Persidangan Tikus : Sisi Lain The Power Of Action

Sebuah ilustrasi ini cukup menggambarkan bagaimana setiap manusia pun seringkali memilih untuk melakukan hal yang sama seperti dibuat oleh tikus-tikus itu. Cerita ini saya peroleh dari seorang atasan yang telah pensiun dini sewaktu kami berdiskusi atas belum turunnya sebuah keputusan yang seyogianya segera dikeluarkan.

Alkisah diceriterakan waktu itu hewan tikus banyak sekali yang telah menjadi korban keganasan Kucing. Mereka diburu, diterkam dijadikan makanan oleh para kucing. Banyak sekali tikus-tikus yang mati sia-sia karena ketidakberdayaan mereka menghindari buasnya kucing-kucing yang saban hari menerkamnya. Kondisi ini lambat laun membuat gerombolan tikus yang masih hidup berusaha mencari jalan keluar akan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah mengadakan sebuah Konfrensi atau Pertemuan tikus. Tujuan diadakan acara itu adalah mencari cara bagaimana agar tidak lagi jatuh korban pada keluarga besar tikus. Setelah diatur sedemikian rupa akhirnya Konfrensi Tikus itu jadi diselenggarakan.

Pada hari yang ditentukan berkumpullah Tikus-Tikus disebuah tempat yang dirahasiakan guna menghindari bocornya apa yang akan mereka perbincangkan. Mereka khawatir Kucing-Kucing akan mengetahui apa yang didiskusikan oleh gerombolan tikus tersebut.

Saat harinya tiba banyak sekali Tikus-Tikus yang menghadiri pertemuan itu. Para Tikus terlihat sangat serius memperbincangkan permasalah yang sedang mereka hadapi. Usai pemilihan ketua sidang agenda pertemuanpun disusun. Hari itu setidaknya permasalahan pokok Bagaimana Cara Mengurangi Jumlah Kematian Akibat Terkaman Tikus dibicarakan dan mesti diselesaikan. Usulan demi usulan bermunculan pada pertemuan itu. Perdebatan alot pun terjadi saat mendiskusikan sebuah usulan yang dilempar oleh anggota rapat. Sampai akhirnya seekor Tikus betina yang anaknya telah mati diterkam Kucingpun angkat bicara. Dia mengusulkan sebuah cara yang paling ampuh yakni mengalungkan Kalung Bergemerincing pada leher kucing. Si Ibu Tikus ini pun menyampaikan alasan yang cukup kuat. “Jika kita berhasil mengalungkan Kalung itu di Leher Kucing-Kucing itu maka kita semua akan mengetahui akan adanya bahaya yang datang“, begitu ucapnya dengan berapi-api. Peserta Pertemuan yang hadirpun menyetujui usulan itu. Mereka menganggap inilah cara yang paling jitu menghadapi banyaknya korban yang jatuh akibat terkaman Kucing. Ketua Sidang terpilihpun langsung mengetuk palu sidang di mejanya menyatakan usulan tersebut diterima dan disetujui oleh semua peserta Sidang Tikus. Tepuk tangan membahana seantero ruangan. Senyum tawa tangis bahagia campur menjadi satu diruangan itu. Air mata bahagia keluar dari hampir separuh peserta yang hadir. Semua peserta Sidang merasa lega akhirnya solusi atas permasalahan yang dihadapi terpecahkan. Ditengah hiruk pikuknya suasana ruangan sidang yang bergemuruh atas ditemukannya jalan keluar, seekor Tikus yang agaknya sudah berumur lantas berdiri. Ia menggeser tempat duduknya seraya meminta ijin Ketua Sidang untuk angkat bicara. Setelah diijinkan berbicara Sang Tikus berumur ini menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana, “Jalan keluar sudah ditemukan akan tetapi siapakah diantara kita yang bersedia untuk memasang kalung bergemerincing itu ke leher Kucing-Kucing itu?“ Mendengar perkataan itu suasana yang tadinya riuh pun menjadi hening. Satu per satu dari Tikus yang hadir mulai mencari alasan agar tidak ditunjuk menjalankan tugas tersebut. Hingga sidang ditutup tak ada satupun dari Tikus-Tikus yang hadir mengajukan diri untuk menjadi eksekutornya.

Peristiwa ilustrasi Sidang Tikus ini sepertinya juga kerap terjadi dalam kehidupan manusia seperti anda dan saya. Enteng sekali bagi kita mengusulkan sesuatu. Mudah juga buat kita menyetujui usulan yang diajukan. Namun seperti Tikus Tikus yang heroik menyambut usulan terbaik, manakala manusia diperhadapkan kepada sebuah resiko semua tidak ada yang rela melakukannya. Padahal resiko yang akan ditanggung sebenarnya belum tentu juga membahayakan dirinya. Akan tetapi itulah kenyataannya, pengusul boleh saja banyak, pembuat ide lusinan namun pada kenyataannya pelaksana usulan tidaklah sebanyak yang diharapkan bahkan terkadang malah berhenti hanya sampai sebatas usulan saja.

Dalam dunia kerja pun demikian. Ambil contoh saat pengambilan keputusan atas seseorang yang akan diputus kontraknya peserta rapat biasanya akan mengutarakan beribu macam alasan yang mendukung pemutusan tersebut. Namun ketika pimpinan rapat mengatakan atau menunjuk salah seorang sebagai eksekutornya biasanya mereka malah
mengelak.

Bagaimana jika dihubungkan dengan dunia Pelayanan di Gereja ? Sepertinya sama saja. Kalau bukan mengelak karena alasan tak punya waktu atau kesibukan mereka akan mengatakan “Aduh mohon maaf saya sebenarnya rindu melayani namun cari orang lain saja ya sebab saya tak pandai berdoa“. Manusia oh Manusia.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 08/09/2011, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: