Rasakan Goncangan di Pesawat

Bagi sebagian orang peristiwa yang saya alami ini mungkin biasa saja namun buat saya ini merupakan sebuah peristiwa dimana saya begitu mensyukuri bahwa kehidupan ini adalah milikNya, apapun itu bentuknya termasuk nafas kehidupan yang sampai diketiknya tulisan ini masih diijinkan untuk dinikmati.

Hari Jumat 22 Juli 2011 pagi-pagi benar saya bergegas menuju Bandara Sukarno Hatta. Taksi kuning telah siap mengantarkan menuju Cengkareng di depan rumah. Kali ini saya melakukan perjalanan ke Kota Sampit Kalimantan Tengah. Tujuan kepergian saya ke kota yang memiliki sebuah Tugu Perdamaian ini adalah menyelenggarakan kegiatan Team Building. Acara yang dikemas dalam bentuk Dinamika Kelompok ini diikuti 33 orang karyawan Indosat dari Sampit, Pangkalanbun, Muara Teweh dan Palangkaraya. Saat ini yang ingin dibagikan bukan perihal pelaksanaan Team Building namun hal lain yang mengikutinya.

Sedari awal pemesanan tiket oleh Sekretaris Divisi saya mulai mencari tahu dari mesin pencari apa dan bagaimana Kota Sampit terutama sekali mengenai penerbangan kesana. Rupanya dari website maskapai yang saya lihat jadwal penerbangan dari Jakarta ke Sampit setiap hari hanya dilayani satu kali dan itupun oleh sebuah maskapai saja. Pertanyaan selanjutnya yang perlu saya carikan jawabannya adalah jenis pesawat apa yang akan membawa penumpang ke Sampit. Tadinya hasil mesin pencarian menunjukkan sebuah pesawat buatan Perancis namun pencarian berikut memperlihatkan pesawat yang digunakan adalah Boeing 737. Ini cukup melegakan hati.

Setibanya di Bandara Soetta, saya melihat rekan dari Indosat Training & Conference Center (ITCC) Jatiluhur sudah menunggu sambil duduk di trolley. Kami pun masuk area Bandara setelah melalui pemeriksaan untuk check in. Waktu menunjukkan pukul 04.40 WIB saat kami mulai masuk dalam antrean meja chek in.

Terlihat dalam antrean para penumpang yang akan menaiki pesawat menuju Sampit membawa karung-karung yang sepertinya berisi barang dagangan. Oleh sebab itu kami cukup lama juga berdiri dalam antrean chek in.

Setelah urusan chek in selesai saya bersama teman yang membawa alat games dari Jatiluhur langsung menuju ruang tunggu 3C sebelum masuk ke pesawat. Tak seberapa lama menunggu suara seorang perempuan dari pengeras suara meminta para penumpang untuk menuju pesawat yang disiapkan.

Dengan menahan rasa kantuk saya bersama rekan ITCC yang berangkat dari Jatiluhur pukul 02.00 dinihari masuk pesawat melalui pintu belakang karena nomor kursi kami dekat bagian ekor. Awalnya dalam hati saya berpikir pesawatnya cukup besar jauh dibanding yang sempat terpikir. Namun sesampainya di ruang kabin saya mulai berpikir ulang โ€œKok kursinya mepet banget yahโ€œ. Kemudian saya mulai mengamati kabin dan menghitung jumlah kursi. Ternyata hanya sampai angka 22 nomor, jika dikalikan 3 berarti jumlah penumpang bila penuh adalah 66 orang saja. Pesawat tipe Boeing 737 seri 500 ini memang hanya menampung kurang dari seratus orang.

Perjuangan dan doa pun dimulai ketika burung besi ini sudah berada di ketinggian 32 ribu kaki. Penerbangan yang memakan waktu 1 jam 25 menit ini sungguh membawa sebuah pengakuan lagi betapa manusia itu sungguh sama sekali tak memiliki kekuatan apalagi kuasa apapun.

Jika dirunut ke belakang saya baru mulai naik pesawat pertama kali sejak 2003 dengan tujuan Semarang Jawa Tengah. Saat itu saya berangkat bersama seorang manager dan supervisor yang akan melakukan rekrutmen di Kota yang terkenal dengan lumpianya. Entah sudah berapa kali menikmati penerbangan, saya lupa menghitungnya. Namun kali ini ketika menumpang pesawat ke Sampit baru ini kali merasakan kekhawatiran yang agak berlebih. Selama ini bila pesawat menjumpai awan atau angin kencang pesawat hanya sesekali seperti terantuk. Tidak pada penerbangan ke Sampit ini, agak berbeda sebab sepanjang perjalanan di ketinggian 32 ribu kaki itu, goyangan pesawat sangat terasa sekali. Goncangan pesawat sungguh terasa. Dari kaca pesawat di deretan kursi nomor 18 saat angin kencang menghadang pesawat goncangan membuat sayap pesawat pun bergerak naik turun keatas ke bawah begitupun ruang kabin. Pesawat bergoyang kencang ketika akan memasuki kota Sampit. Padahal awan sebenarnya cerah, matahari pagi bersinar menembus kaca penumpang. Pada waktu itu lebih kurang 10 menit angin kencang menerpa pesawat sehingga membuat tanda mengenakan Safety Belt diatas kursi penumpang menyala. Suara seorang pramugari terdengar memberitahukan kepada penumpang bahwa cuaca saat itu kurang baik. Informasi itu membuat beberapa penumpang yang sebelumnya sedang asik bercakap-cakap menghentikan obrolan mereka sambil mengencangkan sabuk pengaman mereka. Tak terdengar lagi suara dalam ruang kabin. Semua diam seribu bahasa. Saya yakin saat itu nama Tuhan sedang dimuliakan oleh seluruh penumpang.

Beberapa waktu selanjutnya lampu tanda melepaskan sabuk pengaman di padamkan. Itu berlangsung sewaktu pesawat sudah mendekati wilayah udara Sampit dekat Bandar udara H. Asan. Ketika pilot mendaratkan pesawat dengan mulus,hembusan nafas penumpang terdengar. Kelegaan melanda hati mereka. Senyuman dan obrolan pun mulai menyeruak menghantarkan mereka menginjakkan kaki di depan ruang kedatangan Bandar Udara H. Asan yang tulisannya terlihat tercetak tebal warna putih digenting bangunan yang berwarna biru.

Itulah pengalaman terbang pertama kali yang buat saya cukup membuat rasa khawatir muncul. Sebagai manusia yang berdosa bisa jadi rasa khawatir bahkan takut itu ada namun berkat perlindungan Tuhan melalui Doa Bapa Kami yang secara sadar terucap dari mulut saya menjadikan semua itu hilang. Diri ini semakin menyadari bahwa Engkaulah Tuhan dan Juruslamat, Yesus Kristus Tuhanku yang hidup serta empunya hidupku.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 25/07/2011, in Office. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Penglaman yang tak terlupakan ya, Bro.. ๐Ÿ™‚ Tapi, memang itulah kalau terbang di wilayah domestik Indonesia, apalagi dengan maskapai selain Garuda. Tidak jarang bikin sport jantung.

    Dengan begitu barangkalai hikmahnya kita bisa lebih menghargai hidup yang kita punya. Tapi, ini bukan berarti maskapai-maskapai boleh mengabaikan keselematan penerbangan lho… ๐Ÿ™‚

    ๐Ÿ™‚ Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. Ya begitulah baru kali ini merasakan goncangan kuat, Menghargai dan memanfaatkan sebaik mungkin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: