Hidup Bagaikan Angin : Selamat Jalan Bung Carel Hunila

Lelaki yang satu ini tongkrongannya gagah. Rasanya tak sulit untuk mengenali dia. Postur badan tinggi, kumisnya tebal melintang. Belum lagi penampilannya yang selalu rapi, necis. Awalnya mungkin buat sebagian orang ada rasa segan juga sedikit seram apalagi bila melihat kumis hitam nan tebal. Pokoknya setiap orang yang jumpa dengan beliau pasti membawa kesan lain. Namun sebetulnya perangainya ramah jika kita sudah mengenalnya. Dialah Penatua Carel Hunila. Ia adalah salah seorang Majelis di GPIB Pancaran Kasih Depok – Bagian Jemaat Sinar Kasih ini. Hari Sabtu 18 Juni 2011 saya dan istri beserta anggota Ikatan Perkumpulan Orang Maluku Kota Depok masih “bakudapa“ dengannya di rumah salah seorang anggota. Ketika itu ia turut hadir sebagai pengurus dalam ibadah bulanan perkumpulan. Keadaannya sehat tak terlihat secara klinis sakit. Akan tetapi sebuah sms pada hari Selasa dinihari membuat pandangan tadi berubah. Pesan pendek yang masuk di ponsel saya memberi informasi bahwa lelaki asal Ambon dengan kumis tebal itu saat itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Pria yang tinggal di Perumahan Pabuaran Indah bersama istri dan anaknya, dilarikan ke RSPAD karena terjatuh dikantor pada Selasa sore. OMG, saking terkejut istri saya pun terbangun. Ia juga terkejut saat diberitahu bahwa rekan sepelayanan Bung Carel sedang dirawat di ICU. ”Kok bisa pa kok bisa kan baru kemarin ketemu di ibadah Maluku” kata mamanya Obama. Ya begitulah kata saya. Pesan pendek yang diterima itu saya teruskan kepada seluruh anggota Majelis.

Fajar pun merekah. Keramaian lalu lalang kendaraan disahuti pedagang keliling menyambut saya bangkit dari tidur. Setelah berkemas sayapun berangkat ke kantor seperti biasanya. Dalam hati sudah diniatkan saat istirahat pada hari Selasa 21 Juni 2011 saya akan membesuk rekan sepelayanan yang sedang dirawat itu.

Sewaktu saya sedang menikmati sarapan di meja kerja, sebuah panggilan telepon diterima. Saya biasanya tak serta merta mengangkat panggilan apabila nomor yang muncul tak memperlihatkan sebuah nama. Entah mengapa saat itu saya dengan ringan tangan mau mengangkat panggilan tersebut. Rupanya dari seberang terdengar suara Pak Kahimpong, salah seorang Majelis senior yang tinggal bertetangga dengan Bung Carel. Dia menginformasikan bahwa baru saja ia bersama istri Bung Carel membesuk ke Rumah Sakit. Ia juga menjelaskan sedikit tentang kondisi yang sedang dialami termasuk kesempatan menengok hampir saja tak diijinkan oleh para suster diruang rawat unit stroke lantai 3.

Tepat tengah hari dengan menumpang sebuah ojek langganan, saya pun meluncur menuju rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari kantor. Sesampainya di Unit Stroke Lantai 3, terlihat Ibu Martha Hunila,pak Lukas, bung Valen, dan pak Lekatompessy sedang berdiri di depan ruang pengamatan mendengarkan penjelasan dokter yang merawat. Saya pun menghampiri sambil menyalami mereka. Tak menyiayiakan waktu lantas masuk ke ruangan, terlihat bung Carel tergolek di bangsal paling kiri dengan mesin, selang, peralatan pernafasan, alat monitor jantung dan lain-lain terpasang di hampir seantero bagian tubuh yang terlihat. Kain putih menyelimuti badannya ditengah dengkurannya. Berdiri disampingnya, saya berdoa. Kata amin diucapkan, pundak kanan tubuh Bung Carel yang terlihat bertato saya tepuk seolah menyapa “Bung, beta datang, cepat sembuh ho”.

Keluar ruangan saya berbincang-bincang dengan Bung Valen. Ceritera bagaimana sebagai manusia kita semua hanya bisa berharap. Hanya mukjijat melalui doa saja yang mampu melepaskan Bung Carel dari keadaannya saat ini. Itu pendapat kami berdua sebab pagi tadi beliau sempat muntah mengeluarkan darah. Belum lagi suara dengkurannya. Sampai kira-kira jam dua siang, saya pamit. Kebetulan ada serombongan keluarga datang.

Jam kantor sudah usai. Saya pulang dengan menumpang kereta ekspres yang takkan lagi ekspress mulai 2 Juli 2011 mendatang. Tiba di rumah langsung bermain dengan putra terkasih hingga sekitar pukul 9 malam sebuah panggilan telepon masuk. Suara seorang wanita dari seberang dengan lemah mengatakan Bung Carel sudah pergi.

Ooh Tuhan, mengapa semua itu terjadi begitu cepat. Hari Sabtu baru jumpa, pada hari Selasa ketemu dalam keadaan tak sadarkan diri kini di malam hari Rabu situasi sudah berubah lagi. Kira-Kira Selasa 21 Juni 2011 pukul 20.20 sehari sebelum Hari Ulang Tahun Jakarta ke 484 Bung Carel telah Kau muliakan di sorga.

Wuih hidup ini sungguh bagaikan angin. Suatu saat dapat dirasakan namun di lain kesempatan sama sekali tak terasa. Betapa hidup ini bagaikan angin. Kadang ia berhembus dengan tenang menyejukkan akan tetapi kerap angin juga bertiup dengan kencang hingga menerbangkan segala sesuatu. Buusshh, lenyap ditelan alam semesta.

Selamat Jalan Bung Carel ! Senang melayani Tuhan bersamamu.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 22/06/2011, in Pelayanan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Mrs yanti Nikijuluw

    So sweet bung….kami pun sekeluarga merasakan bahwa rasanya baru kemarin baku dapa dengan bung Carel….tapi satu hal yang membuat kami tetap percaya “rancangan Tuhan lebih indah dari rancanganku “….Selamat jalan bung Carel……Mazmur 27 : 4 (Satu hal telah kuminta kepada Tuhan itulah yang kuingini diam di dalam rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya )….Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: