Tribute To My Father : Dari Pendeta Jemaat GPM – Gereja Protestan Maluku Sampai Ketua Klassis Wonreli Kisar

PdtA

PapaPdt68

Setelah menyelesaikan Pendidikan Teologinya di Makasar, Papa Dan mulai bertugas sebagai Pendeta Gereja Protestan Maluku pada 6 September 1953. Dalam usianya yang baru 23 tahun ia mulai melayani sebagai pendeta dilingkungan GPM mungkin kalau memakai istilah sekarang masa Vikariat. Setahun kemudian sesuai Surat Keputusan Badan Pekerja Sinode GPM Ambon No. 41 A ia ditetapkan menjadi Pendeta Jemaat Wonreli Klasis Kisar sejak 22 April 1954. Pada saat pelayanannya berlangsung, ia juga sempat menjadi anggota DPRD Kabupaten Maluku Tenggara. Kurang lebih 4 tahun beliau melayani masyarakat melalui utusan Partai Kristen Indonesia atau PARKINDO mulai 12 Nopember 1956 sampai dengan 30 Mei 1960. Selama waktu tersebut ia sempat vakum dalam tugas kependetaan. Papa yang lahir di Laitutun Pulau Leti 28 Februari 1930 ditetapkan selaku Pendeta/Ketua Klassis mulai dari 1 Juli 1962 sampai dengan 30 Juni 1966 setelah sebelumnya diangkat kembali sebagai Pendeta Jemaat usai menyelesaikan tugas pelayanan pada dunia Politik melalui Parkindo. Putra keenam dari SHS Katipana atau Tete Sere ini lahir 9 bersaudara termasuk dirinya. Ketika Papa Dan dilahirkan, Tete Sere ditempatkan Belanda melayani Jemaat Pulau.

Perjalanan beliau menjadi Pelayan Firman di lingkungan Gereja Protestan Maluku sempat kandas. Ia pernah ditetapkan oleh BPS GPM telah melakukan pelanggaran berupa meninggalkan tempat tugas tanpa ijin dan pemberitahuan kepada Pimpinan. Sanksi tersebut muncul karena pada waktu itu 30 Juni 1966 ia “meninggalkan” tempat tugas pelayananya. Papa Dan yang saat itu terbentur waktu dan kesempatan berangkat dari Ambon menuju ke Surabaya. Beliau mesti meninggalkan Ambon karena salah seorang adik yang dikasihinya meninggal ditanah Jawa. Dalam pengakuan kepada Ketua BPS GPM ia secara terus terang mengakui kesalahannya. Namun semua itu bukanlah sebuah kesengajaan akan tetapi semata-mata karena persoalan biaya yang menundakan keberangkatannya kembali ke Ambon. Tak kala dirudung kesulitan, sebelum ia tiba kembali, Pimpinan BPS GPM sudah menjatuhkan sanksi kepadanya. Sepanjang 1 Juli 1966 sampai dengan 25 Juli 1972 Papa Dan tidak diperkenankan melakukan tugas kependentaan. Sejak saat itulah ia mulai mencari pekerjaan lain guna menghidupi kehidupan keluarga. Berbekal Ijasah Guru Sekolah Rakyat yang dimiliki, ia pun memulai perantauannya di Pulau Jawa dengan tinggal sementara di rumah abangnya, Yohanes Katipana atau Om Nani yang waktu itu sudah lebih dulu merantau sampai akhirnya beliau memanfaatkan kesempatan untuk diterima sebagai Guru Militer TNI AD pada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat.

Karena hati dan pikirannya terganggu atas keterbatasan yang dirasakan dalam pelayanan akibat pencabutan haknya sebagai pendeta maka pada tahun 1972 dengan segala keberdayaan yang dimiliki, Papa Dan mulai mencoba mengajukan keringanan bahkan pencabutan sanksi atas dirinya dalam menjalankan tugas kependetaan oleh Gereja Protestan Maluku. Permohonan rehabilitasi atau pemberian kembali status kependetaan akhirnya dapat diperoleh lagi setelah Papa Dan mengurusnya langsung di Ambon. Pada akhirnya atas segala usaha dan rekomendendasi dari Pusat Rohani Protestan TNI AD Kolonel Mamesah, ia memperoleh kembali haknya sebagai seorang Pendeta dari BPS GPM . Surat pemberian lagi status kependetaan diberikan kepada Papa Dan seperti yang tertulis dalam Surat Kepuusan Badan Pekerja Sinode Gereja Protestan Maluku. Dalam surat yang tertanggal 26 Juli 1972 pihak Badan Pekerja Sinode GPM mencabut kembali sanksi dan memberikan hak Papa selaku Pendeta setelah dipertimbangkan bahwa apa yang sudah dialaminya telah memberikan kesan mendalam. Poin kedua yang disebutkan dalam surat tersebut adalah menyerahkan Papa Dan kepada Pusat Rohani Protestan TNI Angkatan Darat-PusRoh Prot TNI AD dalam hal pelayanan, dengan sebuah catatan bahwa Papa Dan adalah milik Gereja Protestan Maluku. Kegundahan hati Papa Dan seperti yang diungkapkan dalam surat permohonan akhirnya sirna dengan keluarnya keputusan tersebut. Beliau mulai saat itu berhak kembali menjalankan tugas kependetaan yang selama beberapa tahun dicabut. Dengan terbitnya keputusan GPM itu Papa Dan sudah diperbolehkan secara tata gereja melayani Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus termasuk tugas kependetaan lainnya yang sejak masuk diterima Pusroh TNI AD tak dapat dilayaninya.

Seperti pepatah rohani katakan “Segala sesuatu Indah pada waktunya”. Demikian pula keberangkatan Papa Dan ke Pulau Jawa untuk mengurus kematian adik yang dikasihinya Carel Katipana merupakan sebuah jalan yang Tuhan berikan bagi kami. Sebab sejak saat itulah Papa Dan memutuskan untuk menetap di Pulau Jawa. Mama pun mulai memboyong Usi Fani, Bu Paa, Bu Tete, Bu Herry ke tanah Jawa. Perantauan keluarga besar Frederik Soleman Katipana hingga saat ini diawali oleh peristiwa tersebut. Semua ini adalah jalan yang Tuhan tak hanya rencanakan namun juga yang dipersiapkan olehNya untuk kami.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 03/07/2013, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: