Surutnya Semarak Kemerdekaan

.
Satu minggu lagi Bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya. Tujuh hari lagi kita akan memperingati hari lahirnya persada nusantara terbebas dari jerat penjajahan. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan dari kaum penjajah mencapai puncaknya saat Bapak Bangsa ini menyampaikan deklarasi kemerdekaan yang membebaskan rakyat dari kesengsaraan penjajahan Belanda.

Kini 67 tahun sudah Indonesia merdeka, kita tunda dulu berbicara soal kemajuan apa yang sudah dicapai selama ini sebab sama saja membuka wacana untuk diskusi yang tak berkesudahan. Tak usahlah berbicara soal makna kemerdekaan bagi tiap-tiap warga negara karena pastilah beragam suara dalam kemajemukan yang ada.

Saat ini saya hanya ingin mengatakan dari tahun ke tahun perayaan peringatan HUT Kemerdekaan terasa mengalami degradasi. Beda sekali bila dibandingkan ketika saat kecil dahulu tinggal di Kompleks Kopassus Cijantung. Ketika menginjak bulan Agustus mulailah pernak-pernik tujuh belasan menyemarakkan dipelbagai lokasi. Setiap tahun di lingkungan perumahan yang namanya pengecatan trotoar dengan warna putih selalu dilakukan. Kepala keluarga bertanggung jawab masing-masing atas area trotoarnya, Trotoar di Jalan Sungai Luis dan semua Jalan di lingkungan Kompleks Baret Merah memutih, bersih. Sisi kanan atau bagian tengah setiap rumah Bendera Merah Putih senantiasa berkibar di bulan Agustus baik dengan menggunakan potongan bambu yang sudah dicat merah putih juga atau beberapa menggunakan besi bundar permanen. Di setiap pojok dan siku jalan umbul-umbul terpasang dengan ramainya. Belum lagi berbagai lomba juga diselenggarakan, sebelum dan pada saat hari H perayaan. Kemeriahan seperti itu ditambah lagi dengan setiap sekolah mengadakan upacara penaikan bendera merah putih. Pada waktu malam perayaan kerap di tutup dengan pemutaran Lanyar Tancap bagi penghuni kompleks di area perkantoran Grup 4 Cijantung (dulu) atau Lapangan Gatot Subroto Cijantung III. Itu baru di dalam perumahan belum lagi ditempat lain semarak kemerdekaan sangat terasa denyutannya. Seluruh masyarakat seolah bergerak merayakan dengan berbagai kreatifitas dan keberdayaan yang mereka miliki. Jalan-jalan ramai dengan spanduk, baliho dan umbul-umbul mewarnai setiap sudut daerah di bumi Indonesia.

Apa yang saya ingat dan alami ketika masih beranjak dewasa semua seolah sirna sejak 1998. Memang di beberapa daerah, tempat peringatan HUT Proklamasi ini tetap terus dipertahankan apalagi di lingkungan Militer pasti denyut kemerdekaan tetap terjaga hingga kini. Akan tetapi denyutan itu kurang terasa detaknya hingga keluar asrama. Contoh di perumahan tempat saya tinggal bisa dihitung dengan jari berapa rumah yang memasang bendera di depan rumahnya saat 17 Agustus tahun yang lalu. Memang nasionalisme timbul bukan hanya karena kita memasang bendera sebab akan panjang debatnya nanti. Namun buat saya bagaimana seseorang memiliki semangat patriotisme seperti pendahulu kita bila memasang bendera saja tak punya niatan. Sungguh teramat disayangkan bila kita sebagai warga negara dari Bangsa yang besar ini sudah semakin memudar memiliki kebanggaan terhadap Bangsanya sendiri. Bendera Merah Putih adalah Jati Diri Bangsa yang besar ini.

Dalam hati saya tetap berharap akan memiliki semangat berjuang dan kebanggaan terhadap bangsa ini terlepas dari semua kebobrokan yang terjadi. Siapa lagi yang akan merasa bangga jika bukan anak bangsanya sendiri. Semangat tanpa pamrih berjuang demi bangsa ”sepertinya” hanya ada di lingkungan militer saja yang tetap mempertahankan tradisi yang selama ini sudah berlangsung 67 tahun lamanya. Saya mohon maaf bila memiliki pendapat seperti ini dan sangat menyayangkan bila hal ini benar-benar terjadi. Saya merindukan suasana atau atmosfir gemerlapan perayaan kemerdekaan dalam kesederhanaan seperti masa-masa kecil hingga 1998. Saya ingin menyaksikan banyak lomba di lingkungan, ditempat-tempat lainnya di persada Indonesia.

Denyut semarak hari jadi Bangsa Indonesia mesti terus kita gelorakan agar alam semesta merestui apa yang kita lakukan bagi bangsa ini. Tuhan Maha Kuasa kiranya memberikan Berkatnya

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 10/08/2012, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: