Pesolek di Gerbong KRL

Hari Rabu 8 Juni 2011persis di hari ulang tahun almarhum eyang Soeharto mantan Presiden RI ke-2, seperti biasa waktunya bergegas menggapai asa menjemput segenggam harapan. Saya berangkat meninggalkan rumah ketika anak dan isteri serta seorang ponakan yang masih tertidur lelap. Perjalanan dari rumah menuju stasiun tak memerlukan waktu yang lama. Usai membeli tiket saya langsung menuju KRL Depok Ekspress yang akan mengantarkan ke kantor. Gerbong yang biasa saya tumpangi adalah di Gerbong 2. Wajah-wajah tak asing terlihat berada di dalam gerbong ini. Keadaan kereta tak terlalu penuh seperti hari kemarin. Paling tidak masih banyak space kosong untuk berdiri yang cukup lapang. Saya mengambil tempat di dekat tempat duduk prioritas persis di sambungan antara gerbong 1 dan 2. Tas punggung saya letakkan ditempat barang diatas kursi penumpang prioritas.Tampak di sebelah kanan seorang ibu dengan pakaian warna coklat bertuliskan nama salah satu instansi pemerintah di Jakarta. Usianya sekitar 45 tahunan lah. Setelah tas punggung saya letakkan di tempat barang terlihat ibu itu mengeluarkan sebuah cermin dan kotak bedak. Dia pun tanpa ragu mulai memainkan aksinya dandan dihadapan saya dan beberapa orang pria dihadapannya. Duh ini ibu memangnya tak bisa ya kalau melakukannya di rumah saja. Pikir saya dalam hati sepertinya kok semakin aneh saja dunia ini. Tapi rupanya apa yang dilakukan Ibu dengan jilbab coklat itu belum seberapa. Persis di hadapan saya ada seorang perempuan muda lain juga melakukan hal yang sama bahkan lebih dari wanita pegawai pemerintahan tadi. Wanita dengan rok blus terusan warna hitam ini juga berdandan dihadapan puluhan penumpang diantaranya lelaki termasuk saya. Dia tak hanya memakai bedak tapi bibirnya yang pucat pasi dipolesnya dengan lipstik warna merah menyala. Selain itu blush on untuk pipi kiri dan kanan juga dilakukannya. Perempuan dengan sepatu coklat tersebut, saat itu sedang menggunakan Rol Rambut warna hijau muda di bagian muka dahi kepalanya. Ceritera berjalan terus ketika perempuan muda dengan gelang warna perak di kiri dan kanan tangannya sedang asik berdandan masuklah seorang wanita hamil. Ia pun berdiri seraya memberikan tempat kepada penumpang hamil itu. Saya pikir dengan berdiri maka akan diakhiri aksi dandanannya. Dugaan saya ternyata keliru. Posisi berdiri pun rupanya bukan halangan bagi wanita berusia sekitar 25-30 tahunan ini. Ia dengan santai terus berdandan meski sesekali terhuyung akibat goyangan kereta yang sedang meluncur. Untungnya pemolesan lipstik di bibir sudah selesai sewaktu dia masih duduk bila belum bisa runyam kalau dilakukan berdiri terlebih saat kereta bergoyang. Aksi perdandanan ini pun baru selesai pada saat kereta akan memasuki stasiun Gondangdia. Wanita berambut hitam kemerahan ini mengakhiri proses dandannya ditandai dengan mencopot Rol Rambut warna hijau yang sedari tadi terpasang diatas dahinya. Ia menggunakan kaca kereta sebagai cermin. Rambut yang baru saja dilepas kemudian disisirnya. Saya yang berdiri di hadapannya pun hanya geleng kepala lantas segera bersiap turun di stasiun tujuan. Perempuan dengan cincin perak itu turut berdiri di belakang saya antri di depan pintu keluar. Dia rupanya juga akan mengakhiri perjalanannya. Gondangdia adalah stasiun akhirnya.

Sungguh sebuah pemandangan lain yang saya jumpai di kereta hari ini. Dua orang pesolek hadir di Gerbong 2 KRL Depok Ekspress merupakan hal pertama kali yang saya jumpai. Selama ini pemandangan sejenis saya jumpai hanya di dalam mobil pribadi. Sementara suami sedang menyetir sang istri sibuk berdandan disebelahnya. Hari ini peristiwa 2 wanita berdandan di gerbong kereta merupakan hal baru buat saya. Pertanyaannya apakah mereka tak sempat mengambil waktu dandan dirumah ? Apakah sudah tak ada lagi etika di tempat-tempat umum ?. Wah banyak deh pertanyaan muncul di benak saya seputar apa yang dilakukan 2 orang perempuan itu. Pengennya sih mereka kelihatan tampil cantik namun apakah harus dilakukan ditempat umum.

Semoga tidak banyak pesolek di Gerbong Depok Ekspress di kesempatan lain. Jakarta oh Jakarta.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 08/06/2011, in ROKER. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. apakah itu tanda-tanda dicabutnya rasa malu dari hati sebagian manusia om will?
    semoga tidak, dan semoga hanyalah satu bentuk sentilan kecil saja….

  2. Ya mudah2an gak ya meski semakin luntur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: