Ingat Pak Rambut Su Putih ; Jang Bakalai

Kemarin 25 Januari 2012 seperti biasa saya pulang bekerja menggunakan kereta api menuju ke Depok. Suasana stasiun pada sore itu tidak terlampau ramai. Tidak banyak penumpang berdiri di dekat jalur 3 ataupun duduk di bangku yang tersedia. Pada ujung stasiun arah dari Gondangdia terlihat sebuah lokomotif berjalan perlahan membawa gerbong kereta api Cirebon Ekspress yang baru saja akan tiba menuju jalur 4. Cuaca di sore hari itu teras sejuk dengan sayup terdengar melalui loudspeaker seorang lelaki sedang mengaji di sebuah Mushola dekat pintu masuk Stasiun Gambir. Tak seberapa lama saya duduk di sebuah deretan bangku kosong terdengarlah pengumuman bahwa kereta comuter line jurusan Bogor akan segera tiba di Stasiun Gambir. Saya pun bergegas mengambil tas punggung yang diletakkan disisi kiri. Pintu pada gerbong 2 terbuka dan sayapun segera memasuki kereta. Dalam gerbong yang sudah penuh itu saya pun mencari ruang untuk berdiri disela-sela penumpang lain pada bagian tengah gerbong. Suara alat pendingin yang sudah tak mendinginkan lagi terdengar cukup keras. Saking tak tahan akan panas dalam gerbong seorang penumpung berinisiatif membuka jendela dihadapan saya meski ia terhalang oleh penumpang lain. Perjalanan sampai di Stasiun Lenteng Agung para penumpang meski berdesakan namun tidak ada masalah seolah semua telah maklum dengan situasi seperti ini. Sampai ketika kereta tiba di Stasiun Pondok Cina seorang penumpang panggil saja si A, lelaki yang akan turun mendorong seorang penumpang lain yang sedari tadi berdiri di dekat pintu sebut saja penumpang B. Karena merasa dorongan yang dilakukan oleh A lelaki paruh baya itu membahayakan keselamatan diri B maka si B berontak. Tidak terima atas perlakuan si B, A lantas bereaksi juga. Kemudian keduanya terlibat aksi pukul memukul. Penumpang lain yang melihat membela si B karena mereka tahu siapa biang kerok kejadian dorong mendorong tadi. Rupanya sedari tadi seorang Bapak yang berdiri dibelakang saya sudah memperhatikan tindak tanduk B. Ia terlihat kesal juga melihat ulahnya. Saling pukul tangan antar keduanya keduanya A dan B berakhir manakala kereta sudah berhenti di Stasiun Pondok Cina. Sambil mengumpat dari peron Bapak A terus saja mengacung-acungkan tangannya membentuk sebuah kepalan ditangan kanannya. Sementara Bapak B juga dibantu oleh beberapa penumpang dari dalam gerbong melakukan hal yang sama bahkan teriakannya lebih kencang terdengar. Meski rambut keduanya sudah hampir sama jumlah hitam dan putihnya ternyata bukan halangan untuk baku pukul diatas kereta karena hal sepele yakni desak-desakan di gerbong kereta. Ooh Tuhan jauhkanlah saya dari perbuatan itu. Naik Komuter Line memang harus dapat menahan emosi sebab setiap hari pasti para penumpang akan berdesakan di dalam gerbong. Semua mesti punya satu rasa jika ingin menumpang kereta dalam keadaan berdesakkan seperti itu. Kesabaran tingkat tinggi benar-benar sangat dibutuhkan bila tidak ingin mengalami peristiwa seperti itu. Dalam hati kapan ya saya bersama penumpang lain memperoleh kenyamanan menggunakan transportasi umum. Suatu hari nanti pastilah Pemerintah akan memberikan yang terbaik bagi masyarakat pengguna angkutan umum. Sabar itu adalah kunci menaiki kendaraan umum.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 26/01/2012, in ROKER. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: