Ingot Martangiang : Mangulosi Boru

Indonesia itu kaya. Tak hanya kaya akan sumber daya alam namun juga budaya. Salah satu budaya yang hingga kini masih dipertahankan yang sering saya saksikan adalah seni budaya ketika pernikahan. Adat Betawi misalnya, ketika rombongan pengantin pria masuk diawali oleh bunyi petasan kemudian dihadang pengawal pengantin wanita, terjadilah “Perkelahian” antara pendekar rombongan pria dengan pengawal pengantin wanita. Saat itu percakapan antara pendekar dilakukan dengan cara berbalas pantun. Drama singkat dibumbui “perkelahian” itu merupakan prosesi pengantin menuju pelaminan dalam adat betawi. Hari ini Sabtu 1 Juni 2013 tepat pada hari jadinya Pancasila yang adalah Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya kembali untuk kesekian kali menyaksikan sebuah acara pernikahan adat Suku Batak. Kali ini di Gedung Pertemuan yang baru pertama kali saya kunjungi yakni “Sima” Kranggan Cibubur. Dari rentetan acara Pesta Pernikahan Batak yang panjang dan melelahkan ada sebuah momen yang paling saya tunggu. Bukan saat menerima amplop putih berisi sejumlah uang yang dimaknai sebagai uang lelah namun ketika orang tua atau keluarga pengantin wanita “melepas” kepergian anak gadis yang mereka kasihi. Momen seperti itu sangat saya nantikan. Kata-kata nasihat yang disampaikan kepada kedua mempelai oleh orang tua atau keluarga yang membuat suasana saat itu haru. Sebab sebelum rombongan keluarga mempelai wanita berdiri dihadapan sepasang pengantin lagu pengantar seperti Boru Nabasa yang penuh makna telah dinyanyikan dengan penuh perasaan oleh team musik pesta pernikahan. Saat inilah orang tua penganten wanita akan membekali untuk “terakhir” kali anak gadisnya yang dipinang pria pilihannya. Seperti kemarin semua yang mengelilingi anak borunya tak kuasa menahan haru. Air mata pun menetes dipipi orang tua pengantin tak terkecuali keluarga terdekat yang menyaksikan. Bekal nasihat akan ditutup dengan pemberian Ulos Pengantin dan Ulos Hela sebagai lambang cinta kasih orang tua terhadap kedua pengantin. Lagu yang mengantarkan seorang anak gadis mengarungi bahtera rumah tangga dengan lelaki pujaannya menambah haru biru suasana ketika pemberian kedua ulos dilakukan. Peluk cium dalam tangisan mewarnai pengalungan Ulos Pengantin dan Ulos Hela (Ulos Hela ini berupa Sarung). Lirik lagu yang penuh makna terus mengalir hingga selesai pemberian kedua Ulos. “Marsiamin aminan Marsianju-anjuan Da Inang Dohot Hela Ki…” Yang artinya kira-kira “Saling menyanyangi dan mengasihilah diantara kalian berdua”. Dan satu kalimat yang saya paling suka selain itu dan selalu diulang saat pemberian ulos dilantunkan adalah “Ingot Martangiang” yang artinya “Berdoalah senantiasa, ingatlah selalu”. Saya ingin lagi menyaksikan pesta pernikahan dengan Budaya lain yang dimiliki Indonesia yang maha kaya. Ayo siapa yang undang saya diluar adat-adat cerita diatas termasuk adat Kisar Maluku Selatan Daya kampung halaman saya sendiri.

Selamat Buat Golda dan Forkas ! Marsiamin-aminan dan marsianju-anjuan serta Ingot Martangiang ya Tuhan Memberkati !

Gedung Pertemuan Sima
Kranggan Cibubur
Sabtu 1 Juni 2013 Pkl 18.20 WIB

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 02/06/2013, in Umum. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Keren Uda..mantap tulisannya🙂

  2. frans hutabarat

    Puji Tuhan,komentar yg luar biasa dari Abang Bapak Obama…jangan lupa Doa selalu untuk Berkat dan Anugerah Tuhan Yesus yg lebih melimpah lagi khususnya untuk Op. Haroni dimanapun…GBU All.

  3. Ulasan yg bagus. Masih banyak budaya di Indonesia. Lanjutkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: