Karambol : In memory of Caring & Beloved Father

Jikalau waktu ini bisa diputar ulang layaknya sebuah gambar hidup alangkah lebih bahagianya hidup. Hidup serasa semakin lebih berarti dan berarti. Sebab manusia akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki. Membuat benar apa yang dirasakan kurang bahkan salah pada masa lampau. Saya adalah salah seorang yang memimpikan itu boleh terjadi meskipun tak mungkin. Saya menginginkan masa kecil terulang kembali. Masa paling bahagia adalah masa kanak-kanak. Masa yang penuh dengan keceriaan kebahagiaan. Istilah kata belum terbebani kehidupan masa depan.

Teringat waktu masih tinggal di sebuah rumah dalam Kompleks Baret Merah di Cijantung sebuah peristiwa yang takkan terlupakan bak potongan syair lagu ”sepanjang nafas dikandung badan”. Usia saya ketika itu kurang lebih 10 tahun. Seperti anak-anak umumnya bermain adalah dunia saya saat itu. Saya ingat betul pada waktu liburan sekolah yang namanya jalanan di kompleks apakah itu Jalan Sungai Luis tempat tinggal kami atau Jalan Lebos sama ramainya. Dipenuhi anak-anak yang bermain mengisi waktu liburan. Mulai pagi sore hingga malam hari baik hujan ataupun panas. Bermain bola saat hujan terasa mengasikkan meski bahaya petir mengancam. Suasana seperti itu paling ditunggu apalagi saat itu demam Mario Kempes sedang melanda.

Satu hal yang menjadi trend pada masa kanak-kanak saya adalah anak-anak bermain berdasarkan musiman. Maksudnya apabila musim main kelereng ya semua anak lelaki main kelereng atau gundu. Anak-anak perempuan main tali yang terbuat dari karet yang dianyam menjadi tali panjang ukuran 1-2 meteran. Bila anak-anak laki-laki main gambaran yang perempuan main engklek dan seterusnya. Entah siapa yang menyusun jadwal musiman itu. Semua terjadi begitu saja tanpa ada komando apalagi diketahui sutradaranya.

Ada sebuah permainan yang pernah menjadi HIT jaman saya kecil. Permainan itu dari dulu hingga kini masih terlihat dimainkan di Pos-Pos Ronda. Alat permainan ini hanya sebuah media terbuat dari bahan kayu triplek atau teakwood. Nama permainan itu apa lagi kalau bukan KARAMBOL. Satu permainan yang dapat dimainkan oleh 4 orang untuk satu sesinya. Saya masih sangat ingat ketika musim main karambol yang saya datangi adalah rumah salah seorang teman yang memilikinya di Jalan Lebos. Persis di ujung batas RT tempat saya tinggal. Mulai sarapan pagi hingga sore bahkan malam keluarga saya tidak perlu susah mencari saya ketika bermain sebab pasti saya sedang berada disana.

Saking gilanya main karambol sampai-sampai saya lupa makan bahkan lupa waktu bila hari sudah sore atau malam. Keadaan ini berlangsung hingga 2 minggu lebih. Rupanya hal ini termonitor juga oleh almarhum papa.

Keluarga kami memiliki kebiasaan yakni almarhum papa menginginkan anak-anaknya berada dirumah sehabis ia apel siang jam 14.00. Anak-anaknya mesti terlihat olehnya sedang berada dirumah. Persoalan setelah ia pulang ke rumah kami bermain kembali itu urusan lain yang pasti manakala beliau kembali dari kantor semua anak-anak sebaiknya terlihat olehnya sedang berada dirumah.

Nah, akibat main karambol seperti yang diceriterakan diatas saya jadi lupa waktu saking asiknya bermain karambol dirumah teman itu. Saya seharusnya pulang namun dalam kurun waktu dua minggu itu saya tidak dapat memenuhi keinginan almarhum papa. Saya jadi absen beberapa kali. Untung saja tidak ada sanksi lain atas ketidakhadiran saya saat beliau pulang kerumah.

Dua minggu berlalu, suatu sore ketika saya sedang bermain sepeda diujung jalan Sungai Luis (entah jalan apa namanya sekarang) persis di depan rumah kawan karib, saya melihat sebuah becak sedang melintas perlahan di Lapangan Merah (sebutan untuk Lapangan Atang Sutresna). Meski sinar matahari mulai berwarna kemerahan diufuk Barat dari kejauhan belum terlihat siapa yang berada dalam becak tersebut. Barulah pada saat becak sudah mendekati jalan Sungai Luis mulai terlihat siapa sosok yang sedang didalam becak. Rupanya almarhum papa yang lagi naik becak. Sambil mengayuh sepeda dari rumah Erlangga, kawan saya, sayapun mendekat menuju Becak. Bukan main senangnya saya saat itu, almarhum papa ternyata membawakan sebuah Karambol warna coklat buat saya. Horee saya teriak dari atas sepeda yang berjalan beriringan menuju rumah nomor H64 ketika saya tahu ternyata papa membelikan karambol itu. Perlahan namun pasti becak akhirnya tiba di depan rumah. Karambol pun diturunkan almarhum papa. Saya pun berjingkrak seraya ucapkan terima kasih kepada papa karena ia sudah membelikan apa yang diinginkan anaknya. Sehabis papa mengganti pakaiannya iapun lantas memanggil saya. Ia berpesan agar kalau ingin main karambol dirumah saja, tidak usah ditempat teman. Panggil saja teman-teman kerumah biar mereka main disini, begitu katanya. Saya pun mengangguk tanda setuju sambil bergegas membawa karambol menuju teras. Dibawah teduhan pohon jambu air milik keluarga, karambol yang baru saja dibelikan saya letakkan.

Saya mengambil sepeda pergi ke warung di Jalan Simarimbun membeli sekantong kecil terigu yang akan ditaburkan diatas karambol sebagai pelicin dalam permainan. Sambil bersepeda tak lupa saya mengajak teman-teman main karambol di rumah.

Mulai saat itu saya jarang lagi keluar rumah. Teman-teman saya yang saat itu yang main dirumah.
Seperti diketik diatas selepas musim usai karambolpun tergantikan oleh permainan lain.

Terima kasih papa engkau sudah senang di rumah Bapa. Apa yang telah kau berikan takkan mungkin terbalaskan olehku. Kasih sayangmu luar biasa buat saya.

In memory of caring and beloved father “Frederik Soleman Katipana“ (14 Juli 2010-14 Juli 2012)

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 17/07/2012, in Keluarga and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: