kecil saya lalui dengan menyaksikan, mendengar kisah-kisah heroik prajurit pilihan. Entah berapa kali saya telah menyaksikan latihan-latihan kemiliteran yang di lakukan oleh pasukan Baret Merah. Kadang di Lapangan Merah atau Lapangan Atang Sutresna (kini sudah menjadi Stadion Sepak Bola) kerap juga latihan dilaksanakan di pinggiran Sungai Ciliwung. Pokoknya latihan dan latihan saja yang dilihat, di dengar oleh penghuni kompleks. Jadi rasanya bukan sebuah hal yang aneh apabila melihat para prajurit melakukan latihan di dalam perumahan. Akibatnya pada usia saya belum tamat Sekolah Dasar berbagai istilah militer pernah mampir di telinga. Ada istilah Mobud alias Mobilisasi Udara, Konsinyir, Rappeling, Apel, PDU, PDL, PDH, Terjun Statik, Kaporlap, Siaga 1, Free Fall, PH atau Perang Hutan, Suslapa dan masih banyak lagi. Jenis senjata yang pernah dikenal seperti Pistol FN 45, FN 46, senapan serbu seperti AK 47, M16 dan FNC buatan Belgia yang diuji coba sebelum “disulap” menjadi Senapan Serbu alias SS 1 ciptaan Pindad yang dipakai TNI saat ini.

Selama menjadi anak kolong tak jarang saya melihat Bendera di Markas Komando dan Mako Grup bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Itu tandanya ada prajurit yang gugur dalam medan tugas. Masa perjuangan merebut dan mempertahankan Timor Timur sekitar tahun 1976-1981 itu adalah masa dimana paling sering Bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang di Kesatrian Ahmad Yani.

Belum lagi saya lupakan masa dimana untuk mengukur tingkat kesiap siagaan pasukan Baret Merah maka diadakanlah sebuah Latihan yang biasa disebut dalam kemiliteran namanya Stealing. Pendadakan tanpa mengenal waktu baik pagi sore atau malam senatiasa dilakukan. Salah satu tujuannya adalah untuk mengukur berapa lama waktu kesiagaan yang dibutuhkan oleh prajurit Baret Merah andalan Bangsa jika akan diberangkatkan ke medan tugas. Kecepatan waktu berkumpul dengan Perlengkapan Perorangan Lapangan yang lengkap akan dijadikan tolok ukur manakala panggilan tugas dari Panglima diberikan.

Provoost dengan sepeda motor warna putih berkeliling di dalam kompleks Cijantung. Sirene dengan keras berbunyi mengiringi motor provoost yang melaju kencang. Lampu-lampu di padamkan menambah kesan suasana genting sedang berlangsung. Di tengah kegelapan melanda samar-samar terlihat para prajurit meninggalkan kediamannya dengan pakaian dinas lengkap. Tak ketinggalan ransel warna hijau dipunggung Tak berselang lama raungan sirene pun berhenti. Prajurit Kopassus sudah meninggalkan rumah menuju titik kumpul yang sudah ditetapkan sebelumnya. Itulah kehidupan prajurit andalan bangsa dari kaca mata saya sebagai salah seorang anak kolong Baret Merah.

Team Susi dan Balibo 1975

TIMOR Leste dan Kolonel (Purnawirawan) Gatot Purwanto, 62 tahun, adalah dua cerita yang berkelindan. Mantan perwira Komando Pasukan Khusus ini bisa dikatakan selalu ada dalam rangkaian peristiwa berdarah di bekas provinsi ke-27 Indonesia itu. Sejak awal karier kemiliterannya, Gatot sudah bersentuhan dengan Bumi Loro Sae. Tragisnya, pengabdiannya pun berakhir di sana.

Pada awal invasi Indonesia ke Timor Timur pada 1974-1975, Gatot bolak-balik masuk Timor Portugis, menyamar sebagai penjual bahan makanan. Wajahnya yang mirip peranakan Tionghoa, perawakannya yang ramping, dan pembawaannya yang menyenangkan, membuatnya mudah menyelinap ke mana saja. “Saya dipanggil Aseng di sana,” katanya tertawa.

Di dalam wilayah Timor, dia wira-wiri menjalin kontak dengan kekuatan politik lokal dan mengumpulkan informasi intelijen. Dia satu-satunya perwira Indonesia yang bisa masuk ke sarang Fretilin di dalam hutan, dan berbicara langsung dengan pemimpin gerilyawan Xanana Gusmao.

Peristiwa Santa Cruz, 12 November 1991, mengakhiri kariernya yang cemerlang. Sebagai Asisten Intelijen Komando Pelaksana Operasi (Kolakops) Timor Timur, dia dinilai turut bertanggung jawab atas kegagalan militer mengantisipasi demonstrasi yang berubah rusuh kala itu. Tentara Indonesia dituduh menembak massa dengan membabi buta, menewaskan lebih dari seratus orang. Gara-gara insiden itu, Gatot diberhentikan dari dinas militer.

Salah satu peristiwa berdarah yang membekas di ingatannya adalah penyerbuan Balibo. Gatot, yang berpangkat letnan satu ketika itu, menyaksikan bagaimana lima jurnalis dari Channel 7 dan Channel 9: Greg Shackleton, Tony Stewart, Gary Cunningham, Brian Peters, dan Malcolm Rennie, ditangkap dan ditembak.

Kelima wartawan itu tengah meliput penyerbuan pasukan gabungan UDT dan Apodeti-dua partai rival Fretilin saat itu-yang dibantu tentara Indonesia, ke Balibo, pada Oktober 1975. “Nasib saya kok selalu terlibat dalam peristiwa berdarah di Timor Timur,” kata Gatot, setengah menyesal.

Akhir pekan lalu, setelah menonton film Balibo karya sutradara Robert Connoly, di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur, Gatot memberikan kesaksiannya tentang peristiwa itu kepada Arif Zulkifli, Wahyu Dyatmika, Sunudyantoro, Yophiandi, dan Agus Supriyanto dari Tempo.

Anda ada di Balibo tatkala kelima wartawan Australia tewas tertembak. Apa yang terjadi?

Pertempuran saat itu belum selesai. Memang sudah agak mereda, tapi masih ada tembakan sesekali. Di pinggiran Kota Balibo, dekat gereja, sedikit di atas bukit, ada rumah-rumah gubuk. Kami menembak ke arah itu, karena memang ada tembakan dari sana. Saat makin mendekat ke arah rumah, kami temukan kelima orang ini di salah satu rumah. Jadi, ketika tertangkap, mereka belum mati.

Lalu apa yang dilakukan pasukan?
Saya masih agak di bawah (bukit), dekat dengan Pak Yunus (Mayjen Purn. Yunus Yosfiah, saat itu kapten, komandan tim). Kami dilapori ada orang asing tertangkap. Pak Yunus memerintahkan saya untuk melapor ke Pak Dading (Letjen Purn. Dading Kalbuadi, saat itu komandan), yang ada di perbatasan. Kalau tak salah, Pak Dading lalu mengontak Jakarta, menanyakan orang-orang ini mau diapakan.

Jadi, tidak benar kelima wartawan itu terbunuh dalam kontak senjata antara pasukan TNI dan Fretilin?

Waktu pertama kali tertangkap, mereka masih hidup. Kami kepung, lalu kami todongkan senjata. Saya melihat itu dari jarak sekitar 30 meter di bawah bukit. Mereka memang ada di (rumah) persembunyian, dan membuat film dari ketinggian situ. Sesekali ada tembakan dari arah situ juga. Sehingga kami mengarah ke sana dan mengepung rumah itu.

Apa yang kemudian terjadi?

Situasi serba salah. Kalau ditangkap, nanti ketahuan yang menangkap tentara Indonesia. Kalau mau dieksekusi, juga bagaimana. Pada saat itulah, ketika tentara kita sudah santai, sudah duduk-duduk, mendadak ada tembakan lagi dari arah dekat situ. Mungkin ada yang mau menyelamatkan mereka (lima wartawan itu). Anggota kita langsung memberondong ke sana… pada mati semua itu wartawan.

Kapan tepatnya penembakan terjadi?

Kami masuk Balibo ketika sudah mau fajar, subuh. Tapi, saat kejadian, sudah agak siang, mungkin pukul 10-11 pagi.

Ketika penembakan terjadi, apa ada perintah dari Yunus Yosfiah atau Dading Kalbuadi?

Belum. Dari komandan tim, Pak Yunus, belum ada perintah untuk membunuh atau diapakan mereka. Pak Dading masih menunggu petunjuk dari Jakarta. Komunikasi saat itu kan butuh waktu cukup lama. Jadi penembakan terjadi setelah kami terpancing, akibat ada provokasi tembakan dari arah rumah tempat mereka bersembunyi.

Apakah ada proses identifikasi terhadap kelima wartawan? Ditanya namanya siapa, dan seterusnya….

Tidak. Karena mereka tak ada yang bisa berbahasa Indonesia, sementara pasukan di lapangan juga tak bisa berbahasa Inggris.

Tapi tentara tahu atau tidak bahwa mereka wartawan?
Sepatutnya tahu. Karena mereka membawa kamera dan peralatan lain. Dari jarak dekat, seharusnya semua itu terlihat. Penembakan terjadi dari jarak kira-kira 15 meter.

Sebelum masuk Balibo, apakah pasukan tahu di kota itu ada lima wartawan asing?

Tidak tahu. Makanya kami jadi bingung saat mereka tertangkap. Mereka ini mau diapain.

Lalu apa yang terjadi setelah penembakan?

Pak Dading datang ke lokasi. Lalu ada wartawan TVRI, Hendro Subroto. Pak Dading bicara dengan komandan saya, Pak Yunus.

Bagaimana suasana pasukan saat itu? Apakah pelaku penembakan ini dipersalahkan karena bertindak tanpa perintah atau bagaimana?

Mungkin suasananya serba salah bagi kami. Kalau mereka tetap kami tahan, tidak dieksekusi, begitu keluar, mereka bisa berteriak, “Betul itu, yang menangkap saya orang Indonesia.” Itu bisa jadi bukti. Maka mungkin sulit membuat keputusan saat itu. Mungkin, saat itu, dari atas dinilai itu (penembakan) jalan terbaik. Saya tidak tahu persis. Kalau tak dieksekusi, mereka bisa memberikan kesaksian bahwa betul ada invasi tentara Indonesia.

Jadi penembakan itu sebuah keputusan rasional?

Iya…. Tapi juga ada provokasi berupa tembakan-tembakan.

Tembakan-tembakan itu menambah tekanan pada pasukan di lapangan untuk mengambil keputusan dengan cepat?

Iya. Apalagi belakangan ada sepucuk senjata Thompson yang ditemukan di rumah itu. Tergeletak di antara mereka (kelima wartawan).

Lalu apa yang dilakukan selanjutnya?

Jenazah kelima wartawan ini dibawa ke rumah Cina di dalam Kota Balibo, sekitar 300 meter dari lokasi penembakan. Lokasinya agak masuk ke kota. Rumahnya terbuka begitu. Kemudian di sana, jenazah dibakar dengan sekam, bekas gabah.

Kenapa harus pakai sekam?

Iya, karena baranya lama. Jadi dibakar sampai hancur dan betul-betul habis (jenazahnya). Itu perlu dua hari. Ada pakai kayu bakar juga.

Mengapa jenazah harus dibakar? Bukannya itu malah menambah kesan pasukan berusaha menutupi jejak penembakan?

Karena memang serba salah saat itu. Kami menjaga agar keterlibatan tentara Indonesia ketika itu jangan sampai terbuka. Karena itu, kami masuk tak berpakaian seragam, secara tertutup, preman. Makanya mungkin pernah dengar, ada yang namanya pasukan blue jeans. Rambut kami gondrong, panjang-panjang.

Siapa yang memerintahkan dibakar?

Yah, memang ada keputusan dari ini… (bergumam tidak jelas). Saya tak tahu persis, saya cuma perwira muda waktu itu. Tapi posisi kami serba salah. Kalau dibiarkan hidup, mereka akan bilang ini invasi Indonesia. Kalau mati dan dibiarkan, akan ada bukti kalau mereka tertembak di wilayah yang dikuasai gerilyawan Indonesia. Untuk gampangnya, kita hilangkan saja. Kita bilang kita tak tahu apa-apa. Itu reaksi spontan saat itu.

Selain pasukan TNI, siapa lagi yang ada di Balibo saat itu?

Yang masuk saat itu bukan cuma Tim Susi (tim perintis), tapi sudah gabungan dengan partisan Apodeti dan UDT yang pro-Indonesia. Ada tokoh Apodeti, Thomas Gonzalves; dan tokoh dari UDT, Joan Tabarez. Perbandingan jumlah kami dengan Apodeti dan UDT waktu itu sekitar satu banding dua. Kami berlima puluh, mereka seratusan.

Pada saat penyerbuan, ada bantuan dari kapal perang Indonesia?

Saya kira ada, memang saat kita masuk Balibo, kami dibantu tembakan dari kapal kita di laut.

Mengapa Balibo yang diserbu pertama kali?

Balibo bukan yang pertama. Kami sudah masuk cukup jauh ketika itu, tapi kami sesekali terdesak mundur lagi, lari ke Haikesak (desa kecil di dekat perbatasan dengan Indonesia), mundur ke Atambua. Setelah mendapat perkuatan dari UDT dan Apodeti, kami masuk lagi. Pasukan sudah dipersiapkan pada akhir 1974. Seharusnya saat itu kami sudah masuk sampai Dili, menyiapkan dropping zone dan penunjang lain untuk penyerbuan pasukan besar. Misalnya menanam amunisi di daerah tertentu.

Bagaimana situasi Kota Balibo ketika Anda masuk?

Balibo itu kota kecil, dengan beberapa bangunan sederhana. Ada empat-lima rumah batu, tapi yang besar cuma satu itu saja: tokonya orang Cina. Ada juga rumah untuk pusat layanan kesehatan. Di banyak daerah perbatasan dengan Indonesia, di Timor bagian barat, seperti Balibo dan desa-desa di dekatnya, sebetulnya ada lebih banyak simpatisan Apodeti. Orang-orangnya lebih pro-Indonesia. Lain dengan ujung timur sana, yang memang tak terjamah pasukan kita dan dikuasai Fretilin.

Ketika bertugas di Timor Timur, kabarnya Anda menjalin hubungan dekat dengan Xanana Gusmao?

Saya mulai mendekati Xanana setelah operasi pagar betis yang dilakukan pada zaman Pak Sahala (Letjen Purnawirawan Adolf Sahala Rajagukguk, terakhir Wakil Kepala Staf TNI AD) pada 1981. Setelah operasi itu, TNI yakin Fretilin sudah porak-poranda dan dilaporkan sudah hancur. Akhirnya semua anggota pasukan Kopassus TNI ditarik dari Timor, disisakan hanya dua kompi, hanya Nanggala 51 dan 52.

Setelah pasukan Indonesia ditarik, mereka melakukan konsolidasi dan menyerang lagi. Saya nungging terus setiap malam. Saya lalu berpikir, kalau tiarap terus begini bagaimana. Akhirnya saya membuka kontak komunikasi dengan Xanana. Dia menyambut. Buat Xanana juga, mungkin ada baiknya, karena saat itu dia sudah mulai memikirkan jika penyelesaian perang ini bisa dengan jalan politik, kenapa tidak. Itu pada 1982-1983.

Apa yang dikatakan Xanana?

Awalnya dia formal sekali. Kami berbicara dalam bahasa Tetum. Dia selalu menekankan kepada saya: Indonesia tak akan kuat mendanai perang di Timor terus-menerus.

Hubungan itu berlanjut?

Ya, kami cukup dekat sampai sekarang. Kami sering kontak-kontakan. Sejak di hutan, saya satu-satunya perwira Kopassus yang bisa bertemu dia. Jadi sekarang, kalau Timor membutuhkan alat intelijen, saya bantu. Pernah sekali, Xanana minta bantuan saya untuk mensterilkan ruang kerjanya.

Beralih ke film Balibo. Apa kesan Anda setelah menyaksikannya?

Dari awal sampai tengah-tengah (alur film) sebenarnya cukup berimbang. Film itu juga menyalahkan pemerintah Australia, Amerika Serikat, dan Inggris, yang merestui perang di Timor itu. Tapi kejadian-kejadian intinya, seputar penembakan kelima wartawan ini, terlalu didramatisasi, dibumbui. Tak ada yang disiksa. Adegan penyerbuan TNI yang masuk ke Dili juga tak seheboh itu.

Bagaimana pendapat Anda tentang tuntutan mengungkap dan mengadili pelaku kasus Balibo?

Apakah tidak sudah terlalu lama? Pelakunya pun sudah uzur semua. Apalagi sekarang persoalannya bukan dengan Timor Leste.

Anda termasuk yang menentang referendum di Timor Leste?

Saya pikir itu keputusan yang tergesa-gesa.

Apakah Anda merasa proses integrasi Timor Timur 1975-1999 adalah ikhtiar yang sia-sia?

Begini: pada saat itu, komunis sedang kuat-kuatnya di Portugal. Semua daerah jajahannya, yang mau dilepaskan, juga ada pengaruh komunis yang kuat. Maka tak terlalu salah kalau Australia, Amerika Serikat, pada saat itu ngojok-ngojokin (mendorong) Indonesia untuk mengambil alih. Saat itu juga ada konteks Perang Dingin.

Tapi Indonesia memang gagal memenangkan hati rakyat di sana?

Ketika itu Timor Timur adalah tempat buangan orang-orang birokrat yang dianggap tak becus. Sampai di Timor, tanpa ada pengawasan, para kepala kantor wilayah ini malah menjadi raja-raja kecil. Soal rekrutmen, mereka nepotis: tak mau ambil penduduk setempat, dan memilih mempekerjakan sanak saudaranya dari Jawa.

Sumber : Wawancara Pak Gatot Purwanto dengan Majalah Tempo On Line – 7 Desember 2009

The Blue Jeans Soldiers

The Blue Jeans Soldiers

Kesatuan Baret Merah yang dibentuk pada 16 April 1952 sudah kesekian kalinya berganti-ganti nama. Diantaranya nama legendaris RPKAD atau Resimen Para Komando Angkatan Darat hingga Kopassandha alias Komando Pasukan Sandhi Yudha. Almarhum papa saya baru bertugas di Baret Merah sewaktu namanya masih Puspassus AD atau Pusat Pasukan Khusus Angkatan Darat sebelum berganti menjadi Kopassandha.

Pada periode 1980an, guna memenuhi hakekat ancaman dan gangguan serta tantangan yang ada, kesatuan ini memiliki Grup Parako atau Para Komando dan Grup Sandi Yudha alias Sandha. Dalam sebuah Grup Parako saat itu bermaterikan 3 (tiga) Detasemen Tempur atau Denpur. 1 (satu) Denpur terdiri dari 3 Kompi dan 1 Kompi terdiri dari 3 Peleton (Denpur 12~ Kompi 111, Kompi 112 dan Kompi 113). Sedangkan di Grup Sandha atau Sandhi Yudha terdiri dari Karsa Yudha dibawahnya menggunakan istilah Prayudha. Saat ini di Kopassus menggunakan istilah Batalyon, contoh Grup 1 Batalyon 11,12 atau Grup 2 berarti Batalyon 21,22 dan begitu seterusnya kecuali Satuan Penanggulangan Teror atau Gultor. Meskipun sama-sama memiliki kualifikasi Komando namun tugas Grup Parako dan Grup Sandha berbeda satu dengan lainnya. Satu hal yang pasti seorang anggota Baret Merah mesti melewati masa tugasnya beberapa tahun berikut memiliki riwayat penugasan di Grup Parako lebih dahulu baru kemudian anggota tersebut dapat bergabung di Grup Sandha.

Guna mengetahui secara sederhana perbedaan antara Grup Parako dengan Grup Sandha, kita dapat mengambil contoh saat ”infiltrasi” yang dilakukan pasukan ini ke Timor Portugis di tahun 1975. Sebelum digelar Operasi Gabungan besar-besaran dari darat laut dan udara untuk merebut Kota Dili, Minggu 7 Desember 1975, Kopassandha telah mengirimkan setidaknya 3 Team Khusus yang dipersiapkan dalam rangka perebutan Dili. Kesuksesan yang diperoleh Team Susi Umi dan Tuti tak diikuti dengan mulus oleh operasi selanjutnya. Menurut almarhum Jenderal Purnawirawan Benny Moerdani dalam bukunya, operasi gabungan ini masih memiliki banyak kelemahan. Hal itu dikarenakan oleh ketiadaan pengalaman dari TNI untuk melaksanakan Operasi Gabungan sebelumnya. Konsekuensi ketidaksiapan pasukan mengakibatkan banyaknya pasukan TNI yang gugur termasuk prajurit dengan pangkat Mayor dan Kapten. Operasi gabungan Lintas Udara dengan inti kekuatan dari Grup 1 Kopassandha dan Batalyon 507 Kostrad Jawa Timur ini memakan korban cukup besar

Sifat dari operasi Sandha yang dilakukan itu sendiri juga memiliki kekhususan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi dan tentunya sasaran yang diberikan memiliki dampak buat operasi selanjutnya.

Berbicara mengenai Operasi Seroja di Timor Portugis, seperti diketik diatas bahwa jauh sebelum operasi itu dimulai, Kopassandha ketika itu setidaknya telah menurunkan 3 Team dari Grup Sandha yakni : Team Susi Team Umi dan Team Tuti. Team Susi yang dikomandani oleh Kapten Yunus Yosfiah ini berganggotakan 100 orang. Mereka mayoritas bertugas di Grup 4 Kopassandha. Para prajurit ini tergabung dalam 4 Prayudha dengan masing-masing 20 anggota dipimpin seorang perwira belum termasuk anggota lainnya pada tingkat Mako. Ke-100 orang anggota Kopassandha ini mulai mempersiapkan diri sekitar Oktober 1974. Team Susi yang dalam masa persiapan masuk pada Karsa Yudha “Siaga“ akhirnya diberangkatkan ke daerah operasi mulai 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975. Karsa Yudha yang berangkat tugas operasi Pra Seroja ini tergabung dalam gugus tugas Nanggala 2 dimana sebelumnya selain latihan militer diberikan juga buat mereka pelajaran Bahasa dan Budaya Timor Portugis.

Namanya juga pasukan Sandha, ke-100 anggota Nanggala 2 ini masing-masing memiliki nama samaran sendiri-sendiri. Ambil contoh almarhum papa saya tempo itu diberikan nama Yosep Fernandez atau biasa ditulis Ama Yosep pada tiap surat yang dikirim papa ke mama di Cijantung. Dalam tugas penyamaran beliau “mengaku“ bekerja sebagai Mandor Jalan sehingga banyak sekali catatan berupa tulisan tangan yang ditinggalkan hingga kini masih tersimpan.

Team Nanggala 2 ini sepanjang penugasan di Timor Portugis dikenal juga sebagai The Blue Jeans Soldiers. Alasan kenapa mereka dijuluki seperti itu tak lain dan tak bukan disebabkan oleh pakaian yang dikenakan prajurit Komando ini semua dari bahan blue jins. Tak satupun anggota Team Susi ini menggunakan atribut pasukan Baret Merah. Selama di medan perang mereka menggunakan pakaian sipil dengan seledang kain Timor menutupi tubuhnya. Kebanyakan dari prajurit itu juga mengenakan Topi yang memiliki kekhasan Timor.

Setiap Prajurit Kopassandha yang tergabung dalam Team Susi pada waktu itu ”sengaja” menggunakan senjata non organik TNI yaitu AK 47. Dalam berbagai pertempuran sepanjang tugas operasi di Timor Portugis selain AK 47 anggota Nanggola 2 juga menggunakan RL atau Rocket Launcher. Penggunaan AK 47 adalah untuk menyamarkan tugas mereka selaku Sukarelawan dalam rangka membantu Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang menginginkan rakyat Timor Portugis bergabung dengan Indonesia. Keempat partai pendukung integrasi Timor Timur dengan Indonesia kemudian membuat sebuah aksi disebut Deklarasi Balibo untuk menandingi pernyataan kemerdekaan yang secara sepihak dicetuskan oleh Fretilin.

Keinginan Rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia dilandasi oleh kesengsaraan dan kekejaman penjajahan Portugis melalui Fretilin (Frente Revolucionaria de Timor Lesta Independence) yang saat itu sedang berkuasa.

Para Prajurit TNI dari kesatuan Baret Merah sewaktu melakukan gerakan di daerah operasi memiliki tugas untuk mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai Apodeti sehingga secara politik Apodeti masih memiliki suara dalam forum internasional di PBB. Dan perjuangan para sukarelawan pro integrasi menjadi bukti kuat bagi Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibo yang telah disepakati oleh 4 tokoh utama Partai Apodeti, UDT, Kota dan Trabalista.

The Blue Jeans Soldiers berintikan sepasukan prajurit Baret Merah setidaknya pernah membantu rakyat Timor Timur pada masanya. Apapun dan bagaimanapun kini situasinya The Blue Jeans Soldiers namamu senatiasa tercetak dengan tinta emas. Peran mereka senantiasa melekat dihati. Kaulah pahlawan Seroja sesungguhnya.

Pelopor Lari Tanpa Sepatu di Kopassus

Sepanjang periode 1970 hingga 1988 tak dapat dipungkiri di lingkungan Baret Merah hanya ada satu panggilan unik untuk seseorang. Panggilan khas untuk almarhum papa mulai dari Cijantung hingga Taman Serang Banten tak ada duanya. PAITUA itulah panggilan khas untuk almarhum papa. Beliau diberi julukan seperti itu karena ia memang paling tua di lingkungan Kopassandha pada saat itu. Kehadirannya di setiap kegiatan kesatuan sungguh terasa meskipun ia seorang rohaniawan. Sekali peristiwa ketika saya sedang di bonceng almarhum papa melewati barak bujangan di Cijantung, sekumpulan prajurit yang sedang beristirahat di teras barak serta merta berteriak HOSS untuk menyapa beliau. Dan ia pun membalas dengan HOSS. Sepintas saya tak mengerti namun setelah beberapa kali menjumpai hal serupa saya baru ngeh bila panggilan itu rupanya khas sapaan di olah raga bela diri Karate.

Sebagai bagian dari seorang Prajurit di pasukan Komando biarpun almarhum adalah Rohaniawan namun apapun kegiatan di kesatuan beliau mesti turut apalagi bila perintah telah diterimanya. Mulai dari kegiatan ORAUM atau Olah Raga Umum dan ORAMIL alias Olah Raga Militer hingga Latihan-Latihan Kemiliteran seperti di Ciampea Bogor, Gunung Karang Serang dan lokasi lain serta Terjun Penyegaran yang pernah dilakukan di Lapangan Gorda Banten mesti dijalani pula. Itu belum termasuk perintah untuk berangkat tugas operasi di Timor Timur di tahun 1975 bergabung dengan Team Susi atau Nanggala 2. Namun dalam kesempatan ini saya hanya fokus pada kegiatan Oraum.

Setiap pagi sehabis apel yang namanya lari pagi sudah merupakan makanan sehari-hari bagi setiap Prajurit Grup 1 Kopassandha (kini Kopassus). Itu sepertinya adalah kegiatan wajib yang mesti di lahap oleh para prajurit tanpa kecuali. Sewaktu masih di Cijantung prajurit Kopassandha akan berlari dari Markas Grup 1 menuju ke Lapangan Bola Caprina (kini Taman Bermain RA Fadilah) samping Bioskop Caprina (kini Graha Cijantung) berputar kembali ke Markas. Sesekali terlihat almarhum papa berlari paling depan sambil membawa sebuah tongkat panjang dengan lambang kesatuan diujungnya.

Sewaktu terjadi perpindahan pasukan dari Cijantung ke Serang Banten pada bulan Agustus 1981 kegiatan yang dilakukan di Cijantung tetap terus dilakukan di Markas Grup 1 Kopassus. Papa yang saat itu menjabat sebagai Perwira Rohani Protestan tak ketinggalan mengikuti setiap kegiatan di kesatuan. Olah raga lari terus berlangsung sebagai sebuah pembinaan fisik di lingkungan pasukan Baret Merah. Papa sebagai seorang Prajurit tak ketinggalan juga melaksanakan seperti apa yang dia lakukan di Cijantung. Hal yang menarik untuk diangkat kali ini adalah cara almarhum papa waktu ia melakukan olah raga Lari. Ketika itu papa adalah satu-satunya prajurit Kopassus yang Lari tanpa mengenakan Sepatu PDL alias nyeker. Beliau tak pernah menggunakan alas kaki setiap kali olah raga Lari dilaksanakan. Tak cukup hanya lari di dalam Kesatrian Gatot Subroto almarhum Papa kerap terlihat pula Lari hingga ke Kota Serang terutama pada tiap-tiap hari Olah Raga. Jarak antara Kompleks Kopassus Taman dengan Kota Serang sekitar 15-20 kilo meteran atau bila dengan kendaraan dibutuhkan waktu selama 15 menitan. Ia sering lari dengan titik awal dari Taman menuju ke Pasar Rawu Serang bahkan sesekali ke Karang Hantu. Satu hal yang perlu dicatat almarhum Papa Lari ditengah teriknya matahaari dengan telanjang dada dan tanpa alas kaki alias nyeker. Luar biasa !

Apa yang dilakukan oleh almarhum papa selama melakukan olah raga Lari tanpa sepatu itu seringkali memperoleh kelakaran dari teman-teman Perwira lainnya. Hingga satu saat sempat terlontar dari mereka “Paitua tidak usah dikasih Sepatu, nanti tidak dipakai malah dikirim ke Kampungnya” begitu ungkapnya.

Olah Raga Lari tanpa sepatu yang dilakukan almarhum papa berlangsung hingga ia pensiun pada tahun 1988. Apa yang telah diperlihatkan selama ia dinas di ketentaraan dengan status kependetaannya rupanya diikuti oleh kesatuan. Lari tanpa sepatu yang sebelumnya memperoleh olokan dari rekan perwira papa akhirnya sesekali diikuti pula oleh para Prajurit Kopassus yang masih aktif di tahun 1988-1989.

Entah hingga berapa lama program Lari tanpa Sepatu waktu itu dijalankan saya tak mengetahui secara persisnya. Pastinya aksi almarhum papa pernah ditiru. Bukan soal apakah tetap dipakai atau tidak namun itu lebih dari cukup untuk membanggakan kami yang menjadi anak-cucunya. Boleh jadi ialah pelopor Lari Tanpa Sepatu di Kopassus pada masanya.

Semir dan Braso

Semir dan Braso. Diantara kita apakah ada yang tak mengetahui barang apa itu ? Apa kegunaan dan bagaimana cara pakainya ? Semoga saja tidak !.

Semir dan Braso adalah 2 buah benda yang cukup akrab bagi kehidupan keprajuritan terutama pada masa lalu. Di Cijantung setiap malam tak ketinggalan salah seorang anak-anak almarhum papa terutama abang-abang saya yang telah duduk dibangku SMP atau SMA pasti diserahi tugas untuk menyemir sepatu dan kopel riem miliknya. Almarhum papa akan mensupervisi kegiatan penyemiran yang dilakukan oleh anak-anaknya. Sebelumnya beliau sudah mengajarkan terlebih dahulu bagaimana cara menyemir yang baik. Ia memberikan contoh mulai dari cara yang sederhana hingga menggunakan lilin agar memperoleh hasil yang sempurna. Alat bantu penyemiran seperti Sikat Sepatu, Sikat Gigi, Kain Gombal, Korek Api, Koran Bekas dan Lilin. Semua tersimpan dengan semir yang bergambar seekor binatang khas benua Australia. Peralatan itu rapi tersedia dalam sebuah kotak besi warna hijau dengan tulisan warna kuning merupakan bekas tempat menyimpan peluru. Jika belum bisa berkaca di sepatu maka jangan heran kalau akan diminta mengulangi lagi. Pokoknya mesti mengkilap. Lalat pun kalau hinggap bila perlu sampai tergelincir. Selain menyemir sepatu dan kopel riem, perlengkapan almarhum papa yang mesti disiapkan adalah Emblem pada Baret, Tanda Pangkat, dan Wing Para yang akan digunakan bersama pakaian dinasnya. Perlengkapan yang disebut belakangan karena bahannya dari Kuningan maka tugas anak-anak Almarhum papa adalah mengkilapkan benda-benda itu dengan sebuah botol kaleng berisi cairan pengkilap merk Braso. Mulai dari kakak nomor 2 sampai ke saya termasuk beberapa ponakan yang tinggal di rumah tak ada satupun yang tidak pernah merasakan menyemir sepatu dan kopel riem serta perlengkapan dinas milik almarhum papa.

Sambil ditemani siaran televisi dari satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu, penyemiran dan pengkilapan semua perlengkapan dinas almarhum papa dilakukan sesudah santap makan malam.

Ada satu hal fenomenal yang pernah dilakukan almarhum Papa saya yaitu menyemir Ban Mobil. Pada waktu itu hanya seseorang dengan jabatan Komandan yang Ban Mobilnya disemir oleh anak buahnya. Itupun hanya Ban Serepnya saja. Tidak demikian dengan almarhum Papa, ia pun dengan senang hati menyemir kelima Ban mobil Utility, kendaraan inventaris yang diberikan kepadanya (Mobil ini merupakan peninggalan Perang Vietnam dengan stir di kiri). Meski menghabiskan semir hitam cukup banyak setiap bulannya hanya untuk Ban Mobil ia tetap melakukannya, prinsipnya mobil harus bersih ketika berada di garasi apalagi bila hendak bepergian. Senantiasa menginginkan kelima ban bagian luarnya disemir. Alhasil tak hanya Ban serep keempat Ban lain juga disemir.

Suatu hari pernah seorang Komandan menanyakan kepada ajudannya saat ia melintas di depan Mobil Utility yang digunakan almarhum Papa. Beliau menanyakan siapa pemilik kendaraan itu sebab diantara mobil sejenis hanya ada satu mobil dengan Ban Serep Mengkilap menyala yang menyamai kilapan mobil Komandan. Tak sulit memang membedakan mana mobil utility almarhum papa dengan utility yang digunakan perwira lainnya.

Tugas menyemir sepatu dan mengkilapkan perlengkapan dinas juga membuat saya setidaknya mengetahui jenis perlengkapan apa saja yang digunakan tentara. Saya jadi mengetahui apa itu PDL, PDH, PDU. PDL berarti Pakaian Dinas Lapangan – sepatunya juga dikenal dengan nama PDL. PDH artinya Pakaian Dinas Harian berikut sepatunya dan tentu saja PDU kependekan dari Pakaian Dinas Upacara. Penggunaan ketiganya tentu disesuaikan dengan peruntukkannya belum lagi ditambah Pakaian Dinas Loreng Darah Mengalir Khas RPKAD atau Kopassandha (kini Kopassus) sejak dahulu kala. Saya juga mengenal istilah lain seperti Ransum T1 atau T2, Bivak, Konsinyir, Uang LP, Beras Porad, Werving, Wearpack, Ponco, Velbed dan masih banyak lagi istilah lainnya.

Melalui Semir dan Braso saya telah memperoleh pelajaran sederhana. Saya menjadi tahu apa ragam Pakaian Dinas Tentara. Hari apa saja mesti pakai PDL Hijau atau PDL Loreng. Kapan harus mengenakan PDU dan sebagainya. Pelajaran berharga diperoleh melalui roster hari pemakaian pakaian dinas. Terlihat bagaimana menata satu keteraturan dalam hidup pada sebuah komunitas.

Seiring dengan perkembangan jaman semua perlengkapan yang terbuat dari kuningan telah berganti bahan pembuatnya sehingga tidak lagi membutuhkan pembrasoan.

Terima Kasih Papa engkau sudah mengajarkan sesuatu yang tak setiap anak akan memperolehnya.

Dari Ketua RT 04 Jadi Ketua RW 03

Berdasarkan Surat Perintah Nomor Prin : 033/12/1971 yang ditanda tangani oleh Kolonel Inf A. Kodim selaku Komandan Kesatrian Ahmad Yani Cijantung maka terhitung mulai 9 Desember 1971 almarhum papa ditunjuk menjadi Ketua RT 04 RW 03 Kelurahan Baru menggantikan Peltu O. Suprijatna. Melalui surat itu pula ditunjuk Serda M. Djanuni – Ba Hub Denma Kopassus menjabat sebagai wakil RT.04/RW.03. Surat Perintah itu adalah pengangkatan dari Kesatuan. Sedangkan pengesahan dari Pemerintahan baru keluar setelah surat dari Lurah Baru Pemerintah Daerah Chusus Ibukota Djakarta melalui Tjamat Pasar Rebo, Moh. Amin SH ditanda tangani. Dalam surat penunjukkan itu diketik bahwa terhitung mulai 19 Oktober 1972 Pemerintah Tingkat Ketjamatan mengesahkan papa untuk menjabat selaku Ketua RT. 004 /RW.03 Kelurahan Baru Ketjamatan Pasar Rebo.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Selama almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT banyak kegiatan dilakukan. Beliau pernah mengikuti seminar pengenalan Narkotika yang diselenggarakan di kantor walikota. Kegiatan yang dibuat diantaranya adalah Kerja Bakti, Pembinaan berupa Pengajian dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah merukunkan warga RT. 004 untuk kehidupan bertetangga dan tak lupa guna menunjang tugas pokok sebagai warga ABRI kata dan perbuatan adalah satu dalam menghayati Pancasila dan Sapta Marga secara utuh. Seingat saya pengajian diadakan pada setiap hari Kamis malam Jumat. Acara itu berlangsung secara giliran di rumah warga. Dalam melangsungkan acara biasanya tuan rumah akan menggunakan tikar sebagai alas sebagai pengganti kursi.

Sebuah prestasi yang sempat dicatat pada waktu almarhum papa menjabat sebagai Ketua RT. 004/RW. 03 adalah terpilihnya lingkungan warga RT. 004 menjadi lingkungan terbersih di seantero RW.03. Juara kebersihan itu istilah yang saya ingat. Dalam memberikan contoh teladan bagi warganya papa senantiasa tak ragu menurunkan kakak laki-laki untuk membersihkan selokan atau korve di samping dan depan rumah. Istilah Korve atau Kerja Bakti pertama kali saya kenal ya melalui kegiatan yang sering dilakukan di lingkungan ini. Setiap perayaan HUT Proklamasi seluruh trotoar di depan rumah warga kompleks di sepanjang Jalan Sungai Luis hingga Jalan Lebos yang berbatasan dengan RT lain akan di kapuri warna Putih. Alhasil warga memperoleh penghargaan berupa Piala berwarna Perak yang dikalungi pita kecil merah putih menjadi kebanggaan bagi warga RT. 004. Ibu-ibu serta anak-anak tampak gembira mendengar hasil perolehan kerja bakti mereka menghasilkan kemenangan. Peristiwa keberhasilan itu dapat dilihat melalui foto di depan rumah Wakil RT. 0043/RW. 03 persis di pertigaan Jalan Sungai Luis dan Jalan Lebos (saat ini nama jalan sudah berganti). Tampak pula sebuah papan tulis warna hitam yang digunakan untuk memberitahuan beberapa pengumuman kepada warga.

Sebuah peran almarhum papa lainnya sebagai Ketua RT yang masih terekam adalah ketika 2 buah keluarga yang rumah tinggalnya bersebelahan kerap berselisih paham satu sama lainnya. Kehadiran almarhum senantiasa berusaha untuk mendamaikan kedua keluarga yang sama-sama dari Maluku itu. Benih permusuhan sepertinya tetap hinggap diantara mereka hingga kepindahan kami ke Serang Banten pada tahun 1981.

Keberhasilan almarhum papa menjadi Ketua RT rupanya membawanya terpilih menjadi Ketua Rukun Warga 03. Sebuah papan warna putih bertuliskan hitam dipasang disebelah kiri rumah kami persis di dekat selokan kamar bagian depan. Sayangnya saya belum menemukan bukti otentik penunjukkannya sebagai Ketua RW.

Ceritera mengenai Rukun Tetangga dan Rukun Warga selama di Cijantung berakhir ketika Agustus 1981 terjadi pergeseran pasukan dari Cijantung ke Serang Banten dan Karianggo Ujung Pandang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hutan Kalimantan

Selepas menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN Cijantung 04 Petang, saya melanjutkan ke SMP. Saya diterima di Sekolah Menengah Pertama 103. Sekolah favorit di Cijantung pada waktu itu. Hampir semua anak Prajurit Kopassandha (kini Kopassus) diterima di sekolah tersebut. Saya masuk SMPN 103 ditempatkan di Kelas IB. Katanya sih termasuk kelas anak-anak yang memiliki nilai STTB yang baik. Seingat saya ketika itu SMP 103 menerima banyak siswa. Betapa tidak, Sekolah membuka hingga kelas O. Tiap-tiap kelas diisi oleh sekitar 35-40 siswa. Oleh sebab itu, satu angkatan memperoleh kesempatan masuk sekolah pada siang hari. Saking banyaknya siswa. Saya kemudian menyelesaikan masa pendidikan di SMP 103 persis selama 3 tahun dimana pada saat kelas 2 saya ditempatkan di Kelas 2 C dan sewaktu menginjak tahun ketigas saya masuk di Kelas 3I.

Tidak ada yang istimewa yang terjadi manakala saya menimba ilmu disana. Semua sepertinya berjalan seperti apa adanya terutama mengenai proses belajar mengajar kecuali pernah kami memiliki Kepala Sekolah seorang Pegulat Nasional. Alhasil setiap jam olah raga, semua murid laki-laki akan diajari bagaimana cara bergulat. Kadang tubuh ini lebam karena dibanting oleh beliau. Satu hal yang juga teringat oleh saya adalah Kerja Bakti yang selalu dilakukan pada setiap hari Sabtu. Ruang Kelas kami akan dibersihkan atau di pel oleh setiap siswa pada kelas itu.

Semasa SMP saya mencoba merokok. Rokok pertama yang dicoba merknya Filtra. Saya mencoba karena melihat semua teman merokok. Tetapi untungnya tidak sampai kecanduan, bahkan saya dapat bebas dari rokok. Bagi saya rokok tidak enak rasanya.

Selama menimba ilmu di Sekolah Lanjutan Pertama ini, saya kerap mengikuti sebuah kegiatan unik. Apakah kegiatan unik ini positif atau tidak saya tak tahu pasti. Jika ada 2 orang yang akan berkelahi di lingkungan sekolah kami maka akan diadakan sebuah ajang khusus. Biasanya dari mulut ke mulut tersebar informasi bahwa si anu akan berantam dengan si badu. Sepulang jam sekolah tanpa ada yang memberikan komando kami akan berjalan bersama-sama menuju sebuah lokasi di dekat Kolam Renang Tirta Yudha. Tempat yang dituju adalah sebuah kawasan penuh dengan pepohonan rimbun. Dulu namanya Hutan Kalimantan, sebab terletak tak jauh dari Jalan Kalimantan 1 dan Kalimantan 2. Kini lokasi itu diberi nama Hutan Kota oleh Denma Kopassus dimana di dekatnya telah berdiri sebuah Mal besar satu-satunya di Cijantung.

Di tempat ini rekan satu sekolah yang sedang berselisih memutuskan menyelesaikan persoalan diantar mereka berdua dengan jalan “duel”. Sesungguhnya masalah yang mereka hadapi hanya hal kecil bocah seusianya. Apalagi kalau bukan karena ketersinggungan. Hal sepele namun mengusik harga diri masing-masing. Pas dengan usia anak SMP yang mencari identitas diri.

Setibanya persis ditengah Hutan ini, keduanya diminta oleh “promotor” yang memprakarsai untuk membuka baju mereka. Mereka kemudian akan “berkelahi” disaksikan oleh kami yang mengelilingi keduanya. Tak ada benda tajam, tak ada alat bantu lain selain perkelahian tangan kosong. Saya ingat peristiwa itu serupa dengan film-film Van Damme. Perbedaannya disini tak ada uang taruhan. Pertarungan rekan sesama satu sekolah ini akan diakhiri apabila salah satu dari keduanya telah menderita oleh pukulan-pukulan dari lawannya. Selain itu jika seolah-olah berakhir seri maka pihak promotor juga yang akan menghentikan pertarungan tersebut. Setelah perkelahian usai keduanya akan diminta berdamai oleh sang promotor alih-alih takkan ada lagi permusuhan diantara keduanya.

Itulah salah satu cara seorang anak kolong menyelesaikan permasalahan diantara mereka. Hutan Kalimantan telah menjadi saksi bisu bagi perkelahian anak-anak Kopassus. Kadang suka tersenyum sendiri saat melewati lokasi itu mengingat-ingat masa sekolah dahulu. Hutan Kalimantan, namamu tetap di hati.

Asal Muasal “Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas”

Bicara soal semangat juang, sejak berdiri hingga saat ini, dari RPKAD hingga KOPASSUS masih tetap terjaga dengan sangat baik. Jiwa kejuangan hingga titik darah penghabisan juga masih terpelihara dilingkungan Baret Merah.

Sewaktu saya masih tinggal di Kompleks, apa yang disampaikan oleh Oom Tobing dalam ceriteranya di salah satu majalah yang saya kutip dalam ketikan ini sungguh sangat melegenda. Tak hanya keberhasilan dan kesuksesan yang ditorehkan oleh para prajurit Sandha saat membebaskan Sandera. Tidak pula karena perolehan KPLB atau Kenaikan Pangkat Luar Biasa satu tingkat. Satu hal yang saat itu melegenda di lingkungan Cijantung adalah sebuah kalimat yang mampu menyihir semangat juang setiap orang yang membacanya. Kalimat itu adalah kalimat yang disampaikan oleh almarhum Jenderal L.B Moerdani ketika memberikan briefing kepada para prajurit yang akan melakukan operasi pembebasan sandera di Don Muang. “LEBIH BAIK PULANG NAMA DARIPADA GAGAL DALAM TUGAS” kalimat yang sangat melegenda bagi siapapun yang pernah tinggal di Kompleks Cijantung. Kini tulisan ini diabadikan di sebuah monumen persis di dekat satu-satunya Mal di Cijantung. Tak hanya para prajuritnya, anak-anaknya, ponakannya, adik-adiknya. Siapapun akan tersihir oleh makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Apalagi selanjutnya kalimat itu dicetak pada sebuah kalender (dicetak juga di Gelas, Piring dll) yang memperlihatkan seorang prajurit dengan loreng darah mengalir dan bersenapan M-16 sedang melakukan sebuah lompatan sambil berteriak. “Lebih Baik Pulang Nama Daripada Gagal Dalam Tugas tak hanya menjadi sebuah moto namun telah merasuki jiwa juang semangat seluruh Keluarga Besar Kopassandha ketika itu.

Berikut dikutip kembali ceritera operasi pembebasan dilakukan yang pernah dikeluarkan oleh sebuah Majalah di Ibukota. Narasumber adalah Peltu P.L Tobing, ayah dari rekan saya satu sekolah di SMPN 103 Cijantung, Rita Tobing.

Sebagai referensi, saya juga menganjurkan bagi yang tertarik dapat membaca kisah Woyla ini di Buku almarhum Jenderal LB Moerdani yang ditulis oleh Julius Pour.

Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga”. Perintah Alm Jenderal TNI LB Murdhani itulah yang memotivasi semangat pengabdian dan pengorbanan Pelda Pontas Lumban Tobing berani berhadapan langsung dengan pembajak untuk membebaskan para penumpang pesawat Garuda Woyla yang disandera pembajak di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI. Pembebasan penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla di bandara Don Muang Thailand merupakan peristiwa spektakuler, bahkan banyak yang menilai keberhasilan itu melebihi keberhasilan Israel dalam membebaskan sandera di Entebbe Uganda. Keberhasilan TNI dalam hal ini Kopassus dalam aksi pembebasan sandera itu tidak lepas dari perang Pelda Pontas Lumban Tobing salah seorang anggota Kopassus yang tergabung dalam tim pembebasan dan bertindak sebagai penyergap bersama temannya almarhum Ahmad Kirang yang gugur dalam aksi itu. Pak Tobing demikian ia dipanggil sehari-hari rela telah menunjukkan keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam melaksanakan tugas mulia. Dia dan alm Ahmad Kirang mendobrak pintu pesawat DC-9 Garuda Woyla menyergap masuk menghadapi para pembajak yang berjumlah 5 (lima) orang bersenjata lengkap.Dia dan alm Ahmad kirang langsung berhadapan dengan para pembajak dan saat itu pula juga terjadilah tembak menembak yang tidak seimbang antara penyergap melawan pembajak. Dua anggota TNI Pelda Pontas Lumban Tobing dengan Capa Ahmad Kirang melawan lima pembajak pembajak ditengah histeria ketakutan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang. Dua orang yang belum bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang. Sementara pembajak sudah siap menghamburkan pelurunya kepada siapapun penerobos yang akan membebaskan para sandera. Dalam adu tembak yang berlangsung tidak lebih dari 5 menit itu 4 pembajak berhasil ditembak mati dan satu orang lainnya dilumpuhkan. Capa Ahmad Kirang gugur dalam aksi penyelamatan sandera itu dengan sejumlah luka tembak di badannya. Sementara Pelda Tobing sendiri kena dua tembakan masing-masing dibagian rusuk dan tangannya.

Pelda Tobing yang pensiun dengan pangkat Kapten menjelaskan kepada Patriot bahwa ia tidak mengira namun bangga ditunjuk menjadi anggota tim pembebasan pesawat Garuda yang disandera oleh pembajak di Don Muang dibawah pimpinan dua perwira yang sangat ia segani yaitu Jenderal TNI Alm LB Murdhani yang saat itu berpangkat Letjen dan Letjen TNI Purn Sintong Panjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol. PL Tobing ketika dipanggil untuk menjadi anggota tim pembebasan saat itu ia masih bertugas di Salemba sebagai pelatih komandan batalyon resimen mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

“Pada tanggal 29 Maret 1981 pagi-pagi, tiba-tiba saya mendapatkan telpon dari Markas Kopassus (saat itu masih Kopassandha) yang menurut anak buah saya katanya dari Letkol Sintong Panjaitan”, ungkapnya. Sintong Panjaitan memerintahkannya segera ke Cijantung secepatnya. “Saya lihat dibawah sudah menunggu anggota Provost yang siap menjemput saya ke Cijantung, saat itu pula saya berangkat ke Cijantung tetapi saya tidak tahu tugas apa yang harus saya laksanakan”, imbuhnya.

Dia mendapatkan penjelasan di Cijantung langsung dari Sintong Panjaitan bahwa tanggal 28 Maret 1981 pesawat Garuda Woyla di bajak di Don Muang Thailand. Pasukan TNI dari Kopassandha dibawah pimpinan Letkol Sintong Panjaitan dan dibawah koordinasi langsung Letjen TNI LB Murdhani memiliki tugas membebaskan para sandera dan melumpuhkan pembajak.

Pada hari itu juga, menurut PL Tobing Tim Khusus yang berjumlah 30 orang dengan berpakaian sipil diberangkatkan ke Don Muang dengan menumpang pesawat garuda jenis DC-10. Menurut Tobing semua penumpang nampak gelisah dan ditengah-tengah kegelisahan itu tiba-tiba muncul perintah dari Letjen TNI LB Murdhani agar seluruh prajurit memakai seragam lengkap Kopassandha. “Tunjukkan jati dirimu, lebih baik kita pulang nama dari pada gagal di medan laga. Kata-kata itulah yang memotivasi semangat dan keberanian saya untuk berhadapan langsung dengan pembajak dan membebaskan para penumpang yang disandera meskipun harus mengorbankan nyawa saya “, pengakuan Tobing. Maka saya yang ditugaskan sebagai penyergap bersama almarhum Ahmad Kirang tidak gentar sama sekali mendobrak pintu pesawat yang dibajak dan langsung berhadapan dengan para pembajak, tambahnya.

PL Tobing dan Ahmad Kirang mendobrak pintu utama untuk menerobos pesawat yang dibajak, meskipun awalnya sesuai rencana di perintahkan masuk melalui pintu darurat. “Pertimbangan saya dan Ahmad Kirang kalau secara senyap masuk melalui pintu darurat begitu nongol akan di gorok pembajak dan kita tidak bisa membedakan mana pembajak dan mana penumpang, maka kita berinisiatif dan memutuskan untuk melalui pintu utama”, jelas Tobing. Ketika berhasil mendobrak pintu dan masuk ke pesawat saya langsung berterika sekeras-kerasnya” Penumpang Tiaraaaaappp” dengan harapan semua penumpang tiarap kecuali pembajak untuk membedakannya, karena kita memang tidak bisa membedakannya dan kita belum bisa melihat apa-apa di badan pesawat karena mata kita masih beradaptasi, tambahnya. Ternyata apa yang dilakukan Tobing memang benar adanya. Seluruh penumpang tiarap keculai pembajak yang saat itu langsung memberondongnya dengan tembakan.

Seperti dituturkanya, kejadian tembak menembak itu telah menewaskan teman seperjuangannya Capa Ahmad Kirang dan dia sendiri mengalami dua luka tembak yang terpaksa mengharuskan dia dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto beberapa waktu lamanya. Namun Tim Khusus dari Kopassandha dan tentu saja karena semangat pengabdian dan pengorbanan 2 orang tim penyergap yaitu almarhum Lettu Anumerta Ahmad Kirang dan Pelda Pontas Lumban Tobing ini telah berhasil menambah torehan emasnya membebaskan para penumpang pesawat DC-9 Garuda Woyla di Don Muang Thailand. Atas jasanya itu Pelda Pontas Lumban Tobing menerima anugerah kehormatan medali “Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi” sebagai penghargaan atas pengabdian dan pengorbanannya yang patut dijadikan suri tauladan bagi semua generasi penerus prajurit TNI.

Ketika ditanya tentang perasaan apa setelah ia berhasil melaksanakan tugas pembebasan penumpang pesawat Garuda Woyla yang sangat spektakuler itu PL Tobing dengan rendah hati dan jujur mengaku bangga. “ Saya dianugerahi Bintang Maha Sakti dan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa setingkat lebih tinggi menjadi Peltu“, ungkapnya. Namun jujur saya katakan kenaikan pangkat luar biasa itu bagi saya kurang tepat, karena tanpa kenaikan pangkat luar biasa itu sebetulnya saya sudah diusulkan oleh satuan naik pangkat secara reguler menjadi Peltu. Memang hal ini pernah menjadi pembicaraan di kalangan satuan saya, tapi biarlah yang penting kita dapat melaksanakan tugas dengan baik. “Tapi saya pesan melalui bapak-bapak (Patriot) moga-moga pimpinan TNI memperhatikan kehidupan para penyandang kehormatan Bintang Maha Sakti ini yang jumlahnya tidak banyak. Khan bapak-bapak akan repot sekali bila harus mengangkat jenasah saya dari rumah ini menuju TMP, karena rumah saya yang jelek dan berada di gang sempit ini”, pesan PL Tobing melalui Patriot.

“Memang betul apa yang dikatakan Pak LB Murdhani, lebih baik pulang nama dari pada gagal di medan laga, dan itu saya kira harus ditanamkan dalam jiwa seluruh prajurit TNI”, ungkapnya. Semangat ini yang harus dipelihara, karena saya lihat sudah banyak yang mulai luntur. Rata-rata hanya mengejar materi. “Kita harus bisa membedakan mana yang emas 22 karat, mana emas palsu. Mana perunggu ? Dan hal ini yang harus dimiliki oleh para pemimpin TNI terutama dalam menilai anak buah yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan”, tuturnya. Pembinaan karir jangan hanya didasarkan pendidikan saja, tapi juga harus didasarkan pengalaman dan pengabdiannya, tambahnya. (Patriot)

Sumber : Patriot