Category Archives: Keluarga

Kaos Piala Dunia Argentina 1978

Gambar

Bisa jadi semua yang membaca akan menganggap apa yang saya lakukan ini aneh. Namun kebiasaan yang masih saya kerjakan hingga saat ini terkadang membawa hikmat tersendiri. Awalnya, sewaktu anak pertama akan berulang tahun yang pertama saya mengatakan jauh-jauh hari kepada isteri bahwa saya akan memberikan hadiah istimewa untuknya.  Namanya juga seorang ibu tentu saja senang mendengarnya. Iapun berusaha mencari tahu apa yang akan diberikan kepadanya. Saya tidak serta merta mengatakannya. Saya menginginkan ini hanya akan menjadi kejutan. Dia pun lantas menganggukkan kepala seraya menyetujui.

Tepat tanggal 16 April 2009 lalu, sehabis perayaan ulang tahun bersama teman-teman di rumah, malamnya baru saya mengeluarkan hadiah istimewa untuk anak saya.

Ketika saya mengeluarkan hadiah itu, isteri sayapun heran. Saya memberikan sebuah kaos warna hijau bertuliskan Argentina 78 yang masih terbungkus plastik transparan binatu. Lantas saya katakan, ini kaos bukan sembarang kaos. Kaos ini adalah kaos yang dibeli oleh Ibu saya pada waktu Piala Dunia 1978 di Argentina dimana Mario Kempes adalah bintangnya. Kaos ini bagi saya sangat istimewa sebab sudah saya simpan sangat lama dirumah orang tua saya.  Istri  tertawa seusai mendengarkan ceritera saya.  Setelah saya tanyakan mengapa, alasan pertama rupanya ia heran karena saya masih menyimpannya. Kedua ia tertawa sebab membayangkan tubuh saya pada waktu itu. Pasti kurus sekali katanya. Betapa tidak, kaos yang sama dipakai saya saat usia 9 tahun, kini dapat dikenakan oleh anak saya  yang saat itu berusia setahun. Meski agak kebesaran dibagian leher namun pas buat dipakai sehari-hari

Memberikan kado berupa kaos yang sudah berusia 32 tahun merupakan sesuatu yang tak ternilai apalagi itu disampaikan kepada orang yang dikasihi. Itu adalah kebahagiaan tersendiri.

Sepertinya kaos ini sebentar lagi sudah bisa dipakai juga oleh adiknya Joe yakni Frederik Soleman Obaja yang tanggal 30 Oktober 2013 lalu merayakan HUTnya yang pertama. Terima kasih buat Mama, Oma yang menyimpan Kaos Argentina 1978 yang dibelinya seingat saya di Pasar Cijantung 2 bersama ibu-ibu Persit.

Iklan

D U A

image

DUA itulah judul ketikan saya kali ini. Saya ingin menulis pada blog dengan mengaitkan apa yang saya jalani, temui, alami dengan angka 2. Angka 2 dalam ketikan ini dipetik dan diawali oleh adanya perjalanan dari Kota Padang menuju Kota Padang Sidimpuan pada hari Kamis 11 Juli 2013 lalu. Ini merupakan perkunjungan yang KEDUA sesudah pernikahan saya dengan istri terkasih yang berasal dari Kota Salak tersebut. Perjalanan yang ditempuh selama 9 jam dengan kendaraan roda empat itu juga merupakan perjalanan terjauh KEDUA yang boleh dijalani oleh anak terkasih Johannes Samuel Obama. Dengan menggunakan maskapai yang sama, perjalanan Jakarta-Padang ini menjadi penerbangan rit KEDUA bagi dirinya. Penerbangan pertama dijalaninya sewaktu menuju Kota Medan pada sekitar bulan Februari lalu. Dalam perjalanan menuju kota kelahiran istri, saya juga membawa serta anak KEDUA saya yang masih berusia 8 bulan. DUA anak saya bawa ke kampung isteri, meski repot namun segala sesuatunya dapat berjalan dengan cukup baik berkat Doa. Pulang kampung ditahun 2013 kali ini memang bukan dilandasi oleh sebuah sukacita akan tetapi dukacita atas berpulangnya kakak nomor DUA dari istri yang dipanggil pulang Pencipta Semesta pada hari Rabu 10 Juli 2013 lalu. Akibat menderita stroke, Lae saya itu sempat masuk rumah sakit dan dirawat selama kurang lebih 3 hari di Rumah Sakit. Penanganan yang diberikan masih dapat dimaksimalkan apabila ruang ICU yang tersedia lebih dari 4 Bed. Akibat ketidaktersediaan ruangan membuat Lae saya itu dirawat diruang lain. Perjuangannya didalam ruang perawatan rupanya tidak menghasilkan kesembuhan namun justru keselamatan sebagai gantinya. Kakak isteri yang masih berusia 56 tahun memiliki DUA anak yang kebetulan KEDUAnya sudah beliau hantarkan memasuki gerbang rumah tangga. Saat kematian menjemput beliau, sebenarnya Tuhan sudah memberikan DUA cucu yang masih dalam kandungan anak mantu dan anak perempuannya.

Di sela-sela kegiatan saya sepanjang hari, saya bersama anak menyempatkan diri ke sebuah Mall di kota. DUA kali saya pergi kesana untuk mencari makanan yang cocok dengan perut saya dan anak Obama. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama disana meski hati tergerak.

DUA pemandangan yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia juga boleh saya alami. Tak jauh dari rumah tinggal almarhum Lae Nathan, saat yang sama juga sedang berlangsung Pesta Pernikahan di gedung Sinar Pancar. Letak gedung itu hanya beda satu rumah saja dan untungnya tidak saling berhadapan. Jadi pada hari Sabtu itu juga ditengah prosesi pemakaman, hingar bingar lagu dan musik Pesta Pernikahan dan lagu, musik acara adat pemakaman silih ganti saling sahut menyahut di DUA lokasi yang terletak di Jalan Teuku Umar Padang Sidimpuan. DUA acara beda tujuan berlangsung dalam waktu bersamaan. Satu acara permulaan dalam bahtera kehidupan rumah tangga lainnya acara terakhir kehidupan di dunia yang fana.

Ketika Ibadah Pelepasan selesai, saya bersama seluruh jemaat, keluarga, kerabat yang hadir mengantarkan ke lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah Lae almarhum. DUA kali saya sudah mengunjungi lokasi pemakaman yang terletak diatas bukit itu. Pertama di tahun 2005 dan yang kedua hari Sabtu sore itu. Di pemakaman yang katanya tanahnya sudah dibeli HKBP dari Pemkot juga terbaring jasad mertua lelaki dan perempuan sehingga saya dan keluarga menyempatkan diri ziarah kesana. Dan tak lupa foto dimakam mertua yang memang berdampingan.

DUA yang terakhir yang saya boleh jumpai saat melakukan perjalanan ini terjadi pada hari Minggu dinihari. Pada perjalanan pulang dengan Travel dari Padang Sidimpuan menuju Padang kendaraan yang saya tumpangi dihentikan Polisi. Sebelumnya 5 orang penumpang dalam satu kendaraan termasuk saya tak mengerti mengapa Polisi dinihari kok mengadakan razia juga. Apesnya mengapa hanya DUA orang yang diperiksa KTP dan surat kelengkapan lainnya. Selain sopir travel ternyata polisi juga meminta saya membuka jendela dan menyerahkan KTP. Meski cuma dilihat dengan senter namun hal itu berulang terjadi DUA kali terhadap diri saya. Saya mesti mencabut KTP DUA kali dari dompet. DUA orang Polisi berbeda menanyakan hal yang sama. Dari DUA orang Polisi itulah saya diberitahu bahwa ada Napi yang kabur dari Medan. Segala sesuatu menjadi lebih jelas saat saya membuka twitter dimana terdapat info mengenai kaburnya ratusan Narapidana dari sebuah Lembaga Pemasyarakatan di Medan. Apa tampang saya seperti Napi kali ya ? He he he he.

Yah begitulah ketikan saya kali ini dikaitkan dengan angka DUA sepanjang melakukan perjalanan Jakarta-Padang-Padang Sidimpuan pulang pergi. Tuhan kiranya juga akan menDUA kalikan Berkat bagi saya dan keluarga Amin.

Tribute To My Father : Kiprah Paitua 18 Tahun di Baret Merah


Selepas diterima menjadi Prajurit TNI AD melalui Dinas Rohani Protestan – Disrohprot sebagai Guru Militer Angkatan Darat mulai 1 Januari 1970 perjalanan kehidupan keluarga F.S Katipana mengalami perubahan. Meskipun tugas pelayanan tetap menonjol namun kehidupan dalam dunia militer setidaknya sedikit berbeda dengan pelayanan dalam dunia sipil. Terlebih lagi garis kehidupan Papa Dan membawa kami anak-anaknya kedalam dunia yang baru dari kehidupan sebelumnya yang sangat berbeda sekali. Kehidupan militer kadang kala dirasakan seolah menutupi dunia pelayanan yang selama ini dikenal. Apalagi sejak 1 Maret 1971 Papa Dan sudah menerima dan mengambil tantangan yang lebih berat ditandai dengan bergabungnya Papa Dan kedalam Kesatuan Korps Baret Merah yang ketika itu masih menyandang nama Pusat Pasukan Khusus atau PUSPASSUS TNI AD.
Masyarakat mana pada saat dulu hingga kini tak mengenal pasukan Baret Merah ini. Bahkan dulu sampai ke Pulau Kisar Maluku Barat Daya pun namanya sudah harum dikenal padahal akses informasi saat itu terbatas sekali. Sepanjang kedinasan Papa Dan di Kopassandha nama lain Baret Merah hanya ada 1 (satu)orang lagi asal Pulau Kisar yang menjadi Prajurit Kebanggaan Bangsa ini. Sebelumnya sudah lebih dahulu bergabung pemegang Bintang Sakti (diserahkan langsung oleh Presiden RI Pertama), bintang Jasa bak Purple Heartnya Tentara Amerika. Atas keberaniannya saat Dwikora Negara memberikan Bintang Sakti kepada satu-satunya Putra Kisar Yotowawa yang saat itu berhasil Survive layaknya Rambo dibelantara hutan perawan Kalimantan Utara, beliau adalah yang terkasih Om Simon Maalete. Selanjutnya ia menjadi Pelatih Sekolah Komando di Pussandha Linud nama lain dari Pusdik Kopassus, kawah Candradimukanya prajurit terpilih dari prajurit pilihan.

Kehadiran Papa Dan dalam kesatuan Baret Merah ditandai dengan keikutsertaan seorang Pendeta dalam Latihan Dasar Para Angkatan Kedua. Pendeta kok disuruh latihan terjun ?.Latihan terjun payung diselenggarakan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Batujajar mulai 31 Maret 1971 sampai 29 April 1971. Diantara 189 orang peserta Latihan Dasar Para terdapat nama beliau bersama prajurit Malaysia yang turut dididik oleh Baret Merah.

Sepanjang kedinasannya di Pasukan Nomor 3 di dunia beliau juga mesti mengikuti kegiatan-kegiatan kemiliteran seperti Apel Pagi, Siang, Lari Pagi, Latihan Menembak, Piket atau Konsiyir, Latihan Perang Hutan latihan keprajuritan lainnya termasuk Terjun Penyegaran beberapa kali dalam waktu tertentu harus dijalani pula. Latihan Perang Hutan di Ciampea Bogor, Terjun Malam atau Siang di Lapangan Gorda Banten sampai latihan-latihan lain persiapan merayakan Hari ABRI dimana terakhir saya ingat diantaranya saat HUT TNI dirayakan di Madiun 1982 Papa Dan terlibat di dalamnya juga. Selain itu seingat saya bagi kehidupan militer yang namanya Lari Pagi itu sudah makanan hari-hari. Kerap terlihat beliau berdiri dimuka anggota pasukan lain dibelakang sambil membawa Bendera Kompi apakah waktu di Cijantung atau saat di Serang. Malahan sewaktu dinas di Grup 1 Parako sesekali “Paitua” lari pagi dari Taman sampai Karangantu Banten. Dan satu lagi kekhasan Papa ketika berlari adalah ia berlari TANPA SEPATU. Dari catatan surat perintah yang masih tersimpan dirumah, Paitua, begitu ia dipanggil, juga diperintahkan untuk memulai Latihan Pemukulan Benda Keras atau selanjutnya dikenal dengan Bela Diri Merpati Putih. Surat Perintah yang di tanda tangani oleh Letkol Kuntara memerintahkan bagi beberapa perwira untuk melaksanakan latihan setiap hari Selasa dan Kamis mulai pukul 15.00 – 18.00 bersama para perwira Grup 1 lainnya diantaranya seperti Kapten Luhut Panjaitan, dulu menjabat Wadan Den 11, Lettu Prabowo Subianto, dulu anggota Denpur 11 sebagai Danki 112, Lettu Muhajir dan lainnya.

Satu hal yang fenomenal dari beliau sebagai seorang Pendeta Tentara adalah keterlibatannya dalam TEAM SUSI yang mengemban tugas di Timor Portugis pada awal persiapan penyerbuan Kota Dili 7 Desember 1975. Beliau tergabung dalam TEAM SUSI dibawah pimpinan Kapten Yunus Yosfiah bersama 99 orang Prajurit Kopassandha pilihan lainnya. Tugas operasi ini sama sekali bukan merupakan pelayanan namun harus bertempur di medan laga, kalau tidak menembak ya ditembak. Team Susi terdiri dari anggota pasukan Baret Merah berkemampuan Sandi Yudha atau Sandha, berperang dengan segala akal tanpa diketahui musuh dimana salah satu cirinya mereka tidak mengenakan PDL loreng darah mengalir kebanggaan satuan yang dikomandani pertama kali oleh Mayor RB Visser alias Mayor Idjon Djanbi. Dengan menyandang nama samaran Joseph Fernandes ia diberi tugas menjadi Mandor Jalan di daerah Timor Portugis. Selama di daerah operasi selain Alkitab sahabat lain yang selalu dibawa adalah isteri pertama seorang Prajurit yakni Senjata laras panjang jenis AK 47 senantiasa dibawa kemana saja. Dengan pakaian ala Putra Asli Timor lengkap dengan topinya, para prajurit Baret Merah ini dikenal sebagai The Blue Jeans Soldiers. Perjuangannya selama bergabung bersama Team Susi sangat memiliki ceritera heroik dari para prajurit termasuk ketika Papa Dan diminta untuk menembakkan RL atau Rocket Launcher ke sebuah gedung Gereja yang saat itu terdapat sepasukan Fretelin. Menjadi bagian dari Team Susi atau Nanggala 2 sebagai sukarelawan yang melaksanakan tugas operasi penggalangan/operasi Sandi Yudha di desa-desa perbatasan atau garis depan di dalam daerah musuh dengan Bahasa Daerah Tetun. Apabila tertangkap sepasukan yang dulu dikenal dengan nama RPKAD itu tidak dianggap sebagai pasukan TNI. Tugas Nanggala 2 adalah mempertahankan kantong-kantong APODETI, partai yang menginginkan bergabungnya masyarakat Timor dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu bertujuan untuk menunjukkan secara politik kepada dunia luar bahwa mereka sungguh ingin bergabung dengan Indonesia. Atas jasa-jasa beliau Menhankam/Pangab M. Yusuf menganugerahi Bintang jasa Satya Lencana Seroja dan Bintang jasa Veteran Pembela Kemerdekaan bagi papa almarhum.

Kehidupan keprajuritan di Kompleks Kopassus Cijantung bersama Paitua berakhir pada Agustus 1981 dimana Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf melihat hakekat ancaman yang ada di nusantara dengan merelokasi para Prajurit Kopassus (d/h Kopassandha). Grup 1 Kopassus dipindahkan ke Kesatrian Gatot Subroto Taman Serang Banten. Kemudian Grup 3 Kopassus digeser ke Markas Karianggo Makasar. Sedangkan Grup 2 Kopassus tetap menempati Kandangmenjangan sebagai Markas Komando mereka. Di Jakarta saat itu tetap diisi Grup 4 Sandha, Detasemen Markas dan sebuah satuan Anti Teror setingkat satu Detasemen yakni Den 81 yang kemudian dikenal sebagai Satuan Penanggulangan Teror atau Sat-Gultor.

Sebuah tantangan baru kembali mesti dihadapi sebagai Perwira Rohani Protestan sepanjang dinas di Grup 1 yang kebanyakan berisi Tamtama Bintara dan Perwira remaja yang masih muda belia. Berkat bimbingan Komandan Grup 1 Para Komando saat itu Kolonel Wismoyo Arismunandar dan Wadan Grup 1 Letkol Yusman Yutam beserta para perwira lainnya, Papa Dan memulai aktifitas gerejawi dengan menggunakan eks gudang beras di depan Pos Provoost sampai akhirnya 5 Februari 1986 warga Kristiani di perumahan memiliki Gedung Gereja sendiri. Sebelum memperoleh ijin menggunakan gedung eks gudang beras saat hari Minggu tiba prajurit Kristen beribadah ke kota Serang apakah itu ke GKI, GBI, HKBP, Katholik dan denominasi lainnya. Kecuali prajurit bujangan mereka biasanya akan IB atau Ijin Bermalam ke Jakarta dan kota lainnya menjumpai sanak saudara mulai Sabtu siang selesai Apel.

Saat di Kesatriaan Gatot Subroto kami pun berpindah-pindah tempat tinggal dalam satu kesatrian. Rumah tinggal pertama kali mulai 1981 sampai 1988 di Blok H70 No 2 Kompi Markas. Waktu memasuki Masa Persiapan Pensiun Papa Dan dipindahkan lagi ke rumah blok H 70 No 69 atau dulu disebut perumahan Denpur 11 diujung dekat Lapangan Tembak. Sebelum pindah ke perumahan Purnawirawan Kopassus di Cimanggis Papa dengan kami pindah lagi ke 2 rumah K 38 di Denpur 11. Sekitar pertengahan 1989 setelah saya lulus dari SMA Mardiyuana barulah Papa Dan memboyong kami semua keluarga dari Perumahan Grup 1 Parako ke perjalanan kehidupan selanjutnya di Cimanggis tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit pada hari Rabu 14 Juli 2010.

Tribute To My Father : Dari Pendeta Jemaat GPM – Gereja Protestan Maluku Sampai Ketua Klassis Wonreli Kisar

PdtA

PapaPdt68

Setelah menyelesaikan Pendidikan Teologinya di Makasar, Papa Dan mulai bertugas sebagai Pendeta Gereja Protestan Maluku pada 6 September 1953. Dalam usianya yang baru 23 tahun ia mulai melayani sebagai pendeta dilingkungan GPM mungkin kalau memakai istilah sekarang masa Vikariat. Setahun kemudian sesuai Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode GPM Ambon No. 41 A ia ditetapkan menjadi Pendeta Jemaat Wonreli Klasis Kisar sejak 22 April 1954. Pada saat pelayanannya berlangsung, ia juga sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara. Kurang lebih 4 tahun beliau melayani masyarakat melalui utusan Partai Kristen Indonesia atau PARKINDO mulai 12 Nopember 1956 sampai dengan 30 Mei 1960. Selama waktu tersebut ia sempat vakum dalam tugas kependetaan. Papa yang lahir di Laitutun Pulau Leti 28 Februari 1930 ditetapkan selaku Pendeta/Ketua Klassis mulai dari 1 Juli 1962 sampai dengan 30 Juni 1966 setelah sebelumnya diangkat kembali sebagai Pendeta Jemaat usai menyelesaikan tugas pelayanan pada dunia Politik melalui Parkindo. Putra keenam dari SHS Katipana atau Tete Sere ini lahir 9 bersaudara termasuk dirinya. Ketika Papa Dan dilahirkan, Tete Sere ditempatkan Belanda melayani Jemaat Pulau.

Perjalanan beliau menjadi Pelayan Firman di lingkungan Gereja Protestan Maluku sempat kandas. Ia pernah ditetapkan oleh BPS GPM telah melakukan pelanggaran berupa meninggalkan tempat tugas tanpa ijin dan pemberitahuan kepada Pimpinan. Sanksi tersebut muncul karena pada waktu itu 30 Juni 1966 ia “meninggalkan” tempat tugas pelayananya. Papa Dan yang saat itu terbentur waktu dan kesempatan berangkat dari Ambon menuju ke Surabaya. Beliau mesti meninggalkan Ambon karena salah seorang adik yang dikasihinya meninggal ditanah Jawa. Dalam pengakuan kepada Ketua BPS GPM ia secara terus terang mengakui kesalahannya. Namun semua itu bukanlah sebuah kesengajaan akan tetapi semata-mata karena persoalan biaya yang menundakan keberangkatannya kembali ke Ambon. Tak kala dirudung kesulitan, sebelum ia tiba kembali, Pimpinan BPS GPM sudah menjatuhkan sanksi kepadanya. Sepanjang 1 Juli 1966 sampai dengan 25 Juli 1972 Papa Dan tidak diperkenankan melakukan tugas kependentaan. Sejak saat itulah ia mulai mencari pekerjaan lain guna menghidupi kehidupan keluarga. Berbekal Ijasah Guru Sekolah Rakyat yang dimiliki, ia pun memulai perantauannya di Pulau Jawa dengan tinggal sementara di rumah abangnya, Yohanes Katipana atau Om Nani yang waktu itu sudah lebih dulu merantau sampai akhirnya beliau memanfaatkan kesempatan untuk diterima sebagai Guru Militer TNI AD pada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat.

Karena hati dan pikirannya terganggu atas keterbatasan yang dirasakan dalam pelayanan akibat pencabutan haknya sebagai pendeta maka pada tahun 1972 dengan segala keberdayaan yang dimiliki, Papa Dan mulai mencoba mengajukan keringanan bahkan pencabutan sanksi atas dirinya dalam menjalankan tugas kependetaan oleh Gereja Protestan Maluku. Permohonan rehabilitasi atau pemberian kembali status kependetaan akhirnya dapat diperoleh lagi setelah Papa Dan mengurusnya langsung di Ambon. Pada akhirnya atas segala usaha dan rekomendendasi dari Pusat Rohani Protestan TNI AD Kolonel Mamesah, ia memperoleh kembali haknya sebagai seorang Pendeta dari BPS GPM . Surat pemberian lagi status kependetaan diberikan kepada Papa Dan seperti yang tertulis dalam Surat Kepuusan Badan Pekerja Sinode Gereja Protestan Maluku. Dalam surat yang tertanggal 26 Juli 1972 pihak Badan Pekerja Sinode GPM mencabut kembali sanksi dan memberikan hak Papa selaku Pendeta setelah dipertimbangkan bahwa apa yang sudah dialaminya telah memberikan kesan mendalam. Poin kedua yang disebutkan dalam surat tersebut adalah menyerahkan Papa Dan kepada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat-PusRoh Prot TNI AD dalam hal pelayanan, dengan sebuah catatan bahwa Papa Dan adalah milik Gereja Protestan Maluku. Kegundahan hati Papa Dan seperti yang diungkapkan dalam surat permohonan akhirnya sirna dengan keluarnya keputusan tersebut. Beliau mulai saat itu berhak kembali menjalankan tugas kependetaan yang selama beberapa tahun dicabut. Dengan terbitnya keputusan GPM itu Papa Dan sudah diperbolehkan secara tata gereja melayani Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus termasuk tugas kependetaan lainnya yang sejak masuk diterima Pusroh TNI AD tak dapat dilayaninya.

Seperti pepatah rohani katakan “Segala sesuatu Indah pada waktunya”. Demikian pula keberangkatan Papa Dan ke Pulau Jawa untuk mengurus kematian adik yang dikasihinya Carel Katipana merupakan sebuah jalan yang Tuhan berikan bagi kami. Sebab sejak saat itulah Papa Dan memutuskan untuk menetap di Pulau Jawa. Mama pun mulai memboyong Usi Fani, Bu Paa, Bu Tete, Bu Herry ke tanah Jawa. Perantauan keluarga besar Frederik Soleman Katipana hingga saat ini diawali oleh peristiwa tersebut. Semua ini adalah jalan yang Tuhan tak hanya rencanakan namun juga yang dipersiapkan olehNya untuk kami.

Tribute to My Father : Ia Salah Satu Lulusan Terbaik STT Intim Makasar

soe
Tempo dulu jika mendengar ceritera almarhum papa semasa hidupnya, saya berpendapat masyarakat Pulau Kisar Maluku Barat Daya saat itu cenderung memiliki pandangan bahwa pekerjaan melayani masyarakat itu merupakan tugas yang mulia. Pekerjaan yang termasuk terhormat tersebut diantaranya ; Guru, Mantri Kesehatan, Pendeta beberapa juga memilih menjadi Perawat. Tak heran jadinya keluarga kami juga memilih pekerjaan tersebut. Om Nani misalnya, ia dikirim Tete Sere, kakek kami ke Pulau Jawa untuk menjadi Guru PGRI di Surabaya hingga akhir hayatnya. Tante Tien juga disekolahkan oleh Tete Sere menjadi seorang perawat sebelum akhirnya beliau ke Belanda dan menetap hingga asa kembali kepada Sang Pencipta. Nah begitupun Papa, Opa Dan usai menamatkan Sekolah Menengah ia dikirim ke Soe untuk menimba ilmu Teologi. Tete atau Kakek saya, rupanya menginginkan salah seorang anaknya dapat mengikuti jejak beliau melayani umat di ladang Tuhan. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Frederik Soleman Katipana atau Papa Dan terhitung mulai 1949 hingga 1953 mengambil kuliah Teologi di Sekolah Tinggi Theologi Indonesia Timur. Papa Dan memulai kuliah Teologi di Kota Soe selama 3 tahun dan 1 tahun di kota Makasar. Kenapa demikian, hal itu disebabkan STT Intim dipindahkan ke Kota Makasar. Sebelumnya para mahasiswa STT menggunakan Kompleks Gedung Stovil milik Gereja Timor mulai 1948. Mahasiswa Angkatan Pertama seperti tertulis dalam Buku Karangan DR.PN. Holtrop halaman 52 ditulis bahwa jumlah mahasiswanya adalah 33 orang. Sementara Papa Dan merupakan mahasiswa Angkatan Kedua pada Sekolah Tinggi Teologi dari gereja-gereja di Indonesia Timur yang terletak di Soe. Menurut buku yang sama, dosen-dosen yang mengajar pada STT tersebut seperti T. Van Weelie, H. Bergema, P. van Wakeren, W. van der Hoek, Dr. Enklaar dan lain-lain.

Pada saat H. Bergema berpidato waktu penyerahan ijasah-jasah bagi Mahasiswa Angkatan Kedua di Makasar 4 Juni 1953 rupanya ada nama Frederik Soleman Katipana disebut. Saat itu 23 orang mahasiswa di Sekolah Theologia Makasar dinyatakan lulus ujian akhir. Menurut Dosen H. Bergema pada pidatonya, ia menyatakan bahwa ada diantara para siswa yang sebelumnya diikhtiarkan tidak meneruskan pelajaran karena pada mulanya kurang kemajuan. Tetapi sebab usaha maka mereka mendapat angka-angka yang baik di ujian akhir. Lebih jauh beliau menyampaikan seperti yang ditulis pada Buku “Dari Malino ke Makasar” 5 (lima) dari mahasiswa Sekolah Theologia Makasar mendapatkan nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih untuk 12 mata pelajaran ujian akhir. Jumlah angka-angka dari lima siswa tersebut tidak terlalu berselisih. Sesuatu yang membanggakan saya ketika membaca, mengetahui bahwa dari ke-5 mahasiswa yang disebut dalam pidato salah satunya adalah nama Papa Dan. Inilah nama-nama mahasiswa yang memperoleh nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih tersebut :

1. Sinauru dari Poso
2. Tumadang dari Sangir
3. Hamapati dari Sumba
4. Katipana dari Kisar
5. Antahari dar Sumba.

Dalam sambutannya tersebut H. Bergema juga menyebutkan 5 orang berikutnya yang mendekati kelima pertama diatas yakni ; Opung dari Sumba, Laloman dari Bolaang Mangondow, Bengu dari Timor, Pattinama dari Jakarta dan Ulaan dari Sangir.

Sungguh membanggakan buat saya rupanya ada nama Papa Dan disebut sebagai salah satu mahasiswa yang meraih hasil terbaik. Ia saat itu merupakan utusan dari GPM atau Gereja Protestan Maluku yang waktu itu mengirimkan 3 orang wakilnya yakni C. Koritelu dan M.B Tallaut. Berita mengenai penyerahan ijasah lulusan Angkatan Kedua dari Sekolah Theologi Makasar diberitakan juga pada koran Pedoman Rakyat Makasar pada 6 Juni 1953, ditulis oleh B. Supit.

Prestasi yang diraih Papa Dan tidak diperoleh dengan mudah. Banyak ceritera yang pernah beliau sampaikan kepada kami anak-anaknya. Sungguh tidak mudah sekali terutama dalam hal pembiayaan untuk menyelesaikan sekolah tersebut. Salah satunya yang masih saya ingat adalah ceritera beliau bahwa ketika ujian berlangsung selama 21 hari dari Mei-Juni 1953 merupakan masa-masa berat yang ia hadapi. Pernah satu kali juga meski yang sekolah disini adalah calon-calon pendeta, namun Papa pernah “berselisih” dengan seorang rekan yang sama-sama kuliah. Saat itu papa tersinggung sebab rekannya tersebut melecehkan dirinya dan seantero Pulau Kisar dengan mencela kalau orang Kisar itu kelaparan makan biji mangga. Terang saja hal tersebut tidak diterima dan akhirnya keduanya “berselisih”.

Saat ini buku-buku, catatan-catatan kuliah masih tersimpan dalam 2 (dua) almari besi di rumah. Entah siapa yang akan meneruskan menjadi pendeta, anak-anaknya tak satupun mengikuti jejaknya. Anak-anaknya seperti saya paling banter hanya menjadi pelayan seperti Penatua, Diaken atau Pengurus di Gereja. Saya hanya dapat berdoa, jikalau memang nanti Tuhan memilih salah satu cucu beliau atau keturunan beliau, entah Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe atau Fredy yang akan mengikuti Tete Moyang, Tete atau Opa melayani Tuhan sebagai Pendeta sehingga paling tidak masih akan ada yang membuka, membaca buku-buku beliau yang tersimpan rapi di Cimanggis.

Pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata

S

Semalam sebuah mimpi menghiasi tidur lelap saya. Mimpi yang membuat saya semakin teringat, bahwa hari ini 60 tahun yang lalu sebuah peristiwa bersejarah terjadi. Entah apa maksud dibalik mimpi ini sebab saya bukan Yusuf namun satu kepastian bersyukur kepada Tuhan atas peristiwa yang hari ini dikenang adalah sebuah kewajiban. Hal ini bukan soal okultisme dimana tak ada lagi hubungan antara orang meninggal dengan orang yang masih hidup berjuang. Mengenang orang tua yang terkasih bukan satu hal yang salah.

Inilah ketikan ulang sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khalik Pencipta Langit Bumi beserta isinya, meskipun Papa, Mama atau Opa Oma saat ini sudah tidak lagi bersama. 21 Maret 1956 adalah salah satu tonggak bersejarah dalam keluarga kami. Dengan ketikan ini, anak-anak cucu, cicit keturunan Marga Katipana-Latuminasse, termasuk Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe, Fredy suatu hari ketika mereka dewasa akan mengetahui darimana mereka berasal, siapa saja orang-orang yang terdekat dengan mereka. Hal kedua maksud dari penulisan ini adalah dalam rangka mengingat rayakan apa yang telah Opa dan Oma berikan kepada kelima anak-anak dan cucu, cicitnya selama ia bersama dengan kami. Kasih kebaikan mama papa tak pernah terbalaskan sebab hanya memberi tak harap kembali.

Ceritera sejarah ini diawali oleh pernikahan antara yang terkasih saya tulis namanya papa terkasih Frederik Soleman Katipana, seorang pemuda gagah asal Wonreli dengan Martha Albertha Latuminasse, seorang gadis cantik dari Desa Oirata di Pulau Kisar Maluku Barat Daya (d/h Maluku Tenggara). Yang pemuda berasal dari “kota” yang wanita berasal dari “desa”. Papa dari Wonreli, mama gadis desa dari Oirata. Sama-sama anak seorang pendeta, keduanya mengikat janji pernikahan pada tanggal 21 Maret 1956. Pernikahan keduanya merupakan pernikahan perdana antara Wonreli dan Oirata. Sebelumnya tak pernah terjadi pernikahan antara anak-anak Mesiyapi dengan anak-anak Oirata. Oleh karena itu ketika acara “lamaran atau masu minta”, keluarga besar Katipana dipimpin oleh Tete Janggut Katipana Wailara membawa pedang, emas dan lain-lain sebagai istilah jaman sekarang semacam seserahan, untuk memperoleh ijin menikah dari orang tua mama, Tete Oirata. Mengapa Pedang yang dibawa ? Emangnya akan perang ?. Tentu saja tidak. Pedang itu melambangkan suatu alat untuk membersihkan atau membabat alang-alang sehingga terbuka sebuah jalan bagi penyatuan anak desa Oirata dengan Pemuda Mesiyapi. Dengan terbukanya jalan itu, putra ke-4 dari SHS Katipana (Tete Sere) dan Suzana Ahab (Nene Sus) akhirnya dapat di persatukan dalam kasih Kristus dengan putri ke-4 dari Pendeta Yacob Lodewijk Latuminasse (Tete Oirata) dan Lebrina Latunusa (Nene Oirata). 

Sesampainya di rumah Oirata, Tete Oirata menyambut rombongan dengan sebuah ungkapan bahwa “Anak gadis saya tidak ditebus oleh pedang, namun sudah ditebus oleh Darah”. Terang saja ini mencengangkan para rombongan, meskipun demikian lamaran tetap diterima. Seorang Pendeta terang saja ucapannya banyak perumpamaannya. Jadi yang Maksud ucapan Tete Oirata adalah bahwa Darah Kristus telah mati untuk umatNya. Tak perlu kalian membawa pedang lagi. Akhirnya terlaksanalah pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata di Pulau Kisar.

Ceritera lain yang pernah terucap oleh mama, undangan pernikahan mereka dicetak di Palembang Sumatera Selatan, ketika itu mama meminta bantuan kakaknya, Om Corneles atau Om Neles Latuminasse yang saat itu bertugas di Kota Empek-Empek sebagai Prajurit. Foto-foto pernikahan papa dan mama dalam ketikan ini menjadi saksi bagi anak cucu keduanya.

Kedua pasangan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan ini merayakan Pernikahan Perak ketika kami masih tinggal di Kompleks Kopassus (d/h Kopassandha) Jalan Sungai Luis Blok H 64 Cijantung 3 Karet (sekarang Jalan Chandrassa) Jakarta Timur pada 21 Maret 1981 beberapa bulan sebelum kepindahan kami ke Serang Banten. Ibadah pengucapan syukur dilayani oleh Pdt. Helweldery yang pada waktu itu melayani di GPIB PETRA Tanjung Priok. Seingat saya undangan yang disebar saat itu berwarna biru dengan tulisan indah dari tangan dibuat oleh seorang pemuda Gereja Imanuel Cijantung, namanya Mas Jarwo, yang bekerja di Perum Peruri.

Tak hanya Pernikahan Perak, kami juga bersukacita ketika papa dan mama merayakan Pernikahan Emas mereka di Perumahan Purna Kopassus Kedayu Cimanggis pada 21 Maret 2006. Ungkapan sukacita itu juga dirayakan dalam Ibadah ucapan syukur dilayani oleh Pdt. Engkih dari GKP Cibubur.

Kini keduanya tak lagi bersama kami anak cucu. Papa Mama Oma Opa sudah Tuhan panggil. Opa menghadapNya lebih dahulu di usia 80 tahun karena sakit kanker lidah yang merenggut nyawanya di tahun 2010. Sedangkan Oma, wafat di usianya yang ke 82 tahun pada 2014 lalu, juga karena sakit.

Untuk memperlengkapi ketikan ini saya tuliskan juga Daftar Keluarga.

Keluarga Besar Katipana, anak-anak Tete Sere adalah ; Izach Katipana (meninggal di Kupang), Alexander Katipana (Kalabahi), Christina Katipana (Tante Tien, meninggal di Amsterdam Belanda), Welly Katipana (Tante Welly meninggal), Yohanes Katipana (Om Nani Meninggal di Surabaya), Paulus Katipana (Om Pau-Meninggal di Selat Roma, jasadnya tak ditemukan), Carel Katipana (Om Upa-Meninggal di Surabaya), Elizabeth Katipana (2thn, Meninggal Kena Pecahan Bom Pesawat Jepang di kaki Kebun Wakupuki Mesiyapi).

Keluarga Besar Latuminasse anak-anak Tete Oirata ; Pieter Samuel Latuminasse (Om Piet, meninggal), Cornellis Latuminasse (Om Nelles, meninggal, Malang), Enggelina Ruth Latuminassese (Tante Engge, meninggal 2014, Surabaya), Ruluf Nicholas Latuminasse (Om Atu, meninggal di Cimanggis, Pd. Rangon), Magdalena Latuminasse (Tante Ena). 

Happy Anniversary, 21 Maret 1956 – 21 Maret 2016. Tuhan Memberkati anak cucu Papa Mama Opa Oma.

Menjadi Saksi Kebesaran Tuhan : Welcome My Boy !

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Lewat tengah malam ketika anak dan istri sudah terlelap saya pun kembali berdoa bagi kelancaran serta keselamatan operasi. Sesudahnya selain mengucapkan saya juga menuliskan Intensi saya untuk hari Selasa 30 Oktober 2012 salah satu keinginannya agar dapat diijinkan mendampingi istri menyaksikan proses kelahiran anak ketiga diruang operasi.

Sekitar pukul 22.38 hari sebelumnya saya sempat mengirimkan pesan pendek kepada dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan istri apakah saya boleh turut masuk ke dalam ruang operasi. Setelah menunggu semalaman barulah jawaban persetujuan atas pertanyaan tersebut saya terima keesokan harinya sekitar 1,5 jam sebelum operasi atau pada pukul 05.25 WIB Selasa 30 Oktober 2012. SMS itu saya anggap sebagai doa dan intensi yang terkabulkan oleh Pencipta semesta. Saya pun dengan penuh keyakinan dalam iman mengantarkan istri dengan penuh daya tanpa sedikitpun rasa khawatir untuk masuk kamar bersalin dilantai 1 guna menerima tindakan medis persiapan operasi seperti pemasangan kateter, alat infus dan suntikan anti biotik yang mesti ditunggu reaksinya apakah gatal atau tidak sebelum sepenuhnya diberikan.

Sementara kesibukan lain saya lihat dilakoni oleh para perawat dengan membawa Inkubator tempat meletakkan anak saya bila sudah dilahirkan. Saat saya sedang duduk dikursi kepala perawat, dokter kandungan istri memberikan 1 stel pakaian operasi warna hijau berikut penutup kepalanya. ”Cepetan ya pak” begitu seru dokter kepada saya sebab waktu hampir lewat dari pukul 08.00. Sayapun bergegas menuju toilet untuk mengganti baju. Tak terlihat lagi perawat diruangan bersalin semua sudah masuk ke ruang operasi.

Ruang di lantai 1 ini terletak diujung lorong terdiri dari beberapa ruangan. Di paling depan adalah ruang tunggu, ruang kedua adalah Kamar Bersalin 1 sampai 4 dimana pada masing-masing 2 bagian ada 2 buah toilet. Ruangan ketiga adalah ruang perawat dan didepannya ruang istirahat dokter dengan ruang ganti yang isinya pakaian operasi.

Pada bagian selanjutnya tersedia juga 3 buah bed untuk tindakan sebelum masuk keruangan operasi. Saya sempat diperkenalkan lagi oleh salah seorang dokter kandungan yang akan membantu dokter utama. ”Masih ingatkan pak ?” Sayapun mengangguk setuju sambil berucap nama dokter itu dan menyalaminya. Dokter ini pula yang membantu persalinan anak kedua Johannes Samuel Obama Katipana.

Di ruangan steril kedua, saya melihat 2 orang dokter kandungan itu sedang mencuci tangan dengan cairan khusus mulai dari bagian telapak tangan hingga kebagian siku. Selain pakaian operasi warna hijau mereka juga sudah memakai sepatu boot warna lebih muda dari bajunya. Sesekali terdengar obrolan satu dengan lainnya. Dokter kandungan istri rupanya pagi itu dalam perjalanan menuju Rumah Sakit sempat mengalami tabrak belakang sepeda motor saat menghindari tabrak muka sepeda motor yang mengambil jalannya. Rupanya remnya yang mendadak telah membuat sepeda motor yang tengah berada dibelakang menabrak mobilnya.

Sambil tangan yang masih berbusa dokter kandungan langganan kami masuk keruangan operasi yang bersuhu dingin sekali. Sayapun diminta masuk keruangan operasi yang steril dengan mengenakan sendal plastik warna biru. Tak lupa dalam genggaman sebuah handycam dan Blackberry ditangan untuk merekam kebesaran Tuhan.

Ruangan operasi yang dingin ditambah sejumlah alat-alat operasi terlihat pada bagian kaki istri diatas sebuah meja kecil bertaplak hijau. Saya tidak diperkenankan mendekatinya, ”Pak gak usah deket-deket ya“ kata seorang suster. Tampak dalam ruangan ada seorang dokter anestesi wanita, dokter anak juga perempuan sedang berdiri disalah satu sudut siap dengan meja dan lampu tersendiri menyala diatasnya. Ada 2 orang dokter kandungan dikiri dan kanan meja operasi. Seorang bidan berdampingan berdiri di dekat dokter kandungan A dan 2 orang perawat yang sedari tadi menyiapkan segala sesuatunya.

Di meja operasi saya lihat istri sudah berbaring dengan bagian kepala ditutupi kain warna hijau sewarna dengan pakaian siapa saja yang masuk ruangan operasi. Di bagian atas kepala istri duduk seorang dokter anestesi yang mengawal pelaksanaan operasi.

Jam dinding diatas pintu masuk terekam pukul 08.10 WIB ketika saya lihat pisau operasi mulai menyayat perut istri untuk ketiga kalinya. 2 dokter kandungan dibantu seorang bidan bahu membahu melaksanakan operasi cesar bagi istri saya. Sekitar 7 menit berikutnya saya melihat ada sekumpulan warna hitam di dalam perut istri yang sudah terbuka. Semakin lama semakin jelas terlihat. Rupanya setelah kamera saya perbesar itu adalah kepala sang bayi. Tak terlampau sulit buat dokter untuk selanjutnya mengangkat keluar anak saya tersebut. Dengan sarung tangan warna putih ia lalu mengambil dengan hati-hati dan memberikannya kepada perawat yang sudah siap dengan kain putih steril yang akan dibawa ke meja dokter anak. Disini anak Frederik Soleman Obaja Katipana yang baru saja dilahirkan dibersihkan. Dokter anak lalu mengeluarkan lendir dari kerongkongan dengan selang kecil yang dimasukkan melalui mulut. Sambil juga saya lihat dipotong tali pusarnya. Selanjutnya Fredi dibawa seorang suster yang membantu dokter anak ke Ibunya untuk dilakukan proses inisiasi. Jelang beberapa saat prosespun selesai dan perawat mengajak saya keluar ruangan operasi. Operasi cesar selesai, Frederik Soleman Obaja Katipana sudah dibawa untuk ditempatkan di sebuah inkubator yang sudah disiapkan dekat ruang perawat kamar bersalin. Sebuah gelang bernomor 35 dipasang oleh suster ke pergelangan tangan kiri Fredi. Pengatur suhu terlihat diset pada 37 derajat selanjutnya perawat itu lalu meminta saya menandatangani persetujuan tindakan bagi Fredi yang akan dilakukan saat di kamar bayi.

Segala Puji Syukur saya persembahkan kepada Tuhan Maha Pencipta sebab oleh karena Kasih dan Pertolongannya operasi berjalan dengan teramat baik. Ini adalah operasi cesar kedua yang saya boleh saksikan. Pertama pada 16 April 2009 saya juga masuk ke ruangan operasi saat anak kedua lahir yaitu Johannes Samuel Obama Katipana. Kedua pada hari Selasa 30 Oktober 2012 untuk anak ketiga yakni Frederik Soleman Obaja Katipana. Persamaan dari 2 operasi cesar diantaranya ; dilakukan oleh Tim Dokter kandungan yang sama, Ruangan yang sama, jam yang sama. Perbedaannya Joe Obama pengambilannya membutuhkan waktu lebih lama sedikit yakni sekitar 15 menit sementara Fredi cukup butuh waktu 5 menit saja. Waktu itu Joe dikeluarkan kakinya terlebih dahulu sedangkan Fredy dikeluarkan kepalanya dahulu dengan rambut yang tebal.

Terima Kasih buat Tuhan atas kehadiran dan berkat dariMu untuk kehadiran Fredy yang pastinya akan menambah keceriaan rumah kami dengan penuh ungkapan syukur sambil berharap senantiasa diberikan pertumbuhan yang sempurna.

Terima kasih juga buat dukungan doa yang disampaikan handai taulan, sahabat, teman dan tak lupa buat dokter kandungan, dokter anak, dokter anestesi, suster dan semua pihak yang telah membantu berjalanannya operasi ini.

Karambol : In memory of Caring & Beloved Father

Jikalau waktu ini bisa diputar ulang layaknya sebuah gambar hidup alangkah lebih bahagianya hidup. Hidup serasa semakin lebih berarti dan berarti. Sebab manusia akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki. Membuat benar apa yang dirasakan kurang bahkan salah pada masa lampau. Saya adalah salah seorang yang memimpikan itu boleh terjadi meskipun tak mungkin. Saya menginginkan masa kecil terulang kembali. Masa paling bahagia adalah masa kanak-kanak. Masa yang penuh dengan keceriaan kebahagiaan. Istilah kata belum terbebani kehidupan masa depan.

Teringat waktu masih tinggal di sebuah rumah dalam Kompleks Baret Merah di Cijantung sebuah peristiwa yang takkan terlupakan bak potongan syair lagu ”sepanjang nafas dikandung badan”. Usia saya ketika itu kurang lebih 10 tahun. Seperti anak-anak umumnya bermain adalah dunia saya saat itu. Saya ingat betul pada waktu liburan sekolah yang namanya jalanan di kompleks apakah itu Jalan Sungai Luis tempat tinggal kami atau Jalan Lebos sama ramainya. Dipenuhi anak-anak yang bermain mengisi waktu liburan. Mulai pagi sore hingga malam hari baik hujan ataupun panas. Bermain bola saat hujan terasa mengasikkan meski bahaya petir mengancam. Suasana seperti itu paling ditunggu apalagi saat itu demam Mario Kempes sedang melanda.

Satu hal yang menjadi trend pada masa kanak-kanak saya adalah anak-anak bermain berdasarkan musiman. Maksudnya apabila musim main kelereng ya semua anak lelaki main kelereng atau gundu. Anak-anak perempuan main tali yang terbuat dari karet yang dianyam menjadi tali panjang ukuran 1-2 meteran. Bila anak-anak laki-laki main gambaran yang perempuan main engklek dan seterusnya. Entah siapa yang menyusun jadwal musiman itu. Semua terjadi begitu saja tanpa ada komando apalagi diketahui sutradaranya.

Ada sebuah permainan yang pernah menjadi HIT jaman saya kecil. Permainan itu dari dulu hingga kini masih terlihat dimainkan di Pos-Pos Ronda. Alat permainan ini hanya sebuah media terbuat dari bahan kayu triplek atau teakwood. Nama permainan itu apa lagi kalau bukan KARAMBOL. Satu permainan yang dapat dimainkan oleh 4 orang untuk satu sesinya. Saya masih sangat ingat ketika musim main karambol yang saya datangi adalah rumah salah seorang teman yang memilikinya di Jalan Lebos. Persis di ujung batas RT tempat saya tinggal. Mulai sarapan pagi hingga sore bahkan malam keluarga saya tidak perlu susah mencari saya ketika bermain sebab pasti saya sedang berada disana.

Saking gilanya main karambol sampai-sampai saya lupa makan bahkan lupa waktu bila hari sudah sore atau malam. Keadaan ini berlangsung hingga 2 minggu lebih. Rupanya hal ini termonitor juga oleh almarhum papa.

Keluarga kami memiliki kebiasaan yakni almarhum papa menginginkan anak-anaknya berada dirumah sehabis ia apel siang jam 14.00. Anak-anaknya mesti terlihat olehnya sedang berada dirumah. Persoalan setelah ia pulang ke rumah kami bermain kembali itu urusan lain yang pasti manakala beliau kembali dari kantor semua anak-anak sebaiknya terlihat olehnya sedang berada dirumah.

Nah, akibat main karambol seperti yang diceriterakan diatas saya jadi lupa waktu saking asiknya bermain karambol dirumah teman itu. Saya seharusnya pulang namun dalam kurun waktu dua minggu itu saya tidak dapat memenuhi keinginan almarhum papa. Saya jadi absen beberapa kali. Untung saja tidak ada sanksi lain atas ketidakhadiran saya saat beliau pulang kerumah.

Dua minggu berlalu, suatu sore ketika saya sedang bermain sepeda diujung jalan Sungai Luis (entah jalan apa namanya sekarang) persis di depan rumah kawan karib, saya melihat sebuah becak sedang melintas perlahan di Lapangan Merah (sebutan untuk Lapangan Atang Sutresna). Meski sinar matahari mulai berwarna kemerahan diufuk Barat dari kejauhan belum terlihat siapa yang berada dalam becak tersebut. Barulah pada saat becak sudah mendekati jalan Sungai Luis mulai terlihat siapa sosok yang sedang didalam becak. Rupanya almarhum papa yang lagi naik becak. Sambil mengayuh sepeda dari rumah Erlangga, kawan saya, sayapun mendekat menuju Becak. Bukan main senangnya saya saat itu, almarhum papa ternyata membawakan sebuah Karambol warna coklat buat saya. Horee saya teriak dari atas sepeda yang berjalan beriringan menuju rumah nomor H64 ketika saya tahu ternyata papa membelikan karambol itu. Perlahan namun pasti becak akhirnya tiba di depan rumah. Karambol pun diturunkan almarhum papa. Saya pun berjingkrak seraya ucapkan terima kasih kepada papa karena ia sudah membelikan apa yang diinginkan anaknya. Sehabis papa mengganti pakaiannya iapun lantas memanggil saya. Ia berpesan agar kalau ingin main karambol dirumah saja, tidak usah ditempat teman. Panggil saja teman-teman kerumah biar mereka main disini, begitu katanya. Saya pun mengangguk tanda setuju sambil bergegas membawa karambol menuju teras. Dibawah teduhan pohon jambu air milik keluarga, karambol yang baru saja dibelikan saya letakkan.

Saya mengambil sepeda pergi ke warung di Jalan Simarimbun membeli sekantong kecil terigu yang akan ditaburkan diatas karambol sebagai pelicin dalam permainan. Sambil bersepeda tak lupa saya mengajak teman-teman main karambol di rumah.

Mulai saat itu saya jarang lagi keluar rumah. Teman-teman saya yang saat itu yang main dirumah.
Seperti diketik diatas selepas musim usai karambolpun tergantikan oleh permainan lain.

Terima kasih papa engkau sudah senang di rumah Bapa. Apa yang telah kau berikan takkan mungkin terbalaskan olehku. Kasih sayangmu luar biasa buat saya.

In memory of caring and beloved father “Frederik Soleman Katipana“ (14 Juli 2010-14 Juli 2012)

Sebuah Pelajaran Dari Gerbong 2

Perjalanan pulang saya dari Gambir menuju Depok pada hari Senin 14 Nopember 2011 sore benar-benar menguji kesabaran. Kereta yang membawa saya pulang terhambat perjalanannya selepas Stasiun Pasar Minggu. Tanpa keterangan atau informasi apapun yang diberikan oleh petugas kereta semua penumpang dibiarkan menebak-nebak apa gerangan yang sedang terjadi dalam perjalanan mereka.
Sementara Suasana diluar, dari kaca jendela masih terlihat rintikan hujan membasahi jalan raya.

Usai mengetik keadaan komuter pada sebuah media sosial terkait perjalanan sore itu, sebuah pelajaran saya peroleh. Seorang Ayah dan Ibu bersama 2 orang anak laki-lakinya membuat saya tersenyum seraya bersyukur kalau pada sore itu Tuhan memberikan sebuah pelajaran berharga.

Keluarga kecil ini duduk di kursi penumpang pada gerbong 2. Awalnya segala sesuatu berjalan seperti biasa saja. Namun ketika salah seorang anak laki-laki dari sebut saja Keluarga A itu mulai mengeluarkan teriakan-teriakan barulah pandangan penumpang yang sedang berdiri di gerbong 2 mengarah kepada mereka. Suara gaduh yang mereka buat saling berlomba dengan suara kipas angin yang sedang berputar.

Saya pun yang sedang berdiri dihadapan mereka merasa sedikit terganggu akan tetapi berusaha untuk tidak menghiraukannya. Sayang sekali niat hati ingin seperti itu apa daya hatipun terusik ketika melihat anak usia 4 tahunan itu mulai menggunakan telunjuk kanannya kemudian menyentuhkan jarinya ke bagian depan dan belakang celana atau rok penumpang yang sedang berdiri didepannya. Tak hanya menyentuh namun anak kecil itu juga berkata “Uuh baunya kayak kambing” ucapannya terdengar di satu sisi gerbong.

Terang saja saya yang menjadi salah satu korban jari telunjuknya menjadi gerah juga. Akan tetapi mau bagaimana lagi selain hanya bisa mengelus pipi anak itu dihadapan orang tuanya. Itulah yang bisa saya lakukan pada waktu itu.

Saya merasa heran saja apakah ayah dan ibu dari anak laki-laki itu tidak mengajari sopan santun kepada anak mereka. Saya melihat ketika anak itu mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas diucapkan anak kecil sepertinya kedua orang tuanya agak kesulitan mengendalikan anak tersebut. Sang ibu bahkan sempat menempeleng mulut anaknya akibat dari perbuatannya namun apakah harus seperti itu.

Ooh Tuhan semoga saja saya bisa membimbing dan mengajari anak-anak saya sopan santun. Meski negeri ini corat marut namun rasanya saya masih ingin mengajarkan anak etika sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun kereta saat itu mengesalkan hati namun pada sisi hati yang lain saya bersyukur memperoleh pelajaran dari tingkah laku anak kecil itu.

Sopan santun buat saya masih dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari. Rasa hormat sepertinya tetap saya perlukan dalam pergaulan di masyarakat.

Pendeta Tentara Di Team Susi


Seorang Pendeta ikutan Perang ? Mana ada sih ? Boleh percaya boleh juga tidak. Pastinya almarhum papa pada tahun 1975 menjadi pendeta tentara pertama dan mungkin satu-satunya yang ikut turut perang pertama kali bertempur di tanah Timor. Perang dalam arti yang sebenar-benarnya, menyandang AK 47, bawa granat dan magasen di tubuh. Ikut bergerilya jauh di medan musuh.

Semua diawali adanya surat Perintah Komandan Grup 1 Nomor Prin/133/X/1974 yang di tanda tangani oleh WS Komandan Grup 1 Komando Pasukan Sandhi Yudha, Mayor S. Panjaitan. Isi surat dengan jelas memerintahkan Lettu F.S Katipana dan Capa Suwarso untuk segera bergabung dengan Karsa Yudha “Siaga“ yang sewaktu-waktu dapat diberangkatkan untuk melaksanakan tugas khusus. Perintah yang dikeluarkan di Jakarta tanggal 22 Oktober 1974 itu membuat almarhum papa menjadi satu-satunya Pendeta yang diperintahkan ikut berperang dengan sebuah pasukan khusus. Papa sebenarnya bertugas di Grup 1 akan tetapi dengan adanya surat Perintah Komandan ini ia dibebas tugaskan dari Grup 1 lantas bergabung dengan Grup 4. Almarhum papa selanjutnya bertugas bersama 99 orang prajurit pilihan lain pada sebuah gugus tugas khusus. Sepasukan prajurit ini kemudian dikenal dengan sebutan Team SUSI. Setelah melakukan berbagai persiapan dan latihan dengan sempurna maka mulai tanggal 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975 pasukan Baret Merah ini diberangkatkan ke Timor Portugis dengan tugas menjadi sukarelawan mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai oleh Apodeti sehingga dalam forum PBB suaranya masih didengar untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pasukan ini masuk ke wilayah Timor Portugis melalui Atambua, kota perbatasan, dengan berjalan kaki.

Berbekal senjata AK 47, granat dan Rocket Launcher atau RL, 100 orang prajurit dibawah pimpinan Kapten Yunus Yospiah berangkat ke Timor Portugis dengan menyandang nama samaran. Almarhum ayah saya pun tidak ketinggalan ikut pula memperoleh sebuah nama samaran yakni Josep Fernandes alias Ama Josep.

Selama melaksanakan tugas di daerah Timor Portugis Team SUSI kerap dijuluki The BLUE JEANS SOLDIERS. Ke-100 orang prajurit yang tergabung di dalamnya senantiasa menggunakan pakaian sipil berupa kemeja, kaos berikut celana jins dalam setiap aksinya. Alas kaki juga sekenanya, sendal atau sepatu biasa. Para prajurit berpakaian seperti itu mengingat mereka adalah “sukarelawan bukan tentara“.

Team SUSI merupakan gugus tugas khusus Pra Seroja di daerah Timor Portugis dengan nama lain Nanggala 2. Mereka mempersiapkan dan membantu sukarelawan dari Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang ingin menggabungkan diri dengan Indonesia. Selain Team ini Kopassanda juga mengirim Team TUTI dan Team UMI yang dikomandani oleh Kapten Tarub dan Kapten Sofian Effendi. Menurut ceritera papa seingat saya dari 100 orang yang berangkat, 1 orang anggota gugur sedangkan 1 orang lagi hilang tak diketemukan jenazahnya. Almarhum papa sendiripun saat itu mengawal sekitar 5 ribuan pengungsi. Ia juga membawa seorang rekannya yang terkena tembakan di bagian paha dan jari tengah di sebuah daerah ketinggian sewaktu sedang mengganti magazen pada sebuah pertempuran. Ia menggotong rekannya itu bersama beberapa orang TBO atau Tenaga Bantuan Operasi dari daerah Timor Portugis menuju Timor Indonesia.

Tugas yang dilakukan almarhum adalah menyaru sebagai Mandor Ukur Jalan dengan identitas Sukarelawan. Dia memiliki tugas penggalangan atau Operasi Sandha dan pembinaan mental spritual dengan mental idiologi di desa-desa perbatasan dan garis depan di dalam daerah musuh dengan Bahasa Tetun.

Pendeta juga bergerilya. Itu terbukti dengan adanya radio gram kepada empat orang anggota Nanggala 2 salah satunya almarhum papa. Melalui radiogram itu ia diminta bersama seorang rekannya dengan sebutan Gradus Kafe berangkat ke Kewar pada 28 Agustus 1975 dengan membawa perlengkapan perorangan untuk gerakan serta logistik bulan Agustus dan September.

Suatu peristiwa, almarhum papa menceriterakan pernah beliau menyembuhkan seorang wanita yang sakit dengan menggunakan air putih. Ceriteranya pada saat melakukan penggalangan ia diinformasikan oleh rekannya bahwa ada seorang wanita yang sakit. Ia minta diberikan pengobatan. Rekan almarhum papa itu adalah prajurit Kesehatan. Saat wanita itu berobat papa bertugas mendoakan alat suntik yang sudah diisi air putih namun diyakini sebagai obat oleh wanita itu. Seusai mengajak perempuan paruh baya itu berdoa, rekan papa yang prajurit kesehatan lantas menyuntikkan obat melalui jarum suntik berisi air putih itu ke tubuhnya. Kenapa hanya diberi air putih sebab pasukan tak membawa obat untuk sakit wanita tersebut. Saking percayanya alhasil 3 hari kemudian perempuan itu datang lagi seraya mengucapkan terima kasih atas bantuan papa dan rekannya.

Belum lagi ceritera bagaimana pada sebuah kesempatan usai gerakan (baca : pertempuran), sekelompok anggota Team Susi memojokkan sepasukan Tropas, tentara Portugis hingga mereka lari bersembunyi di sebuah gereja. Waktu itulah Komandan memanggil almarhum seraya memerintahkan agar papa menembakkan RL ke gereja yang dijadikan tempat persembunyian musuh. Katanya papa belum pernah di medan tempur sesungguhnya beraksi dengan RL. Mau tidak mau karena sebuah perintah akhirnya almarhum papapun berlutut berdoa mohon pengampunan lebih dahulu. Selepas amin,dia pun mengambil Rocket Launcher dan plung, roket menghantam gereja hingga rata dengan tanah. Semua Tropas, musuh mati. Peristiwa penembakan RL ini saya dengar bukan hanya saya dengar dari papa akan tetapi juga dari rekan papa yang bersama-sama satu Team. Luar Biasa pendeta disuruh menembakkan Rocket Launcher.

Satu kisah lain yang pernah diceriterakan beliau kepada anak-anaknya. Bagaimana suatu hari sepasukan Nanggala 2 terlambat kembali ke pos. Hari terlanjur siang, matahari sudah terbit. Para prajurit diperintahkan oleh Komandan Karsa Yudha untuk istirahat seraya membuat lingkaran tanpa ada gerakan apapun. Setiap anggota bertanggung jawab terhadap area dalam pandangannya. Bila ada terlihat manusia semua mesti diselesaikan tanpa suara letusan senjata. Itu dilakukan sepanjang pagi hari hingga sore matahari terbenam guna menghindari terlihat oleh musuh dan mata-matanya.

Foto almarhum bersama Komandan Nanggala 2 dan sebagian rekan anggota TEAM SUSI dengan pakaian sipil bercelana blue jeans dengan sendal jepit seusai pertempuran perebutan sebuah pertahanan musuh. Benteng Balibo menjadi saksi keberadaan seorang pendeta di medan pertempuran. Di tempat ini pula Deklarasi Balibo dinyatakan sebagai tandingan pernyataan kemerdekaan sepihak yang dilakukan Fretilin. Usai merebut Balibo Team SUSI berangkat menuju Atsabe dimana disana terdapat Markas sepasukan Kavaleri Portugis bermarkas.

Itulah kisah seorang Pendeta Tentara pada sebuah Pasukan Khusus Baret Merah. Kayaknya tak kan pernah ada lagi seorang pendeta yang memanggul AK 47 dimedan perang seperti ayah saya. Dan saya bangga memiliki papa seperti beliau meskipun sebuah gereja mesti dirobohkannya demi keselamatan dan keberhasilan tugas kelompok Nanggala 2.