Cakrawala Mengajarkan Sebuah Makna Kehidupan

Dalam setiap perjalanan hidup seorang manusia kita kerap memperoleh sebuah pelajaran mengenai kehidupan. Meskipun tidak semua insan melakukan. Hanya orang bijaksana saja yang akan senantiasa memetik pelajaran dari pengalaman hidup dirinya sendiri atau orang lain. Seorang manusia mampu mengambil hikmah dari sebuah peristiwa kehidupan yang dialami. Dan kunci dari semua itu adalah Bersyukur. Bersyukur kepada Tuhan karena betapa tak berarti apa-apa kita dihadapanNya.

Hari Selasa 12 Juli 2011 ketika saya berada diketinggian 32 sampai 34 ribu kaki melalui jendela pesawat yang membawa saya ke Pontianak pikiran melayang. Dalam hati betapa kecilnya kita dihadapan Tuhan. Di ketinggian itu saya merasakan bahwa Tuhan itu sungguh luar biasa. Lamunan di kursi 17A tersebut membawa saya untuk merasakan bahwa ciptaan Tuhan itu sungguh luar biasa. Langit biru menghiasi cakrawala. Sekumpulan awan putih bergerombol terlihat dari dalam pesawat. Tak sadar da sebuah pengakuan keluar dari mulut saya secara tak sadar, ”Tuhan Engkau Luar Biasa, CiptaanMu sungguh menawan”. Betapa saya ini adalah bukan siapa-siapa. Seolah saya hanya sebutir awan diantara hamparan awan seluas cakrawala. Pikir saya dalam pikiran yang sedang menerawang sebuah kekeliruan amat besar apabila sebagai manusia ada seseorang yang merasa jumawa, sombong dan kuasa. Tak ada guna sama sekali seorang menyombongkan dirinya dihadapan Tuhan. Hanya orang yang tidak memiliki pikiran yang akan melakukannya. Seperti kata firman Tuhan apalah gunanya seorang memperoleh dunia jika ia kehilangan nyawanya. Penerbangan Jakarta-Pontianak-Jakarta yang saya tumpangi hari itu seolah menyegarkan kembali pikiran betapa saya sebagai manusia ini sama sekali tak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Cakrawala nan luas, hamparan langit biru dihiasi bentuk-bentuk awan bergerombol seolah ingin mengingatkan saya kembali bahwa Tuhan adalah Pencipta. DIA ialah Maha Kuasa. Sekali lagi manusia hanyalah sebutir awan dari hamparan awan seluas cakrawala. Sama sekali tak ada artinya dihadapanNya.

Perasaan seperti ini sebelumnya pernah saya rasakan beberapa tahun silam. Sewaktu masih berada di bangku kuliah saya sering menghabiskan waktu luang dengan melakukan pendakian gunung. Gunung Merbabu di Jawa Tengah adalah Gunung pertama yang saya capai puncaknya. Sepanjang pendakian dari desa terakhir menuju ke puncak saya ibaratkan perjalanan saya dalam dunia ini. Pada waktu berada di puncak itulah perasaan saya sungguh luar biasa. Berdiri di ketinggian 3200 meter diatas permukaan laut merupakan pengalaman tersendiri. Ungkapan syukur terucap ketika kedua kaki menginjakkan puncak atas nikmat yang diberikan Tuhan sungguh membuat hidup ini semakin berarti.

Diantara beberapa gunung yang pernah saya daki Gunung Merapi, Gunung Sumbing dan Gunung Lawu adalah gunung-gunung favorit bagi saya bila melakukan pendakian. Sewaktu berada di lokasi Pasar Bubrah sebelum mencapai puncak Merapi sambil melepas lelah saya masih ingat bagaimana ditengah kelelahan menerpa saya masih mampu mengucap syukur. Sebuah pengalaman mengasikkan yang menjadi kesukaan ketika mendaki adalah menyaksikan Matahari terbit dari atas gunung Merapi. Pada ketinggian sekitar 2900an langit terlihat memerah adem menyelimuti seluruh cakrawala diufuk Timur. Langit seolah ingin menyambut sang Matahari yang akan menyinari hari itu dengan sinar penerangnya. Di momen seperti itu sambil duduk menatap kearah munculnya pemandangan luar biasa di atas gunung, sebuah ungkapan syukur pun meluncur keluar dari hati melalui mulut saya. Ditengah hembusan angin pegunungan yang sepoi-sepoi seolah membisikkan kalimat bijaksana kepada saya. Saya pun lantas menyapanya, Tuhan ciptaanMu sungguh luar biasa. Pengakuan akan kebesaran Tuhan pada waktu itu tidak akan berhenti hingga disana. Bagi saya Langit sudah mengajarkan sebuah makna kehidupan yang paling dalam. Cakrawala telah menunjukkan betapa kebesaran Tuhan sungguh luar biasa.

Saya menutup ketikan ini dari sebuah lagu yang dinyanyikan seorang hamba Tuhan. Andaikata semua laut adalah Tinta, Andaikata semua langit jadi kertas, andaikata aku seorang pujangga akan kutuliskan perasaan hati ini akan sebuah pengakuan bahwa Tuhan Itu Maha Besar dan Maha Kuasa. KasihNya sungguh luar biasa membuat manusia seperti saya menikmati seluruh ciptaanNya. Praise The Lord !

Iklan

Posted on 13/07/2011, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: