Nenek Tua Tanpa Karcis

Hari ini Rabu 6 Juli 2011 saya berangkat pagi sekali. Salah satu alasan mengapa saya pergi ke kantor lebih pagi karena pada malam nanti akan melayani. Isteri dan anak masih terlelap saat pintu gerbang rumah dibuka. Lampu kamar juga masih tetap menyala. Jalan depan rumah terlihat masih basah akibat hujan semalaman. Genangan air masih terlihat dibagian jalan yang berlubang. Saya bergegas meninggalkan rumah menuju Stasiun Depok. Rangkaian gerbong kereta belum tersedia pada waktu saya tiba disana.

Sambil menunggu kedatangan kereta yang akan mengantarkan saya, sebuah surat kabar harian menjadi sarapan pagi. Beberapa saat kemudian kereta pun merapat di sepur 2. Penumpang berebutan masuk gerbong supaya memperoleh tempat duduk. Saya pun memasuki gerbong menuju tempat favorit di dekat sambungan gerbong satu dengan gerbong 2. Meskipun mesti berdiri namun saya merasa nyaman sebab tubuh dapat disandarkan sepanjang perjalanan.

Ketika kereta mulai bergerak meninggalkan Stasiun Pondok Cina teriakan seorang Satpam Gerbong wanita menarik perhatian saya. “Selamat Pagi, mohon maaf perlihatkan karcis anda” begitu ucapnya memulai pengecekan karcis. Saat tiba di seorang ibu tua yang duduk di bangku prioritas terjadilah sebuah percakapan. Petugas Satpam yang sedang meminta karcis malah diinfokan oleh ibu dengan jilbab warna biru muda bahwa ia ingin menumpang ke Tanah Abang. Terlihat petugas satpam gerbong wanita itu agak terkejut mendengar permohonan ibu tua tersebut. ”Saya gak punya tiket, saya numpang ke Tanah Abang”, begitu ucapnya ke Satpam wanita dengan suara pelan hampir memelas. Saya yang sedang berdiri sekitar 2 langkah dari deretan kursi prioritas mendengar percakapan keduanya.

Dalam hati saya bila petugas satpam itu memberikan sanksi buat ibu tua dengan baju gamis warna biru muda saya akan turun tangan. Tiket suplisi yang mesti dikenakan kepadanya akan saya tanggung. Itu niat saya saat mendengar kesulitan nenek itu yang sedang dialami. Untungnya apa yang direncanakan itu tidak terwujud. Sang Satpam wanita itu tetap melanjutkan pemeriksaan karcis ke arah pintu masinis. Rupanya ia tak tega mengenakan sanksi buat Ibu tua itu. Setelah koordinasi dengan rekan Satpam Pria mereka memutuskan untuk tak memberikan sanksi pembayaran denda.

Keputusan yang diambil oleh perempuan penjaga Satpam adalah sangat bijaksana. Orang tua renta itu hingga stasiun akhir sama sekali tak dikutip alias gratis Tepat sekali langkah yang diambil. Semoga ketepatan dalam pengambilan keputusan seperti itu terus dijaga. Kiranya Tuhan yang Maha Kuasa akan senantiasa memberikan Berkat kepada Rusmadianti, Satpam wanita sebuah BUJPP/Perusahaan Penyedia Pengamanan atas apa yang sudah diberikan kepada nenek tua renta pada hari ini. Malaikat Tuhan pasti mencatat kebaikanmu dalam buku kehidupan miliknya.

Semoga di dunia ini masih banyak Rusmadianti lain yang mau melakukan seperti yang pagi ini saya saksikan dilakukan olehnya terhadap seorang nenek tua tak berkarcis. Terima kasih Tuhan atas pengalaman hari ini.

Iklan

Posted on 06/07/2011, in ROKER. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. amieen om will,

    semoga makin banyak insan-insan yang mempunyai hati seperti petugas Rusmadiati tersebut, gak sekedar berdalih atas dasar peraturan, namun juga ada kebijaksanaan.

    semoga sila ke 5 Pancasila dan pasal 33 ayat 3 UUD 45 menjadi kenyataan yg mewujud….

  2. Amin Mas Catur…semoga nilai2 yg dikandung Pancasila tdk hanya sekedar slogan tp dpt diaplikasikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: