Sungai Luis : Namamu Tetap Dihati

Tinggal di Kompleks Militer memiliki pengalaman tersendiri apalagi ini bukan perumahan Militer biasa tetapi perumahan Pasukan Khusus terbaik No. 3 di dunia. Begitu banyak kisah atau ceritera yang mengisi kehidupan para penghuninya. Mulai dari kisah kepahlawanan para prajurit Komando hingga kepada ceritera mistis yang berkembang mengikutinya.

Sekitar tahun 1971 saat kepindahan papa dari Dinas Rohani atau Disroh TNI AD (kini Disbintal TNI AD) ke Pusat Pasukan Khusus atau Puspassus AD (nama lain Kopassus sebelum Kopassandha) beliau memperoleh sebuah rumah dinas. Ia mendapatkan rumah tersebut setelah tak sengaja bertemu dengan Komandan Grup yang melihat papa masih mengenakan pakaian dinas lengkap padahal sudah lewat apel siang. Kejadian itu terjadi saat ia menunggu kendaraan umum yang akan mengantarkannya ke Tanah Abang 2 kediaman kami sebelumnya. Sang Dan Grup menghampiri papa kemudian menanyakan mengapa masih menggunakan seragam. Papa saya pun tak sungkan mengatakan bahwa dia akan pulang. Selanjutnya Dan Grup memerintahkan agar segera menghadap Dan Ki Ma atau Komandan Kompi Markas pada keesokan hari untuk dicarikan rumah di dalam Kesatriaan Ahmad Yani Cijantung. Alhasil sebuah Rumah dinas diperoleh almarhum papa. Rumah yang ditempati selama kurang lebih 10 tahun itu terletak di Blok H Cijantung 3 Karet. Bangunan itu memiliki 2 buah kamar, di halaman depan kemudian ditanami papa sebuah pohon Jambu Air sementara pada halaman samping terdapat pohon sirsak dan diujung belakang ada sebuah pohon jambu kelutuk atau batu. Di jalan rumah itu terdapat 2 deret dengan masing-masing terdiri dari 8 unit sehingga jumlah keseluruhan adalah 16 unit rumah yang saling berhadapan. Kebetulan almarhum papa saat itu kebagian rumah dengan nomor H 64. Disanalah saya tinggal bersama papa dan mama serta semua keluarga untuk memulai perjalanan panjang kehidupan sebagai anak kolong, sebutan bagi anak-anak Tentara. Saya sendiri tak mengerti mengapa anak yang tinggal di Kompleks TNI dahulu disebut anak kolong. Kalau plesetannya sih katanya karena anak-anak tentara itu ”dibuat” dibawah kolong tempat tidur sebab takut ketahuan sama anak lainnya yang tidur diatas tempat tidur Bapak dan Ibunya. Orang tua dan anak memang sekamar dalam satu rumah karena rumah para prajurit tempo dulu itu kecil. Entah ceritera itu benar atau tidak yang pasti itulah sebutan bagi anak tentara.

Kembali lagi ke Cijantung. Awalnya di Blok H tersebut belum memiliki nama jalan termasuk seluruh kompleks. Jalan-jalan di perumahan sama sekali tak memiliki nama jalan yang ada hanya sebutan Blok. Pada saat Operasi Flamboyan berlangsung barulah pimpinan kesatuan memiliki pemikiran agar jalan di dalam kompleks Cijantung diberikan nama. Penamaan jalan dimulai dari perumahan di Cijantung 1 dimana masing-masing diberikan nama jalan sesuai daerah Operasi yang pernah dilakoni RPKAD alias Kopassus terutama dalam berbagai penugasan di daerah Sulawesi, Sumatera dan Irian Jaya dimana pada masa seperti itu Negara masih dalam pencobaan berbagai pemberontakan untuk memisahkan diri dari NKRI. Nama-nama jalan yang dulu pernah ada seperti Lubuk Jambi, Mapanget, Merauke dan lainnya. Sementara itu untuk nama-nama jalan di perumahan Cijantung 3 hampir semua jalan dinamai daerah atau kota atau nama tempat dimana disana sepasukan Baret Merah mempertaruhkan nyawa di Timor Timur. Sebut saja Jalan Lebos, Jalan Dili, Jalan Mapu, Jalan Laklubar, Jalan Batuta dan sebagainya.
Sedangkan jalan di rumah saya adalah Sungai Luis. Jalan ini diapit oleh Jalan Lebos dan Jalan Dili Cijantung 3. Penamaan jalan itu bukan sekenanya namun pemberian nama jalan itu tak terlepas dari sebuah peristiwa pertempuran dimana seorang prajurit Baret Merah gugur dalam tugas. Sebagai contoh nama Jalan Sungai Luis. Di lokasi itu sewaktu operasi Flamboyan sudah dimulai sekitar 1976an seorang prajurit RPKAD, nama legendaris Kopassus, berpangkat Kapten yang tinggal di H 67 atau berjarak 3 rumah dari rumah saya, gugur dalam tugas di Sungai Luis. Ia tertembak oleh pasukan Fretilin disana. Sejak saat itulah jalan di blok H diberi nama Sungai Luis. Ceritera serupa tentang Bapaknya teman saya yang ayahnya gugur di Sungai Luis itu hampir sama terjadi juga bagi beberapa nama jalan di Cijantung yang sewaktu Timor Timur belum lepas masih menggunakan nama kota sungai atau daerah di sana khususnya untuk Cijantung 3. Seperti Jalan Lebos, pada salah satu sudut di area jalan itu salah seorang ayah teman saya gugur di kota itu. Pokoknya semua memiliki kisah heroik tersendiri. Itu adalah latar belakang kenapa jalan di dalam kompleks Cijantung diberi nama daerah, kota atau gunung serta sungai yang ada di Timor Timur. Meskipun selanjutnya nama-nama Jalan di Cijantung 3 yang berkaitan dengan Timor Timur itu sudah dihapus sejak negeri yang telah menelan banyak prajurit kusuma bangsa lepas dari NKRI tahun 1999.

Salah satu kisah yang saya ingat juga yakni peristiwa gugurnya Mayor Atang Sutresna. Beliau gugur saat pertempuran di kota Dili sekitar Desember 1975. Dikisahkan waktu itu beliau dengan salah seorang prajurit berusaha menurunkan Bendera Portugis dan menaikan Bendera Merah Putih di tengah desingan peluru. Ia tewas dengan gagah berani saat melaksanakan tugasnya itu. Untuk mengenang jasa beliau maka sebuah lapangan tanah merah di Cijantung 3 yang sebelumnya disebut Lapangan Merah selanjutnya dikenal sebagai Lapangan Atang Sutresna. Kini lapangan yang tadinya becek dan berwarna merah sudah menjadi stadion Sepak Bola cukup megah terletak di jantung kompleks Kopassus.

Masih banyak kisah lain yang menginspirasi para pimpinan di Kopassandha atau kini Kopassus saat itu untuk menghormati jasa para pendahulu mereka.

Sayangnya semua perjuangan dan darah yang telah tumpah di bumi Timor Lorosae seolah tak dihormati seusai Timor Lepas dari pelukan NKRI. Namun jiwa juang dan kisah perjuangan serta semangat pendahulu takkan pernah luntur oleh apapun juga. Saya disini tak perlu menceriterakan bagaimana sedihnya seorang ibu mesti merawat anak-anak almarhum seperti teman saya Budi dan Iwan yang ditinggal ayah tercintanya. Semangat kepahlawanan yang ditunjukkan oleh almarhum ayah Budi dan Iwan, Kapten B. Sudaryanto akan tetap berdiam dihati. Apalagi nama tetangga ini kini tetap diabadikan sebagai nama sebuah Lapangan Tembak di Cijantung.

Kadangkala saya tak habis pikir dengan para kelompok yang katanya memperjuangkan HAM. Mereka malah justru sering menyerang para prajurit TNI seolah menjual negara ini. Mengapa saya katakan menjual sebab salah satu lembaga yang katanya memperjuangkan korban hilang dan kekerasan sama sekali tak pernah membantu keluarga saya pada waktu melaporkan hilangnya salah seorang abang saya sejak 1992 hingga kini. Koordinator lembaga yang kini sudah almarhum itu sama sekali tidak menindalanjuti laporan almarhum papa saya meski jumpa langsung dengannya. Mengapa demikian sebab peristiwa kehilangan itu sama sekali tak memiliki nilai jual secara politis atau istilahnya proposal yang akan diajukan untuk kasus itu takkan keluar dananya sehingga laporan itu dia biarkan hingga maut menjemput sang koordinator. Tuhan maha adil jadi tenang saja. Manusia cuma melaksanakan Tuhan yang menghakimi.

Kini tak ada lagi nama Jalan yang berbau nama kota atau daerah Timor Timur di Cijantung. Bisa jadi kalau tak dihapus akan membuat prajurit yang tinggal disana akan sakit hati akibat permainan politik pemimpin bangsa.

Jalan Sungai Luis sudah terhapus di Cijantung namun rekam jejaknya mungkin tak dapat saya lupakan hingga kini karena disanalah saya dibesarkan. Jalan Sungai Luis H 64 Cijantung 3, itulah alamat rumah saya yang akan tetap teringat hingga asa hilang dikandung badan.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 14/02/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: