TPU

Aksi ziarah ke makam orang tua, anak atau keluarga merupakan sebuah aktifitas yang rutin dilakukan manusia yang bersyukur termasuk saya. Tak terkecuali dalam rangka mengingat rayakan Paskah tahun ini. Selepas tugas pelayanan pada minggu pagi saya lantas bergegas mengajak keluarga pergi ke pekuburan.

image

Beruntung cuaca saat keberangkatan hari itu tidak terlampau panas jadi membuat tambah semangat. Dari kunjungan Ziarah saat ini ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya. 3 TPU yang dikunjungi meninggalkan kesan yang harus diungkapkan. Hal tersebut membuat saya merasa harus menuliskannya disini.

Pertama, betapa kaget saya ketika berkunjung ke pemakaman ayah ada sebuah tulisan dari kertas A4 diletakkan di sebuah batu nisan dari seseorang yang dimakamkan disana. Tulisannya begini ” Belum Bayar Kontrak”, sontak saja saya merasa kaget terharu. Betapa tidak, orang sudah meninggal saja masih dikejar dengan urusan sewa menyewa. Apakah pemilik pemakaman tidak lagi mempunyai data sehingga aksi seperti itu yang dilakukan. Alangkah baiknya jika pemilik cukup menghubungi keluarganya untuk segera menyelesaikan urusan pembayarannya. Bukan dengan cara seperti itu deh sepertinya. Pasti ada alasan dari pemilik namun jelas masih dapat ditempuh cara atau media lain untuk mengkomunikasikan. Mengelus dada saja yang saya lakukan seraya meninggalkan area pemakaman swasta ini.

Hujan turun dalam perjalanan lanjutan menuju pemakaman ibu terkasih. Namun itu tak membuat saya dan keluarga surut semangat. Meski sempat macet namun akhirnya tiba juga dengan selamat. Rupanya di lokasi sudah banyak keramaian. Kendaraan terlihat diparkiran tidak seperti biasanya. Mobil yang akan keluar dan masuk volumenya bertambah dari hari biasanya. Antrean panjang terjadi di dalam pemakaman disebabkan adanya mobil  yang parkir di pinggiran jalan utama pemakaman sehingga menghambat laju kendaraan. Pertanyaan saya untuk pengurus pemakaman disini adalah mengapa tidak dilakukan rekayasa lalu lintas pada hari besar dimana terdapat banyak nyekar dilakukan. Belum adanya pengaturan mobil yang akan masuk keluar ke area Blok atau Blad membuat hambatan terjadi. Seharusnya pengurus pemakaman menugaskan seseorang untuk mengatur lalu lintas. Jalan mana untuk kendaraan masuk dan jalur mana bagi kendaraan keluar. Bukan seperti saat ini hanya menugaskan seorang pengutip parkir saat di pintu keluar saja. Jika perlu di buatkan tanda atau sign lalu lintas agar tidak terjadi hambatan. Celakanya jika ada rombongan mobil jenasah yang akan memakamkan bisa jadi mereka terhambat sejenak sebelum menuju lokasi makam atau blad yang ditentukan karena berpapasan dengan kendaraan yang akan keluar plus ada kendaraan parkir disisi pemakaman. Belum saatnya mengharapkan peziarah untuk saling legowo dalam memberikan jalan mereka kepada mobil lain. Jadi pengurus makam kiranya dapat mengantisipasi hal tersebut karena tidak setiap hari lonjakan peziarah terjadi, hanya pada hari raya besar masing-masing agama saja. Lakukan pengaturan keluar masuk kendaraan sampai ke parkiran utama di bagian depan sehingga tidak ada hambatan atau bahkan kecelakaan karena mobil masuk ke parit atau selokan akibat sempitnya jalan yang dilalui.

image

Hal ketiga, buat pengurus makam. Ahli waris pastinya memiliki kewajiban untuk membayar uang sewa lahan makam. Biaya tersebut asumsinya sudah termasuk pemeliharaan makam. Namun ada daya, setiap ahli waris ternyata juga harus mengeluarkan dana tambahan supaya makam orang tua atau keluarganya dirawat dengan baik. Bila ingin makamnya berumput indah dan terawat ahli waris kudu merogoh kocek lagi diberikan kepada para tukang gali yang sekaligus berperan sebagai penjaga makam di bladnya. Coba tengok di makam keluarga yang tak terurus banyak tulisan nama seseorang dibatu nisan. Bukan nama almarhum atau almarhumah tetapi nama “penjaga atau perawat makam”. Satu penjaga makam bisa menjaga beberapa makam. Jika tidak ingin dirawat yah berbesar hatilah saat berziarah melihat rumput sudah tinggi diatas makam tak karuan. Pertanyaannya, apakah pengurus makam tidak memiliki petugas untuk melakukan perawatan dengan menyewa orang-orang mereka yang bertanggung jawab. Tak sedikit ahli waris ditagih, dihubungi untuk membayar lumpsum selama setahun dimuka. Sekali lagi ini bukan soal seperak dua perak tetapi lebih kepada penertiban biaya yang tak diharapkan. Bila memang dibutuhkan silahkan saja pengurusan biaya pemakaman melalui PERDA sehingga dapat menetapkan harga sewa yang lebih tinggi dibandingkan saat ini asalkan pemeliharaan dilakukan oleh mereka bukan karema hasil negosiasi antara ahli waris dengan para tukang gali yang berperan ganda juga sebagai penjaga atau pemelihara makam. Semoga saja akan ada perubahan.

image

Dari tiga Tempat Pemakaman Umum yang diziarahi pada hari itu, menurut pendapat saya TPU Kali Mulya 3, lokasi makam anak pertama saya termasuk pemakaman yang baik. Salah satu indikatornya adalah tidak ada kutipan lain sama sekali. Entah kalau orang lain yang pasti saya belum pernah mengalaminya. Pengurusnya juga senang melayani, makam dirawat sesuai dengan biaya yang setiap tahun di kenakan Pemda. Sedangkan bila kita bicara Tips saya masih punya hati yang luas untuk memberikannya.

Itulah pengalaman ziarah hari Paskah.
Terima kasih buat Tuhan aktifitas kami hari itu berjalan dengan lancar.

Komuterline 0754
Rabu 29032016
07.44

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 31/03/2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: