Tribute To My Father : Kiprah Paitua 18 Tahun di Baret Merah


Selepas diterima menjadi Prajurit TNI AD melalui Dinas Rohani Protestan – Disrohprot sebagai Guru Militer Angkatan Darat mulai 1 Januari 1970 perjalanan kehidupan keluarga F.S Katipana mengalami perubahan. Meskipun tugas pelayanan tetap menonjol namun kehidupan dalam dunia militer setidaknya sedikit berbeda dengan pelayanan dalam dunia sipil. Terlebih lagi garis kehidupan Papa Dan membawa kami anak-anaknya kedalam dunia yang baru dari kehidupan sebelumnya yang sangat berbeda sekali. Kehidupan militer kadang kala dirasakan seolah menutupi dunia pelayanan yang selama ini dikenal. Apalagi sejak 1 Maret 1971 Papa Dan sudah menerima dan mengambil tantangan yang lebih berat ditandai dengan bergabungnya Papa Dan kedalam Kesatuan Korps Baret Merah yang ketika itu masih menyandang nama Pusat Pasukan Khusus atau PUSPASSUS TNI AD.
Masyarakat mana pada saat dulu hingga kini tak mengenal pasukan Baret Merah ini. Bahkan dulu sampai ke Pulau Kisar Maluku Barat Daya pun namanya sudah harum dikenal padahal akses informasi saat itu terbatas sekali. Sepanjang kedinasan Papa Dan di Kopassandha nama lain Baret Merah hanya ada 1 (satu)orang lagi asal Pulau Kisar yang menjadi Prajurit Kebanggaan Bangsa ini. Sebelumnya sudah lebih dahulu bergabung pemegang Bintang Sakti (diserahkan langsung oleh Presiden RI Pertama), bintang Jasa bak Purple Heartnya Tentara Amerika. Atas keberaniannya saat Dwikora Negara memberikan Bintang Sakti kepada satu-satunya Putra Kisar Yotowawa yang saat itu berhasil Survive layaknya Rambo dibelantara hutan perawan Kalimantan Utara, beliau adalah yang terkasih Om Simon Maalete. Selanjutnya ia menjadi Pelatih Sekolah Komando di Pussandha Linud nama lain dari Pusdik Kopassus, kawah Candradimukanya prajurit terpilih dari prajurit pilihan.

Kehadiran Papa Dan dalam kesatuan Baret Merah ditandai dengan keikutsertaan seorang Pendeta dalam Latihan Dasar Para Angkatan Kedua. Pendeta kok disuruh latihan terjun ?.Latihan terjun payung diselenggarakan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus Batujajar mulai 31 Maret 1971 sampai 29 April 1971. Diantara 189 orang peserta Latihan Dasar Para terdapat nama beliau bersama prajurit Malaysia yang turut dididik oleh Baret Merah.

Sepanjang kedinasannya di Pasukan Nomor 3 di dunia beliau juga mesti mengikuti kegiatan-kegiatan kemiliteran seperti Apel Pagi, Siang, Lari Pagi, Latihan Menembak, Piket atau Konsiyir, Latihan Perang Hutan latihan keprajuritan lainnya termasuk Terjun Penyegaran beberapa kali dalam waktu tertentu harus dijalani pula. Latihan Perang Hutan di Ciampea Bogor, Terjun Malam atau Siang di Lapangan Gorda Banten sampai latihan-latihan lain persiapan merayakan Hari ABRI dimana terakhir saya ingat diantaranya saat HUT TNI dirayakan di Madiun 1982 Papa Dan terlibat di dalamnya juga. Selain itu seingat saya bagi kehidupan militer yang namanya Lari Pagi itu sudah makanan hari-hari. Kerap terlihat beliau berdiri dimuka anggota pasukan lain dibelakang sambil membawa Bendera Kompi apakah waktu di Cijantung atau saat di Serang. Malahan sewaktu dinas di Grup 1 Parako sesekali “Paitua” lari pagi dari Taman sampai Karangantu Banten. Dan satu lagi kekhasan Papa ketika berlari adalah ia berlari TANPA SEPATU. Dari catatan surat perintah yang masih tersimpan dirumah, Paitua, begitu ia dipanggil, juga diperintahkan untuk memulai Latihan Pemukulan Benda Keras atau selanjutnya dikenal dengan Bela Diri Merpati Putih. Surat Perintah yang di tanda tangani oleh Letkol Kuntara memerintahkan bagi beberapa perwira untuk melaksanakan latihan setiap hari Selasa dan Kamis mulai pukul 15.00 – 18.00 bersama para perwira Grup 1 lainnya diantaranya seperti Kapten Luhut Panjaitan, dulu menjabat Wadan Den 11, Lettu Prabowo Subianto, dulu anggota Denpur 11 sebagai Danki 112, Lettu Muhajir dan lainnya.

Satu hal yang fenomenal dari beliau sebagai seorang Pendeta Tentara adalah keterlibatannya dalam TEAM SUSI yang mengemban tugas di Timor Portugis pada awal persiapan penyerbuan Kota Dili 7 Desember 1975. Beliau tergabung dalam TEAM SUSI dibawah pimpinan Kapten Yunus Yosfiah bersama 99 orang Prajurit Kopassandha pilihan lainnya. Tugas operasi ini sama sekali bukan merupakan pelayanan namun harus bertempur di medan laga, kalau tidak menembak ya ditembak. Team Susi terdiri dari anggota pasukan Baret Merah berkemampuan Sandi Yudha atau Sandha, berperang dengan segala akal tanpa diketahui musuh dimana salah satu cirinya mereka tidak mengenakan PDL loreng darah mengalir kebanggaan satuan yang dikomandani pertama kali oleh Mayor RB Visser alias Mayor Idjon Djanbi. Dengan menyandang nama samaran Joseph Fernandes ia diberi tugas menjadi Mandor Jalan di daerah Timor Portugis. Selama di daerah operasi selain Alkitab sahabat lain yang selalu dibawa adalah isteri pertama seorang Prajurit yakni Senjata laras panjang jenis AK 47 senantiasa dibawa kemana saja. Dengan pakaian ala Putra Asli Timor lengkap dengan topinya, para prajurit Baret Merah ini dikenal sebagai The Blue Jeans Soldiers. Perjuangannya selama bergabung bersama Team Susi sangat memiliki ceritera heroik dari para prajurit termasuk ketika Papa Dan diminta untuk menembakkan RL atau Rocket Launcher ke sebuah gedung Gereja yang saat itu terdapat sepasukan Fretelin. Menjadi bagian dari Team Susi atau Nanggala 2 sebagai sukarelawan yang melaksanakan tugas operasi penggalangan/operasi Sandi Yudha di desa-desa perbatasan atau garis depan di dalam daerah musuh dengan Bahasa Daerah Tetun. Apabila tertangkap sepasukan yang dulu dikenal dengan nama RPKAD itu tidak dianggap sebagai pasukan TNI. Tugas Nanggala 2 adalah mempertahankan kantong-kantong APODETI, partai yang menginginkan bergabungnya masyarakat Timor dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu bertujuan untuk menunjukkan secara politik kepada dunia luar bahwa mereka sungguh ingin bergabung dengan Indonesia. Atas jasa-jasa beliau Menhankam/Pangab M. Yusuf menganugerahi Bintang jasa Satya Lencana Seroja dan Bintang jasa Veteran Pembela Kemerdekaan bagi papa almarhum.

Kehidupan keprajuritan di Kompleks Kopassus Cijantung bersama Paitua berakhir pada Agustus 1981 dimana Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Yusuf melihat hakekat ancaman yang ada di nusantara dengan merelokasi para Prajurit Kopassus (d/h Kopassandha). Grup 1 Kopassus dipindahkan ke Kesatrian Gatot Subroto Taman Serang Banten. Kemudian Grup 3 Kopassus digeser ke Markas Karianggo Makasar. Sedangkan Grup 2 Kopassus tetap menempati Kandangmenjangan sebagai Markas Komando mereka. Di Jakarta saat itu tetap diisi Grup 4 Sandha, Detasemen Markas dan sebuah satuan Anti Teror setingkat satu Detasemen yakni Den 81 yang kemudian dikenal sebagai Satuan Penanggulangan Teror atau Sat-Gultor.

Sebuah tantangan baru kembali mesti dihadapi sebagai Perwira Rohani Protestan sepanjang dinas di Grup 1 yang kebanyakan berisi Tamtama Bintara dan Perwira remaja yang masih muda belia. Berkat bimbingan Komandan Grup 1 Para Komando saat itu Kolonel Wismoyo Arismunandar dan Wadan Grup 1 Letkol Yusman Yutam beserta para perwira lainnya, Papa Dan memulai aktifitas gerejawi dengan menggunakan eks gudang beras di depan Pos Provoost sampai akhirnya 5 Februari 1986 warga Kristiani di perumahan memiliki Gedung Gereja sendiri. Sebelum memperoleh ijin menggunakan gedung eks gudang beras saat hari Minggu tiba prajurit Kristen beribadah ke kota Serang apakah itu ke GKI, GBI, HKBP, Katholik dan denominasi lainnya. Kecuali prajurit bujangan mereka biasanya akan IB atau Ijin Bermalam ke Jakarta dan kota lainnya menjumpai sanak saudara mulai Sabtu siang selesai Apel.

Saat di Kesatriaan Gatot Subroto kami pun berpindah-pindah tempat tinggal dalam satu kesatrian. Rumah tinggal pertama kali mulai 1981 sampai 1988 di Blok H70 No 2 Kompi Markas. Waktu memasuki Masa Persiapan Pensiun Papa Dan dipindahkan lagi ke rumah blok H 70 No 69 atau dulu disebut perumahan Denpur 11 diujung dekat Lapangan Tembak. Sebelum pindah ke perumahan Purnawirawan Kopassus di Cimanggis Papa dengan kami pindah lagi ke 2 rumah K 38 di Denpur 11. Sekitar pertengahan 1989 setelah saya lulus dari SMA Mardiyuana barulah Papa Dan memboyong kami semua keluarga dari Perumahan Grup 1 Parako ke perjalanan kehidupan selanjutnya di Cimanggis tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit pada hari Rabu 14 Juli 2010.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 04/07/2013, in Keluarga. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Agung Surono

    Saya sedang mengumpulkan data tentang Kopassus dari masa ke masa mohon izin download dan sedikit mengambil keterangan dari sini.
    Salam kenal
    Agung Surono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: