Pelopor Lari Tanpa Sepatu di Kopassus

Sepanjang periode 1970 hingga 1988 tak dapat dipungkiri di lingkungan Baret Merah hanya ada satu panggilan unik untuk seseorang. Panggilan khas untuk almarhum papa mulai dari Cijantung hingga Taman Serang Banten tak ada duanya. PAITUA itulah panggilan khas untuk almarhum papa. Beliau diberi julukan seperti itu karena ia memang paling tua di lingkungan Kopassandha pada saat itu. Kehadirannya di setiap kegiatan kesatuan sungguh terasa meskipun ia seorang rohaniawan. Sekali peristiwa ketika saya sedang di bonceng almarhum papa melewati barak bujangan di Cijantung, sekumpulan prajurit yang sedang beristirahat di teras barak serta merta berteriak HOSS untuk menyapa beliau. Dan ia pun membalas dengan HOSS. Sepintas saya tak mengerti namun setelah beberapa kali menjumpai hal serupa saya baru ngeh bila panggilan itu rupanya khas sapaan di olah raga bela diri Karate.

Sebagai bagian dari seorang Prajurit di pasukan Komando biarpun almarhum adalah Rohaniawan namun apapun kegiatan di kesatuan beliau mesti turut apalagi bila perintah telah diterimanya. Mulai dari kegiatan ORAUM atau Olah Raga Umum dan ORAMIL alias Olah Raga Militer hingga Latihan-Latihan Kemiliteran seperti di Ciampea Bogor, Gunung Karang Serang dan lokasi lain serta Terjun Penyegaran yang pernah dilakukan di Lapangan Gorda Banten mesti dijalani pula. Itu belum termasuk perintah untuk berangkat tugas operasi di Timor Timur di tahun 1975 bergabung dengan Team Susi atau Nanggala 2. Namun dalam kesempatan ini saya hanya fokus pada kegiatan Oraum.

Setiap pagi sehabis apel yang namanya lari pagi sudah merupakan makanan sehari-hari bagi setiap Prajurit Grup 1 Kopassandha (kini Kopassus). Itu sepertinya adalah kegiatan wajib yang mesti di lahap oleh para prajurit tanpa kecuali. Sewaktu masih di Cijantung prajurit Kopassandha akan berlari dari Markas Grup 1 menuju ke Lapangan Bola Caprina (kini Taman Bermain RA Fadilah) samping Bioskop Caprina (kini Graha Cijantung) berputar kembali ke Markas. Sesekali terlihat almarhum papa berlari paling depan sambil membawa sebuah tongkat panjang dengan lambang kesatuan diujungnya.

Sewaktu terjadi perpindahan pasukan dari Cijantung ke Serang Banten pada bulan Agustus 1981 kegiatan yang dilakukan di Cijantung tetap terus dilakukan di Markas Grup 1 Kopassus. Papa yang saat itu menjabat sebagai Perwira Rohani Protestan tak ketinggalan mengikuti setiap kegiatan di kesatuan. Olah raga lari terus berlangsung sebagai sebuah pembinaan fisik di lingkungan pasukan Baret Merah. Papa sebagai seorang Prajurit tak ketinggalan juga melaksanakan seperti apa yang dia lakukan di Cijantung. Hal yang menarik untuk diangkat kali ini adalah cara almarhum papa waktu ia melakukan olah raga Lari. Ketika itu papa adalah satu-satunya prajurit Kopassus yang Lari tanpa mengenakan Sepatu PDL alias nyeker. Beliau tak pernah menggunakan alas kaki setiap kali olah raga Lari dilaksanakan. Tak cukup hanya lari di dalam Kesatrian Gatot Subroto almarhum Papa kerap terlihat pula Lari hingga ke Kota Serang terutama pada tiap-tiap hari Olah Raga. Jarak antara Kompleks Kopassus Taman dengan Kota Serang sekitar 15-20 kilo meteran atau bila dengan kendaraan dibutuhkan waktu selama 15 menitan. Ia sering lari dengan titik awal dari Taman menuju ke Pasar Rawu Serang bahkan sesekali ke Karang Hantu. Satu hal yang perlu dicatat almarhum Papa Lari ditengah teriknya matahaari dengan telanjang dada dan tanpa alas kaki alias nyeker. Luar biasa !

Apa yang dilakukan oleh almarhum papa selama melakukan olah raga Lari tanpa sepatu itu seringkali memperoleh kelakaran dari teman-teman Perwira lainnya. Hingga satu saat sempat terlontar dari mereka “Paitua tidak usah dikasih Sepatu, nanti tidak dipakai malah dikirim ke Kampungnya” begitu ungkapnya.

Olah Raga Lari tanpa sepatu yang dilakukan almarhum papa berlangsung hingga ia pensiun pada tahun 1988. Apa yang telah diperlihatkan selama ia dinas di ketentaraan dengan status kependetaannya rupanya diikuti oleh kesatuan. Lari tanpa sepatu yang sebelumnya memperoleh olokan dari rekan perwira papa akhirnya sesekali diikuti pula oleh para Prajurit Kopassus yang masih aktif di tahun 1988-1989.

Entah hingga berapa lama program Lari tanpa Sepatu waktu itu dijalankan saya tak mengetahui secara persisnya. Pastinya aksi almarhum papa pernah ditiru. Bukan soal apakah tetap dipakai atau tidak namun itu lebih dari cukup untuk membanggakan kami yang menjadi anak-cucunya. Boleh jadi ialah pelopor Lari Tanpa Sepatu di Kopassus pada masanya.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 17/06/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: