Category Archives: Pelayanan

Fun Games PO STIAMI : NLP Lagi Heran Lagi !

Usai beberapa waktu lamanya tidak menghandle kegiatan Fun Games, Sabtu 27 Juli 2013 tepat di hari peringatan penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro saya kembali membawakan satu hal yang menjadi kesukaan dalam hidup yakni berbagi apa yang diketahui. Kali ini saya melayani sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa dari sebuah Sekolah Tinggi, namanya Persekutuan Oikoumene Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia. Tadinya memang saya berpikir akan fully equipped untuk membawakannya namun kekuatan pikiran mengatakan lain sehingga saya memutuskan untuk membawa 1 buah ransel berisi tali temali, blind fold, balon, 1 gulung besar tali rapia, 2 Hula Hup, 4 Ember kecil, 1 paket Kalimat Berpasangan, 1 dooz Pensil saja. Sebagai langkah antisipatif kalau hari hujan saya juga telah menyiapkan beberapa games tanpa alat yang nantinya dapat dimainkan dalam ruangan. Keikutsertaan saya dalam kegiatan ini adalah atas inisiatif dari Bang David Siregar yang meminta saya membantu dirinya yang juga tampil sebagai pemateri dalam kegiatan PO STIAMI yang bertajuk Dipanggil Menjadi Anak Terang.

Untuk mengenal area kegiatan, saya pergunakan pengetahuan yang didapat dari pelatihan outbound trainer yakni saya melaksanakan Site Management di lokasi, saya hadir di Wisma Pelatih Taman Wiladatika CIbubur beberapa jam sebelum session saya dilaksanakan. Bisa jadi panitia atau ada peserta mungkin bertanya, mengapa acara sore kok jam sebelas sudah standby dilokasi. He he he, maaf ya panitia, jadinya keluar nasi box satu lagi buat saya ya. Sebenarnya ini sih merupakan kebiasaan saja, alih-alih untuk mendapatkan keberdayaan dari alam sekitar lokasi perhelatan Retreat dan Sidang Pleno dari PO STIAMI. Saya memang mesti hadir, melihat, doa kepada Tuhan, berbicara sedikit dengan alam semesta agar mendukung apa yang akan saya lakukan.

Satu hal yang saya ingin share disini, apa yang saya pikirkan dengan membayangkan apa yang yang lakukan dalam kegiatan ini, semuanya terjadi persis seperti yang ada dalam pikiran. Sebelum acara dimulai saat sedang menyusun Session Planning Sheet,  alam pikiran membayangkan bahwa sepertinya peserta yang hadir tidak sampai 30 orang seperti salah seorang panitia sungguh berharap dalam surat elektroniknya. Meski saya persiapkan juga semua permainan dengan peserta 30, yang saya lihat ketika tiba di tempat kegiatan, persis seperti pikiran yang menggelayut dalam bayangan, rupanya hanya 13 orang saja. Hal kedua yang terjadi, alam pikiran saya sudah membawa keadaan di lokasi acara strongly rain will drop on that day, in fact, it was raining.Wow ! nyata banget ya, kalau kita mulai memikirkan, membuat sebuah gambar dalam alam pikiran kita, itu sungguh terjadi lho !. Persis seperti kata Coach Erni Julia Kok, Certified Master Trainer Internasional NLP, dalam sebuah status yang beliau tulis di face book. Ia menulis bahwa  “Alam pikiran kita adalah kreativitas tak terbatas. Apa yang dapat diciptakan dalam Alam Pikiran dapat diciptakan oleh Alam Nyata/Material. Dengan kata lain, apa yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh pikiran kita dapat dipegang oleh tangan kita”. Dengan 2 kejadian yang saya alami, menurut diri ini, saya benar dapat memegangnya. Meski kadang saya masih agak “heran” kok bisa ya, tapi itulah yang terjadi. Peristiwa Sabtu lalu adalah yang kesekian kalinya terjadi dan dapat saya pegang. Meski sudah menjadi Certified NLP Practitioner rupanya saya masih beberapa saat akan mengalami rasa heran. Aaah, harusnya tidak boleh seperti itu. Jadi mesti banyak belajar lagi dan lagi agar siap menghadapi betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu bila kita dapat memanfaatkan, tentunya hanya untuk hal yang berbau positif saja.

Ooh ya, gimana dengan kegiatan Fun Games PO STIAMI sendiri ? Dengan pertolongan Tuhan dan kekuatan pikiran yang dimiliki, acara berlangsung baik dan kiranya dapat diterima dan dimanfaatkan oleh setiap peserta agar mereka dapat memanfaatkan keberdayaan yang dimiliki untuk dipakai dalam ladang pelayanan di lingkungan STIAMI. Semangat yang dimiliki patut diacungi jempol, meski sedikit yang hadir tapi tak sedikitpun terlihat goyah hanya masalah ketepatan waktu saja yang kemarin terlihat sedikit dikesampingkan.

Kegiatan yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu, diakhiri ketika kumandang adzan magrib terdengar di seantero Taman Wiladatika. Saya pun mengakhirinya dengan memberikan games pamungkas kepada 13 orang peserta yakni ” The Power of Action”. Meski hari sudah agak gelap, saya katakan kepada mereka, percuma bila kakak dan abang semua yang menjadi pelayan hanya bisa berkata-kata saja tanpa langsung memulai sebuah aksi nyata. Meminjam istilah pemazmur, “sia-sialah” para pelayan memiliki program yang bagus, kemampuan dana, dan sources lainnya bila sama sekali tidak melakukan satu aksi  yang benar-benar dapat dirasakan oleh lingkungan dimana kita ditempatkan. Pakailah kekuatan dari aksi untuk melayani di ladangNya.

Terima kasih TUHAN atas waktu yang Engkau sudah berikan, atas apa yang saya sudah boleh bagi dan alami bersama para mahasiswa dan para pekerja yang telah komit dalam ladang Tuhan di PO STIAMI. Kiranya dengan terpilihnya kepengurusan yang baru, semangat untuk tetap setia, jujur, rendah hati dalam melayani akan tertanam dalam jiwa para pengurus dibawah kepemimpinan Abang Roland Siahaan yang kabarnya telah ditahbiskan pada hari Minggu 28 Juli 2013 ini.

 

 

 

Pembinaan “HOMILETIKA” Presbiter Dan Pelayan Pelkat GPIB Pancaran Kasih Depok

Hari Kamis 6 Juni 2013, saya dimampukan untuk hadir dalam Pembinaan Presbiter GPIB Pancaran Kasih. Sayangnya saya datang terlambat sehingga melewatkan materi yang disampaikan oleh Pdt. Ny. Widyati Simangunsong S, S.Th, M.Min. Sehabis makan siang seluruh Presebiter dan para Pelayan Pelkat kembali akan menerima materi kedua terkait KHOTBAH. Kali ini yang menjadi pembicara adalah Pdt Antonius Salawane. Supaya kertas materi yang dibagikan tidak hilang begitu saja, dan dapat saya baca berulang-ulang, bisa jadi saat di kereta, atau dimana saja. Berikut saya ketik ulang tulisan beliau :

1. PENGANTAR : TRADISI KHOTBAH
Kata Khotbah berasal dari Bahasa Arab yang artinya dapat disejajarkan dengan pidato. Namun berbeda dengan pidato, Khotah didasarkan pada teks kitab suci. Untuk itu Khotbah dikaitkan dengan kata Yunani “HOMILETIKA” yaitu ilmu pergaulan atau ilmu bercakap-cakap. Jadi Homiletika menunjuk kepada kegiatan percakapan seseorang bersama sekumpulan orang. Dalam pemahaman Katolik, khotbah diartikan sebagai pengajaran kepada umat yang tidak terkait dengan teks Kita Suci atau Liturgi. Sedangkan “Homili” diartikan sebagai pengajaran yang didasarkan pada kutipan Alkitab.

Dalam Gereja Protestan, khotbah diberi tempat yang sentral dalam Ibadah. Tidak ada ibadah tanpa khotbah. Marthin Luther dan Yohanes Calvin (tokoh Gereja Reformasi) menempatkan khotbah sejajar dengan perjamuan kudus bahkan Calvin mengatur perjamuan kudus sekurang-kurangnya diadakan satu kali dalam seminggu.

Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman sebab menurutnya Firman Allah, khotbah dan seluruh liturgi ibadah harus dimengerti oleh orang Jerman sendiri. Calvin lebih ketat daripada Luther (dalam hal disiplin Gereja). Menurutnya setiap orang wajib datang ke Gereja pada hari Minggu kecuali untuk mengawasi anak-anak atau hewan dengan ancaman denda. Kemudian bila seseorang masuk sesudah Khotah dimulai, ia patut diberi peringatan dan kalau sesudah itu kelakuannya tidak berubah maka setiap kali ia terlambat dikenakan denda. Yang bertugas mengawasi dan menjalankan disiplin gereja bagi umat ialah para penatua.

2. FUNGSI KHOTBAH
Secara prinsip fungsi Khotbah Kristen ialah memberitakan atau mewartakan firman Allah yang bersumber dari Alkitab. Namun didalamnya terkandung empat hal sebagai berikut :
– Fungsi Edukatif ; Menekankan aspek pengajaran kepada umat. Dalam Perjanjian Lama, Keluarga sebagai asis pengajaran iman dan ayah bertugas untuk mengajar (Ulangan 6 : 7). Dalam Perjanjian Baru ditempat-tempat Ibadah (Sinagoge) Khotbah disampaikan dalam bentuk pengajaran, (Mat 13:54)n begitupn di luar rumah ibadah (Mat 5 : 2) dan Yesus disapa sebagai Rabi/Guru (Mark 9-5).
– Fungsi Penyelamatan ; Bukan hanya keselamatan di “dunia yang akan datang” saja, tapi juga di masa kini dengan memberi kekuatan, penghiburan, membangkitkan semangat, memberi pengharapan, motivasi, mengingatkan dsb.
– Fungsi Pengawasan Sosial ; Kritik terhadap penguasa dan berbagai praktek dosa secara struktural.
– Fungsi Transformatif ; Ajakan untuk berubah.

3. TAHAP-TAHAP PENYUSUNAN KHOTBAH
– Mengetahui Ibadah yang dipimpinnya ; Tahu keadaan konkrit keluarga/tuan rumah atau jemaat yang akan hadir, Untuk Ibadah-Ibadah Khusus, Khotbah perlu menyentuh beragam latar belakang diadakannya ibadah.
– Berdoa Mohon Tuntunan Roh Kudus ; Agar jangan mengandalkan pikiran sendiri, agar diberi pencerahan melihat dan memahami Firman Allah.
– Membaca Narasi Perikop ; Lectio Continua (Bacaan Bersambung) dan Lectio Selecta (Bacaan Terpilih), Bacalah Narasi teks berulang-ulang agar kita melihat dan menemukan “Mutiara-Mutiara” dari perikop yang dibaca.
– Menuliskan Catatan Khotbah ; Renungkanlah Mutiara-Mutiara” yang kita temukan tadi secara mendalam untuk diri sendiri, sebab seorang pengkothbah harus meyakini kebenaran firman Allah terlebih dahulu sebelum ia menyampaikannya kepada umat, Buatlah CIT (Center Idea of The Text) atas perikop, Buatlah Pokok-Pokok penjaaran dari CIT tadi, Bacalah buku-buku tafsiran Alkitab dan sumber-sumber lain untuk memperkaya khotbah.
– Pikirkan Bagaimana Menyampaikannya ; Khotbah yang baik harus disampaikan dengan bahasa yang lugas, tidak bertele-tele atau berputar-putar, terarah pada tema, ada awal dan ada akhir, Jangan Terikat pada tulisan sebab Khotbah harus menyapa umat, Cobalah untuk berinteraksi dengan umat agar mereka tidak hanya mendengar.

Materi diatas disampaikan oleh Pdt. Antonius Salawane pada saat Pembinaan Presbiter dan Para Pelayan Pelkat di GPIB Pancaran Kasih Depok, Kamis 6 Juni 2013.

 

Ibadah Keluarga : Kesetaraan Gender

Pembacaan pada malam ini merupakan bagian dari percakapan 2 orang murid yang sedang dalam perjalanan menuju Emaus. Kedua murid itu tercatat sebagai Kleopas dan Simon. Emaus adalah sebuah Kampung yang letaknya kurang lebih 7 (tujuh) mil atau 11 (sebelas) kilometer dari Kota Yerusalem. Para murid saat itu sedang merasakan kepedihan, kebingungan dan ketakutan yang teramat sangat sampai-sampai ketika Yesus menemani mereka berjalan menuju Emaus mereka tidak mengenalNya lagi. Menurut bacaan ini, ada sesuatu yang menghalangi pandangan keduanya sehingga dua orang murid itu tak mengenalinya. Sepanjang perjalanan keduanya ketika itu sedang mempercakapkan peristiwa kebangkitan Kristus yang menjadi buh bibir dan mengagetkan banyak orang. Peristiwa itu baru saja mereka dengar dari beberapa orang perempuan yang pada hari Minggu itu dipagi-pagi buta sudah pergi ke kubur. Layaknya kebiasaan bangsa Yahudi, para perempuan itu pergi ke kubur pada hari pertama minggu itu sambil membawa rempah-rempah. Sesampainya di kubur, perempuan-perempuan itu ; Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus heran sebab ketiganya mendapati batu penutup kubur sudah bergeser, terguling dari kubur itu. Tambah kaget lagi saat mereka masuk ternyata mayat Yesus pun tidak terlihat disana.

 

Seperti layaknya orang yang kaget tidak mendapatkan apa yang diinginkannya mereka pun seolah putus harapan sambil berdiri termangu-mangu. Pada saat itulah 2 orang tiba –tiba muncul berdiri dengan memakai pakaian yang berkilau-ilauan. Belum selesai mereka termangu kini malah mereka terkaget karena ketakutan dan tak sanggup menatap kedua orang itu.

Malaikat itu mengatakan mengapa mereka mencari Dia yang hidup diantara orang mati ? IA tidak ada disini, IA telah bangkit !.

Jemaat terkasih

Dengan kebangkitanNya maka kita akan memperoleh keselamatan kekal. Kepercayaan kita akan adanya Juruslamat akan menjadi sia-sia apabila Yesus Kristus tidak bangkit. Jika kebangkitan daging adalah kemustahilan maka tidak mungkin Yesus bangkit. Jika Kristus tidak bangkit maka pemberitaan Injl terdengar bagai setumpuk kabar kosong tak berguna. Kebangkitan Yesus ingin membuktikan bahwa Yesus Hidup dan telah mengalahkan maut. DIA telah mati dan bangkit bagi semua orang dan untuk setiap individu. Kebangkitan Yesus dari kubur telah menjadi sebuah peristiwa yang penuh kehebohan. Dunia gempar, manusia terheran karena sorga bergerak kearah bumi dan mendatangkan keajaiban-keajaiban diluar perkiraan dan pengetahuan manusia.

Peristiwa kebangkitan Kristus yang disaksikan pertama kali oleh para perempuan-perempuan itu membuat sebuah perubahan yang besar terjadi. Perempuan-perempuan yang dipakai Allah pada peristiwa Kebangkitan Yesus pada saat itu benar-benar telah menjadi suatu Terobosan terhadap tradisi “Patriarkhat” yang berlaku pada masyarakat Israel. Waktu itu perempuan disiapkan untuk melaksanakan urusan dan pelayanan dalam rumah tangga, sementara laki-laki disiapkan untuk menjadi kepala keluarga yang mengupayakan : Nafkah, melindungi dan membina keluarganya. Laki-laki mengurusi hal-hal kemasyarakatan. Menurut Tradisi peranan perempuan dibedakan menurut kodratnya. Apabila perempuan Israel berkelakuan diluar kodrat tradisi maka ia tidak akan mendapat kepercayaan atau tidak dipercayai. Kaum lelaki dianggap berkuasa dan memegang kendali meski terkadang lamban dalam menangani masalah karena kekurangan informasi. Semua jabatan penting, ada di tangan laki-laki. Begitupula dalam dunia pengadilan, seorang perempuan tidak boleh memberikan kesaksian. Masyarakat Yahudi tidak menerima seorang perempuan tampil sebagai saksi.

Padahal akibat kekurang sigapan menanggapi berita kebangkitan, banyak murid yang cerai berai dan kembali mengikuti jalan hidup sebelumnya termasuk 2 orang murid yang “mudik” ke Kampung Emaus sebelum Yesus akhirnya menampakkan diri setelah kebangkitanNya agar mereka kembali dalam panggilan dan pengutusan untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Bapak/Ibu/Saudara terkasih,

Peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus juga merubah paradigma yang terjadi di kalangan Yahudi ketika itu. Yesus tidak menampakkan diri pertama kali kepada kaum lelaki. DIA justru menampakkan diriNYA pada golongan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa TUHAN ingin memakai kaum perempuan lebih besar IA ingin mengedepankan kaum perempuan untuk terlibat lebih dalam lagi. Penulis Lukas yang dikenal sebagai Tabib Lukas, Sarjana Kedokteran tempo dulu mengangkat hal ini agar peranan perempuan yang tidak dipercaya secara tradisi itu justru terungkap sebagai yang memberitakan kebenaran. Lukas berharap ada perubahan pandangan terhadap kaum perempuan. Kekuatan tradisi Yahudi pecah karena Tuhan memakai kaum perempuan sebagai yang pertama kali menyaksikan kebangkitannya. Keberdayaan Tradisi yang dipegang oleh para murid pada kenyataannya malah membuat perempuan-perempuan itu mesti tidak dipandang sebelah mata karena apa yang dilihat itu benar dan harus dipercaya. Yesus Kristus melalui kebangkitanNYA ingin mengungkapkan bahwa kaum perempuan layak untuk dipercaya.

Bapak/Ibu terkasih dalam Yesus

Pada peristiwa Paskah terjadi sesuatu yang berlawanan arus. Perempuan malah yang dijadikan saksi bahkan atas perkara yang besar. Orang-orang pertama yang menerima kabar bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit adalah beberapa perempuan. Dan hal ini dicatat oleh keempat kitab Injil, mereka adalah Maria Magdalena dan Maria yang lain (menurut Matius), Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome (menurut Markus), Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus (menurut Lukas) dan Maria Magdalena (menurut Yohanes). Peranan mereka sangat penting, selaku saksi atas peristiwa bangkitnya Yesus sebagai Tuhan dan Allah serta lahirnya gereja.

Bapak/Ibu Kekasih Tuhan !

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini ? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuana hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila melihat ada pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling dekat selain ketiga Pendeta GPIB Pancaran Kasih, Kapolsek Sukma Jaya juga kalau tidak salah dijabat oleh seorang perempuan. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30 % kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.  Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Yesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh mereka kaum perempuan bukan ingin merubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Melalui peristiwa kebangkitan, Yesus ingin merubah, DIA ingin mengatakan bahwa manusia semua itu sama. Semua manusia dapat dipakai oleh Tuhan untuk melayani DIA yang sudah bangkit, KebangkitanNYA memberikan jaminan hidup kekal tidak hanya bagi kaum lelaki tapi juga kaum perempuan. AMIN

Bacaan Alkitab ; LUKAS 24 : 22-24

Disampaikan pada Ibadah Keluarga di Kel. George W Harlim (dari pelbagai sumber)

Rabu 10 April 2013 – GPIB Pancaran Kasih Sektor BETEL

99 Balon

Dua bulan sebelum lahir, Eliot Mooney divonis menderita Edwards Syndrome, penyakit yang tak memungkinkannya untuk lahir selamat.   Orangtuanya berdoa memohon mukjizat, dan Eliot pun lahir. Namun,  kondisinya memprihatinkan: paru-parunya tak berkembang sempurna,   jantungnya berlubang, dan DNAnya memberi informasi keliru pada setiap sel tubuhnya. Setelah dua minggu Eliot diizinkan pulang dengan tiga peralatan medis menempel di tubuhnya, termasuk tabung oksigen dan selang untuk memasukkan susu.

Eliot kecil bertahan dan bertumbuh walaupun tak secepat anak  seusianya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Uniknya, orangtua Eliot  merayakan “ulang tahun”-nya setiap hari. Sebab, satu hari saja merupakan perjuangan berat baginya untuk hidup. Maka, setiap hari mereka merayakan kemenangannya. Hingga akhirnya, pada hari ke-99, Eliot kembali kepada Yesus. Pada hari pemakamannya, 99 balon dilepaskan -masing-masing mewakili ucapan syukur atas setiap hari yang Eliot habiskan di bumi.

Ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat, kematian  membayanginya. Ia disadarkan akan betapa fana hidup manusia. Namun,  Ayub berkata bahwa selama Tuhan masih memberinya hidup, ia akan terus berharap. Dan, bila kelak waktunya tiba, ia akan bahagia  karena itu berarti Allah merindukannya pulang! 

Sudahkah kita mensyukuri setiap hari yang Tuhan beri? Mensyukuri hidup kita dan orang-orang di sekitar kita? Jangan membuang satu  hari pun untuk hal sia-sia. Selama kesempatan ada, hiduplah maksimal bagi Dia. –AW 

Bacaan : Ayub 14:7-15

Sumber Renungan Harian

Minggu Epifani

Epifania

Epifani (Yunani Epifaneia = Penampakan)

Istilah ini awalnya dipakai untuk penampakan kaisar atau patungnya sebagai dewa pada puncak manifestasi di stadion atau emfiteater (tempat tontonan besar untuk rakyat). Uman Kristen pertama tidak mengakui kaisar, melainkan Yang Tersalib sebagai Tuhan.

Istilah “Epifania” tetap mereka pakai untuk peringatan penampakan (Pernyataan atau tampil dimuka umum) Sang Juruslamat yang bernama Yesus. Makanya, Epifania lebih terkait dengan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

Penampakan Bintang di Timur, penyembahan orang Majus, Bayi Yesus yang dibawa oleh orang tuanya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah, tampilnya Yesus di sungai Yordan untuk dibaptis Yohanes dan penetapanNya (dengan suara dari atas :”Inilah Anak-Ku”.

Hari Epifania dirayakan pada 6 Januari; sedangkan Minggu Epifania dimulai dengan Hari Minggu terdekat dengan tanggal 6 Januari dan dirayakan selama 7 minggu, dimana Minggu VII adalah merupakan minggu transfigurasi (Yesus berubah wujud = Pemuliaan Yesus di atas gunung) dan penetapan kembali sebagai Anak yang dikasihi dan dikenan oleh Allah. Dalam Lukas 9:31 dikatakan bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang “tujuan kepergianNya (Yun, ekshodos atau exodus-Nya) ke Yerusalem, yakni agar paska digenapi olehNya. Minggu VII disebut Esto Mihi = “Jadilah Bagiku” (Mzm 31:3b); yakni sebagai titik peralihan, menurut cerita injil, dari perjalanan Yesus di Galilea kepada perjalananNya ke Yerusalem.

Simbol Hari dan Minggu Epifani adalah Bintang bersegi lima (warna putih) di dalam lingkaran (warna kuning) dengan warna dasar hijau.

Arti :

Bintang bersegi lima ini lebih dikenal sebagai bintang Yakub, atau menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (Bilangan 24:17). Di kemudian hari, dimanifestasikan melalui kelahiran Yesus Kristus, yang juga ditandai dengan munculnya/terbitnya bintang di Timur (Matius 2:1-2).

Bintang ini pula yang menunjuk pada penampakan kemuliaan Yesus Kristus bagi umat manusia. Simbol ini berganti pada malam Hari Minggu Prapaska VI

Selamat Menantikan KedatanganNYA

advent
ADVENT (Lat. Adventus) artinya ‘kedatangan.’ Istilah ini dulu kala dipakai umum dalam Imperium Romawi untuk kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa. Advent juga terkait dengan masa penantian Mesias oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Berdasarkan latarbelakang itu maka para pengikut Kristus memberi makna baru bagi ‘advent’ yakni untuk menyatakan kedatangan Tuhan Yesus. Bagi mereka bukan kaisar, melainkan Kristus sebagai Raja dan Tuhan yang datang. Bahwa Mesias yang dinantikan oleh umat Israel sesungguhnya telah datang dalam diri Yesus. Dia sudah datang dan akan datang. Itu sebabnya, advent juga terkait erat dengan kedatangan Yesus Kristus pada akhir zaman.

Advent dirayakan selama 4 (empat) Minggu sebelum Natal. Karena itu, Minggu-minggu Advent merupakan masa persiapan bagi orang Kristen untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus, dan kedatanganNya itu dipahami adalah pertama kali dalam bentuk bayi Yesus yang lahir di kandang Betlehem, yang dirayakan pada Hari Natal.

Simbol Minggu Advent, seperti terdapat pada kain mimbar dan stola GPIB, adalah Jangkar – Salib dengan warna dasar Ungu muda

Warna dasar : Ungu Muda
Lambang/Logo : Salib jangkar
Warna jangkar : kuning
Arti : Salib jangkar ini dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di Kotakombe-kotakombe. Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari ia menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan KRISTUS. Di sini lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian akan kedatangan KRISTUS kembali.

Simbol ini berganti pada pagi hari tanggal 25 Desember.

Mempunyai Belas Kasihan ; The Power of Action

40004000Sejak Sekolah Minggu saya yakin kita semua pasti sudah pernah bahkan sering membaca sekaligus mendengar kisah mukjijat yang dilakukan Tuhan Yesus (Alkitab mencatat Yesus Melakukan 35 kali Muzijat sepanjang pelayanannya). Apalagi kisah ini ada lagunya jadi pasti teman-teman yang hadir sudah mengetahuinya. Namun ketika membaca perikop malam ini sepertinya bila tidak memahami secara seksama maka akan membuat kita bingung. Mengapa demikian ? Terang saja sebagian dari kita bisa jadi confuse sebab mengapa kok ada perbedaan dari jumlah orang ya. Selama ini termasuk dalam lagu yang kita ingat adalah Yesus memberi makan 5000 orang tapi kenapa kok dalam bacaan malam ini hanya 4000 orang saja. Peristiwa Yesus Memberi Makan kepada 4000 orang yang malam ini bila coba sama-sama kita renungkan ternyata memang merupakan 2 peristiwa yang berbeda. Ceritera ini benar memilki persamaan semisal Yesus Mengucap Syukur terlebih dahulu sebelum memecahkan dan memberikan kepada murid-muridNya (sesuai adat Yahudi) untuk dibagikan kepada orang banyak. Kedua, pada peristiwa itu diceriterakan ada 3 tokoh yang sama yakni Tuhan Yesus, Para Murid dan Orang Banyak.
Akan tetapi untuk meyakinkan adanya perbedaan dalam 2 peristiwa ini mari kita sama-sama perhatikan melalui bacaan malam ini dimana sedikitnya ada beberapa perbedaan yang membuat pembaca Injil Markus ini akan semakin yakin akan adanya perbedaan diantaranya :
1) TKP ~ Ceritera pemberian makan kepada 5000 orang ada pada ke-4 Injil (Mat 14 : 13-21, Markus 6 : 30-44, Luk 9 : 10-17, Yoh 6 : 1-13). Hanya Injil Lukas yang menyebutkan nama kota dimana Yesus memberikan makan kepada 5000 orang yakni kota Betsaida yang merupakan kampung halamannya Filipus, Andreas dan Petrus dan berada dalam wilayah Dekapolis. Sedangkan untuk cerita Yesus Memberikan makan kepada 4000 orang hanya dapat kita baca pada Injil Matius 15: 32-39 dan tentunya bacaaan kita malam ini. Memang tidak disebutkan secara jelas namun peristiwa ini terjadi sebelum Yesus bertolak ke Magadan/Magdala atau dalam bacaan kita disebut ke daerah Dalamanuta yang berada dalam wilayah Galilea. (dalam Yohanes ditulis Yesus sedang dalam perjalanan menuju Kapernaum, di Galilea setelah memberi makan 5000 orang)
2) Jumlah Bakul ~ Pemberian makan kepada kerumunan orang banyak dalam peristiwa Yesus Memberi Makan 5000 orang menyisakan 12 bakul sedangkan pada peristiwa 4000 orang tersisa hanya 7 bakul.
3) Penggunaan istilah Bakul ~ Pada kisah 5000 orang dipakai istilah Bahasa Yunani “Kophinos” yakni Bakul perbekalan Yahudi. Sedangkan dalam kisah 4000 orang Alkitab mencatat kata Yunani “Spyris”, sesuatu yang dianyam dari ranting-ranting atau kerecut, semacam yang dibawa oleh pedagang-pedagang bukan Yahudi dan cukup besar untuk memuat satu orang.
4) Jumlah Roti dan Ikan ~ Pada ceritera 5000 orang, Alkitab mencatat jumlah makanan yang dipunyai para murid adalah Roti sebanyak 5 potong dan 2 ekor ikan. Sedangkan dalam bacaan malam ini makanan yang dimiliki murid-murid Tuhan Yesus adalah 7 buah Roti dan beberapa ekor ikan. Jadi jelaslah kini bahwa ceritera Yesus Memberi Makan kepada orang banyak itu memang 2 peristiwa yang berdeda. Karena itu adalah keliru apabila kita menolak perbedaan-perbedaan tersebut hanya sebagai perubahan gaya berceritera saja.

Rekan2 Pemuda yang dikasihi Tuhan
Apa yang terjadi pada waktu itu sebenarnya ingin sekali mengajarkan dan menegaskan kembali kepada para murid untuk melihat betapa keteladanan yang Yesus lakukan itu sangat luar biasa karena DIA tak putus-putusnya mendidik para murid-murid agar mereka memiliki keteladanan seperti yang IA lakukan. Yesus Kristus melalui peristiwa ini ingin menyentil murid-muridnya yang ternyata setelah mengikutiNya masih saja belum memahami apa kehendakNya yang mesti mereka lakukan. DIA ingin pengikutnya memiliki respon positif terhadap orang banyak. Akan tetapi para Murid belum belajar, seolah tidak ingin direpotkan, sama sekali mereka tak memiliki Belas Kasihan kepada orang banyak yang mengikuti mereka. Bahkan murid-murid sempat “ngeles” dengan menyampaikan alasan kepada Yesus bahwa bagaimana ditempat yang sunyi orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang (Markus 8 : 4).
Melalui bacaan malam ini dapatlah kita ambil makna atau insight bahwa peristiwa pemberian makan kepada 4000 orang itu ingin mengungkapkan bahwa :

1.Inisiatif : Inisiatif pemberian makan kepada orang banyak dalam bacaan malam ini adalah dari Yesus Kristus sendiri. Tuhan Yesus melihat, merasakan dan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. IA tak melihat para murid memiliki inisiatif meski sudah mengikuti diriNya untuk melakukan sesuatu bagi orang banyak.

2. Kepekaan : Ketika Tuhan mendengar, melihat dan merasakan DIA lantas mengambil keputusan dengan menanyakan kepada para Murid apa yang ada pada mereka. Tuhan tidak serta merta menerima alasan para murid apalagi menyuruh murid – muridnya diluar kemampuan mereka saat itu. Akan tetapi justru IA melakukan sesuatu berdasarkan atas apa yang dimiliki oleh para Murid. Yesus memulai dari apa yang dipunyai para murid dan dari sanalah IA melakukan mukjijatNya. Hal ini mengajarkan bagi kita semua bahwa sedikit yang kita miliki dapat dijadikan berkelimpahan apabila dipersembahkan kepada Tuhan dan diberkati olehNya.

Ini merupakan contoh dari belas kasihan Yesus terhadap kebutuhan orang yang memerlukan pertolongan. Sepanjang segala jaman khususnya dewasa ini ketika orang bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan jasmani dan rohani yang dialami orang lain, bacaan kita malam ini mengingatkan agar para pengikut Kristus justru mesti memiliki sikap Inisiatif dan Kepekaan terhadap orang-orang yang memerlukan pertolongan. Kita bersyukur sebab dapat belajar dari bacaan ini untuk berlaku dan memiliki sifat tidak seperti yang ditunjukkan para murid dimana meski mereka sudah pernah mengalami saat Yesus Memberi Makan 5000 orang namun mereka masih saja belum melihat, merasakan dan mengambil keputusan untuk menolong orang banyak di peristiwa Yesus Memberi Makan 4000 orang. Kita mesti memiliki Belas Kasihan yang merupakan ciri khas Allah yang membuat kita dimampukan untuk memiliki dorongan yang kuat supaya bisa melihat, merasakan, dan memutuskan menolong orang lain. (bandingkan Ulangan 30 : 3, Mazmur 78 : 38)

Rekan Pemuda Terkasih !
Lantas bagaimana dengan kita, Pelkat Gerakan Pemuda Pancaran Kasih ? Apakah kita memiliki Inisiatif dan Kepekaan yang sama dengan Kristus ? Ataukah kita lebih sering berlaku seperti murid-muridNya ? Apakah kita sudah memiliki Belas Kasihan seperti yang diajarkan Kristus ? Coba masing-masing dari kita introspeksi diri. Setelah memahami renungan kita malam ini, masihkah pemuda Pancaran Kasih teristimewa Sektor Jerusalem, Betel, Sion dan Sektor Hermon menginginkan memiliki kelompok sendiri. Pemuda senior hanya ingin bergaul dengan Pemuda Senior. Sedangkan yang Yunior karena merasa diasingkan/didiamkan lantas ikut-ikutan membentuk kelompok sendiri juga. Pemuda Pancaran Kasih baru akan hadir atau nongol bila ada event-event besar dan berlangsung di luar lingkungan Gereja saja.

Seberapa sering teman-teman Pemuda menengok rekan yang sedang sakit. Juga apakah pernah kita mengunjungi teman-teman yang sudah lama tak ada kabar. Bahkan punyakah kita waktu hanya sekedar untuk mendengarkan keluh kesah rekan gerakan pemuda yang sedang Andi Lau. Semua yang tadi disampaikan belum menyinggung dengan apa yang biasa disebut “Rasa Memiliki” atau dalam pepatah Jawa “Rasa Handarbeni”. Selama ini apa saja yang sudah diberikan kita semua kepada pelayanan gerakan pemuda ini ? Ambil satu contoh saja guna menggambarkan Rasa Handarbeni ini. Sepanjang yang sama-sama kita dengar, lihat dan rasakan, rata-rata paling banyak yang hadir pada setiap ibadah GP itu hanya 10 orang saja. Mana coba kepekaan kita terhadap Ibadah Pelkat GP ini ? Akan dibawa kemana bila kondisinya seperti itu.

Rekan Pemuda Terkasih !
Mengapa kita mesti memiliki Rasa Kepedulian penuh Belas Kasihan ?
Rasa Peduli itu merupakan tugas atau amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus kepada seluruh umat pilihannya. Kita tak perlu kok untuk harus memiliki sesuatu dulu baru peduli dengan orang lain. Sama seperti murid-murid dalam bacaan malam ini. Tuhan Yesus tidak menanyakan apa yang tidak dimiliki oleh murid-murid. Jadi sama seperti dengan kita, anak-anak muda di Pancaran Kasih tidak perlu memiliki atau mempunyai sesuatu dahulu baru melakukan aksi peduli. Mari kita tumbuh suburkan inisiatif dan kepekaan dengan melakukan tugas atau amanat agung Tuhan Yesus tersebut melalui aktifitas nyata sebagai pengejawantahan atau perwujudan dari ciri khas Allah yakni Belas Kasihan karena belas kasihan ialah suatu perasaan yang menggerakkan hati sanubari manusia yang disertai dengan adanya dorongan kuat untuk menolong atau membantu sesama melalui apa yang kita miliki. Kekuatan dari sebuah kepedulian adalah melakukan aksi atau tindakan nyata sehingga akan lebih berdaya dari pada hanya duduk, mendengar, melihat, merasakan namun tidak mengambil keputusan untuk menolong atau membantu.

Kita semua sama-sama berharap masing-masing diri kita anggota Pelkat GP di Sektor Jerusalem, Betel, Sion dan Hermon dapat dimampukan memiliki Belas Kasihan dengan dorongan kuat untuk tidak hanya mendengar, melihat dan merasakan akan tetapi dapat memutuskan untuk menolong sesama kita di lingkungan GPIB Pancaran Kasih secara khusus dan masyarakat pada umumnya.

Saya akan akhiri renungan kita malam ini dengan sebuah ilustrasi :
Seorang nenek tua renta dan miskin telah beberapa kali datang kepada seorang hamba Tuhan untuk meminta pertolongan, karena jadual pelayanan hamba Tuhan tersebut begitu padat, ia tak pernah punya waktu untuk melayani nenek tadi. Hamba Tuhan tersebut hanya berjanji akan mendoakannya. Beberapa minggu berselang akhirnya nenek tua dan miskin tadi menulis puisi dan memasukkannya ke kotak surat gereja. Isinya adalah sebagai berikut :
Aku lapar dan kau membentuk kelompok diskusi untuk membicarakan kelaparanku. Aku telanjang dan kau mempertanyakan nilai moral dari penampilanku. Aku sakit dan kau berlutut kepada Tuhan untuk memohon kesembuhanku. Aku tak punya tempat berteduhan dan kau berkhotbah tentang Kasih Tuhan sebagai tempat perteduhan abadi. Aku kesepian dan kau pergi meninggalkanku sendirian untuk berdoa bagiku. Kau tampak begitu suci, begitu dekat dengan Tuhan tetapi aku tetap lapar, telanjang, kedinginan dan kesepian.
Amin

Disampaikan pada Ibadah Pelkat GP GPIB Pancaran Kasih Jumat 16 Nopember 2012
di Sdr. RUDY EVAN HUTAPEA
Bacaan Alkitab : MARKUS 8 : 1-10

Ya ! Dengan Segenap Hatiku : Apakah 4 Kata ini Akan Tetap Bergema Dalam 5 Tahun Kedepan ?

Setelah melalui beberapa kali pembinaan, ibadah reflektif dan pertemuan tatap muka para Pendeta dengan calon majelis, akhirnya pada hari Minggu 4 Nopember 2012 dalam Ibadah sore pukul 18.00 WIB, 127 orang Majelis GPIB Pancaran Kasih diteguhkan. Hujan deras yang turun di seantero Depok mengawali Ibadah Minggu yang dipimpin oleh Ketua III Majelis Sinode GPIB. Pelayan Firman pada Ibadah Peneguhan Diaken dan Penatua periode 2012-2017 adalah Pdt. Drs. Rudi Ririhena, Msi. Pada kesempatan malam itu Diaken yang ditahbiskan untuk periode kali ini sebanyak 65 orang sedangkan untuk Penatua sebanyak 66 orang. Mereka akan melayani di 13 Sektor Pelayanan yang ada pada GPIB Pancaran Kasih Depok.

Para Penatua dan Diaken yang diteguhkan pada Ibadah minggu ini untuk menjadi pelayan di lingkungan GPIB Pancaran Kasih Depok termasuk yang terbaik. Komposisi personalia didalamnya terdapat nama-nama angkatan muda dari Pelayanan Kategorial Gerakan Pemuda. Semangat baru dalam pelayanan yang telah hadir nantinya diharapkan akan melakukan perubahan, melanjutkan dengan inovasi-inovasi baru dalam mempertahankan bahkan meningkatkan pelayanan untuk 5 tahun kedepan.

Ruangan ibadah pada sore itu cukup panas. Jemaat yang hadir banyak yang memakai tata ibadah nya untuk mengusir panas. Hal ini terjadi sebab alat pendingin udara yang biasanya dipakai kelihatannya tidak dinyalakan. Bisa jadi karena Panitia atau Pengurus Gereja menganggap 2 AC portable di kiri kanan Balkon sudah dapat mendinginkan ruangan. Padahal nyatanya tidak demikian.

Meskipun keadaan ruangan cukup panas, jawaban iman atas pertanyaan Pelayan Firman dari atas mimbar kepada seluruh Majelis yang ditahbiskan ”Ya Dengan Segenap Hatiku” tetap diucapkan dengan lantang dihadapan Tuhan dan JemaatNya. 4 kata sakti yang diucapkan para Diaken dan Penatua dalam perjalanannya masih perlu dibuktikan. Malam ini merupakan awal dari perjalanan panjang pelayanan untuk 5 tahun kedepan yang semakin hari tuntutan jemaat semakin tinggi. Ladang pelayanan di 13 Sektor siap untuk digarap dengan pelbagai permasalahan yang akan dijumpai. Apakah jawaban iman yang diucapkan lantang penuh ketulusan akan terus menggema dalam hati dan pikiran para pelayan ? Semua perlu bukti dalam aksi nyata melayani jemaat Pancaran Kasih. Dengan kekuatan dari Roh Kudus kiranya janji Iman masing-masing Presbiter akan tetap menyala-nyala untuk pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya.

Dan khusus buat diri saya kiranya Allah Bapa disurga memberikan kekuatan dengan Roh Kudus bagi setiap pelayanan yang akan saya jalani. Pelayanan 5 tahun kedepan untuk kali yang kedua ini kiranya dapat lebih berkualitas lagi. Saya berharap dapat mempertahankan dan meningkatkan bahwa saya akan senantiasa berbeda serta bertumbuh dalam kualitas iman hari lepas hari seperti yang disampaikan isi khotbah malam itu. Segala kelemahan dalam diri ini akan Tuhan kuatkan dengan Kuasa Roh Kudus. Saya juga berharap diberikan kesehatan dan kekuatan fisik mental agar pelayanan yang diberikan kepada jemaat dapat berlangsung baik dan sesuai harapan Tuhan dan jemaatnya. Terima Kasih Tuhan, saya siap menerima panggilan dan pengutusan ini.

Buat Jemaat mohon bantuan dan kerja sama dalam pelayanan agar nama Tuhan saja pada akhirnya yang akan di permuliakan.

Selamat Melayani buat para Diaken dan Penatua periode 2012-2017 kiranya kerajinan kita tidak pernah kendur dalam mengisi pelayanan kepada jemaat sepanjang periode kali ini.

Pemilihan Penatua & Diaken GPIB Pancaran Kasih : Penghitungan Suara Putaran Pertama

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Hari Minggu 29 Juli 2012 akan menjadi sebuah catatan dalam lembaran kehidupan pribadi saya. Satu pengalaman baru kembali saya peroleh ketika mengikuti proses penghitungan suara Pemilihan Penatua dan Diaken masa bakti 2012-2017 di lingkungan gereja GPIB Pancaran Kasih Depok. Pada kesempatan kali ini saya bersama seorang rekan majelis dan seorang anggota sidi jemaat ditunjuk menjadi Saksi dalam penghitungan suara tersebut. Sesuai dengan undangan yang diberikan, saya hadir di ruangan bawah gereja seusai Ibadah sore pukul 18.00 selesai. Perkiraan waktu yang saya pilih untuk datang pada sekitar pukul 20.00 rupanya tepat sebab saat mematikan mesin motor terlihat dari pintu masuk dekat Pos Satpam gereja kegiatan internal panitia masih berlangsung seperti penyerahan Kotak Suara yang dibawa oleh Panitia Pemilihan masing-masing Sektor. Sekat-sekat dari triplek yang biasa digunakan untuk pemisah ruang ibadah PKLU dengan parkir sepeda motor terlihat mulai digeser saling berhadapan sehingga kedua sisinya dapat digunakan sebagai papan yang akan ditempelkan rekapitulasi daftar nama jemaat masing-masing sektor. Setidaknya Ketua Majelis Jemaat terlihat turut menggeser sekat-sekat seraya memberikan komando kemana akan ditempatkan sekat tersebut.

Menjelang pukul 21.00 melalui pengeras suara Ketua Majelis Jemaat mulai memanggil semua panitia dan para saksi untuk mendekat ke tempat penghitungan suara. Sebelum dimulai beliau mengajak semua yang hadir untuk menyantap makan malam terlebih dahulu dengan pesan tidak berlama-lama dalam menikmatinya sebab hari sudah semakin larut sedangkan penghitungan mesti diselesaikan secepat mungkin.

Tak lebih dari pukul 21.30 penghitungan suara 13 Sektor Pelayanan dalam lingkungan GPIB Pancaran Kasih dimulai termasuk Sektor Betel tempat dimana saya selama ini melayani dan berdomisili.

Cara pemilihan Penatua dan Diaken Periode 2012-2017 GPIB Pancaran Kasih setelah diawali dengan doa adalah :

1. Jemaat memilih nama-nama warga sidi jemaat yang berhak dipilih sesuai daftar pemilih yang diberikan Panitia Pemilihan.
2. Jemaat menuliskan Nomor Urut warga sidi jemaat yang dipilih pada Kertas Suara yang telah diberikan.
3. Khusus Sektor Betel karena jumlah Majelis atau Penatua dan Diaken yang dibutuhkan adalah 14 orang maka jumlah calon yang harus dipilih jemaat adalah 28 orang.

Penghitungan suara diawali dengan mengeluarkan amplop putih bertuliskan nama sektor dari Kotak Suara yang disediakan oleh salah seorang panitia. Diatas meja disaksikan oleh 3 orang Saksi dan seorang Pendeta serta dua orang panitia yang ditunjuk dari Pelkat Gerakan Pemuda mulai menghitung. Dari 247 jumlah pemilih di Sektor Betel yang mengembalikan amplop suara hanya 210 amplop saja. Meski demikian penghitungan tetap terus dilanjutkan.

Saat penghitungan jumlah kertas suara mulai, 3 orang panitia yang ditunjuk menghitung suara bagi jemaat di Sektor Betel menggunakan cara ; satu orang membacakan sedangkan 2 orang lainnya mencari nomor urut yang disebutkan. Namun setelah melihat masih banyaknya amplop suara yang belum terhitung sementara waktu sudah lewat tengah malam, atas saran seorang pendeta, cara pertama ditinggalkan dan panitia menggunakan cara kedua yakni dengan mengambil kertas suara kemudian mencari masing-masing nomor sesuai pilihan yang tercantum di kertas suara. Melihat ketiga panitia terlihat lelah akhirnya para saksipun atas ijin semua pihak turut membantu paling tidak membacakan nomor-nomor yang tertera dalam kertas suara untuk dituliskan pada papan rekapitulasi yang tersedia. Hal ini tentu masih dalam pengawasan seorang pendeta yang turut mendampingi hingga selesainya proses penghitungan.

Tak terasa waktu bergulir terus teriakan sahur-sahur juga sesekali terdengar dilontarkan dari sisi yang lain di dalam ruangan. Rupanya tak terasa jam dinding diatas pintu masuk konsistori sudah menunjukkan angka 01.30 dinihari. Saya yang tadinya merencanakan pulang lebih awal membatalkan niat tersebut sebab melihat semangat teman-teman Pelkat GP belum kendur dan kertas suara yang tadinya tebal kini sudah terlihat tinggal beberapa lembar saja. Padahal dinihari itu setidaknya masih 2 atau 3 sektor lain lagi yang belum menyelesaikan proses perhitungan. Bisa jadi sampai pagi baru akan selesai.

Pukul 02.00 dinihari penghitungan suara selesai pada tahap pertama yakni menuliskan suara ke tabel rekapitulasi di papan sekat yang disediakan. Selanjutnya seorang pendeta yang senantiasa mendampingi mulai menuliskan nama jemaat yang terpilih pada tahap pertama sebagai bakal calon Penatua dan Diaken. Sesuai jumlah jemaat dan kebutuhan yang ada maka telah terpilih 28 orang calon Penatua dan Diaken yang akan dibawa dalam pemilihan putaran kedua untuk memilih 14 orang calon tetap dengan rincian 7 orang Penatua dan 7 orang Diaken.

Tepat pukul 02.40 saya tiba kembali dirumah. Sebelum tidur segelas tehmanis ditemani sepotong roti coklat saya nikmati sambil menatap istri dan anak terkasih yang sudah terlelap dalam buaian mimpi.

Mengikuti proses penghitungan suara pemilihan Penatua dan Diaken Periode 2012-2017 di GPIB Pancaran Kasih menambah pengalaman hidup buat saya pribadi. Saya menjadi tahu bagaimana proses penghitungan suara berlangsung. Secara umum kerja keras Panitia patut diacungi jempol. Beberapa kendala dapat diatas semua dengan baik termasuk saat Daftar Nama Jemaat Sektor Betel tak tersedia di papan sekat yang dijadikan papan tulis.

Untuk masukan bagi Panitia saya mempunyai beberapa usulan diantaranya :

1. Waktu penghitungan suara sebaiknya dicarikan hari lain selain hari Minggu dan dimulai sejak pagi hari bukan malam hari seperti yang dilaksanakan pada putaran pertama.
2. Tidak ada salahnya dicoba menggunakan kemutakhiran Tehnologi Informasi yang berkembang selama ini dengan membuat sebuah program yang dapat dibuat oleh potensi jemaat yang ada di Jemaat.
3. Sosialisasi bagi Warga Sidi Jemaat yang berhak memilih tentang tata cara mengisi kertas suara lebih di intensifkan sehingga lebih memudahkan dan mempercepat proses penghitungan suara.

Aah, pikiran dinihari menerawang kepada satu pernyataan bahwa benar adanya mengikut Tuhan itu memang harus membayar harga. Kiranya Damai Sejahtera TUHAN yang empunya hidup akan mengawali proses pemilihan hingga Oktober 2012 mendatang. Dan buat saya yang sementara ini tercantum dalam daftar sementara menyerahkan saja kepada Tuhan melalui jemaatNya di Sektor Betel. Kalaupun saya pada putaran kedua akan terpilih, saya berharap dapat diperlengkapi lagi dan lagi oleh Kuasa Roh Kudus. Apabila ternyata tak termasuk dalam jajaran kemajelisanpun saya akan tetap berusaha melayaniNya melalui media atau organisasi lainnya dimanapun Tuhan menempatkan saya.

Tuhan Memberkati !

Pertama Kali Hadir di Pemakaman Malam Hari : Selamat Jalan Yunita

Gambar
Sebuah getaran dari smartphone diatas meja kerja terasa oleh saya pada hari Jumat 20 Juli 2012. Sore itu sekitar pukul 3 pesan pendek dari salah seorang rekan majelis GPIB Pancaran Kasih diterima. Sebuah tulisan dengan 3 huruf yang biasa ditulis pada batu nisan, RIP atau Rest In Peace mengawali pesan pendek dari Kordinator Sektor Jerusalem. Seorang perempuan muda, gadis belia berusia 24 tahun, Sdri Yunita Desy Anggraeni tak sanggup lagi melawan sakitnya. Perjuangannya selama 6 bulan harus terhenti disebuah rumah sakit di kota Hujan pada hari kedua puluh di bulan ketujuh tahun 2012 . IA yang Empunya hidup lebih sayang kepadanya. Tuhan pencipta semesta sudah memanggilnya kembali kerumahNya, Taman Firdaus. Bagi keluarga peristiwa ini merupakan sebuah kesedihan yang mendalam, itu pasti. Namun hidup bersama Tuhan di Firdaus rasanya akan membuat yang terkasih dengan hormat saya sebut namanya Yunita akan lebih berbahagia sebab almarhumah tahu siapa yang memuliakannya dan kemana tujuan kepergiannya. Lepas dari semua penderitaan akan sakit yang selama ini dideritanya.

Sayapun lantas menghubungi pengirim pesan pendek guna menanyakan beberapa hal yang buat saya pada saat membaca pesan itu membutuhkan penjelasan pengirim. Menurut informasi dari Kordinator Sektor jenasah akan langsung dimakamkan pada hari itu juga. Pihak rumah sakit bahkan menyarankan almarhumah sebaiknya dikebumikan selepas dari kamar jenasah. Setelah melalui diskusi singkat para Majelis Sektor mengambil sebuah keputusan bijaksana dengan membawa jenasah kerumah duka lebih dahulu dan mengesampingkan saran dari pihak rumah sakit. Bagaimanapun juga handai taulan, rekan pemuda almarhumah dan jemaat serta tetangga masih mengharapkan melihat almarhumah untuk terakhir kalinya.

Sore hari sekitar pukul 6 sore ketika azan magrib terdengar dilingkungan rumah duka, ibadah pelepasan segera diadakan sesudah saudara-saudara terkasih umat Muslim menjalankan ibadah sholat magribnya. Pelayan Firman pada saat itu Pdt Polly Hengkesa memandu jalannya Ibadah pelepasan dibantu Liturgos Pnt. Nicolas Tuwaidan selaku Koordinator Sektor. Suasana duka sangat terasa selama Ibadah berlangsung. Hujan rintik sempat turun sebentar tak menyurutkan semua jemaat yang hadir.

Kereta Jenasah dari sebuah Yayasan di Depok siap mengantarkan jenasah almarhum. Waktu di jam tangan saya menunjukkan hampir pukul 7 malam. Puluhan sepeda motor yang ditumpangi oleh rekan-rekan sepelayanan almarhumah juga telah sedia mengawal keberangkatan jenasah menuju TPU Kali Mulya 3 Cilodong.

Rombongan Lelalyu inipun akhirnya tiba dilokasi pemakaman dalam keadaan kegelapan yang sudah turun diatas langit Kali Mulya. Namun lampu sorot dari kereta jenasah dan 2 buah sepeda motor pengantar yang menyalakan lampu setidaknya membuat lokasi pekuburan tidak segelap aslinya. Lilin-lilin kecil yang diletakkan disisi kiri dan kanan jalan kecil menuju lubang pusara yang sudah disiapkan selain menerangi lokasi setidaknya juga menambah suasana duka bagi yang hadir malam itu. Seorang anak, seorang saudara, seorang gadis muda, seorang sahabat sedang dihantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir bagi tubuhnya yang fana.

Di depan liang kubur pada malam itu Pendeta Polly diterangi oleh 3 buah lampu sorot yang tenaga listriknya diperkuat oleh sebuah Accu dan power supply, kesemuanya milik RT atau lingkungan almarhumah tinggal. Suara angin terdengar meniup dedaunan pohon-pohon bambu didekat kubur almarhum. Bintang-bintang di langit kadang terlihat kadang tertutup awan hitam yang menggelayut diatas Kali Mulya. Suasana malam itu sungguh bak sebuah episode drama keharuan.

Selamat Jalan Sdri. Yunita Desy Anggraeni semua sayang dirimu namun Kasih dari Tuhan Yesus sendiri lebih besar dari kekuatan apapun yang ada di dunia yang fana ini. Nikmatilah kebahagiaan bersama yang Empunya Hidup di Firdaus sana dimana tak kan pernah ada derita sakit, haru bahkan duka akan engkau rasakan. Tak ada lagi Tabung Oksigen, lenyap sudah rasa gatal dikulit side effect dari  obat yang diminum dirimu. Pasti saat ini dirimu sudah bersukacita bersama Bapamu yang kau layani selama hidupmu.

Buat saya pribadi mengantarkan almarhum Sdri. Yunita Desy Anggraeni kepemakaman pada malam  hari merupakan pengalaman pertama dalam melayani. Sepanjang hampir 5 tahun pelayanan di GPIB Pancaran Kasih sebagai Presbiter belum sekalipun saya menghadiri pemakaman pada malam hari. Dan baru kali ini saya  menyaksikan dan mengantarkan jemaat saudara terkasih ke pemakamannya. Oleh karena itu saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan pada diri ini untuk melayani sesama sehingga membuat saya semakin berdaya lagi.

Ditulis sebagai rasa simpati buat ananda Yunita Desy Anggraeni yang sampai akhir hidup terus berjuang sampai ia menyelesaikan pertandingan imannya