Di Balik Kisah Operasi Woyla 1981

Kisah sukses pembebasan sandera penumpang pesawat Garuda ” Woyla” oleh satu team Kopassandha yang dipimpin oleh Letkol Inf. Sintong Pandjaitan pada 31 Maret 1981 di Don Muang Thailand merupakan sebuah peristiwa yang melegenda. Betapa tidak, dunia internasional semua tercengang. Mereka seolah tak percaya bahwa Indonesia, sebuah negara berkembang, tak hanya memiliki namun rupanya mampu melakukan sebuah operasi militer yang ketika itu hanya dapat dilakukan salah satunya oleh Pasukan Komando Israel yang membebaskan sandera pesawat di Lapangan Udara Uganda atau lebih dikenal dengan Operasi Entebbe.

Saya disini selain mengangkat kembali kisah yang disampaikan oleh Bapaknya rekan saya, Rita Tobing, yakni Peltu P.L Tobing atau biasa kami panggil Oom Tobing yang ditulis di sebuah majalah juga rindu menyampaikan ceritera atau peristiwa lain yang mengiringi peristiwa itu.

Sisi lain yang ingin saya bagikan adalah bagaimana situasi Kompleks Kopassus Cijantung sesaat setelah peristiwa pembebasan Sandera berlangsung.

Sebenarnya asal muasal mengapa sampai terjadi peristiwa pembajakan ternyata terbukti adanya keterkaitan antara peristiwa penyerbuan kantor Polisi di Cicendo oleh sekelompok orang yang kemudian dikenal dengan sebutan Kelompok Imron. Saat itu yang diusung oleh para pengikut kelompok ini tak hanya ingin membebaskan anggota kelompoknya yang sedang dalam penjara tetapi lebih dari itu ingin mendirikan negara dengan idiologi tertentu.

Beberapa waktu setelah peristiwa pembebasan sandera terjadi, di perumahan Kopassus Cijantung 1 dan Cijantung 3 kedatangan beberapa tamu tak diundang. Sekali peristiwa sebelum pulang sekolah, Wali Kelas saya pak Sri Sedyatmoko, salah seorang guru SDN Cijantung 04 Petang (kini SDN 03) yang terletak di depan kantor Grup 1 dulu, menyampaikan sebuah informasi yang bisa jadi dititipkan oleh pihak Kopassus. Ia memberikan penjelasan apabila saya dan teman-teman menjumpai seseorang atau sekelompok orang yang menanyakan informasi terkait peristiwa pembajakan hendaknya segera melaporkan kepada ayah kami masing-masing. Pada waktu itu rupanya ada seorang teman dari sekolah lain pernah bertemu dengan seseorang yang menanyakan kediaman Pak Sintong Panjaitan. Karena kebetulan teman saya itu tak mengetahuinya maka dia tidak dapat memberikan informasinya. Padahal rumah pak Sintong saat itu terletak di salah satu rumah di Blok G Jalan Danau Towuti belakang Koperasi Cijantung 3. Beliau rupanya merupakan tokoh yang diincar oleh para kelompok pembajak yang belum tertangkap. Dalih mereka adalah membalaskan dendam kelompoknya.

Dari peristiwa tersebut, anggota Intel Kopassus akhirnya bersama Provost dapat menangkap orang tersebut. Anggota Kelompok Imron tersebut menyamar menjadi seorang tukang abu gosok. Celakanya dalam keranjang yang digotong ia menyembunyikan sepucuk pistol dan sebuah granat. Untungnya segera ditangkap berdasarkan informasi dari teman saya yang menceriterakan pertemuannya dengan penjahat tersebut kepada ayahnya. Itulah ceritera yang berkembang.

Sejak peristiwa tersebut maka mulailah diberlakukan Kartu Pengenal bagi para pedagang yang ingin masuk kedalam Kompleks di Cijantung 3. Disamping itu sekeliling kompleks mulai diberi pagar yang dicat hijau seperti saat ini jika kita melewati kompleks perumahan. Area perimeter di perbatasan Sungai Ciliwung dengan Kompleks juga dibatasi dengan pagar kawat berduri setinggi satu meter lebih. Semua dilakukan demi keamanan Kesatrian Ahmad Yani Kompleks Kopassus Cijantung 3.

Kesuksesan operasi Woyla kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan pasukan Anti Teror pertama di Indonesia yakni, Detasemen 81 atau lebih dikenal dengan Den-81. Komandan Detasemen yang pertama adalah Luhut B Pandjaitan dan Wakil Komandan Prabowo Subianto.

Seiring dengan pergeseran peran TNI, Anti Teror ke Penanggulangan Teror, maka Den-81 Anti Teror berubah perannya menjadi Satuan 81- Penanggulangan Teror alias Sat 81 GULTOR. Peran dan Fungsi Anti Teror kini lebih diberikan kepada Satuan Kepolisian yang santer dengan nama Densus 88 Anti Teror.

Posted on 06/05/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: