Kesombongan Rohani

Ada dua hal yang menarik diri saya untuk mengcopas ketikan dari seorang Jenderal Purnawirawan Luhut Panjaitan. Pertama banyak hamba Tuhan sudah sering bernubuat yang bukan-bukan. Ada yang katanya telah pergi ke sorgalah ada juga yang karena doanya bisa menyembuhkan orang kemudian menjadi sombong dan lainnya. Hal kedua yang membuat saya senang ternyata Sang Jenderal dalam tulisannya dibawah ini mengutip pernyataan almarhum Papa, Ayah saya yang baru saya baca kalimatnya sesudah beliau meninggalkan anak-anaknya.

Pagi hari dalam Ibadah Minggu 28 September 2014 di GPIB Pancaran Kasih mengambil bahan renungan dari surat Rasul Paulus kepada Timotius terkait Ajaran Sesat. Oleh karenanya saya merasa bersyukur sekali karena dalam satu hari saya jumpai dua bahan renungan yang saling mendukung dimana sore harinya saya membaca tulisan dari Jenderal Luhut.

Jadi tulisan Pak Luhut ini juga kembali mengingatkan saya bahwa Bersyukur itu merupakan Hal mutlak yang tak bisa diutak utik lagi. Sebab siapakah kita semua ? Kita hanyalah manusia biasa. Apa yang ingin dibanggakan ? Kekayaan ? No way. Seperti Firman Tuhan katakan apalah gunanya seorang memperoleh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Oleh karena itu tetaplah kita berposisi seperti yang Tuhan ingini bahwa kita adalah ciptaanNya, Tuhanlah Pencipta kita jangan dibalik hanya karena kemampuan kita. Tidak elok juga jika kita berbuat seperti Hawa yang tergoda bujukan ular karena ular menjanjikan Hawa akan seperti Tuhan.

Terima kasih buat Pak Luhut, Selamat Ulang Tahun ke-67 pak sehat selalu dan panjang umurnya. Saya copas tulisan beliau dari blog beliau kiranya menjadi berkat bagi kita semua.

Berikut tulisan Jenderal Purn Luhut Pandjaitan melalui blognya.

“Pendeta-pendeta memang banyak bergumul dalam doa. Kalau doanya berhasil kadang timbul kesombongan rohani. Kadang pula merasa tenar karena bisa mendengar bisikan Tuhan atau Roh Kudus, padahal dia lupa dia juga manusia.” 
Ungkapan ini saya dapat dari Pendeta Katipana saat masih bertugas di Korps Baret Merah (sekarang Kopassus) beberapa puluh tahun lalu. Waktu itu, saya ingin meminta doa kepada dia. Tapi sepertinya dia ingin menceritakan bagian pengalamannya tersebut sebelum saya didoakan.
Bagi saya, makna dari ungkapan tersebut sungguh mendalam. Bahkan ketika Pendeta Katipana sudah berpulang ke rumah Bapa di surga, saya masih ingat pesan beliau itu. Saya juga tidak lupa ketika kami pernah bersama-sama di Timor-Timur. 

Tulisan selanjutnya silahkan baca http://luhutpandjaitan.com

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 29/09/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: