Bahagia Adalah Nostalgia Sambil Latihan Menembak

image

Minggu 26 April 2015, saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Indosat Shooting Club yang menyelenggarakan latihan bulanan bagi anggotanya. Ada setidaknya dua alasan saya sangat tertarik mengikuti kegiatan ini meski jatuh di hari Minggu. Pertama saya rindu untuk kembali masuk ke tempat dimana puluhan tahun lalu saya biasa bermain. Saya rindu melihat rumah kami tempo dulu , tempat dimana saya dibesarkan sampai SMP. Kedua tentu saja saya ingin juga merasakan bagaimana memegang bedil lagi. Kepingin untuk mencoba dar der dor. Ketika ikut Pendidikan Dasar Menwa di Secata Gombong Jawa Tengah semasa kuliah sudah pernah menembak dengan Senapan M16 A1 namun hanya 10 peluru saja. Belum terasa nendang. Itupun kayaknya sudah lupa dengan yang namanya Pisir dan Pejera. Apa beda dan kegunaannya diungkapkan lagi oleh Pelatih yang mendampingi. Kini kesempatan itu datang maka ajakan seorang rekan rasanya tak boleh saya sia-siakan. Jadilah sejak pukul tujuh sudah berada di lokasi padahal kegiatan baru akan dimulai satu jam setelah kedatangan saya.

image

Memang rasanya beda ketika masuk kembali ke Kompleks yang terkenal sebagai Pasukan Nomor Tiga didunia. Tata ruang yang rapi, kebersihan yang terjaga terlihat sekali saat memasuki perumahan Baret Merah ini. Apalagi ketika melewati rumah yang sekitar 10 tahun kami huni. Dulunya nama jalan rumah kami Jalan Sungai Luis namun kini sudah berganti menjadi jalan Chandrassa 7 jika tidak salah melihat. Jalan yang dulu berbatu kini sudah beraspal, rapih dan bersih. Tiang Rambu Lalu Lintas jelas terlihat seolah mengarahkan pengendara kemana harus meluncur. Setelah belok kiri tepat di samping Lapangan Atang Sutresna (d/h Lapangan Merah), saya melintasi Sekolah Taman Kanak-Kanak yang dulu saya masuki. Namanya kini sudah berganti. Dan terlihat juga Gereja dimana saya tempo lalu bersekolah Minggu. Nama Gereja tetap sama POUK Immanuel tidak berubah, entah kalau gereja katolik disebelahnya, kemarin kok saya melihat nama Valentino. Sepanjang jalan yang dahulu dinamakan Jalan Dili untuk mengingat gugurnya Mayor Atang Sutresna dalam Operasi Seroja, perebutan Kota Dili 7 Desember 1975 di Timor Timur terawat bersih dan Rapih. Nama Atang Sutresna ini sudah dipakai sejak gugurnya almarhum sebagai pengganti nama Lapangan Merah. Persis diujung Jalan Dili ini, saya mulai menurunkan kecepatan motor kemudian mencari petunjuk dimana Lapangan Tembak Rama Sinta ini berada. Setahu saya lapangan tembak yang dekat gereja adalah Lapangan Tembak tempat saya dan teman-teman mencari bekas selongsong peluru. Lapangan tembak itu kini diberi nama B. Sudaryanto diambil dari nama seorang perwira, ayahanda teman saya Budi dan Iwan, tetangga kami, yang meninggal dalam tugas di Operasi Seroja tahun 1975an. Beliau gugur di Sungai Luis Timor Timur, oleh karenanya untuk mengenang perjuanganya nama jalan di rumah kami Sungai Luis. Lepasnya Timor Timor membuat semua nama yang berbau Timor Timur kini sudah dihapus diganti salah satunya dengan nama Chandrasa.

Saya pun mencoba bertanya kepada seorang prajurit yang sedang naik motor menuju ke Posko Ekspedisi NKRI. Dengan ramah prajurit ganteng itu membuka kaca helm kemudian memberikan penjelasan kepada saya dimana lokasi lapangan Rama dan Sinta tersebut. Rasanya moto Danjen Kopassus NO 3M, yakni Jangan Melotot, Marah dan Memukul benar benar dipraktekkan oleh para Prajurit termasuk prajurit yang saya tanyai. Si Prajurit malah menjalankan juga 3S nya Danjen, yakni Senyum Sapa dan Salaman. Berbekal informasi dari keramahan prajurit tersebut saya meluncur menyusuri jalan samping lapangan B. Sudaryanto hingga akhirnya sampai di mulut terowongan yang hanya muat satu kendaraan saja. Dalam hati saya bergumam, luar biasa ini baru Pasukan Khusus namanya. Kita ingin ke lokasi saja sudah dibangkitkan adrenalinnya. Rasanya jika malam hari masuk terowongan ini saya takkan berani.

Setibanya dilokasi, belum terlihat rekan Indosat Shooting Club, yang kelihatan hanya beberapa Prajurit yang sedang membersihkan lokasi dan dua orang provoost yang mengatur parkir. Katanya Danjen akan berkunjung setelah olah raga pagi untuk menembak namun sampai saya pulang beliau tak jadi datang, mungkin pindah ke lapangan lainnya.

image

Saat semua team berkumpul, seorang pelatih yang tadi meyapa kami semua dengan Salam Komando, mulai memberikan instruksi bagaimana mengikuti ketentuan Menembak yang baik. Hal pertama dan utama yang diperkenalkan adalah Faktor Keamanan. Selanjutnya beliau menjelaskan bagaimana memegang Pistol dengan benar. Usai pemberian penjelasan dilanjutkan dengan pembagian peluru. Kami masing-masing dipanggil namanya kemudian diberikan 1 Box Peluru 19mm berisi 50 butir. Wow ! Saya pikir cuma sepuluh ternyata sebanyak itu makin semangat dong jadinya.

Satu per satu kami mencoba menembak Pistol diarahkan oleh 3 orang pelatih. 1 kali sortie, meminjam istilah Terjun Payung, ada 3 orang anggota Indosat Shooting Club yang dibimbing. Ada 6 orang pemula termasuk saya yang baru bergabung jadi pertama diperkenalkan dengan Pistol dahulu. Paling tidak supaya paham betul cara memegang, bernafas dan menembak. Baru sesudahnya saya termasuk yang mencoba menembak dengan MP5 untuk 15 peluru terakhir. Betapa senangnya hati pada hari ini karena bisa belajar menembak Pistol. Dengan belajar menembak, saya jadi mencoba belajar lebih sabar lagi. Saya tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan. Saya juga belajar untuk fokus pada target yang harus dicapai. Ketiga hal tersebut jadi insight learning yang boleh saya petik sepanjang 3 jam kegiatan menembak ini. Pelatih membantu mengungkapkan keberdayaan yang saya miliki untuk kemudian dilatih, dilatih dan dilatih supaya paling tidak muncul kesabaran yang lebih tinggi lagi. Konsentrasi dan fokus pada apa yang akan dicapai perlu  diperbaiki selalu. Alhasil yang tadinya tembakan diluar lingkaran hitam akhirnya pada sesi kedua paling tidak 4 peluru masuk lingkaran hitam di angka 8 dan 9. Cukuplah Buat Pemula !

Terima Kasih Indosat Shooting Club, saya sudah dapat bernostalgia dan berlatih menembak. Semoga bulan depan dapat mengikutinya lagi dan memperoleh nilai kesabaran yang meningkat. Bahagia rasanya bisa bernostalgia sambil mendapat ilmu menembak dari pasukan Komando terbaik di Indonesia.

Terima kasih Pak Pelatih yang menemukan keberdayaan saya yang harus ditingkatkan. Juga terima kasih saya ucapkan karena ternyata setelah puluhan tahun sang Pelatih masih mengenal almarhum papa, “Kalo tidak salah, Bapak itu dulu Pa Roh kan ya” begitu ucapnya saat saya hendak pamitan dengannya. Saya pun mengangguk tanda setuju sambil salam komando dengannya.

Selamat Hari Minggu dan Happy Shooting ! Jayalah Selalu Kopassus ! KOMANDO !

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 26/04/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: