Semir dan Braso

Semir dan Braso. Diantara kita apakah ada yang tak mengetahui barang apa itu ? Apa kegunaan dan bagaimana cara pakainya ? Semoga saja tidak !.

Semir dan Braso adalah 2 buah benda yang cukup akrab bagi kehidupan keprajuritan terutama pada masa lalu. Di Cijantung setiap malam tak ketinggalan salah seorang anak-anak almarhum papa terutama abang-abang saya yang telah duduk dibangku SMP atau SMA pasti diserahi tugas untuk menyemir sepatu dan kopel riem miliknya. Almarhum papa akan mensupervisi kegiatan penyemiran yang dilakukan oleh anak-anaknya. Sebelumnya beliau sudah mengajarkan terlebih dahulu bagaimana cara menyemir yang baik. Ia memberikan contoh mulai dari cara yang sederhana hingga menggunakan lilin agar memperoleh hasil yang sempurna. Alat bantu penyemiran seperti Sikat Sepatu, Sikat Gigi, Kain Gombal, Korek Api, Koran Bekas dan Lilin. Semua tersimpan dengan semir yang bergambar seekor binatang khas benua Australia. Peralatan itu rapi tersedia dalam sebuah kotak besi warna hijau dengan tulisan warna kuning merupakan bekas tempat menyimpan peluru. Jika belum bisa berkaca di sepatu maka jangan heran kalau akan diminta mengulangi lagi. Pokoknya mesti mengkilap. Lalat pun kalau hinggap bila perlu sampai tergelincir. Selain menyemir sepatu dan kopel riem, perlengkapan almarhum papa yang mesti disiapkan adalah Emblem pada Baret, Tanda Pangkat, dan Wing Para yang akan digunakan bersama pakaian dinasnya. Perlengkapan yang disebut belakangan karena bahannya dari Kuningan maka tugas anak-anak Almarhum papa adalah mengkilapkan benda-benda itu dengan sebuah botol kaleng berisi cairan pengkilap merk Braso. Mulai dari kakak nomor 2 sampai ke saya termasuk beberapa ponakan yang tinggal di rumah tak ada satupun yang tidak pernah merasakan menyemir sepatu dan kopel riem serta perlengkapan dinas milik almarhum papa.

Sambil ditemani siaran televisi dari satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu, penyemiran dan pengkilapan semua perlengkapan dinas almarhum papa dilakukan sesudah santap makan malam.

Ada satu hal fenomenal yang pernah dilakukan almarhum Papa saya yaitu menyemir Ban Mobil. Pada waktu itu hanya seseorang dengan jabatan Komandan yang Ban Mobilnya disemir oleh anak buahnya. Itupun hanya Ban Serepnya saja. Tidak demikian dengan almarhum Papa, ia pun dengan senang hati menyemir kelima Ban mobil Utility, kendaraan inventaris yang diberikan kepadanya (Mobil ini merupakan peninggalan Perang Vietnam dengan stir di kiri). Meski menghabiskan semir hitam cukup banyak setiap bulannya hanya untuk Ban Mobil ia tetap melakukannya, prinsipnya mobil harus bersih ketika berada di garasi apalagi bila hendak bepergian. Senantiasa menginginkan kelima ban bagian luarnya disemir. Alhasil tak hanya Ban serep keempat Ban lain juga disemir.

Suatu hari pernah seorang Komandan menanyakan kepada ajudannya saat ia melintas di depan Mobil Utility yang digunakan almarhum Papa. Beliau menanyakan siapa pemilik kendaraan itu sebab diantara mobil sejenis hanya ada satu mobil dengan Ban Serep Mengkilap menyala yang menyamai kilapan mobil Komandan. Tak sulit memang membedakan mana mobil utility almarhum papa dengan utility yang digunakan perwira lainnya.

Tugas menyemir sepatu dan mengkilapkan perlengkapan dinas juga membuat saya setidaknya mengetahui jenis perlengkapan apa saja yang digunakan tentara. Saya jadi mengetahui apa itu PDL, PDH, PDU. PDL berarti Pakaian Dinas Lapangan – sepatunya juga dikenal dengan nama PDL. PDH artinya Pakaian Dinas Harian berikut sepatunya dan tentu saja PDU kependekan dari Pakaian Dinas Upacara. Penggunaan ketiganya tentu disesuaikan dengan peruntukkannya belum lagi ditambah Pakaian Dinas Loreng Darah Mengalir Khas RPKAD atau Kopassandha (kini Kopassus) sejak dahulu kala. Saya juga mengenal istilah lain seperti Ransum T1 atau T2, Bivak, Konsinyir, Uang LP, Beras Porad, Werving, Wearpack, Ponco, Velbed dan masih banyak lagi istilah lainnya.

Melalui Semir dan Braso saya telah memperoleh pelajaran sederhana. Saya menjadi tahu apa ragam Pakaian Dinas Tentara. Hari apa saja mesti pakai PDL Hijau atau PDL Loreng. Kapan harus mengenakan PDU dan sebagainya. Pelajaran berharga diperoleh melalui roster hari pemakaian pakaian dinas. Terlihat bagaimana menata satu keteraturan dalam hidup pada sebuah komunitas.

Seiring dengan perkembangan jaman semua perlengkapan yang terbuat dari kuningan telah berganti bahan pembuatnya sehingga tidak lagi membutuhkan pembrasoan.

Terima Kasih Papa engkau sudah mengajarkan sesuatu yang tak setiap anak akan memperolehnya.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 16/06/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: