Kapan Ceritera Ini Berakhir

Saya sebenarnya sudah ingin menghentikan mengetik ceritera tentang Kereta Api. Dalam hati akan mengurangi menuliskan status tentang kereta di social networking. Namun apalah daya mata masih melihat ketidakberesan. Hati kerap merasakan ketidaknyamanan makanya ketikan ini muncul kembali.

Persis 3 bulan pengoperasian sistem Single Operation peristiwa ini saya alami. Sabtu 1 Oktober 2011 lalu seusai menyelesaikan sebuah urusan usaha, saya bersama istri mengajak anak saya untuk naik kereta. Alih-alih untuk menyenangkan anak yang sedang menyukai tokoh Thomas and His Friends, saya menumpang komuterline dari Stasiun Bojongede menuju Stasiun Kota. Atas budi baik seorang anak muda, anak dan istri saya akhirnya diberikan tempat duduk pada kursi prioritas. Ucapan terima kasih saya sampaikan dengan tulus kepadanya, iapun mengangguk. Anak saya sangat menikmati perjalanan dengan keretanya siang itu. Keceriaan sangat terasa sepanjang keberangkatan mulai dari stasiun awal hingga saya memutuskan turun di Stasiun Mangga Besar.

Sehabis menikmati makan siang di salah satu tempat makan di lingkungan stasiun saya bersama istri kemudian membeli tiket kepulangan menuju Stasiun Bojonggede.

Tak seberapa lama keretapun tiba. Naik digerbong 2 istri menggendong anak saya yang berusia 2 tahun. Saat telah berdiri di sisi kiri tempat duduk prioritas harapannya akan ada salah satu dari empat orang yang sedang duduk untuk berdiri. Akan tetapi hingga 2 stasiun terlewati tak kunjung juga mereka berdiri terutama sepasang anak muda yang sedang kasmaran. 2 tempat lagi saya tidak mempermasalahkan sebab diisi oleh orang lanjut usia.

Aha pucuk dicinta ulam tiba, dikejauhan saya dengar teriakan petugas menanyakan tiket kepada penumpang. Dalam hati saat ia memeriksa tiket saya akan meminta bantuannya untuk meminta salah satu dari anak muda itu untuk memberikan tempat duduknya kepada anak dan istri. Apa yang saya harapkan sirna adanya. Saat saya menyampaikan maksud kepada salah seorang petugas ia hanya tengok kiri kanan di tempat duduk prioritas. Sepatah katapun tidak ia keluarkan untuk merespon permohonan saya. Alhasil anak dan istri saya tetap berdiri sementara petugas berseragam itu pergi meninggalkan gerbong yang saya tumpangi. Saya sebenarnya bisa saja bertindak keras dengan meminta paksa kepada mereka karena yakin pula para penumpang akan mendukung tindakan saya. Namun saat itu lagi tidak mood, males mengawali konflik selain itu seorang penumpang yang duduk disebelah cewek yang sedang kasmaran seorang lelaki tua turun. Waktu itulah anak dan istri saya bisa duduk hingga stasiun akhir.

Saya tidak terlalu menyalahkan perilaku dari anak muda yang sedang kasmaran meskipun sedikit dongkol. Penumpang seperti itu sudah tak perlu diherankan lagi sebab itu adalah cerminan mental bangsa ini. Jadi buat saya tidak terlampau mengherankan. Saya justru ingin mengolok-olok petugas berseragam yang kerjanya memeriksa karcis penumpang. Masakan petugas itu sama sekali tidak mau melakukan tindakan apapun saat itu. Menurut saya hal tersebut adalah sebuah kesalahan mendasar yang sama sekali tak dapat ditolerir. Tindakan mereka adalah cerminan pelayanan Garda terdepan KAI. Saya semakin banyak tahu lagi seberapa besar nilai pelayanan para frontliner KAI. Bagi saya seorang petugas bila sudah tidak berani menegakkan aturan maka sebaiknya jangan pernah ditugaskan lagi. Pantas saja banyak penumpang masih saja menggunakan kursi lipat. Mana berani petugas menegurnya lebih baik pura-pura tidak melihat atau pura-pura tidak mendengar saja. Sayang sekali.

3 bulan penerapan single operation buat saya pribadi tidak menunjukkan peningkatan pelayanan bagi penumpang. Boro-boro kenyamanan mendekati saja rasanya tak kan pernah terjadi. Belum lagi berbagai inkonsistensi pelayanan lainnya. Ambil contoh pemberitahuan kepada penumpang di dalam gerbong mengenai stasiun pemberhentian. Kadang dilakukan dengan baik akan tetapi lebih sering tidak pernah dijalankan. Saya tidak tahu apa sebabnya yang pasti itulah yang terjadi.

Inilah ceritera mengenai Kereta. Saya masih harus melanjutkan mimpi menaiki kereta dengan pelayanan prima. Entah sampai kapan saya akan berhenti menuliskan status pada media sosial mengenai pelayanan kereta api yang saya alami. Semoga saja suatu hari nanti saya akan berhenti juga mengetikan dalam blog ini mengenai pengalaman tak mengenakan melakukan perjalanan dengan kereta api. Bagaimanapun juga bagi saya naik kereta api ke kantor masih menjadi pilihan terbaik diantar pilihan buruk lainnya.

Sebuah bukti ketidakmampuan petugas KAI menegakkan keadilan saya jumpai pula pada Senin 3 Oktober 2011 seperti terlihat pada foto berikut. Masakan “mengusir” orang tidur di area stasiun mereka tak sanggup melaksanakannya.

Mari nikmati saja keadaan saat ini hingga suatu saat semua akan berahr meskipun saya takkan mengetahui kapan semua ceritera ini akan berakhir.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 03/10/2011, in ROKER. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: