Joni Eareckson Tada

“Seperti seni, musik, atau bidang ilmu lain, doa hanya dapat dihargai jika Anda benar-benar melakukannya. Menggunakan waktu bersama Allah akan mencerahkan pikiran Anda. Semakin banyak Anda berdoa, semakin banyak yang disingkapkan. Anda akan mengerti, Anda akan tersenyum dan menganggukkan kepala ketika Anda mengalami perjuangan bersama dengan orang lain yang menemukan sukacita besar dalam berdoa.”— Joni Eareckson Tada (1949),penulis

Sebuah kecelakaan ketika berenang di bulan Juli 1967 menyebabkan Joni Eareckson menderita kerusakan tulang belakang yang membuat dia lumpuh dari leher ke bawah. Selama bulan-bulan pertama penderitaannya di rumah sakit, dia mengalami depresi yang berat dalam usahanya mencoba memahami apa yang terjadi pada dirinya. Ia bahkan sempat memohon kepada teman-temannya untuk membantunya melakukan bunuh diri.

The God she loves, allows us to taste what hell is like…

Terbaring terikat pada Stryker frame selama beberapa bulan pertama, di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi yang menimbulkan halusinasi menyeramkan, menjadikan kebas (numb) sebagai emosi yang terakrab. Sehingga bahkan kengerian akan kuku tangannya yang harus dicabuti satu-persatu akibat infeksi, tidak ada bandingannya dengan kebas perasaannya saat menanti Tuhan melawatnya di kolam Bethesda. Tidak ada malam segelap itu, saat Tuhan dirasa membisu dan membiarkan jiwanya terbunuh. That was the taste of hell, that was the real suffering…

Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan the taste of hell menjadi realita kita. Tidak akan pernah. Pada satu malam yang tak tertahankan Tuhan mengirim seorang sahabatnya mengendap-endap menyelinap memasuki kamar Joni setelah suasana di rumah sakit senyap. Seorang sahabat yang kemudian sepanjang malam berbaring di sampingnya, tanpa kata-kata memegangi tangan Joni yang sudah mati rasa. Menjawab keluhan Joni, “Jacque, it’s been so hard. So scary. I’m afraid,” hanya dengan menyanyikan lembut Man of Sorrows! What a name; For the Son of God who came; Ruined sinners to reclaim; Hallelujah! What a Saviour!

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu sejak kecelakaan itu terjadi, Joni tahu bahwa keberadaannya signifikan di dunia ini. For the very first time, it was okay. It was just… okay. Dengan lembut Tuhan terus mengingatkan, “I love you. Don’t worry. If I loved you enough to die for you, don’t you think My love is great enough to see you through this?”

Ya, neraka bukanlah pilihan bagi setiap anakNya. Itulah sebabnya neraka tidak pernah jadi realita meskipun dalam dunia yang jatuh dalam dosa seolah itulah kenyataannya. Tapi telah ada Dia yang turun jauh dari tempatNya untuk membawa kembali setiap anakNya yang merasa nerakalah pilihan hidup mereka.

Namun, berkat pertolongan dari teman-temannya, imannya tumbuh lagi dan semangat hidupnya bangkit kembali. Selama dua tahun masa rehabilitasi ia menyadari bahwa apa pun yang terjadi, betapapun buruk situasinya, hidupnya tetaplah sebuah pilihan. Ia dapat memilih hidup dengan penuh penyesalan dan kemarahan pada Tuhan, atau menjalaninya dengan penuh pengharapan bahwa “yang terbaik masih belum tiba” (the best is yet to come).

Dalam masa rehabilitasi tersebut, ia berbulan-bulan belajar melukis dengan cara menggigit kuas di antara gigi-giginya. Bukan cara yang mudah dan pasti awalnya membuat frustrasi siapa pun yang pernah mencobanya. Namun, dia berhasil melakukannya. Bahkan lukisan-lukisannya kini banyak dicari dan dikoleksi orang. Salah satu bukunya yang berisi beberapa lukisan terindahnya adalah “Christmas Longing”.

The God she loves, creates marriage as a ministry for Him…

“I love you Joni,” young and handsome Ken Tada said.

“Well, you know what? I love you, too,” Joni replied. Ken continued, “It could work, you know. I’ve been watching Judy help you all these months, I know I can do the things she and others do for you.”

“You’re talking marriage?” Joni asked.

“Our life together… it could be a real ministry for the Lord,” Ken softly said.

Beberapa bulan kemudian Joni menambahkan nama Tada pada namanya. Joni Eareckson Tada. Aku tak ingin banyak berkisah tentang mereka. Kau dengarkan saja dulu rekaman video saat Ken Tada dihormati lewat pemberian McQuilkin Award bertahun kemudian setelah hari mereka saling berkata, “I do” ini (klik di sini). Itu saja sudah bercerita milyaran kata tentang indahnya melayani Tuhan lewat pernikahan kita. Aku kini hanya ingin memanggil seluruh wanita untuk belajar pada Ken Tada tentang apa artinya menjadi a godly woman worthy of one of His sons as their spouse.

Marriage as a ministry. Is that an alien concept for us or is it already what you believe it should be and striving hard to do? John Piper pernah menyinggung hal ini dalam salah satu artikelnya Let Us Go With Jesus Bearing Reproach. Dan dalam Brothers We Are Not Professionals dia menyebutkan, “God made man to be a sharer. God created us not to be cul-de-sacs of His bounty conduits. No man is complete unless he is conducting grace (like electricity) between God and another person.” I can’t agree more with him. To minister God through the ministry to others. To be sharers of God’s grace for one another.

The God she loves, loves to teach us through children…

Pernikahan Ken dan Joni yang indah bukannya tanpa pergumulan dan air mata. Meskipun quadriplegia tidak merenggut kemampuan Joni untuk mempunyai anak, tetapi Tuhan dalam kedaulatanNya memberi kisah lain untuk dijalani. Dalam kepedihan hatinya di masa-masa awal berhadapan dengan kenyataan akan tiadanya anak dalam perkawinan mereka, Tuhan mengirimkan berbagai anak tiba padanya. Bukan sembarang anak, tetapi mereka yang fisiknya tidak sempurna. Tuhan membuka hati Ken dan Joni untuk mencintai mereka semua. Hati yang awalnya hanya mampu mencintai beberapa anak, diperluasNya sehingga mampu mencintai ribuan anak.

“We may not be able to have our own children, but we have the children all around the world. Yes, disabled children.” Dan melalui anak-anak ini Joni dibuat terkagum-kagum akan kemampuan anak-anak menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka. Joni will tell us this, “Through a sweet little child I’ve learnt about true wisdom. It’s found not in being able to figure out why God allows tragedies to happen. True wisdom is found in trusting God when you can’t figure things out.”

Dan itu bukan pelajaran yang pertama. Kelly, keponakannya berusia enam tahun didiagnosa menderita tumor otak dan hanya bisa hidup sebulan lagi. Seluruh keluarga termasuk Joni berusaha mempersiapkan Kelly pulang ke surga. Tetapi Tuhan membalikkan peran. Yang hendak menghibur menjadi yang dihibur. Yang ingin menguatkan menjadi yang dikuatkan.

Joni menulis lebih dari tiga puluh buku, beberapa di antaranya menjadi best-seller. Best-seller pertama adalah otobiografinya, Joni, yang difilmkan dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari lima belas bahasa dan telah menyentuh serta mengubah hidup ribuan orang sampai hari ini. Buku-bukunya yang lain berbicara tentang tema-tema persahabatan, keluarga, anak-anak, penderitaan, dan outreach kepada orang-orang cacat. Ia juga menulis beberapa buku anak-anak yang menerima penghargaan dari The Evangelical Publishers’ Association dan C.S Lewis Medal Awards.

The God she loves is not “safe”…

Joni dikisahkan kembali mengalami masalah medis yang menguncangkan kembali kehidupannya. Masalah myo-fascia yang selama beberapa saat tidak bisa didiagnosa membuat hidupnya yang ceria menjadi kehilangan harapan saat berhadapan dengan nyeri yang rasanya tak tertahankan. Aku sempat terpana membacanya. Orang yang sudah mengalami begitu banyak kesulitan luar biasa dan dimampukan Tuhan melewati semuanya, mengapa masih bisa kehilangan harapan?

Ini adalah wanita yang berkata, “Suffering is like a sheepdog that snaps at your heels and keeps driving you toward the Shepherd,” and she meant it. Ini adalah wanita yang berkata, “I want you all to know my accident was no accident at all,” saat melukiskan Kedaulatan Allah yang selama ini selalu mengiluminasikan hidupnya.

Tetapi wanita yang sama ini kemudian pada satu malam kelam tak mampu lagi berdoa dan hanya melitanikan nama Yesus tiada henti seperti aku bertahun yang silam, “Jesus, Jesus, Jesus.” Hanya hatinya yang mampu berkata, “I want to trust the Father with this, but he’s so… so sovereign. And that’s scary. I’m afraid to trust him. I can’t. I can’t.” Kedaulatan Allah tidak pernah begitu menakutkan seperti saat itu.

Joni bertutur tentang tentang kecelakaannya, “And miracle of miracles, I was making it. Years were passing, and I was maintaining my balance, cultivating patience and endurance, and watching things fit together for good. No longer. Mind-bending pain had begun to jiggle the wire, and I’d lost sight of God at the far end.”

Tuhan tidak akan membiarkan anak-anakNya menjadi nyaman dengan dunia ini karena ini bukan rumah mereka. Ia akan menggoncangkan sarang-sarang palsu yang nyaman itu untuk mengajarkan bahwa mendapatkan Dia berarti kehilangan segalanya. Tidak ada aman, selain bersamaNya. Tidak ada sukacita, selain di dalam anugerahNya. Tidak ada yang berharga selain diriNya. Hanya lewat perspektif kekekalanlah kita akan mengerti betapa Tuhan yang “tidak aman” ini sesungguhnya telah mengamankan perjalanan kita hingga nanti tiba di surga. Mencelikkan mata tentang apa yang sesungguhnya berharga.

Jika matamu telah terbuka maka kau akan mengerti hidup ini bukan seperti dalam putaran roda. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Saat kau rasa di bawah mungkin sekali kau justru tengah dengan luar biasa dibentukNya sehingga semakin menyerupai AnakNya. Kalau begitu, ini bukan lagi urusan hidup enak-susah karena bukan itu tujuannya, bukan itu yang jadi fokus hidupmu. Melainkan mendapatkanNya, dipuaskan hanya karena Dia dan hidup bagiNya. We’re not safe in this world and it is okay because we’re always safe in Him as He has already saved us.

Whoops… tak bakal habis aku berkisah tentang the God Joni loves. But this I should be sure of, the God Joni loves is the God who loves me. I can never be confident in my love for Him, but I can always be confident of His love for me. A dream dinner comes true? Hm… I know whom I will invite for the next time. Only one. That is God the Father, God the Son and God the Holy Spirit… What a dinner it would be!

Pada tahun 1979 ia mendirikan “Joni and Friends” yang melayani orang-orang cacat dan keluarga atau teman-temannya. Pada tahun 2002 mereka telah melayani lebih dari 500 keluarga orang-orang cacat melalui 9 Retret Keluarga. Program Wheel for the World mengumpulkan 14.000 kursi roda dari seluruh Amerika yang diperbaiki oleh para tahanan di Lembaga Pemasyarakatan dan dikirimkan ke negara-negara berkembang. Program radio “Joni and Friends” disiarkan oleh 850 pemancar radio dan mendapat penghargaan “Radio Program of the Year” dari National Religious Broadcasters. Pada tahun 1982 ia menikah dengan Ken Tada dan keduanya melayani bersama-sama hingga hari ini.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 23/09/2011, in Pelayanan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: