Haruskah Dengan Tangan Kiri ?

Hari Rabu 20 Juli 2011 kemarin seperti biasa saya melakukan aktifitas sedari pagi. Bangun tidur, saat teduh sejenak lantas bergegas menyentuh sibur di kamar mandi untuk bermain dengan air ditengah dinginnya cuaca subuh.

Saya pun berangkat ke kantor saat orang terkasih masih terbaring lelap dalam pelukan bantal ”polo” alias guling masing-masing. Sedangkan di kamar belakang tertidur lelas ibu tersayang. Pun demikian saya tetap menyapa seraya pamit meski tahu takkan ada balasan.

Selanjutnya perjalanan kehidupan pun mulai berputar seperti biasanya.

Setiba di Stasiun Sudirman saat pintu kereta terbuka saya pun bersama ratusan orang mulai berpencar menggapai Berkat yang Tuhan telah siapkan buat masing-masing umatNya.

Sebuah pemandangan yang mengganggu hati saya terjadi di moda transportasi lain yang pagi itu saya tumpangi. Bus tiga perempat yang saya naiki telah siap di posisi saat kereta tiba di stasiun. Penumpang kereta yang tadi sudah turun kini berganti menumpang Bus warna oranye ini. Saya masih kebagian tempat duduk di bangku belakang dekat pintu. Duduk di sebelah saya seorang Bapak dengan baju lengan panjang motif garis warna terang. Tas punggung saya lihat diletakkan dipangkuannya. Sambil terus mengarahkan pandangan ke luar ia pun seolah sedang menikmati pagi sekalian pikiran melayang entah kemana. Sewaktu seorang kenek mulai mengulurkan tangan meminta ongkos kepada tiap penumpang terjadilah sebuah peristiwa yang bagi saya tidak begitu baik. Bapak yang duduk bersebelahan dengan saya saat sang kenek menagih ongkos kepadanya, lelaki paruh baya ini memberikan uang dua ribuan menggunakan tangan kirinya. Sontak saya merenung mengapa mesti memakai tangan kiri ketika memberikan uang itu. Apakah saking mulai berumur pria dengan kumis yang jarang ini sudah lupa ajaran orang tua dan kakek neneknya bahwa jika kita memberi atau menerima harus menggunakan tangan kanan kepada siapa saja di dunia ini. Bisa jadi saya masih memakluminya kalau saat memberikan dia dalam posisi yang sulit untuk menggunakan tangan kanannya namun yang terjadi ini kan tidak seperti itu. Dia dalam posisi aman duduk dengan nyaman akan tetapi kenapa harus pakai tangan kirinya. Pikiran saya pun mulai merenungkan apa yang dilakukan Bapak itu. Sambil berharap saya dapat terhindar dari perbuatan seperti itu. Kalau pun terpaksa sebuah kata maaf seyogianya akan di keluarkan dari mulut ini. Sampai turun dari Bus di dekat kantor pun ungkapan syukur terus mengalir kepada Tuhan sebab hari ini Dia sudah memberikan suatu pembelajaran proses kehidupan. Saya juga jadi teringat seorang Jenderal Purnawirawan mantan KASAD, Wismoyo Arismunandar. Pada waktu ia masih berdinas ia tak suka anak buahnya menggunakan Jam Tangan di tangan kiri. Semua perwira dalam jajaran dibawahnya tak diperbolehkan menggunakan jam di tangan kiri. Menurutnya itu suatu hal tabu yang seharusnya dihindari. Masak tangan kiri yang digunakan untuk bebersih diri jika kita ke ”belakang” digunakan pula untuk menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain. Alhasil semua prajurit terutama perwira tidak berani lagi menggunakan Jam tangan di lengan kiri. Semua lengan kanan.

Pelajaran hari kemarin itu membuat diri ini meminta agar Tuhan senantiasa mengingatkan kepada saya akan perbuatan kecil seperti itu. Buat orang lain bisa jadi tak mengapa namun bagi saya itu suatu hal yang selayaknya dihindari.

Sebuah perbuatan kecil seperti memberi atau menerima dengan tangan kiri dan ucapan terima kasih kerap terlupakan oleh kita terhadap perbuatan-perbuatan kecil yang dijumpai dalam kehidupan ini.

Terima kasih Tuhan Engkau sudah memberikan pelajaran berharga buat hidup saya.

Iklan

Posted on 21/07/2011, in ROKER. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: