Doa Anak Bungsu Buat Mamanya

image

Tak terasa waktu terus bergulir dengan cepat. Kadang masih bengong juga, kenapa ? Masih belum hilang dari ingatan 4 tahun yang lalu perhelatan akbar Piala Dunia diselenggarakan. Kini Piala Dunia hadir kembali mengisi hari-hari warga dunia tak terkecuali pecinta bola di Indonesia termasuk saya. Ketika tulisan ini mulai diketik diatas kereta CL Kota-Bogor, Spanyol sang Juara Bertahan Piala Dunia sudah angkat koper lebih awal akibat dua kekalahan yang di deritanya. Hiruk pikuk piala dunia 2014 di Indonesia tetap menggema meskipun kadang sedikit terkubur juga dengan masa kampanye Pilpres. Dua calon Presiden bersama team suksesnya sedang gencar-gencarnya melakukan segala kegiatan demi kemenangan pasangan Capres yang diusungnya. Jadi biarlah dua peristiwa ini nantinya akan menambah catatan sejarah dunia. Catatan sejarah juga ternyata mesti ditorehkan buat saya ditengah perhelatan akbar ini. Saya bersama kakak-kakak harus kembali lagi berurusan dengan Rumah Sakit mengantarkan, menjaga orang tua terkasih, mama yang mesti mendapatkan perawatan.

Betapa tidak, 4 tahun yang lalu saya juga berada di rumah sakit Tugu Ibu Cimanggis Depok menemani almarhum Papa saya yang ketika itu jatuh sakit dan mesti dirawat. Kaitannya dengan Piala Dunia adalah, waktu itu almarhum papa juga sakit saat Piala Dunia mulai berlangsung. Kini, 4 tahun berselang saya juga kembali ke rumah sakit ini mengantarkan orang tua terkasih. Kali ini mama tercinta mesti saya bawa ke Tugu Ibu sebab beliau tak bangun dari tidurnya meski hari sudah siang dan dibangunkan, tetap saja tertidur seraya mendengkur. Senin 16 Juni 2014 saya bersama kakak nomor 3 dan istrinya membawa orang tua terkasih, mama ke ruangan Instalasi Gawat Darurat. Tiba di depan ruang IGD ketika pintu mobil terbuka, dua orang petugas IGD  mendekat mobil yang saya kendarai. Kakak No. 3 yang tiba lebih dahulu datang membantu mendorong tandu. Saya membopong mama yang terbaring dikursi belakang, membaringkannya bersama petugas. Cuaca sore itu mendung, hanya terlihat 1-2 orang sedang duduk di depan ruang IGD, mungkin menunggu kerabatnya.

Di dalam ruang IGD, mama kemudian dipasangi infus setelah sebelumnya diperiksa tekanan darahnya. Hasilnya, 90/60, rendah juga ya, pikir saya dalam hati. Beberapa pertanyaan mesti saya jawab sepertinya sebagai referensi pengambilan diagnosa. Selain itu persetujuan pengambilan tindakan mesti saya tanda tangani. Dokter pun kemudian memanggil. Ia dengan pelan sambil menulis sesuatu di formulir standard menyampaikan bahwa orang tua, mama sudah koma. Saran dokter mama mesti dirawat di ruang ICCU. Waduh ! Antara kaget dengan tidak tahu ingin bagaimana, akhirnya kakak nomor 3 yang mendampingi saya di depan dokter menyetujui. Dokter IGD menyarankan dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala.

Saat menengok mama di salah satu bangsal di IGD, saya melihat mama sudah lebih baik keadaannya. Cairan infus yang masuk mungkin yang menguatkan dirinya. Ia sudah membuka matanya, namun menurut dokter kenapa dikatakan tidak sadar ya. Entahlah, maklum tidak paham jadi terima saja.

Inilah kali kedua saya menyaksikan orang terkasih dirawat di ruang ICCU. Betapa sungguh sangat tidak nyaman bila harus kembali lagi keruang kayak itu. Anak pertama saya Tuhan panggil di ruang sejenis hanya beda nama dan beda rumah sakit saja. Satu namanya NICU untuk anak-anak, satu lagi ICCU/HCU buat orang dewasa. Kenapa tidak nyaman ? Pastilah disana kan penanganan bagi pasien dengan tingkat keseriusan yang tinggi, nyawa taruhannya. Jarum, selang terpasang meliliti tubuh almarhum anak pertama saya. Saya juga tidak tahu apakah saya mampu melihat kondisi mama dengan selang-selang seperti dulu anak saya. Sampai malam ini saya belum melihat mama saat diruang ICU. Ada rasa sedih dihati, takut,campur jadi satu. Terakhir saya hanya melihat selang infus dan selang oksigen yang dimasukkan dalam tubuh mama ketika akan di Scan. Kiranya Tuhan memberikan belas kasihanNya kepada mama. Meskipun hasil CT Scan malam itu sudah diinformasikan dokter syaraf kepada kakak ketiga, bahwa ada cairan di otak mama. Entah cairan apa sehingga dugaan itu adalah penyebab mama tidak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata. Meskipun demikian, masih tersimpan keyakinan oleh bilurNya mama akan sembuh.

Mama, cepat sembuh ya. Mama pung cucu, Frederik mau di bawa ke gereja untuk dibaptis seperti mama dulu bawa saya kepada Tuhan agar tercatat sebagai warga kerajaan surga. Kiranya Tuhan memberikan waktu lagi kepada mama supaya saat Frederik dibaptis mama masih ada. Jadi malam ini Kamis, 19 Juni 2014, pukul 21.25 di sofa warna hijau depan ruang HCU/ICU sambil penuh harap dalam doa dengan mata berkaca menahan air mata tumpah dikedua pipi, saya mohon kesembuhan mama kepadaNya. Lagu Allah Peduli dari Jefrey S Chandra yang didengar melalui smartphone kiranya sungguh nyata sebab mukjijat masih terjadi. Ajarkanlah hambaMu ini Tuhan untuk senantiasa bersukacita dalam penderitaan,seperti firman Tuhan yang dibawakan saat memimpin ibadah di Sektor Sion, dengan berpengharapan selalu kepadaMu. Meskipun malam ini anak bongso tidak masuk ruangan lihat mama, ketikan, tulisan ini akan tersebar ke alam semesta dan sampai kepangkuan Sang Pencipta yakni Yesus Kristus, tabib segala tabib, dokter segala dokter sebagai sebuah doa tulus anak bungsu yang mengasihi mamanya yang dulu melahirkan, merawat dan membesarkannya. Mama yang selalu mengatakan ya, mama yang selalu menganggukkan kepala tanda setuju. Mama yang selalu membuatkan telur mata sapi kala anaknya ini bangun tidur setiap hari. Mamaku, lekas sembuh ya, “Hari su malam, Welly pulang dolo e, lia mama pung cucu di ruma, beso datang lai tadudu deng air mata pono dimata didepan Ruang HCU/ICU”, Tete Manis Memberkati.

“Allah mengerti Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi, tak akan pernah dibiarkannya ku bergumul sendiri sebab Allah mengerti ”

RS Tugu Ibu 19 Juni 2014
Depan Ruang HCU/ICU
21.25 WIB
Anak bungsu mama, Welliam Both

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 19/06/2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: