Pendeta Tentara Di Team Susi


Seorang Pendeta ikutan Perang ? Mana ada sih ? Boleh percaya boleh juga tidak. Pastinya almarhum papa pada tahun 1975 menjadi pendeta tentara pertama dan mungkin satu-satunya yang ikut turut perang pertama kali bertempur di tanah Timor. Perang dalam arti yang sebenar-benarnya, menyandang AK 47, bawa granat dan magasen di tubuh. Ikut bergerilya jauh di medan musuh.

Semua diawali adanya surat Perintah Komandan Grup 1 Nomor Prin/133/X/1974 yang di tanda tangani oleh WS Komandan Grup 1 Komando Pasukan Sandhi Yudha, Mayor S. Panjaitan. Isi surat dengan jelas memerintahkan Lettu F.S Katipana dan Capa Suwarso untuk segera bergabung dengan Karsa Yudha “Siaga“ yang sewaktu-waktu dapat diberangkatkan untuk melaksanakan tugas khusus. Perintah yang dikeluarkan di Jakarta tanggal 22 Oktober 1974 itu membuat almarhum papa menjadi satu-satunya Pendeta yang diperintahkan ikut berperang dengan sebuah pasukan khusus. Papa sebenarnya bertugas di Grup 1 akan tetapi dengan adanya surat Perintah Komandan ini ia dibebas tugaskan dari Grup 1 lantas bergabung dengan Grup 4. Almarhum papa selanjutnya bertugas bersama 99 orang prajurit pilihan lain pada sebuah gugus tugas khusus. Sepasukan prajurit ini kemudian dikenal dengan sebutan Team SUSI. Setelah melakukan berbagai persiapan dan latihan dengan sempurna maka mulai tanggal 29 April 1975 hingga 9 Nopember 1975 pasukan Baret Merah ini diberangkatkan ke Timor Portugis dengan tugas menjadi sukarelawan mempertahankan kantong-kantong gerilya yang masih dikuasai oleh Apodeti sehingga dalam forum PBB suaranya masih didengar untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Pasukan ini masuk ke wilayah Timor Portugis melalui Atambua, kota perbatasan, dengan berjalan kaki.

Berbekal senjata AK 47, granat dan Rocket Launcher atau RL, 100 orang prajurit dibawah pimpinan Kapten Yunus Yospiah berangkat ke Timor Portugis dengan menyandang nama samaran. Almarhum ayah saya pun tidak ketinggalan ikut pula memperoleh sebuah nama samaran yakni Josep Fernandes alias Ama Josep.

Selama melaksanakan tugas di daerah Timor Portugis Team SUSI kerap dijuluki The BLUE JEANS SOLDIERS. Ke-100 orang prajurit yang tergabung di dalamnya senantiasa menggunakan pakaian sipil berupa kemeja, kaos berikut celana jins dalam setiap aksinya. Alas kaki juga sekenanya, sendal atau sepatu biasa. Para prajurit berpakaian seperti itu mengingat mereka adalah “sukarelawan bukan tentara“.

Team SUSI merupakan gugus tugas khusus Pra Seroja di daerah Timor Portugis dengan nama lain Nanggala 2. Mereka mempersiapkan dan membantu sukarelawan dari Partai Apodeti, UDT, KOTA dan Partai Trabalista yang ingin menggabungkan diri dengan Indonesia. Selain Team ini Kopassanda juga mengirim Team TUTI dan Team UMI yang dikomandani oleh Kapten Tarub dan Kapten Sofian Effendi. Menurut ceritera papa seingat saya dari 100 orang yang berangkat, 1 orang anggota gugur sedangkan 1 orang lagi hilang tak diketemukan jenazahnya. Almarhum papa sendiripun saat itu mengawal sekitar 5 ribuan pengungsi. Ia juga membawa seorang rekannya yang terkena tembakan di bagian paha dan jari tengah di sebuah daerah ketinggian sewaktu sedang mengganti magazen pada sebuah pertempuran. Ia menggotong rekannya itu bersama beberapa orang TBO atau Tenaga Bantuan Operasi dari daerah Timor Portugis menuju Timor Indonesia.

Tugas yang dilakukan almarhum adalah menyaru sebagai Mandor Ukur Jalan dengan identitas Sukarelawan. Dia memiliki tugas penggalangan atau Operasi Sandha dan pembinaan mental spritual dengan mental idiologi di desa-desa perbatasan dan garis depan di dalam daerah musuh dengan Bahasa Tetun.

Pendeta juga bergerilya. Itu terbukti dengan adanya radio gram kepada empat orang anggota Nanggala 2 salah satunya almarhum papa. Melalui radiogram itu ia diminta bersama seorang rekannya dengan sebutan Gradus Kafe berangkat ke Kewar pada 28 Agustus 1975 dengan membawa perlengkapan perorangan untuk gerakan serta logistik bulan Agustus dan September.

Suatu peristiwa, almarhum papa menceriterakan pernah beliau menyembuhkan seorang wanita yang sakit dengan menggunakan air putih. Ceriteranya pada saat melakukan penggalangan ia diinformasikan oleh rekannya bahwa ada seorang wanita yang sakit. Ia minta diberikan pengobatan. Rekan almarhum papa itu adalah prajurit Kesehatan. Saat wanita itu berobat papa bertugas mendoakan alat suntik yang sudah diisi air putih namun diyakini sebagai obat oleh wanita itu. Seusai mengajak perempuan paruh baya itu berdoa, rekan papa yang prajurit kesehatan lantas menyuntikkan obat melalui jarum suntik berisi air putih itu ke tubuhnya. Kenapa hanya diberi air putih sebab pasukan tak membawa obat untuk sakit wanita tersebut. Saking percayanya alhasil 3 hari kemudian perempuan itu datang lagi seraya mengucapkan terima kasih atas bantuan papa dan rekannya.

Belum lagi ceritera bagaimana pada sebuah kesempatan usai gerakan (baca : pertempuran), sekelompok anggota Team Susi memojokkan sepasukan Tropas, tentara Portugis hingga mereka lari bersembunyi di sebuah gereja. Waktu itulah Komandan memanggil almarhum seraya memerintahkan agar papa menembakkan RL ke gereja yang dijadikan tempat persembunyian musuh. Katanya papa belum pernah di medan tempur sesungguhnya beraksi dengan RL. Mau tidak mau karena sebuah perintah akhirnya almarhum papapun berlutut berdoa mohon pengampunan lebih dahulu. Selepas amin,dia pun mengambil Rocket Launcher dan plung, roket menghantam gereja hingga rata dengan tanah. Semua Tropas, musuh mati. Peristiwa penembakan RL ini saya dengar bukan hanya saya dengar dari papa akan tetapi juga dari rekan papa yang bersama-sama satu Team. Luar Biasa pendeta disuruh menembakkan Rocket Launcher.

Satu kisah lain yang pernah diceriterakan beliau kepada anak-anaknya. Bagaimana suatu hari sepasukan Nanggala 2 terlambat kembali ke pos. Hari terlanjur siang, matahari sudah terbit. Para prajurit diperintahkan oleh Komandan Karsa Yudha untuk istirahat seraya membuat lingkaran tanpa ada gerakan apapun. Setiap anggota bertanggung jawab terhadap area dalam pandangannya. Bila ada terlihat manusia semua mesti diselesaikan tanpa suara letusan senjata. Itu dilakukan sepanjang pagi hari hingga sore matahari terbenam guna menghindari terlihat oleh musuh dan mata-matanya.

Foto almarhum bersama Komandan Nanggala 2 dan sebagian rekan anggota TEAM SUSI dengan pakaian sipil bercelana blue jeans dengan sendal jepit seusai pertempuran perebutan sebuah pertahanan musuh. Benteng Balibo menjadi saksi keberadaan seorang pendeta di medan pertempuran. Di tempat ini pula Deklarasi Balibo dinyatakan sebagai tandingan pernyataan kemerdekaan sepihak yang dilakukan Fretilin. Usai merebut Balibo Team SUSI berangkat menuju Atsabe dimana disana terdapat Markas sepasukan Kavaleri Portugis bermarkas.

Itulah kisah seorang Pendeta Tentara pada sebuah Pasukan Khusus Baret Merah. Kayaknya tak kan pernah ada lagi seorang pendeta yang memanggul AK 47 dimedan perang seperti ayah saya. Dan saya bangga memiliki papa seperti beliau meskipun sebuah gereja mesti dirobohkannya demi keselamatan dan keberhasilan tugas kelompok Nanggala 2.

Posted on 21/06/2011, in Keluarga and tagged . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. mochamad muchlis bobo

    hebat,sosok prajurit sejati,begitu inspiratif,saya yakin papa anda sedang bahagia di surga..

  2. Benhard boimau

    gread story………..

  3. Agung Surono

    Mohon izin untuk mengambil keterangan untuk melengkapi data-data saya yang sedang saya kumpul;kan tentang Kopassus ini Omwil.
    Agung Surono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: