REO Sebutanmu Besar Jasamu

Pada tahun 1981 keadaan di Cijantung boleh dikatakan penuh dengan banyak perubahan. Saya yang tadinya bersama dengan teman teman satu sekolah, pada saat itu mesti berpisah satu sama lain. Ada yang pindah ke Serang dan ada pula yang ikut orang tuanya dipindahkan ke Ujungpandang dan lainya tetap tinggal di Cijantung. Meskipun banyak teman-teman pindah ke kedua kota itu ayah saya tetap belum berminat memindahkan saya sebab menurutnya pada waktu itu pendidikan di kota Serang masih sangat tertinggal sekali dibanding daerah lain. Keputusan itu tetap dipertahankan hingga saya lulus SMP 103 ditahun 1986. Setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama, saya baru dipindahkan papa ke sebuah sekolah swasta Katolik di Serang. Nama sekolahnya SMA Mardiyuana Serang. Alasan kepindahan seingat saya juga disebabkan kegagalan saya masuk ke SMAN 39. Waktu itu dari 3 pilihan yang saya pilih yakni SMA 39, SMA 58 dan SMA 51, saya malah keterima di SMA 58 padahal cita-citanya di SMA 39. Saat itulah kakak yang kebetulan juga seorang guru meminta Papa untuk memindahkan saja saya ke Serang.

Tahun 1986 SMA Mardiyuana itu letaknya persis di alun-alun samping kantor Karisidenan entah kalau sekarang jadi apa. Di sekolah ini saya masuk kelas mulai pukul 13.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Hal itu terjadi karena paginya gedung sekolah digunakan untuk SMP Mardiyuana. Jadi bisa dibayangin kan selama 3 tahun siang melulu sekolahnya. Satu kelas berisikan sekitar 30 hingga 35 anak murid dan bedanya lagi dengan waktu SMP di SMA hanya 2 kelas saja. Padahal sewaktu sekolah di SMP 103 kelas satunya itu sampai 0 dan saya di 1B. Kelasa 2 SMP itu hingga 2K sementara saya di 2C. Terakhir pada waktu kelas 3 sekolah itu mampu menampung hingga Kelas M dan saya di kelas 3-I.

Selama sekolah mulai dari SD hingga SMP saya biasanya akan berjalan kaki dari rumah. Sewaktu SD kapan tempo pernah juga menggunakan sepeda. Kini saat sekolah di kota Serang saya mesti sekolah menggunakan kendaraan jemputan dinas. Itu harus dilakukan sebab di Kompleks Grup 1 Kopassus Taman cukup jauh dari kota Serang. Kesatuan pada waktu itu memiliki setidaknya 3 jenis kendaraan masal. Ada Dodge, REO dan yang terbaru biasa menyebutnya dengan Mercy. Dari ketiga jenis kendaraan tersebut Dodge dan REO yang digunakan untuk jemputan anak sekolah. REO menjadi pilihan utama kendaraan jemputan kami semua.

Saya bersama teman-teman satu kompleks biasanya akan menanti kendaraan jemputan disebuah titik yang telah ditentukan sebelumnya. Kalau dari Kompleks saya bersama teman-temen akan menunggu di dekat Koperasi. Waktu yang ditentukan adalah ; pagi pukul enam dan siang pukul setengah dua belas. Sekali perjalanan bisa 4 buah kendaraan penuh sesak keluar perumahan secara konvoi menuju beberapa sekolah di Serang. Kendaraan favorit yang digunakan adalah Truck RE0 yang memiliki 10 ban. Suara mesin REO akan terdengar lebih dulu dari kemunculan kendaraannya itu sendiri. Truck REO ini adalah peninggalan Perang Vietnam yang dibeli Pemerintah saat Menhankam/Pangab dijabat oleh Jenderal M. Jusuf. Keistimewaan lain dari REO yakni kendaraan ini memiliki stir di sebelah kiri bukan dikanan seperti mobil umumnya.

Semua pelajar dan siswa putra putri prajurit Baret Merah yang tinggal di Taman setiap hari memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh kesatuan pasukan elit Indonesia ini.

Pada waktu pulang REO akan setia menunggu di tiap titik yang sudah ditentukan pula. Titik jemputan yang saya masih ingat adalah di Alun-alun tidak jauh dari SMA Mardiyuana, dekat terminal lama di Ciceri dan satu lagi lokasinya di Taktakan.

Pengalaman yang sungguh takkan terlupakan. Meskipun pada awal kepindahan ke Serang tidak jarang saat berada di Truck RE0 masyarakat yang melihat sering mencemooh penumpang dengan teriakan “Embek“ seperti suara kambing. Mungkin mereka heran ada banyak manusia yang naik truck seperti kambing. Terkadang teriakan seperti itu akan diladeni oleh saya dan teman-teman pria lainnya, penumpang di atas truck dengan mengejar pelaku yang meneriakkan suara itu. Lama kelamaan peristiwa seperti itu tak pernah terjadi lagi. Namun RE0 akan menjadi ceritera tersendiri bagi anak cucu. Jasamu dalam mengantarkan anak anak Kopassus menjadi manusia yang berguna tidak kecil.

Saya merasa diajarkan juga disiplin dengan hadir tepat waktu di lokasi jemputan. Apabila terlambat konsekuensinya bukan hanya ketinggalan namun juga harus mengeluarkan kocek lebih besar sebab mesti menggunakan angkot dari Kramat Watu atau Cilegon.

Terima Kasih REO namamu tetap dihati.

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 10/02/2011, in Putra Cijantung. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. menarik juga smoga menjadi motivasi jiwa yang loyal dan tangguh bagi pembaca khusunya kaum muda..
    saya sekolah di SMA MY lulus Tahun 1986..

    • Salam kenal Mas Magoes Heri, saya lulus dari MY tahun 1989, senang bisa kenal alumni MY juga. Dan kebetulan setelah puluhan tahun temen2 saya bs mendapatkan saya lewat FB dan menginformasikan bahwa akan ada Reuni Angkatan Desember mendatang. Akhirnya…..makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: