Sebuah Pelajaran Dari Gerbong 2

Perjalanan pulang saya dari Gambir menuju Depok pada hari Senin 14 Nopember 2011 sore benar-benar menguji kesabaran. Kereta yang membawa saya pulang terhambat perjalanannya selepas Stasiun Pasar Minggu. Tanpa keterangan atau informasi apapun yang diberikan oleh petugas kereta semua penumpang dibiarkan menebak-nebak apa gerangan yang sedang terjadi dalam perjalanan mereka.
Sementara Suasana diluar, dari kaca jendela masih terlihat rintikan hujan membasahi jalan raya.

Usai mengetik keadaan komuter pada sebuah media sosial terkait perjalanan sore itu, sebuah pelajaran saya peroleh. Seorang Ayah dan Ibu bersama 2 orang anak laki-lakinya membuat saya tersenyum seraya bersyukur kalau pada sore itu Tuhan memberikan sebuah pelajaran berharga.

Keluarga kecil ini duduk di kursi penumpang pada gerbong 2. Awalnya segala sesuatu berjalan seperti biasa saja. Namun ketika salah seorang anak laki-laki dari sebut saja Keluarga A itu mulai mengeluarkan teriakan-teriakan barulah pandangan penumpang yang sedang berdiri di gerbong 2 mengarah kepada mereka. Suara gaduh yang mereka buat saling berlomba dengan suara kipas angin yang sedang berputar.

Saya pun yang sedang berdiri dihadapan mereka merasa sedikit terganggu akan tetapi berusaha untuk tidak menghiraukannya. Sayang sekali niat hati ingin seperti itu apa daya hatipun terusik ketika melihat anak usia 4 tahunan itu mulai menggunakan telunjuk kanannya kemudian menyentuhkan jarinya ke bagian depan dan belakang celana atau rok penumpang yang sedang berdiri didepannya. Tak hanya menyentuh namun anak kecil itu juga berkata “Uuh baunya kayak kambing” ucapannya terdengar di satu sisi gerbong.

Terang saja saya yang menjadi salah satu korban jari telunjuknya menjadi gerah juga. Akan tetapi mau bagaimana lagi selain hanya bisa mengelus pipi anak itu dihadapan orang tuanya. Itulah yang bisa saya lakukan pada waktu itu.

Saya merasa heran saja apakah ayah dan ibu dari anak laki-laki itu tidak mengajari sopan santun kepada anak mereka. Saya melihat ketika anak itu mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas diucapkan anak kecil sepertinya kedua orang tuanya agak kesulitan mengendalikan anak tersebut. Sang ibu bahkan sempat menempeleng mulut anaknya akibat dari perbuatannya namun apakah harus seperti itu.

Ooh Tuhan semoga saja saya bisa membimbing dan mengajari anak-anak saya sopan santun. Meski negeri ini corat marut namun rasanya saya masih ingin mengajarkan anak etika sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun kereta saat itu mengesalkan hati namun pada sisi hati yang lain saya bersyukur memperoleh pelajaran dari tingkah laku anak kecil itu.

Sopan santun buat saya masih dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari. Rasa hormat sepertinya tetap saya perlukan dalam pergaulan di masyarakat.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 15/11/2011, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: