Lain Dulu Lain Sekarang : ; Sengsara Dulu Baru Jadi Perdana Menteri

Sebuah pemandangan menarik terjadi kemarin Selasa 22 Maret 2011. Peristiwa yang berlangsung di Istana Merdeka mempertemukan Perdana Menteri Timor Leste dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi sebagian kalangan bisa jadi itu merupakan hal yang tidak terlalu istimewa. Normal saja apabila seorang tamu negara dijamu oleh pemerintah. Namun yang ada dalam pikiran saya ketika melihat hal tersebut terjadi berkaitan erat dengan peristiwa beberapa tahun lalu ketika kedua orang nomor wahid di negerinya kini, masih belum menjadi seorang petinggi negara seperti saat ini. Saya iseng membayangkan dulu saat SBY masih menjadi seorang prajurit ditugaskan di Timor Timur. Semua prajurit paham betul tugas operasi di bekas Propinsi RI Ke-27 itu. Selain menemukan GPK, meraih kembali senjata adalah sebuah keberhasilan. Dalam pelaksanaan operasi menumpas GPK Fretilin waktu itu salah seorang yang menjadi target operasi adalah orang yang pada hari Rabu lalu dijamu olehnya. Pertemuan satu meja antara SBY dengan Xanana menjadi menarik hati sebab bisa dibayangkan bagaimana tempo dulu SBY sebagai seorang prajurit pernah memperoleh penugasan untuk mencari, menangkap bahkan membunuh para GPK bisa jadi termasuk Xanana yang kini duduk semeja dengannya. Atau saya bergumam dalam hati kira-kira apa yang diperbincangkan oleh keduanya saat bertemu. Kalimat apa yang diucapkan oleh keduanya saat mengingat kalau mereka sebelumnya ada pada posisi berseberangan. Musuh dan Kawan. Jangankan bertemu berbincang saja mungkin sudah menjadi masalah. Benar-benar sebuah peristiwa unik buat saya.

Sekedar mengingatkan saja siapa Xanana Gusmao itu. Xanana adalah seorang tokoh Fretilin yang sangat dicari oleh aparat TNI sewaktu Timor Timur bergejolak. Jika mengingat ceritera para prajurit yang bertugas di Timtim Xanana dikenal sebagai seorang tokoh yang kharismatik. Menurut informasi yang diterima pada waktu itu ia adalah seorang pemimpin pejuang kemerdekaan Timtim yang selalu menggunakan kuda putih (salah seorang yang dicari juga saat itu adalah Ramos Horta). Xanana selalu menjadi incaran prajurit TNI setelah pemimpin perjuangan sebelumnya Nicholai Lobato tewas termakan timah panas pasukan TNI. Saat kepemimpinannya berlangsung di Timor Timur aparat TNI selain melaksanakan operasi tempur di hutan juga melaksanakan operasi Intelijen di kota. Hal tersebut perlu dilakukan saat itu mengingat pihak Fretilin mulai mengubah peta perjuangan mereka. Mereka tak lagi berkeliaran dihutan. Keputusan pimpinan TNI mengubah pola operasi telah menghasilkan sebuah keberhasilan. Tim Intelijen Kopassus dibawah pimpinan Mayor Simbolon berhasil menangkap hidup Xanana di kota Dili pada tanggal 20 November 1992. Prestasi penangkapan tokoh Timtim itu menyebabkan tidak kurang dari 22 orang prajurit memperoleh KPLB atau Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Upacara pemberian kenaikan pangkat tersebut diberikan langsung oleh Kasad saat itu Jenderal TNI Edi Sudrajat. Ceritera penangkapan pemilik nama Jose Alexandre Gusmao alias Xanana menurut versi Pak Theo Syafei sebenarnya bermula dari salah seorang penghubung Xanana yang mengambil uang di sebuah Bank yang terkena likuidasi. Ketika itu secara kebetulan ia juga sedang di Bank tersebut. Beliau curiga terhadap seorang mahasiswa yang sedang marah saat mengambil uang di Bank tersebut sebesar 10 juta lebih. Padahal daerah asal pemuda itu adalah desa miskin. Setelah di tangkap dan di interogasi mahasiswa itu terbukti merupakan penghubung Xanana. Usai peristiwa penangkapan itu akhirnya dilakukan rencana operasi oleh Satgas Intel Kopassus. Versi lain yang muncul adalah penangkapan dirinya disebabkan adanya laporan dari seseorang yang biasa dimintai tolong oleh Xanana untuk mencari gadis Porto. Pelapor menginformasikan kepada Satgas Intel sebab dikecewakan oleh pihak Xanana dalam hal penyediaan wanita buat dia. Peristiwa penangkapan ini sempat menjadi headline di beberapa surat kabar. Bak seorang terkenal yang laku menjadi berita sampai-sampai pemerintah sempat menyentil media yang berlebihan meliput peristiwa tertangkapnya Xanana ini.

Tempo dahulu LB Moerdani di depan Raker dengan DPR mengatakan kalau Xanana itu hanya Tikus kenapa diperlakukan seperti Hitler ketika berita penangkapannya tersebar di media. Namun beberapa tahun kemudian Tikus kecil itu menjadi petinggi di Timor Leste dan duduk sejajar dengan petinggi nomor satu di Indonesia.

Luar biasa sekali ! Dunia benar-benar seperti roda. Kadang kita berkesempatan diatas, seringkali pula dibawah. Dulunya musuh kini bersahabat sebagai seorang tetangga. Lain dulu lain sekarang. Tikus sekarang jadi Perdana Menteri.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 23/03/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: