Pancasila Riwayatmu Kini

Sewaktu duduk dibangku sekolah dasar saya masih ingat sekali bagaimana saat akan pulang setelah selesai mengikuti pelajaran pada hari itu guru kami akan meminta salah seorang murid untuk membaca Pancasila di muka kelas. Pada waktu itu karena dalam satu kelas memiliki 4 baris meja dan tempat duduknya maka jika ada salah satu dari perwakilan barisan maju dan mengucapkan Pancasila didepan kelas, teman-teman kelompok yang duduk bersama pengucap Pancasila diperbolehkan meninggalkan ruangan kelas lebih dahulu. Itu hanya salah satu cara bagaimana pendidikan Pancasila diterapkan bagi para pelajar. Namun sayangnya kini tak lagi banyak dijumpai hal seperti itu. Terlebih lagi beberapa hari lalu informasi mengjutkan disampaikan bahwa Pendidikan Pancasila tidak akan lagi diajarkan atau masuk dalam Kurikulum Pendidikan Nasional. Perbedaan pendapat masih terus berlangsung di berbagai media. Pihak yang pro dan kontra saling menyampaikan argumentasinya. Pokoknya cukup ramai dengan berbagai komentarnya.

Melihat hal seperti ini saya setuju seperti apa yang disampaikan oleh salah seorang dosen Universitas terkemuka di Jakarta yang mengatakan penghapusan pendidikan Pancasila di semua jenjang pendidikan merupakan isu kenegaraan yang sangat serius dan harus segera ditangani. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas menyebutkan 92,5% responden menyatakan perlunya penguatan terhadap idiologi Pancasila pada saat ini. Hanya 5,9 % saja yang menganggap tidak perlu.
Bangsa ini rasanya semakin hari semakin jauh saja dari cita-cita para pendiri bangsa yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Tak heran bila radikalisme semakin subur tumbuh dimana-mana. Itu porsi besar, kita jumpai hal kecil saja dalam kehidupan sehari-hari bagaimana seringkali saya melihat ditengah sesaknya penumpang dalam kereta masih saja ada segelintir penumpang dengan cuek bebeknya mengambil kursi lipatnya kemudian duduk sambil pura-pura tidur. Masih banyak contoh lain termasuk tidak mendahulukan wanita hamil orang tua dan anak anak yang tak kebagian tempat duduk sementara mereka justru pura pura tidur.
Empat pilar bangsa kini satu persatu secara sistematis mulai dilemahkan. Saya masih berharap TNI adalah institusi yang akan tetap memperjuangkan dan mempertahankan pilar-pilar seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika meski secara politik hanya tinggal 1 UU yakni UU No. 27 Tahun 2009 yang menyatakan perlunya sosialisasi keempat pilar bangsa tersebut. Hingga Rabu 11 Mei 2011 sebuah harian terkemuka di Ibukota masih menurunkan berita mengenai Pancasila. Tak usah lagi berdebat apakah nanti akan lebih ditonjolkan sisi edukasi atau indoktrinasi. Kembalikan saja mata pelajaran Pancasila seperti sedia kala sehingga nilai yang terkandung di dalamnya setidaknya dapat menempel dalam pola pikir dan tindak yang memiliki rasa gotong royong, saling hormat menghormati. Jangan sampai jati diri bangsa luntur karena kepentingan kelompok tertentu yang ingin melemahkan Pilar bangsa itu. Celaka 12 bila setelah pengerdilan Pancasila kelompok tersebut merambah kepada 3 pilar lain termasuk Bhineka Tunggal Ika. Kiranya Tuhan memberikan Hikmat bagi para politikus bangsa.

Posted on 10/05/2011, in Umum. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: