Tugas Operasi Tak Merenggut, Penyakit Justru Menjemput

Berat rasanya ketika saya harus meninggalkan Kompleks Kopassus di Cijantung 3 pada bulan Agustus 1981. Saya mesti berpisah dengan teman-teman SDN Cijantung 04 Petang dan teman bermain lain di perumahan. Meski demikian saya termasuk beruntung sebab tidak pindah ke Karianggo Makasar seperti rekan lain yang mesti mengarungi lautan. Kok jauh banget rasanya apalagi tahun segitu transportasi tak selancar sekarang.

Selanjutnya karena Grup 1 Kopassus tempat tugas papa pindah markas maka saya pun ikut pindah. Kali ini saya mesti tinggal di Kesatrian Gatot Subroto Grup 1 Kopassus Taman Serang Banten. Meskipun ada perpindahan namun atmosfir yang terjadi masih tetap sama. Nuansa militeristik senatiasa mewarnai kehidupan saya selama tinggal di kedua Kompleks Militer itu. Tak ada perbedaan sama sekali baik tinggal di Cijantung maupun di Taman. Malahan tinggal di Serang serasa lebih ketat sebab hanya satu Grup yang ada disana. Berbeda dengan Cijantung dimana dalam satu kompleks terdapat sedikitnya 2 kesatuan Baret Merah setingkat Grup. Sebagai contoh pada saat penaikan dan penurunan bendera Merah Putih di Ma Grup pada setiap hari pagi-sore pukul 06.00 dan 18.00. Di Cijantung tidak perlu menghentikan kegiatan yang dilakukan warga Kompleks. Tidak demikian halnya dengan ketentuan di Kompleks Taman. Seluruh kegiatan mesti di hentikan manakala bendera sedang dinaikkan atau diturunkan. Hal tersebut berlaku bagi siapapun yang sedang berada di luar rumah dalam perumahan. Maka dari itu para penghuni biasanya menghindari keluar rumah pada saat kegiatan penaikan dan penurunan bendera berlangsung. Itulah yang dapat diketahui jika membandingkan antara Kesatrian Ahmad Yani di Cijantung dan Kesatriaan Gatot Subroto Taman Serang. Lain lagi apabila kita berbicara atau membandingkan antara Kompleks Militer aktif dengan Perumahan Purnawirawan.

Alangkah perhatiannya pimpinan TNI AD kepada Kopassus sehingga mereka turut pula memikirkan perumahan bagi prajurit yang sudah dan akan pensiun. Kesatuan Baret Merah melalui Asabri melakukan kerja sama dengan perusahaan swasta membangun perumahan bagi Purnawirawan Prajurit Kopassus. Perumahan yang dibangun oleh pebisnis dari Artha Graha itu diperuntukkan pula bagi mereka yang sudah tak lagi masuk formasi organik Kopassus. Ide pembangunan perumahan ini merupakan pelopor bagi pembangunan perumahan TNI AD lainnya.

Pada kurun waktu 1988-1989 ada 3 perumahan yang dibangun di wilayah Sukatani Cimanggis untuk purnawirawan prajurit dari Denma Cijantung, Grup 1, 2, 3 dan 4 Kopassus. Perumahan pertama biasa di sebut Pelita 1 kemudian Pelita 2 dan terakhir perumahan Kedayu. Penamaan perumahan itu tak lagi dikaitkan dengan nilai historis kejuangan. Hanya nama Lapangan Olah raga Pelita 1 saja yang mengambil nama Idjon Janbi nama Indonesia dari RB Visser pendiri RPKAD alias Baret Merah. Pemberian nama perumahan kali ini cukup disambungkan dengan nama pengembang atau developer yang melakukan pembangunan pada masing-masing perumahan itu. Sebagai contoh Perumahan Kedayu itu dibangun oleh pengembang Kedayutama. Adapun type-type yang dibangun mulai tipe 27,36 dan 45 sebanyak penduduk satu Rukun Warga.

Selain beberapa perbedaan seperti yang telah disebutkan diatas, setidaknya terdapat pula hal lain yang membedakan antara sebuah kehidupan di asrama militer aktif dan di perumahan purnawirawan TNI.
Betapa dulu saya dan teman-teman hampir tiap Minggu mendengar berita gugurnya kusuma bangsa. Kalau tidak tetangga satu RT bisa jadi prajurit yang tinggal di jalan lain pada kompleks yang sama. Setelah tinggal di rumah pensiunan yang didengar adalah berita yang hampir sama. Namun kini prajurit yang berpulangnya tentunya bukan akibat dari sebuah pertempuran di medan peperangan. Para prajurit yang telah sepuh ini satu persatu menghadap Sang Khalik diakibatkan karena sakit.

Sejak tinggal di Kompleks sekitar tahun 1971 saya baru mulai mendengar berita sedih saat pergolakan di bumi Timor Timur yang terjadi sepanjang periode 1975 hingga 1981. Menurut catatan yang tertera di Museum Seroja jumlah prajurit TNI yang gugur selama perjuangan Timor Timur hingga penyerahan Timor Timur ke PBB pada tanggal 28 Oktober 1999 pada adalah 4923 orang prajurit.

Periode tersebut adalah suatu masa dimana banyak prajurit Kopassandha/RPKAD (kini Kopassus) gugur dalam pertempuran menghadapi Fretilin di Timor Timur. Jumlah pasti Prajurit yang gugur dalam perjuangan merebut dan mempertahankan Timor Timur setidaknya sebagian hingga kini tertulis dengan baik, salah satunya di lokasi Sasana Kusuma Bangsa Mako Kopassus Cijantung Jakarta Timur. Pada dinding marmer itu selain tertera sebuah kalimat ”Teruskan Perjuangan Kami Telah Beri Apa Yang Kami Punya” juga terpatri nama-nama Prajurit Pilihan dari Prajurit Terpilih yang gugur dalam sejumlah Operasi yang diberikan oleh negara kepada kesatuan Baret Merah. Tugas-tugas Operasi yang membanggakan dan mengharukan diantaranya adalah Operasi PGRS/Paraku Kalimantan, Operasi Wibawa Irian Jaya dan Operasi Seroja Timor Timur. Tak ketinggalan sebuah operasi yang hebohnya mendunia yakni Operasi Pembebasan Sandera Pesawat GIA di Don Muang Bangkok dimana satu-satunya anggota yang gugur adalah Letda anumerta Ahmad Kirang.

Mengingat peran dan tugas pasukan Komando sangat sentral ketika itu maka masa penugasan Operasi di Timor Timur merupakan sebuah operasi militer yang tidak sedikit menelan korban putra terbaik bangsa di negeri ini tidak terkecuali Pasukan Baret Merah. Penugasan ke Timor Timur itu dulu juga diterima oleh ayah saya. Surat Perintah keikutsertaan almarhum papa ditanda tangani oleh Mayor Sintong Panjaitan (kini Purnawirawan di Kalisari Cijantung). Papa waktu itu masuk dalam Team Susi padahal dia adalah rohaniawan, seorang Pendeta namun karena kekurangan Perwira papapun diperintahkan berangkat untuk menjalankan tugas apalagi ini tugas di Pasukan Khusus tak ada kata tak siap. Team Nanggala 2 Pra Seroja ini dikomandani oleh seorang Kapten dengan kekuatan sejumlah 100 orang. Kopassus atau Kopassandha pada awal Perjuangan Timor atau Pra Seroja membentuk 3 Team Sandha atau Sandi Yudha yakni : Team Susi, Team Umi dan Team Tuti. Dalam sebuah operasi Komando, Team Sandha biasanya dikirim terlebih dahulu untuk mengambil data dan memenangkan hati rakyat. Setelah itu barulah pasukan Baret Merah ini menurunkan Pasukan Parako alias Para Komando dimana keberhasilan pasukan pemukul ini sangat ditentukan oleh berhasil tidaknya Team Nanggala 2 melakukan operasi Sandha terutama pada waktu mempersiapkan perebutan kota Dili. Seorang prajurit Sandha sebelumnya mesti sudah malang melintang bertugas di Grup Parako alias Para Komando.

Tanggal 7 Desember 1975 adalah sebuah hari dimana sejarah perjuangan bangsa di bumi Timor Timur dimulai. Pada tanggal tersebut pasukan TNI tergolong sukses melaksanakan Operasi gabungan besar-besaran. Operasi yang dilancarkan melalui Darat, Laut dan Udara bertujuan untuk membebaskan dan merebut kota Dili, ibukota Timor Timur dari pendudukan Fretilin yang dibantu oleh tentara Portugsis.

Meskipun saya masih kecil, waktu itu kira kira berusia 5 tahunan namun masih teringat bagaimana saat saya mengikuti kendaraan penumpang umum yang dicharter untuk membawa papa dan beberapa rekannya sedang melaju perlahan di dekat Gudang Air menuju Bandara Kemayoran. Saya masih ingat juga manakala papa pulang dari Timor. Pada saat itu setelah mendengar ia pulang, saya lantas mencoba ikut menjemput. Waktu diperoleh informasi kedatangan papa, saya meluncur menuju ke kantor papa namun sayangnya setibanya disana malahan papa dan truk yang membawanya bersama rekan sudah meninggalkan lokasi itu. Sayapun segera kembali mengikuti dari belakang truk. Sesampainya dirumah ia terlihat telah berubah. Papa saat itu terlihat brewokan sehingga hampir saya tak mengenali lagi. Puji Tuhan papa yang sering berkirim surat dari Atambua sewaktu menjalankan tugas dengan menggunakan nama samaran Joseph Fernandez alias Ama Yoseph pulang dengan keadaan selamat dan utuh tanpa cacat ditubuhnya. Padahal pertempuran di masa awal perjuangan pembebasan Timor Timur begitu ganas. Peperangan dalam rangka perebutan Timor Timur untuk dijadikan Provinsi ke-27 di Indonesia merupakan sebuah catatan hitam bagi Militer Indonesia. Entah berapa banyak serdadu kebanggaan bangsa gugur di medan operasi Timor Timur. Belum lagi mereka yang cacat kehilangan satu atau lebih anggota badannya.

Sewaktu pergolakan di Timor Timur sepertinya Tiang Bendera di kantor Ma Grup atau Mako Cijantung agak jarang dinaikkan bendera pada posisi penuh. Hari-hari di Cijantung selama beberapa waktu senantiasa dirundung malang ditandai dengan adanya Bendera Setengah Tiang yang berkibar. Itu menandakan seorang prajurit kebanggaan bangsa dari kesatuan elite Angkatan Darat gugur.

Saya bersama teman-teman pada waktu itu memiliki kekhawatiran yang cukup tinggi sebab tingkat kematian di Timor Timur cukup besar. Jadi selama tinggal di Kompleks, mama atau anggota keluarga senantiasa was-was jangan-jangan hari ini ada tetangga yang tewas atau bahkan ayah sendiri yang gugur. Hal tersebut berlangsung hingga masa tahun 1981.

Kini ketika para prajurit yang selamat dan hingga saat ini masih hidup serta tinggal di lokasi perumahan Purnawirawan Kopassus baik di Pelita 1 atau Pelita 2 dan Kedayu suasana sungguh berbeda.

Perbedaan mencolok adalah kalau dulu saya bersama teman-teman khawatir mendengar ayah masing-masing gugur di medan pertempuran kini diperumahan purnawirawan saya mesti siap menghadapi berita duka cita dengan kondisi yang berbeda. Berita mengenai meninggalnya para prajurit andalan bangsa yang kini sudah sepuh, mayoritas adalah karena sakit. Mereka yang dulu terlihat gagah dengan Baret Merah dikepala Pisau Komando di pinggang kiri kini telah berubah. Tubuhnya tak lagi tegap dan kekar. Keriput di badan tampak jelas. Namun demikian SEMANGAT dari para Prajurit andalan bangsa pada masanya itu sepertinya tak sedikitpun lekang dimakan masa. Usia boleh jadi tidak dapat dibohongi akan tetapi SEMANGAT tetap menyala-nyala, meski sakit penyakit terkadang menggerogoti tubuhnya. Bukan lagi peluru yang mencabut asa pahlawan bangsa ini namun berbagai jenis penyakit lah yang menghantarkan mereka menghadap PenciptaNya.

Terima Kasih Tuhan karena Engkau telah menyelamatkan papa saat pergolakan di Timor Timur. Meskipun menjalani pertarungan hidup dan mati di tanah Timor Portugis tapi akhirnya ia dapat kembali ke rumah dan membesarkan saya bersama kakak-kakak. Perjuangan papa persis di tanggal 14 Juli 2010 telah berakhir. Beliau menghadap Sang Juruslamat pada saat sedang menikmati masa pensiun di perumahan purnawirawan Kopassus Kedayu Cimanggis dalam usia 80 tahun.

Seperti ditulis diatas bahwa prajurit Kopassus itu memiliki Semangat yang tinggi dalam menjalankan kehidupan. Hal itu juga yang membekas dan terlihat dalam diri almarhum papa. SEMANGAT hidup selama beliau sakit terlihat sama tingginya dengan waktu dia masih dinas. Semangat semacam itulah yang semestinya patut dicontoh tak hanya oleh anak-anak dan cucunya namun juga oleh setiap orang. SEMANGAT adalah Roh yang perlu hadir dalam hati dan jiwa setiap insan termasuk saya agar dapat diijinkan Tuhan mencapai usia 80 tahun seperti yang diberikan Sang Khalik kepada Papa termasuk juga bagi para putra terbaik bangsa yang saat ini masih diberikan kesempatan melanjutkan kehidupan di perumahan purnawirawan Sukatani Cimanggis. Dulu mereka lolos dari peluru musuh kini mereka harus siap menghadapi penyakit dan usia tua yang tak dapat dihindari.

Sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya Senin lalu. Seorang lagi penghuni Jalan Sungai Luis tetangga, saudara dalam Kristus di Cijantung dan Sukatani tak lagi bersama dalam dunia fana. Gugur di medan perang dapat dihindari sakit pada masa tua justru menggerogoti. Selamat jalan Oom Bilham Taule yang berpulang kepangkuan Bapa Senin 14 Februari 2011 lalu.

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 15/02/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. aku teharu membaca artikel anda krna sama persis yg aku alami sebagai anak mantan kopasandha.bedanya kami sekeluarga ,pulang kampung ke padang itupun kami harus ngontrak rumah, tpi alhamdulillah sekarang orang tua kami telah mempunyai rumah sendiri.

    • Syukurlah, kita mesti tetap berdoa sama Tuhan agar mereka diberikan umur panjang dan kita anak2nya bisa berbuat lebih lagi untuknya, bukan untuk membalas budi karena memang seberapapun atau apapun yg kita berikan takkan sebanding dg yg diberikan mereka.

      Tetap SEMANGAT !!!! KOMANDO !!!

  2. Salam sejahtera & doa untuk ayahanda agan Oomwil, jg untuk para patriot bangsa yang lain
    Salam KOMANDO…..!!!

  3. Saya juga pernah tinggal di cijantung dan pindah di grup satu serang.tempat saua lahir… sebuah kebanggan tersendiri bagi anak komando.. saya juga sedng menulis jurnal bapak saat di kirim ke timor saat berhdpn dng fretilin. .semoga ttp jaya selalu keluarga korps baret merah dimanapun berada..jaya selalu.. KOMANDO !!!

    • Mantap,berarti anda lahir tahun 1981 keatas yah krn Grup 1 Mulai di Taman sejak Agustus 1981. Kami dulu di Blok H70 No 2 sampai 1988 baru pindah ke Cimanggis.

      Mari Ceritakan Kebanggaan kita sebagai keluarga besar Baret Merah

      KOMANDO !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: