Catatan Khotbah Opa : Sesal Kemudian Tak Berguna

image

Khotbah Minggu 19 Oktober 1980
Hakim-Hakim 11 : 29 – 40

“Jika tidak ingin menyesal, keputusan kita harus lahir dari pertimbangan yang matang dalam penyerahan pada pimpinan Tuhan”

Riwayat hidup Yefta luar biasa. Yefta anak Gilead dari seorang perempuan sundal. Ia diusir saudara tirinya yang menghendaki harta warisan mereka jatuh penuh ke tangan mereka. Yefta meninggalkan rumahnya dan di Tob bekerja sebagai pemimpin perampok. Dalam keadaan terdesak bangsa Israel mengutus para tua-tua untuk mengundang Yefta menjadi pemimpin Israel menghadapi bangsa Amon. Yefta menerima undangan tersebut sesudah terjadi perjanjian bahwa ia diakui tua-tua untuk memimpin bangsa Israel. Yefta tidak mendendam tidak juga membalas kejahatan dengan kejahatan. Yefta tahu dengan pasti bahwa Tuhanlah hakim yang berdaulat penuh. Yefta yang menurut penilaian manusia tersisih justru dipilih Allah. Tetapi pilihan Allah itu besar kuasa nya. Perubahan tajam terjadi pada diri Yefta. Jalan hidupnya berubah, sikap hidupnya berubah. Tujuan hidupnya pun berubah. Ditangan Tuhan dia menjadi alat pembebasan Tuhan yang ampuh.

Pertentangan Israel dengan Amon adalah tentang tanah yang diduduki Israel. Mereka menuduh Israel merampok tanah mereka. Tetapi menunjuk pada fakta sejarah, Yefta menyalahkan tuduhan tadi. Sebab bangsa- bangsa itu yang mudah menyerang Israel. Tuhan yang berkuasa menyerahkan ini ke bawah tangan Israel. Yefta berpegang pada kedaulatan dan kehendak Allah pemilik dunia ini. Serangan Israel sebenarnya adalah serangan terhadap rencana Tuhan yang memilih Israel untuk menyelamatkan dunia ini. Maka tindakan Tuhan memilih dan membela Israel sama sekali bukan pilih asih. Pertimbangan iman tentang kenyataan hidup ini jauh berbeda dengan pertimbangan yang dibuat dari posisi tidak beriman. Itu sebabnya logika yang bertitik tolak dari iman, tidak pernah bisa bertemu dengan logika ya menilai tanpa iman. Orang KRISTEN pun tidak luput dari kemungkinan salah menilai. Karena itu, penting selalu mulai berpikir dan melangkah dari Tuhan dan rencanaNya. Pertempuran Israel dengan Amon tak terhindarkan lagi. Tuhan mengirim Rohnya kepada Yefta. Sebelum maju berperang Yefta bernazar akan mempersembahkan sebagai korban bakaran apa saja yang keluar dari pintu rumahnya saat ia tiba kembali dari peperangan.

image

Yefta menang gemilang. Tetapi yang menyambutnya pertama adalah anak perempuan tunggalnya yang belum menikah. Walau kaget dan terpukau ia tidak dapat mundur dari nazar yang sudah terlontar. Anaknya menerima nasibnya dengan berani. Ia meratapi kegadisannya sebelum dipersembahkan kepada Tuhan.

Bukankah sering keputusan dan tindakan kita, kita sesali kemudian hari. Semuanya terjadi karena kita tidak mempertimbangkan masak-masak. Apa yang melandasi niat, ucapan, janji dan tindakan kita ? Pikiran, Perasaan. Penilaian, Kemauan dan Keputusan kita harus dilandasi oleh kebenaran. Jika tidak ingin menyesal, keputusan kita harus lahir dari pertimbangan yang matang. Dalam penyerahan pada pimpinan Tuhan Yang Maha Kuasa sumber dari kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Catatan Akhir :
1. Yefta menurut penilaian manusia tersisih, tapi justru dipilih Allah
2. Pertimbangan Iman
3. Bukankah sering keputusan kita, kita sesali dikemudian hari

Sumber :
Catatan Khotbah Pdt. F.S Katipana
Diketik ulang oleh Dkn W.Katipana
Jumat 27 Maret 2015

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 27/03/2015, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: