D U A

image

DUA itulah judul ketikan saya kali ini. Saya ingin menulis pada blog dengan mengaitkan apa yang saya jalani, temui, alami dengan angka 2. Angka 2 dalam ketikan ini dipetik dan diawali oleh adanya perjalanan dari Kota Padang menuju Kota Padang Sidimpuan pada hari Kamis 11 Juli 2013 lalu. Ini merupakan perkunjungan yang KEDUA sesudah pernikahan saya dengan istri terkasih yang berasal dari Kota Salak tersebut. Perjalanan yang ditempuh selama 9 jam dengan kendaraan roda empat itu juga merupakan perjalanan terjauh KEDUA yang boleh dijalani oleh anak terkasih Johannes Samuel Obama. Dengan menggunakan maskapai yang sama, perjalanan Jakarta-Padang ini menjadi penerbangan rit KEDUA bagi dirinya. Penerbangan pertama dijalaninya sewaktu menuju Kota Medan pada sekitar bulan Februari lalu. Dalam perjalanan menuju kota kelahiran istri, saya juga membawa serta anak KEDUA saya yang masih berusia 8 bulan. DUA anak saya bawa ke kampung isteri, meski repot namun segala sesuatunya dapat berjalan dengan cukup baik berkat Doa. Pulang kampung ditahun 2013 kali ini memang bukan dilandasi oleh sebuah sukacita akan tetapi dukacita atas berpulangnya kakak nomor DUA dari istri yang dipanggil pulang Pencipta Semesta pada hari Rabu 10 Juli 2013 lalu. Akibat menderita stroke, Lae saya itu sempat masuk rumah sakit dan dirawat selama kurang lebih 3 hari di Rumah Sakit. Penanganan yang diberikan masih dapat dimaksimalkan apabila ruang ICU yang tersedia lebih dari 4 Bed. Akibat ketidaktersediaan ruangan membuat Lae saya itu dirawat diruang lain. Perjuangannya didalam ruang perawatan rupanya tidak menghasilkan kesembuhan namun justru keselamatan sebagai gantinya. Kakak isteri yang masih berusia 56 tahun memiliki DUA anak yang kebetulan KEDUAnya sudah beliau hantarkan memasuki gerbang rumah tangga. Saat kematian menjemput beliau, sebenarnya Tuhan sudah memberikan DUA cucu yang masih dalam kandungan anak mantu dan anak perempuannya.

Di sela-sela kegiatan saya sepanjang hari, saya bersama anak menyempatkan diri ke sebuah Mall di kota. DUA kali saya pergi kesana untuk mencari makanan yang cocok dengan perut saya dan anak Obama. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama disana meski hati tergerak.

DUA pemandangan yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia juga boleh saya alami. Tak jauh dari rumah tinggal almarhum Lae Nathan, saat yang sama juga sedang berlangsung Pesta Pernikahan di gedung Sinar Pancar. Letak gedung itu hanya beda satu rumah saja dan untungnya tidak saling berhadapan. Jadi pada hari Sabtu itu juga ditengah prosesi pemakaman, hingar bingar lagu dan musik Pesta Pernikahan dan lagu, musik acara adat pemakaman silih ganti saling sahut menyahut di DUA lokasi yang terletak di Jalan Teuku Umar Padang Sidimpuan. DUA acara beda tujuan berlangsung dalam waktu bersamaan. Satu acara permulaan dalam bahtera kehidupan rumah tangga lainnya acara terakhir kehidupan di dunia yang fana.

Ketika Ibadah Pelepasan selesai, saya bersama seluruh jemaat, keluarga, kerabat yang hadir mengantarkan ke lokasi pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah Lae almarhum. DUA kali saya sudah mengunjungi lokasi pemakaman yang terletak diatas bukit itu. Pertama di tahun 2005 dan yang kedua hari Sabtu sore itu. Di pemakaman yang katanya tanahnya sudah dibeli HKBP dari Pemkot juga terbaring jasad mertua lelaki dan perempuan sehingga saya dan keluarga menyempatkan diri ziarah kesana. Dan tak lupa foto dimakam mertua yang memang berdampingan.

DUA yang terakhir yang saya boleh jumpai saat melakukan perjalanan ini terjadi pada hari Minggu dinihari. Pada perjalanan pulang dengan Travel dari Padang Sidimpuan menuju Padang kendaraan yang saya tumpangi dihentikan Polisi. Sebelumnya 5 orang penumpang dalam satu kendaraan termasuk saya tak mengerti mengapa Polisi dinihari kok mengadakan razia juga. Apesnya mengapa hanya DUA orang yang diperiksa KTP dan surat kelengkapan lainnya. Selain sopir travel ternyata polisi juga meminta saya membuka jendela dan menyerahkan KTP. Meski cuma dilihat dengan senter namun hal itu berulang terjadi DUA kali terhadap diri saya. Saya mesti mencabut KTP DUA kali dari dompet. DUA orang Polisi berbeda menanyakan hal yang sama. Dari DUA orang Polisi itulah saya diberitahu bahwa ada Napi yang kabur dari Medan. Segala sesuatu menjadi lebih jelas saat saya membuka twitter dimana terdapat info mengenai kaburnya ratusan Narapidana dari sebuah Lembaga Pemasyarakatan di Medan. Apa tampang saya seperti Napi kali ya ? He he he he.

Yah begitulah ketikan saya kali ini dikaitkan dengan angka DUA sepanjang melakukan perjalanan Jakarta-Padang-Padang Sidimpuan pulang pergi. Tuhan kiranya juga akan menDUA kalikan Berkat bagi saya dan keluarga Amin.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 15/07/2013, in Keluarga. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Juara S. Purba

    nice sharing bro.
    keep writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: