Pertama Kali Hadir di Pemakaman Malam Hari : Selamat Jalan Yunita

Gambar
Sebuah getaran dari smartphone diatas meja kerja terasa oleh saya pada hari Jumat 20 Juli 2012. Sore itu sekitar pukul 3 pesan pendek dari salah seorang rekan majelis GPIB Pancaran Kasih diterima. Sebuah tulisan dengan 3 huruf yang biasa ditulis pada batu nisan, RIP atau Rest In Peace mengawali pesan pendek dari Kordinator Sektor Jerusalem. Seorang perempuan muda, gadis belia berusia 24 tahun, Sdri Yunita Desy Anggraeni tak sanggup lagi melawan sakitnya. Perjuangannya selama 6 bulan harus terhenti disebuah rumah sakit di kota Hujan pada hari kedua puluh di bulan ketujuh tahun 2012 . IA yang Empunya hidup lebih sayang kepadanya. Tuhan pencipta semesta sudah memanggilnya kembali kerumahNya, Taman Firdaus. Bagi keluarga peristiwa ini merupakan sebuah kesedihan yang mendalam, itu pasti. Namun hidup bersama Tuhan di Firdaus rasanya akan membuat yang terkasih dengan hormat saya sebut namanya Yunita akan lebih berbahagia sebab almarhumah tahu siapa yang memuliakannya dan kemana tujuan kepergiannya. Lepas dari semua penderitaan akan sakit yang selama ini dideritanya.

Sayapun lantas menghubungi pengirim pesan pendek guna menanyakan beberapa hal yang buat saya pada saat membaca pesan itu membutuhkan penjelasan pengirim. Menurut informasi dari Kordinator Sektor jenasah akan langsung dimakamkan pada hari itu juga. Pihak rumah sakit bahkan menyarankan almarhumah sebaiknya dikebumikan selepas dari kamar jenasah. Setelah melalui diskusi singkat para Majelis Sektor mengambil sebuah keputusan bijaksana dengan membawa jenasah kerumah duka lebih dahulu dan mengesampingkan saran dari pihak rumah sakit. Bagaimanapun juga handai taulan, rekan pemuda almarhumah dan jemaat serta tetangga masih mengharapkan melihat almarhumah untuk terakhir kalinya.

Sore hari sekitar pukul 6 sore ketika azan magrib terdengar dilingkungan rumah duka, ibadah pelepasan segera diadakan sesudah saudara-saudara terkasih umat Muslim menjalankan ibadah sholat magribnya. Pelayan Firman pada saat itu Pdt Polly Hengkesa memandu jalannya Ibadah pelepasan dibantu Liturgos Pnt. Nicolas Tuwaidan selaku Koordinator Sektor. Suasana duka sangat terasa selama Ibadah berlangsung. Hujan rintik sempat turun sebentar tak menyurutkan semua jemaat yang hadir.

Kereta Jenasah dari sebuah Yayasan di Depok siap mengantarkan jenasah almarhum. Waktu di jam tangan saya menunjukkan hampir pukul 7 malam. Puluhan sepeda motor yang ditumpangi oleh rekan-rekan sepelayanan almarhumah juga telah sedia mengawal keberangkatan jenasah menuju TPU Kali Mulya 3 Cilodong.

Rombongan Lelalyu inipun akhirnya tiba dilokasi pemakaman dalam keadaan kegelapan yang sudah turun diatas langit Kali Mulya. Namun lampu sorot dari kereta jenasah dan 2 buah sepeda motor pengantar yang menyalakan lampu setidaknya membuat lokasi pekuburan tidak segelap aslinya. Lilin-lilin kecil yang diletakkan disisi kiri dan kanan jalan kecil menuju lubang pusara yang sudah disiapkan selain menerangi lokasi setidaknya juga menambah suasana duka bagi yang hadir malam itu. Seorang anak, seorang saudara, seorang gadis muda, seorang sahabat sedang dihantarkan menuju tempat peristirahatan terakhir bagi tubuhnya yang fana.

Di depan liang kubur pada malam itu Pendeta Polly diterangi oleh 3 buah lampu sorot yang tenaga listriknya diperkuat oleh sebuah Accu dan power supply, kesemuanya milik RT atau lingkungan almarhumah tinggal. Suara angin terdengar meniup dedaunan pohon-pohon bambu didekat kubur almarhum. Bintang-bintang di langit kadang terlihat kadang tertutup awan hitam yang menggelayut diatas Kali Mulya. Suasana malam itu sungguh bak sebuah episode drama keharuan.

Selamat Jalan Sdri. Yunita Desy Anggraeni semua sayang dirimu namun Kasih dari Tuhan Yesus sendiri lebih besar dari kekuatan apapun yang ada di dunia yang fana ini. Nikmatilah kebahagiaan bersama yang Empunya Hidup di Firdaus sana dimana tak kan pernah ada derita sakit, haru bahkan duka akan engkau rasakan. Tak ada lagi Tabung Oksigen, lenyap sudah rasa gatal dikulit side effect dari  obat yang diminum dirimu. Pasti saat ini dirimu sudah bersukacita bersama Bapamu yang kau layani selama hidupmu.

Buat saya pribadi mengantarkan almarhum Sdri. Yunita Desy Anggraeni kepemakaman pada malam  hari merupakan pengalaman pertama dalam melayani. Sepanjang hampir 5 tahun pelayanan di GPIB Pancaran Kasih sebagai Presbiter belum sekalipun saya menghadiri pemakaman pada malam hari. Dan baru kali ini saya  menyaksikan dan mengantarkan jemaat saudara terkasih ke pemakamannya. Oleh karena itu saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan pada diri ini untuk melayani sesama sehingga membuat saya semakin berdaya lagi.

Ditulis sebagai rasa simpati buat ananda Yunita Desy Anggraeni yang sampai akhir hidup terus berjuang sampai ia menyelesaikan pertandingan imannya

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 21/07/2012, in Pelayanan, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s