Ketika Tiba Saatnya

Satu persatu teman kerjaku tak kan lagi bersama. Ibarat sedang menumpang sebuah Kapal Laut, mereka akan segera turun dalam perjalanan menuju pulau idaman. Kapal tak dapat sandar di dermaga sebab ombak besar menghantam. Namun sang Kapten Kapal harus tetap menurunkan mereka. Puluhan sekoci yang tersedia dikiri dan kanan badan kapal siap diturunkan untuk membawa para sahabat menuju dermaga kecil di dekat sebuah pulau tujuan. Pelampung warna oranye bertuliskan 3 huruf sudah dikenakan sahabat yang akan turun. Kebutuhan pokok, alat kesehatan dan ilmu kewirausahaan disiapkan sang pemilik kapal. Mereka nantinya tak bersama berlayar mengarungi lautan seram lagi. Tidak seawak dengan rekan lain yang tinggal di kabin, palka atau kamar mesin sekalipun termasuk saya.

Mulai awal April 2011 ini sahabat terkasih mesti melanjutkan pelayarannya menuju pulau lain tempat dimana bidang baru akan digeluti. Banyak diantaranya telah siap menghadapi kondisi seperti saat ini. Beberapa ada pula yang terlihat berusaha tegar menerimanya. Akan tetapi tidak sedikit juga para sahabat yang terlihat bola mata mereka berkaca manakala menceriterakan bagaimana mereka menjadi bagian dari Kapal ini dan akan berakhir di tengah pelayaran seperti saat sekarang ini. Apapun status yang kini telah diperoleh suatu saat pasti ada masa perhentiannya. Tak hanya mereka, sayapun mesti menyiapkan mental menghadapi peristiwa seperti ini pada masa mendatang. Hanya masalah waktu saja. Ada waktu untuk terus berkarya. Ada saat tidak lagi berkiprah dalam dunia kerja. Namun kehidupan kudu tetap terus berjalan.

Modal awal yang sudah diberikan hendaknya dengan bijaksana dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan semua cita karya dan rasa. Itu semua demi masa depan impian yang dirajut sepanjang perjalanan. Terlebih para sahabat memiliki pengalaman lebih dari puluhan tahun dalam berkiprah di dunia kerjaa akan menjadi bekal utama. Tak hanya buat diri sendiri, akan tetapi dipersiapkan pula untuk keluarga besar.

Perpisahan dengan rekan-rekan sudah di depan mata. Bak sebuah syair salah seorang penyanyi era 1980an, Nicky Astria, ,.. usah lagi perpisahan jadi beban dihati,… begitu pula dengan perpisahan kali ini. Saya bersama dengan teman lain masih harus berjuang dalam kapal besar ini. Semua awak mesti bersiap menghadapi gelombang dan badai yang akan menerpa di samudera luas yang akan diarungi. Cuaca di lautan bebas yang senantiasa berubah menjadi sebuah ancaman, tantangan dan hambatan tersendiri. Seraya pikiran dan hati ini bertanya kepada sang Bintang akankah kapal ini akan terus mampu berlayar ?.

Selamat Berkarya para sahabatku. Pulau baru yang menjanjikan akan didiami. Kudoakan kalian sukses selalu, pun demikian dengan diri saya bersama awak lain di kapal ini agar didoakan mampu kembali untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal besar ini menuju Pulau Impian nan bahagia. Tugas menghantarkan sahabat terkasih turun di sebuah pulau telah usai. Sambil berharap Sang Khalik mengijinkan para Sahabat berhasil mengelola potensi di pulau baru itu.

Kunci sukses dari segalanya hanya menyerahkan seluruh kehidupan kepada Tuhan yang Empunya Hidup.

Tuhan Yesus Memberkati !

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 19/03/2011, in Office. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: