Selamat Jalan Oma

Dibalik Mega Biru ada tunggu Mama
Dibalik Mega Biru Sana
Nanti Mama Jumpa Yesus Kekasihnya
Dibalik Mega Biru Sana

Disebrang sana air mata hilanglah
Disebrang sana damai dan snang
Tak Ada Susah disbrang sana
Sbab Yesus serta mama selama-lamanya

image

“Wel, cepat ke RS suda, mama pung nafas su hela-hela” itulah sebuah pesan pendek yang saya terima dari abang saat saya sedang menghitung persembahan/kolekte pelayanan ibadah Minggu sore bersama Majelis Jemaat yang bertugas. Tak ada pesan apapun dari mama saat saya berganti jaga dengan kakak di kesempatan Sabtu malam hingga Minggu siang 29 Juni 2014. Malam itu Jalan Raya Bogor nan sepi mengantarkan saya menuju ke rumah sakit. Saat tiba di pelataran parkir, sepertinya itulah waktu Tuhan bagi mama menghembuskan nafas terakhirnya. Sayang sekali saya tak berada disampingnya saat itu terjadi. Namun saya percaya ketika dua roda depan kendaraan saya memasuki pintu masuk rumah sakit tugu ibu, saat itulah mama terkasih mengetahui bahwa anak bungsunya sudah hadir melengkapi anak cucunya yang sedang berdatangan juga. Sewaktu masuk ke ruang perawatan, saya melihat dua orang suster sedang merapikan alat kesehatan yang sebelumnya menempel pada tubuh mama. “Udah gak ada ya suster” tanya saya. Jawab seorang diantaranya, “Iya pak”. Saya lalu menciumnya terakhir kali seraya mengucapkan selamat jalan mama, terima kasih dan mohon maaf atas semua yang sudah diberikan bagi saya.

Saya berhikmat rupanya mama ingin saya menjaganya dirumah sakit juga seperti dilakukan abang-abang saya. Kesempatan itu datang pada hari Sabtu 28 Juni 2014. Biasanya hanya sekedar melihatnya diruangan hingga menjelang tengah malam lalu pulang. Tapi hari itu saya memutuskan untuk tidur di kamar rawat mama. Hikmat lainnya, Mama/Oma sepertinya juga menunggu kedatangan cucu-cucunya dahulu. Oleh karena dirawat di ICU dan aturan rumah sakit yang menghimbau untuk tidak membawa anak-anak dibawah usia 12 tahun maka cucu-cucu Oma baru sempat membesuk sehari sebelum Oma dipanggil Yang Kuasa dan beberapa pada hari Minggu paginya. Terlebih Obama, anak saya yang di Sabtu malam saat Saya akan berangkat menginap, ia merengek keras meminta kepada saya dan isteri “Aku mau liat Oma, Aku mau liat Oma” rengekannya melunakkan hati saya. Hati anak kecil ini mengingatkan saya untuk setuju membawanya serta meskipun waktu besuk sudah lewat. Obama rupanya ingin menunjukkan ia juga pandai bernyanyi seperti Omanya.Lagu-lagu Sekolah Minggu dilantunkannya disamping bangsal ruangan Melati tempat orang tua kami dirawat. Ketika semua itu terlaksana, mama pun sepertinya siap menghadap Sang Pencipta, Sang Juruslamat yang menjemputnya Minggu 29 Juni 2014 pukul 20.20 WIB. Ia telihat lebih senang karena semua anak cucu dan cicitnya sudah menjenguknya ketika nafas kehidupan masih ada dalam tubuh fananya.

Selamat Jalan Mama, Oma, Nene, Tuhan Yesus Sudah menyambutmu di sorga baka.

image

image

Saya dan keluarga besar Katipana -Latuminasse mengucapkan dengan tulus Terima Kasih kepada Bapak/Ibu saudara yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk menyampaikan ungkapan belasungkawa melalui berbagai social media kepada saya dan keluarga besar.

Untuk segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk kembali kepangkuan Sang Khalik.

Salam Berdaya !
W. Katipana Hutabarat/br Tampubolon – Obama dan Obaja

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 04/07/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Selamat jalan Oma.. Sampai ktemu kemudian di surga kekal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: