Rasa Itu Masih Ada

Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku Kobarkan semangatmu, Tunjukkan sportivitasmu,
kuyakin hari ini pasti menang. Siapa bilang rakyat Indonesia sudah tak memiliki rasa Nasionalisme lagi ?. Sepenggal lirik diatas rasanya setidaknya mampu menggeser tudingan itu. Apabila masih ada yang memiliki pendapat seperti itu, sekali tempo datanglah ke Gelora Bung Karno(GBK). Saksikan pertandingan sepak bola saat Kesebelasan Indonesia tampil di lapangan hijau. Ketika berada di dalam Stadion megah yang dibangun saat Indonesia menjadi tuan rumah Pesta olah raga Asia itulah semua yang hadir dapat melihat, merasakan bagaimana tingginya semangat patriotisme rakyat Indonesia. Penonton yang hadir disana tidak peduli yang duduk di Tribun atas, VVIP atau VIP Barat Timur semua bersatu padu mendukung kesebelasannya.

Bulu kuduk ditangan serta merta berdiri ketika Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Semangat menggelora bukan hanya terdengar namun juga terlihat jelas dengan aksi-aksi yang dilakukan penonton. Tanpa memerlukan seorang Dirijen seluruh penonton langsung tancap gas angkat suara. Tak ada komando dari siapapun namun penonton sambil berdiri menyanyikan lagu ciptaan WR Supratman itu dengan lantang. Bahkan bisa jadi malam itu mereka “baru“ menyanyikan lagi lagu kebangsaan.

Gerakan-gerakan indah senantiasa dilakukan serempak dari bangku penonton. Disamping itu lagu-lagu penyemangat juga dilantunkan memecah langit diatas Gelora Senayan. Dan sekali lagi semua dilakukan tanpa komando dari siapapun.

Semangat, kekompakan yang ditunjukkan sayangnya tak jarang dinodai oleh segelintir orang namun itu bukan penghalang. Pihak keamanan seharusnya lebih mampu mencegah terjadinya pelemparan petasan dan kembang api saat pertandingan Indonesia versus Bahrain. Seandainya pengamanan diselenggarakan dengan kualitas sama persis dengan Piala Asia rasanya tak mungkin terjadi kejadian tersebut.

Kembali ke semangat yang menggelora. Siapapun yang hadir pada malam pertandingan Internasional kesebelasan Indonesia mestinya sepakat bahwa Indonesia itu masih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Rakyat tetap mempunyai rasa itu.

Hanya kesebelasan Indonesia saja yang mampu meski sesaat menaikkan tensi nasionalisme dalam sanubari rakyat. Menyaksikan pertandingan sepak bola di Senayan masih menyisakan rasa kebanggan menjadi bagian bangsa ini usai lelah mendengar pola tingkah korup para petinggi negeri yang silih ganti terungkap menunjukkan betapa bobroknya mental pejabat. Kelakuan pejabat korup sepertinya hampir sama dengan penonton yang melempar mercon ke lapangan hijau. Meskipun nama negara jadi pertaruhannya mereka tetap saja melakukan perbuatan keji itu. Apakah itu korupsi maupun pelemparan petasan ke lapangan hijau sepertinya sama saja. Kedua perbuatan tersebut memalukan bangsa beradab ini.

Kembali ke lapangan hijau. Selama hampir 2 jam penonton sudah disuguhi apa arti nasionalisme sesungguhnya. Itu rasanya cukup menjadikan contoh tanpa mempedulikan hasil akhir pertandingan yang diraih. Menang Kalah itu sudah biasa. Takkan selamanya menjadi kebiasaan sebab pemain Indonesia memiliki pemain keduabelas yang senantiasa mendukung kesebelasan garuda kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Rasa Nasionalisme masih ada.
Terbang terus Garudaku engkaulah pemersatu bangsa ini.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 15/09/2011, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: