Tribute to My Father : Ia Salah Satu Lulusan Terbaik STT Intim Makasar

soe
Tempo dulu jika mendengar ceritera almarhum papa semasa hidupnya, saya berpendapat masyarakat Pulau Kisar Maluku Barat Daya saat itu cenderung memiliki pandangan bahwa pekerjaan melayani masyarakat itu merupakan tugas yang mulia. Pekerjaan yang termasuk terhormat tersebut diantaranya ; Guru, Mantri Kesehatan, Pendeta beberapa juga memilih menjadi Perawat. Tak heran jadinya keluarga kami juga memilih pekerjaan tersebut. Om Nani misalnya, ia dikirim Tete Sere, kakek kami ke Pulau Jawa untuk menjadi Guru PGRI di Surabaya hingga akhir hayatnya. Tante Tien juga disekolahkan oleh Tete Sere menjadi seorang perawat sebelum akhirnya beliau ke Belanda dan menetap hingga asa kembali kepada Sang Pencipta. Nah begitupun Papa, Opa Dan usai menamatkan Sekolah Menengah ia dikirim ke Soe untuk menimba ilmu Teologi. Tete atau Kakek saya, rupanya menginginkan salah seorang anaknya dapat mengikuti jejak beliau melayani umat di ladang Tuhan. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Frederik Soleman Katipana atau Papa Dan terhitung mulai 1949 hingga 1953 mengambil kuliah Teologi di Sekolah Tinggi Theologi Indonesia Timur. Papa Dan memulai kuliah Teologi di Kota Soe selama 3 tahun dan 1 tahun di kota Makasar. Kenapa demikian, hal itu disebabkan STT Intim dipindahkan ke Kota Makasar. Sebelumnya para mahasiswa STT menggunakan Kompleks Gedung Stovil milik Gereja Timor mulai 1948. Mahasiswa Angkatan Pertama seperti tertulis dalam Buku Karangan DR.PN. Holtrop halaman 52 ditulis bahwa jumlah mahasiswanya adalah 33 orang. Sementara Papa Dan merupakan mahasiswa Angkatan Kedua pada Sekolah Tinggi Teologi dari gereja-gereja di Indonesia Timur yang terletak di Soe. Menurut buku yang sama, dosen-dosen yang mengajar pada STT tersebut seperti T. Van Weelie, H. Bergema, P. van Wakeren, W. van der Hoek, Dr. Enklaar dan lain-lain.

Pada saat H. Bergema berpidato waktu penyerahan ijasah-jasah bagi Mahasiswa Angkatan Kedua di Makasar 4 Juni 1953 rupanya ada nama Frederik Soleman Katipana disebut. Saat itu 23 orang mahasiswa di Sekolah Theologia Makasar dinyatakan lulus ujian akhir. Menurut Dosen H. Bergema pada pidatonya, ia menyatakan bahwa ada diantara para siswa yang sebelumnya diikhtiarkan tidak meneruskan pelajaran karena pada mulanya kurang kemajuan. Tetapi sebab usaha maka mereka mendapat angka-angka yang baik di ujian akhir. Lebih jauh beliau menyampaikan seperti yang ditulis pada Buku “Dari Malino ke Makasar” 5 (lima) dari mahasiswa Sekolah Theologia Makasar mendapatkan nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih untuk 12 mata pelajaran ujian akhir. Jumlah angka-angka dari lima siswa tersebut tidak terlalu berselisih. Sesuatu yang membanggakan saya ketika membaca, mengetahui bahwa dari ke-5 mahasiswa yang disebut dalam pidato salah satunya adalah nama Papa Dan. Inilah nama-nama mahasiswa yang memperoleh nilai rata-rata 8 (delapan) atau lebih tersebut :

1. Sinauru dari Poso
2. Tumadang dari Sangir
3. Hamapati dari Sumba
4. Katipana dari Kisar
5. Antahari dar Sumba.

Dalam sambutannya tersebut H. Bergema juga menyebutkan 5 orang berikutnya yang mendekati kelima pertama diatas yakni ; Opung dari Sumba, Laloman dari Bolaang Mangondow, Bengu dari Timor, Pattinama dari Jakarta dan Ulaan dari Sangir.

Sungguh membanggakan buat saya rupanya ada nama Papa Dan disebut sebagai salah satu mahasiswa yang meraih hasil terbaik. Ia saat itu merupakan utusan dari GPM atau Gereja Protestan Maluku yang waktu itu mengirimkan 3 orang wakilnya yakni C. Koritelu dan M.B Tallaut. Berita mengenai penyerahan ijasah lulusan Angkatan Kedua dari Sekolah Theologi Makasar diberitakan juga pada koran Pedoman Rakyat Makasar pada 6 Juni 1953, ditulis oleh B. Supit.

Prestasi yang diraih Papa Dan tidak diperoleh dengan mudah. Banyak ceritera yang pernah beliau sampaikan kepada kami anak-anaknya. Sungguh tidak mudah sekali terutama dalam hal pembiayaan untuk menyelesaikan sekolah tersebut. Salah satunya yang masih saya ingat adalah ceritera beliau bahwa ketika ujian berlangsung selama 21 hari dari Mei-Juni 1953 merupakan masa-masa berat yang ia hadapi. Pernah satu kali juga meski yang sekolah disini adalah calon-calon pendeta, namun Papa pernah “berselisih” dengan seorang rekan yang sama-sama kuliah. Saat itu papa tersinggung sebab rekannya tersebut melecehkan dirinya dan seantero Pulau Kisar dengan mencela kalau orang Kisar itu kelaparan makan biji mangga. Terang saja hal tersebut tidak diterima dan akhirnya keduanya “berselisih”.

Saat ini buku-buku, catatan-catatan kuliah masih tersimpan dalam 2 (dua) almari besi di rumah. Entah siapa yang akan meneruskan menjadi pendeta, anak-anaknya tak satupun mengikuti jejaknya. Anak-anaknya seperti saya paling banter hanya menjadi pelayan seperti Penatua, Diaken atau Pengurus di Gereja. Saya hanya dapat berdoa, jikalau memang nanti Tuhan memilih salah satu cucu beliau atau keturunan beliau, entah Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe atau Fredy yang akan mengikuti Tete Moyang, Tete atau Opa melayani Tuhan sebagai Pendeta sehingga paling tidak masih akan ada yang membuka, membaca buku-buku beliau yang tersimpan rapi di Cimanggis.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 02/07/2013, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: