Lelaki Bule Itu Beri Contoh

Pagi-pagi sekali saat air hujan sedang membasahi bumi Depok saya terbangun. Jam mentari yang tergantung diatas dekoder dan televisi menunjukkan jarum pendek pada angka 04.30. Alaram BB disamping bawah tempat tidurpun berbunyi seolah turut membangunkan saya yang masih malas-malasan dengan kasur dan bantal guling. Saya melihat istri dan anak terkasih masih lelap dalam mimpi indah mereka. Botol-botol susu yang kosong tergeletak begitu saja diatas tempat tidur. Hari ini Jumat 13 Januari 2012 saya hendak pergi ke Banjarmasin Kalimantan Selatan. Sesaat sesudah selesai renungan pagi dengan Sabda Bina Umat saya mengambil BB untuk menghubungi taksi yang mengantarkan ke Bandara. Kepada operator saya minta agar dapat dijemput pada pukul 06.30. Suara dari seberang telepon pun menyanggupi dan konfirmasi tersedia atau tidak armada akan disampaikan paling cepat 1 jam sebelum waktu penjemputan. Sambil mematikan AC dalam ruang tidur yang waktu itu masih membuat rasa ingin berbaring berlanjut, saya pun mengambil handuk dan langsung bertempur dengan air dalam bak yang dingin. Tepat 10 menit kurang dari pukul 06.30 sang sopir taksipun tiba didepan rumah. Taksi warna kuning yang biasa dipakai terlihat dari balik gorden jendela kamar bagian depan. Air hujan masih terus membasahi perumahan tempat tinggal kami sejak tahun 2005 lalu. Wiper mobil taksi seolah sibuk bekerja membantu tuannya.
Ketika kata amin dilafalkan melalui mulut saya sehabis berdoa, anak saya terlihat masih terlentang tertidur nyenyak. Testa atau dahinya saya cium penuh kasih seraya berpamitan mengatakan ”Papa berangkat dulu naik pesawat ya”ungkap saya ke telinga kanannya.
Wajahnya pun bergeming polos dan tulus seolah mengiyakan.

Perjalanan pagi itu masih ditemani oleh rintikan hujan. Hujan yang sebagian besar orang mengatakan hujan yang awet sebab intensitasnya tidak besar namun tak juga bisa dikatakan kecil. Pendingin ruangan dalam taksi sepertinya tidak bekerja dengan baik. Meski diluar hujan di dalam taksi serasa tidak terlampau dingin. Perjalanan Depok menuju Bandara tergolong lancar pada pagi itu. Antrean panjang memang terjadi namun masih dalam tahap kewajaran sebab semua kendaraan masih dapat berjalan meskipun tersendat. Sayangnya pagi itu sopir taksi sempat membuat jantung berdebar kencang karena ia merasa tak dapat menahan kantuk di daerah sekitar Rawamangun. Untung saja dia dapat terlepas dari rasa kantuk itu. Dan saya pun dapat tiba dengan selamat di Bandara tanpa kekurangan satu apapun. Waktu itu saya sempat menasihati sopir taksi dengan nama Jumadi agar hati-hati dalam perjalanan pulang sebab dari matanya masih tersimpan rasa kantuk yang mendalam.
Selesai pengechekan 4 buah tas ; 1 tas berisi pakaian, 1 tas berisi alat-alat games, 1 tas laptop dan 1 tas kecil warna hitam berlogo ITCC yang biasa menemani takkala saya bepergian untuk outbound atau team building, sayapun mulai mengantri kedalam antrean chek in. Sejauh mata memandang antrean sudah seperti lekukan ular. ”Wah sepertinya akan memakan waktu lama nih dalam antrean” dalam hatiku. Sewaktu masih mengantri di lekukan pertama saya melihat suatu perbuatan yang dapat dijadikan contoh. Di hadapan saya terlihat 2 orang lelaki bule dengan trolly dan tas punggung, mereka juga sedang mengantri dengan sabar sambil bercakap-cakap. Dari bahasa yang diucapkan sepertinya bukan orang Inggris atau Amerika sebab lain sekali kata-kata atau kalimat yang diucapkannya. Salah seorang lelaki bule yang berdiri dihadapan saya dengan trolly tanpa sengaja membuang potongan gambar berperekat. Sobekan kertas itu dibuang oleh lelaki bule dengan brewok coklat itu maksudnya kearah tumpukan sampah yang ia kumpulkan dibagian atas trolly. Namun ternyata lemparan sampahnya meleset dan justru jatuh ke lantai antrean chek in. Potongan kertas berperekat tak lebih dari satu ruas jari tangan lelaki dewasa itu lantas buru-buru dipungut kembali. Ia kemudian menyatukan sobekan kertas itu bersama-sama dengan tumpukan sampah lain miliknya.
Saya yang berdiri persis di depannya langsung berpikir “Seandainya orang Indonesia semua seperti lelaki bule itu ?” Mungkin tak akan ada sampah berserakan dimana-mana. Bila semua masyarakat Indonesia telah sadar akan betapa pentingnya kebersihan tiada lagi selokan, got bahkan sungai yang dipenuhi sampah. Andaikata penduduk Indonesia punya mental seperti lelaki bule yang saya lihat pagi ini pastinya takkan ada banjir musiman melanda perumahan penduduk. Saya dan anda akan melihat kota yang bersih.

Terima Kasih buat Mr. Bule hari ini engkau sudah memberikan pengajaran buat saya. Bukan masalah besar atau kecilnya sampah itu namun mental membuang sampah pada tempatnya itulah yang harus diacungi jempol.

Musim hujan sudah datang mari kita jaga kebersihan agar terhindar dari bencana banjir. Pepatah atau slogan mengatakan Kebersihan adalah Sebagian Dari Iman. Ya marilah dijalankan slogan itu dengan penuh tanggung jawab mulai dari diri anda mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang.

Diketik di Terminal 2F di depan Leather & Shoes Shop Jumat 13 Januari 2012 pukul 10.45 WIB sambil menunggu GA 532

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 13/01/2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Abed Saragih

    Wahh,,,Terima kasih untuk informasinya🙂

    Keep Blogging

    http://www.disave.blogspot.com

    Salam Persahabatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: