Parkir dan Warna

image

Matahari di atas langit TPU Pondok Rangon sepertinya tersipu malu bersembunyi di balik kumpulan awan yang terus bergerak melayang di udara. Hujan turun rintik membasahi tanah pemakaman tepat di hari Ibu ke 86 yang diperingati pada Senin 22 Desember 2014 ini.

image

Menurut catatan petugas parkir yang seolah bertugas layaknya Customer Service Officer, fungsi Meet and Greet disebuah Galeri. Pria ini yang menyapa setiap rombongan kereta jenasah yang masuk. Setidaknya 8 jenasah yang akan dimakamkan termasuk seorang bayi pada pagi hingga siang. Saya mengetahui hal ini setelah bercakap-cakap dengan sebut saja pak Amir sembari menunggu kedatangan rombongan pengantar jenasah ibunda dari seorang jemaat Sektor Betel GPIB Pancaran Kasih yang dalam catatan pak Amir tertulis di urutan kedua yang akan dimakamkan di Pondok Rangon. Secarik potongan kertas bertuliskan data jenasah seperti nama, agama, dari Yayasan mana ada dalam genggamannya. Obrolan saya dengan beliau tak hanya sampai disitu. Saya juga jadi mengetahui kalau dalam satu hari ia dapat mengumpulkan sekitar 300 sampai 400 ribu rupiah dari kendaraan yang membayar ongkos parkir saat akan keluar area pemakamanan. Meskipun kalau ada yang bertanya berapa ongkos parkirnya, ia dengan enteng akan menjawab berapa saja. Lelaki paruh baya ini mengaku memperoleh 20% dari hasil tersebut. Pendapatan harian dapat diambil olehnya untuk makan siangnya baru kemudian ia akan setorkan ke kantor pengelola. “Mobil bagus tapi ngasih cuma srebu” begitulah salah satu keluhnya sewaktu sebuah kendaraan mewah keluar dan pengemudinya memberinya dua koin pecahan lima ratus rupiah. Sukanya pria yang tinggal di daerah Pasar Rebo ini adalah saat hari-hari raya tiba. Menurut pengalamannya selama ini pasti ada yang memberi lebih dari dua ribu rupiah. “Ada yang suka  ngasih goceng ato ceban” akunya pada saya yang sedang menenggak minuman dingin disebelahnya. Percakapan dengan saya pun terputus karena rombongan yang saya tunggu telah sampai. Saya pun mendahului kereta jenasah menuju ke Blad 7 diikuti kendaraan lainnya.

Saat semua keluarga turun dari kendaraan, saya melihat semuanya mengenakan pakaian warna putih. Ada yang berupa kemeja, kaos berkerah dan ada juga kaos oblong, laki-laki ataupun perempuan. Saya pun jadi teringat sekitar dua tahun lalu menghadiri prosesi pemakaman di sebuah Krematorium di Karawang. Ketika itu seluruh anggota keluarga pun  mengenakan pakaian warna putih. Suasananya kayak film-film Triad Mandarin. Baju putih, kaca mata hitam. Siang tadi juga demikian, semua keluarga mengenakan pakaian warna putih. Saya pun mulai kasak kusuk bahkan ketika Prodiakon (maaf kalo salah ketik) sudah memimpin prosesi ibadah pemakaman. Jawaban akan keingintahuan saya kenapa keluarga yang berduka kok pada mengenakan pakaian  warna putih baru terjawab lengkap setelah dirumah.

Saya kagum sekali dengan satu dari ratusan kebhinnekaan adat istiadat di Indonesia. Sebagian besar masyarakat ketika sedang berkabung kebanyakan akan memilih pakaian warna hitam sebagai tanda turut sepenanggungan atau turut berduka cita. Warna hitam ini juga dipakai oleh keluarga saya saat mengantarkan kedua orang tua kami ke tempat peristirahatan. Kenapa warna hitam, karena hitam warna keabadian, warna duka cita.

Sedangkan bagi sebagian masyarakat Tionghoa mereka lebih memilih warna putih sebagai simbol perkabungan. Warna Putih dipakai oleh masyarakat Tionghoa kuno sebagai lambang kemurnian dilanjutkan hingga kini.

Jadi hari ini ada dua pelajaran hidup saya peroleh. Pertama bagaimana kisah pak Amir menyambung hidup dari uang parkir pengasihan dan kedua saya belajar memahami kebhinnekaan dalam kehidupan. Tak soal Hitam atau Putih, karena lebih penting pemaknaan dari Simbol yang terkandung dan yang dipahami oleh hati masing-masing.

Terima Kasih Tuhan atas hari ini.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 23/12/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: