Pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata

S

Semalam sebuah mimpi menghiasi tidur lelap saya. Mimpi yang membuat saya semakin teringat, bahwa hari ini 60 tahun yang lalu sebuah peristiwa bersejarah terjadi. Entah apa maksud dibalik mimpi ini sebab saya bukan Yusuf namun satu kepastian bersyukur kepada Tuhan atas peristiwa yang hari ini dikenang adalah sebuah kewajiban. Hal ini bukan soal okultisme dimana tak ada lagi hubungan antara orang meninggal dengan orang yang masih hidup berjuang. Mengenang orang tua yang terkasih bukan satu hal yang salah.

Inilah ketikan ulang sebagai ungkapan syukur kepada Sang Khalik Pencipta Langit Bumi beserta isinya, meskipun Papa, Mama atau Opa Oma saat ini sudah tidak lagi bersama. 21 Maret 1956 adalah salah satu tonggak bersejarah dalam keluarga kami. Dengan ketikan ini, anak-anak cucu, cicit keturunan Marga Katipana-Latuminasse, termasuk Lodi, Mima, Eda, Vica, Joe, Fredy suatu hari ketika mereka dewasa akan mengetahui darimana mereka berasal, siapa saja orang-orang yang terdekat dengan mereka. Hal kedua maksud dari penulisan ini adalah dalam rangka mengingat rayakan apa yang telah Opa dan Oma berikan kepada kelima anak-anak dan cucu, cicitnya selama ia bersama dengan kami. Kasih kebaikan mama papa tak pernah terbalaskan sebab hanya memberi tak harap kembali.

Ceritera sejarah ini diawali oleh pernikahan antara yang terkasih saya tulis namanya papa terkasih Frederik Soleman Katipana, seorang pemuda gagah asal Wonreli dengan Martha Albertha Latuminasse, seorang gadis cantik dari Desa Oirata di Pulau Kisar Maluku Barat Daya (d/h Maluku Tenggara). Yang pemuda berasal dari “kota” yang wanita berasal dari “desa”. Papa dari Wonreli, mama gadis desa dari Oirata. Sama-sama anak seorang pendeta, keduanya mengikat janji pernikahan pada tanggal 21 Maret 1956. Pernikahan keduanya merupakan pernikahan perdana antara Wonreli dan Oirata. Sebelumnya tak pernah terjadi pernikahan antara anak-anak Mesiyapi dengan anak-anak Oirata. Oleh karena itu ketika acara “lamaran atau masu minta”, keluarga besar Katipana dipimpin oleh Tete Janggut Katipana Wailara membawa pedang, emas dan lain-lain sebagai istilah jaman sekarang semacam seserahan, untuk memperoleh ijin menikah dari orang tua mama, Tete Oirata. Mengapa Pedang yang dibawa ? Emangnya akan perang ?. Tentu saja tidak. Pedang itu melambangkan suatu alat untuk membersihkan atau membabat alang-alang sehingga terbuka sebuah jalan bagi penyatuan anak desa Oirata dengan Pemuda Mesiyapi. Dengan terbukanya jalan itu, putra ke-4 dari SHS Katipana (Tete Sere) dan Suzana Ahab (Nene Sus) akhirnya dapat di persatukan dalam kasih Kristus dengan putri ke-4 dari Pendeta Yacob Lodewijk Latuminasse (Tete Oirata) dan Lebrina Latunusa (Nene Oirata). 

Sesampainya di rumah Oirata, Tete Oirata menyambut rombongan dengan sebuah ungkapan bahwa “Anak gadis saya tidak ditebus oleh pedang, namun sudah ditebus oleh Darah”. Terang saja ini mencengangkan para rombongan, meskipun demikian lamaran tetap diterima. Seorang Pendeta terang saja ucapannya banyak perumpamaannya. Jadi yang Maksud ucapan Tete Oirata adalah bahwa Darah Kristus telah mati untuk umatNya. Tak perlu kalian membawa pedang lagi. Akhirnya terlaksanalah pernikahan Perdana Pria Mesiyapi dengan Gadis Oirata di Pulau Kisar.

Ceritera lain yang pernah terucap oleh mama, undangan pernikahan mereka dicetak di Palembang Sumatera Selatan, ketika itu mama meminta bantuan kakaknya, Om Corneles atau Om Neles Latuminasse yang saat itu bertugas di Kota Empek-Empek sebagai Prajurit. Foto-foto pernikahan papa dan mama dalam ketikan ini menjadi saksi bagi anak cucu keduanya.

Kedua pasangan yang sudah dipersatukan oleh Tuhan ini merayakan Pernikahan Perak ketika kami masih tinggal di Kompleks Kopassus (d/h Kopassandha) Jalan Sungai Luis Blok H 64 Cijantung 3 Karet (sekarang Jalan Chandrassa) Jakarta Timur pada 21 Maret 1981 beberapa bulan sebelum kepindahan kami ke Serang Banten. Ibadah pengucapan syukur dilayani oleh Pdt. Helweldery yang pada waktu itu melayani di GPIB PETRA Tanjung Priok. Seingat saya undangan yang disebar saat itu berwarna biru dengan tulisan indah dari tangan dibuat oleh seorang pemuda Gereja Imanuel Cijantung, namanya Mas Jarwo, yang bekerja di Perum Peruri.

Tak hanya Pernikahan Perak, kami juga bersukacita ketika papa dan mama merayakan Pernikahan Emas mereka di Perumahan Purna Kopassus Kedayu Cimanggis pada 21 Maret 2006. Ungkapan sukacita itu juga dirayakan dalam Ibadah ucapan syukur dilayani oleh Pdt. Engkih dari GKP Cibubur.

Kini keduanya tak lagi bersama kami anak cucu. Papa Mama Oma Opa sudah Tuhan panggil. Opa menghadapNya lebih dahulu di usia 80 tahun karena sakit kanker lidah yang merenggut nyawanya di tahun 2010. Sedangkan Oma, wafat di usianya yang ke 82 tahun pada 2014 lalu, juga karena sakit.

Untuk memperlengkapi ketikan ini saya tuliskan juga Daftar Keluarga.

Keluarga Besar Katipana, anak-anak Tete Sere adalah ; Izach Katipana (meninggal di Kupang), Alexander Katipana (Kalabahi), Christina Katipana (Tante Tien, meninggal di Amsterdam Belanda), Welly Katipana (Tante Welly meninggal), Yohanes Katipana (Om Nani Meninggal di Surabaya), Paulus Katipana (Om Pau-Meninggal di Selat Roma, jasadnya tak ditemukan), Carel Katipana (Om Upa-Meninggal di Surabaya), Elizabeth Katipana (2thn, Meninggal Kena Pecahan Bom Pesawat Jepang di kaki Kebun Wakupuki Mesiyapi).

Keluarga Besar Latuminasse anak-anak Tete Oirata ; Pieter Samuel Latuminasse (Om Piet, meninggal), Cornellis Latuminasse (Om Nelles, meninggal, Malang), Enggelina Ruth Latuminassese (Tante Engge, meninggal 2014, Surabaya), Ruluf Nicholas Latuminasse (Om Atu, meninggal di Cimanggis, Pd. Rangon), Magdalena Latuminasse (Tante Ena). 

Happy Anniversary, 21 Maret 1956 – 21 Maret 2016. Tuhan Memberkati anak cucu Papa Mama Opa Oma.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 01/07/2013, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: