Cara Menghitung Lembur

Dalam dunia kerja seorang pekerja/buruh terkadang mesti melakukan pekerjaannya melebihi dari waktu kerja yang telah ditetapkan baik itu dalam Perjanjian Kerja atau Peraturan Perusahaan bahkan juga Perjanjian Kerja Bersama bagi perusahaan yang sudah memiliki Serikat Pekerja. Saya masih kerap mendengar keluhan mengapa lemburnya hanya sekian padahal sudah kerja banting tulang dan sebagainya. Ada juga yang sekedar bertanya bagaimana menghitung lembur itu. Perhitungan yang sesuai dengan ketentuan Peraturan ketenagakerjaan. Aha baiklah ! bukan berarti saya disini lebih mengerti namun bolehlah disampaikan sedikit apa yang saya ketahui sekedar berbagi pengalaman berkecimpung dalam dunia keHRDan agar paling tidak dapat jadi sebuah gambaran. Itu penting sebab aturan perhitungan lembur masing-masing perusahaan memiliki perbedaan meskipun tidak boleh lebih rendah dibanding dengan cara perhitungan seperti yang telah ditetapkan pemerintah melalui UU ketenagakerjaan. Apabila pekerja/buruh ingin mengetahui bagaimana cara penghitungan lembur sebaiknya dapat membaca lebih dahulu UU No.13/2003 mengenai ketenagakerjaan terutama Pasal 78 . Selain itu ada baiknya pekerja/buruh memperkaya pemahaman mengenai ketentuan lembur seperti tertuang dalam Kepmenakertrans No. 102/2004. Hal yang pasti dan mesti dikesampingkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam perhitungan lembur adalah ditanamkan lebih dahulu pemahaman bahwa Lembur bukan merupakan Penghasilan dan Lembur itu adalah sukarela. Kedua hal itu penting untuk di”mind set” kan sebab tidak selamanya pekerja/buruh akan melakukan kerja lembur. Setelah bekerja beberapa tahun dapat saja pekerja/buruh memperoleh posisi yang sudah tidak lagi membutuhkan lemburan. Selain itu tidak setiap saat pekerja/buruh sedia melaksanakan pekerjaan melewati waktu kerja karena adanya kebutuhan lain yang mesti dikerjakan pada saat yang bersamaan. Disamping itu ada satu hal penting lain yang mestinya menjadi bahan pertimbangan seorang pekerja/buruh melaksanakan lembur meski tidak mudah dilakukan adalah pada waktu perintah untuk lembur diberikan segera sediakan Formulir Lembur untuk diisi dan ditanda tangani oleh pekerja/buruh dengan pejabat berwenang atau yang memerintahkan lembur disesuaikan dengan masing-masing perusahaan. Ini penting sebab kebiasaan pekerja/buruh selama ini malah mereka memasukkan data lembur pada akhir bulan bersamaan dengan presensinya. Catatan lembur berupa kapan, berapa lama lembur dilakukan justru ditulis di kalender dengan melingkari tanggal pelaksanaan lembur itu. Padahal jelas diatur dalam Kepmen bahwa untuk melakukan kerja lembur harus ada perintah tertulis dan persetujuan tertulis dari kedua belah pihak antara pekerja/buruh dan pejabat yang memerintahkan lembur. Dalam peraturan ketenagakerjaan waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1 hari dan 14 jam dalam 1 minggu.

Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban untuk ; membayar upah kerja lembur, memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya dan memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 jam atau lebih.

Perhitungan upah lembur sesuai Pasal 8 Kepmen 102/2004 didasarkan pada upah bulanan dimana cara menghitung upah sejam adalah 1/173 kali upah sebulan. Sering ditanyakan darimana angka 173 itu inilah penjelasannya sebagai berikut ;
Di dalam 1 tahun terdiri dari 52 Minggu, 1 Minggu karyawan kerja 40 jam. Dalam 1 tahun karyawan bekerja 52 minggu x 40 jam = 2080 jam. Dalam 1 bulan karyawan bekerja 2080/12 = 173,333 dibulatkan menjadi 173

Diambil hitungan 52 Minggu dalam 1 tahun bukan 4 minggu dalam sebulan krn jmlh hari dlm 1 bln lbh dr 4 minggu.

Perhitungan lembur antara hari kerja dan hari libur dibedakan. Untuk hari kerja biasa cara menghitung lemburnya adalah ;

Contoh :
Seorang pekerja/buruh pada hari Selasa melaksanakan tugas lembur mulai pukul 17.
00 – 20.00 maka perhitungan lemburnya

1/173 x UPAH

1 jam pertama x 1 1/2 = 1,5
2 jam selanjutnya x 2 = 4

Total Jam lembur 5,5

5,5/173 x Upah

Untuk Cara Kedua lebih simple yakni mengalikan jumlah jam lembur yaitu (3 x 2)-1/2 = 5,5

Sementara itu untuk Perhitungan lembur pada waktu hari libur adalah sebagai berikut :

Contoh :
Seorang pekerja/buruh pada hari Selasa melaksanakan tugas lembur mulai pukul 09.00 – 20.00 maka perhitungan lemburnya

1/173 x UPAH

8 jam pertama x 2 = 16
1 jam kesembilan x 3 = 3
1 jam kesepuluh x 4 = 4

Total Jam lembur 23 lalu dimasukkan kedalam rumusan

23/173 x Upah

Sesuai ketentuan dalam Kepmen 102/2004 Pasal 10 dalam hal upah terdiri dari Upah Pokok dan Tunjangan Tetap maka dasar perhitungan upah lembur adalah 100 % (seratus perseratus) dari upah.

Dalam hal upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, apabila upah pokok tambah tunjangan tetap lebih kecil dari 75 % (tujuh puluh lima perseratus) keseluruhan upah maka dasar perhitungan upah lembur 75 %. (tujuh puluh lima perseratus) dari keseluruhan upah.

Cara perhitungan lembur ini sekali lagi landasannya adalah Kepmen 102/2004. Apabila lebih rendah dari ketentuan UU maka hal itu tidak diperkenankan.

Selamat Menghitung Lemburan ya.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 11/01/2012, in Office. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. makasih infonya yahh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: