Akibat Tak Mengikuti Doa Bersama di Malam Pergantian Tahun

Tahun baruan mau kemana ? Begitu kira-kira percakapan yang muncul di beberapa media sosial termasuk di group BBM yang saya ikuti. Mau habiskan waktu pergantian tahun dimana dan dengan siapa jalannya, pertanyaan sejenis itulah yang dalam 1-2 hari ini mampir juga ke telinga saya. Kayaknya pertanyaan seperti itu takkan bisa dihindari. Suka tidak suka dan mau tidak mau akan ditanyakan juga kepada anda dan saya. Apabila pertanyaan itu sungguh nyata mampir ke telinga saya maka jawaban yang akan disampaikan mungkin dapat dianggap sebagai jawaban yang tidak populer. Saya tidak akan pernah mampu mengatakan bahwa saat pergantian tahun saya akan pergi ke kota anu untuk merayakan malam pergantian tahun disana. Bagi saya dan keluarga besar malam tahun baru merupakan saatnya berkumpul dengan keluarga untuk beribadah. Pada waktu itulah sama seperti malam Natal almarhum papa selalu mendidik saya dan kakak-kakak untuk tidak bepergian kemanapun sebelum melakukan doa bersama dirumah. Saya baru boleh bepergian bila sudah mengikuti doa bersama. Malam Tahun Baru senantiasa dipakai untuk beribadah dan diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada almarhum papa, mama, kakak dan saudara yang malam itu sedang menginap dirumah. Terkadang juga sambil menikmati makanan besar ataupun kecil. Ada perasaan khawatir bila tidak menjalankan Doa Syukur pergantian tahun dirumah bersama keluarga. Sepanjang hidup setidaknya saya hanya 1 kali tidak melaksanakan aktifitas pergantian tahun di dalam rumah. Dan itu hampir saja mengakibatkan musibah besar menimpa saya saat tidak mengikuti atau tak berada dirumah saat pergantian tahun bersama keluarga. Ketika itu saya masih duduk di bangku kuliah dan memang saat itu papa dan mama sedang pulang kampung halaman jadi saya berpikir kenapa tidak naik gunung saja. Perjalanan pendakian kedua ke gunung Merbabu yang saya ikuti bersama Mahasiswa pecinta alam kampus saya rupanya tidak berjalan mulus. Saya bersama sekelompok adik mahasiswa baru tidak dapat mencapai Puncak Merbabu. Cuaca malam itu sangat tidak mendukung. Angin bertiup kencang sekali sampai-sampai pohon-pohon mengeluarkan suara bak sebuah nyanyian instrumentalia ditelinga. Belum lagi kebakaran diatas gunung Merbabu telah membuat jalan setapak yang biasa dipakai tertutup oleh abu hitam. Kondisi seperti itu tak hanya mengakibatkan saya dan rombongan satu regu tidak dapat tiba dipuncak malahan sempat “kesasar” sewaktu menempuh perjalanan pulang ke base camp di Kopeng. Setibanya di sana rupanya bukan regu saya saja yang tidak mencapai puncak dan kesasar namun 3 kelompok lainnya juga mengalami hal yang sama.

Sejak saat itulah saya sedapat mungkin tidak ingin lagi bepergian saat malam pergantian tahun. Saya rasanya cukup satu kali saja diingatkan Tuhan dan tak ingin serta berusaha tetap melakukan doa bersama di rumah bersama keluarga. Jadi jangan tanyakan kemana saya akan pergi dimalam tahun baru.

Ajarkanlah Tuhan agar saya selalu setia bergaul bersama Engkau.

Posted on 30/12/2011, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: