Pembinaan “HOMILETIKA” Presbiter Dan Pelayan Pelkat GPIB Pancaran Kasih Depok

Hari Kamis 6 Juni 2013, saya dimampukan untuk hadir dalam Pembinaan Presbiter GPIB Pancaran Kasih. Sayangnya saya datang terlambat sehingga melewatkan materi yang disampaikan oleh Pdt. Ny. Widyati Simangunsong S, S.Th, M.Min. Sehabis makan siang seluruh Presebiter dan para Pelayan Pelkat kembali akan menerima materi kedua terkait KHOTBAH. Kali ini yang menjadi pembicara adalah Pdt Antonius Salawane. Supaya kertas materi yang dibagikan tidak hilang begitu saja, dan dapat saya baca berulang-ulang, bisa jadi saat di kereta, atau dimana saja. Berikut saya ketik ulang tulisan beliau :

1. PENGANTAR : TRADISI KHOTBAH
Kata Khotbah berasal dari Bahasa Arab yang artinya dapat disejajarkan dengan pidato. Namun berbeda dengan pidato, Khotah didasarkan pada teks kitab suci. Untuk itu Khotbah dikaitkan dengan kata Yunani “HOMILETIKA” yaitu ilmu pergaulan atau ilmu bercakap-cakap. Jadi Homiletika menunjuk kepada kegiatan percakapan seseorang bersama sekumpulan orang. Dalam pemahaman Katolik, khotbah diartikan sebagai pengajaran kepada umat yang tidak terkait dengan teks Kita Suci atau Liturgi. Sedangkan “Homili” diartikan sebagai pengajaran yang didasarkan pada kutipan Alkitab.

Dalam Gereja Protestan, khotbah diberi tempat yang sentral dalam Ibadah. Tidak ada ibadah tanpa khotbah. Marthin Luther dan Yohanes Calvin (tokoh Gereja Reformasi) menempatkan khotbah sejajar dengan perjamuan kudus bahkan Calvin mengatur perjamuan kudus sekurang-kurangnya diadakan satu kali dalam seminggu.

Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman sebab menurutnya Firman Allah, khotbah dan seluruh liturgi ibadah harus dimengerti oleh orang Jerman sendiri. Calvin lebih ketat daripada Luther (dalam hal disiplin Gereja). Menurutnya setiap orang wajib datang ke Gereja pada hari Minggu kecuali untuk mengawasi anak-anak atau hewan dengan ancaman denda. Kemudian bila seseorang masuk sesudah Khotah dimulai, ia patut diberi peringatan dan kalau sesudah itu kelakuannya tidak berubah maka setiap kali ia terlambat dikenakan denda. Yang bertugas mengawasi dan menjalankan disiplin gereja bagi umat ialah para penatua.

2. FUNGSI KHOTBAH
Secara prinsip fungsi Khotbah Kristen ialah memberitakan atau mewartakan firman Allah yang bersumber dari Alkitab. Namun didalamnya terkandung empat hal sebagai berikut :
– Fungsi Edukatif ; Menekankan aspek pengajaran kepada umat. Dalam Perjanjian Lama, Keluarga sebagai asis pengajaran iman dan ayah bertugas untuk mengajar (Ulangan 6 : 7). Dalam Perjanjian Baru ditempat-tempat Ibadah (Sinagoge) Khotbah disampaikan dalam bentuk pengajaran, (Mat 13:54)n begitupn di luar rumah ibadah (Mat 5 : 2) dan Yesus disapa sebagai Rabi/Guru (Mark 9-5).
– Fungsi Penyelamatan ; Bukan hanya keselamatan di “dunia yang akan datang” saja, tapi juga di masa kini dengan memberi kekuatan, penghiburan, membangkitkan semangat, memberi pengharapan, motivasi, mengingatkan dsb.
– Fungsi Pengawasan Sosial ; Kritik terhadap penguasa dan berbagai praktek dosa secara struktural.
– Fungsi Transformatif ; Ajakan untuk berubah.

3. TAHAP-TAHAP PENYUSUNAN KHOTBAH
– Mengetahui Ibadah yang dipimpinnya ; Tahu keadaan konkrit keluarga/tuan rumah atau jemaat yang akan hadir, Untuk Ibadah-Ibadah Khusus, Khotbah perlu menyentuh beragam latar belakang diadakannya ibadah.
– Berdoa Mohon Tuntunan Roh Kudus ; Agar jangan mengandalkan pikiran sendiri, agar diberi pencerahan melihat dan memahami Firman Allah.
– Membaca Narasi Perikop ; Lectio Continua (Bacaan Bersambung) dan Lectio Selecta (Bacaan Terpilih), Bacalah Narasi teks berulang-ulang agar kita melihat dan menemukan “Mutiara-Mutiara” dari perikop yang dibaca.
– Menuliskan Catatan Khotbah ; Renungkanlah Mutiara-Mutiara” yang kita temukan tadi secara mendalam untuk diri sendiri, sebab seorang pengkothbah harus meyakini kebenaran firman Allah terlebih dahulu sebelum ia menyampaikannya kepada umat, Buatlah CIT (Center Idea of The Text) atas perikop, Buatlah Pokok-Pokok penjaaran dari CIT tadi, Bacalah buku-buku tafsiran Alkitab dan sumber-sumber lain untuk memperkaya khotbah.
– Pikirkan Bagaimana Menyampaikannya ; Khotbah yang baik harus disampaikan dengan bahasa yang lugas, tidak bertele-tele atau berputar-putar, terarah pada tema, ada awal dan ada akhir, Jangan Terikat pada tulisan sebab Khotbah harus menyapa umat, Cobalah untuk berinteraksi dengan umat agar mereka tidak hanya mendengar.

Materi diatas disampaikan oleh Pdt. Antonius Salawane pada saat Pembinaan Presbiter dan Para Pelayan Pelkat di GPIB Pancaran Kasih Depok, Kamis 6 Juni 2013.

 
Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 06/06/2013, in Pelayanan and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: