Sejarah Pembangunan Gereja ABRAHAM Grup 1 Kopassus (2)

Pergeseran Markas Komando Grup 1 Kopassus dari Kesatrian Ahmad Yani Cijantung ke Kesatrian Gatot Subroto Taman Serang Banten pada Agustus 1981 membawa dampak yang signifikan dalam pelbagai bidang. Satu diantaranya terkait kerohanian. Betapa sungguh dirasakan kesulitan yang dihadapi oleh warga Kristiani sebab di dalam area kesatrian belum tersedia gedung gereja tempat ibadah. Seperti ditulis pada bagian pertama tulisan ini warga kompleks akan pergi ke Kota Serang yang berjarak kurang lebih 5 KM atau kota lain untuk beribadah. Untung saja tak lama setelah mendiami kompleks, kesatuan memberikan ijin penggunaan gudang beras sebagai tempat ibadah sementara. Bangunan itu berfungsi sebagai gereja hingga selesainya pembangunan gedung ibadah pada tahun 1986.

Menurut catatan Papa yang telah berusia 24 tahun dan masih tersimpan dengan baik, gedung gereja Abraham mulai dibangun tanggal 29 Nopember 1984. Itu ditandai dengan adanya Ibadah Peletakan batu pertama yang dilayani oleh papa sendiri. Doa syukur dibawakan oleh Pdt. Drs. Sudarsono dari GKI Serang, selaku Ketua BK3 Serang pada waktu itu. Undangan yang hadir dalam kesempatan itu adalah perwakilan Perwira/PA, Bintara /BA dan Tamtama/TA Grup 1 Kopassus, Ibu-Ibu Persit, Para Pendeta/Pastor di Kabupaten Serang dan tentunya warga Kristiani dalam kompleks.

Gedung gereja Abraham pada awal berdiri memiliki luas 22 x 18M2 = 396 M2. Bangunan gereja itu terletak di Kelurahan Taman Baru Kecamatan Taktakan Serang Banten atau persisnya sebelah Barat dari Kota Kabupaten Serang. Jika dari arah muka bangunan, pada sebelah kiri terdapat Masjid berwarna hijau (saya lupa namanya) dan sebelah kanan terletak sebuah Gedung Sekolah Dasar yang jaraknya masing-masing 30M dan 100M dari gereja.

Sementara itu di arah belakang gedung gereja tampak Stadion Sepak Bola. Proses pembangunan stadion dengan gereja dikerjakan hampir bersamaan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dalam pembangunan gedung gereja Abraham tidak ada panitia, yang terbentuk hanya tim pembangunan yang terdiri dari Penanggung Jawab sekaligus Pelindung dan Pemilik serta Penasihat : Komandan Grup 1/Dan Grup 1 Kopassus kala itu Kolonel Inf Yusman Yutam. Pengawas dan Pelaksana Pembangunan adalah ; Perwira Zeni/PA Zeni Lettu Inf Nunu Asaat.

Selanjutnya dalam perkembangan pembangunan dibentuklah pencarian dana yang dilakukan oleh papa selaku Perwira Rohani Protestan Lettu Tit Pdt. F.S Katipana. Beliau ditunjuk langsung oleh Komandan Grup yang setengah bercanda mengatakan kepadanya bahwa jika tidak dicari dana maka pembangunan gereja tidak dapat dilanjutkan. Padahal dengan dana awal baru pondasi gereja saja yang berdiri.

Pembangunan gedung gereja Abraham pada saat itu menghabiskan dana sebesar Rp. 44.010.738,- (Empat puluh empat juta sepuluh ribu tujuh ratus tigapuluh delapan rupiah). Sumber dana sebesar itu diperoleh dari Komandan Jenderal Kopassandha Brigjen Wismoyo Arismunandar sebesar Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). Kemudian diterima juga sejumlah dana dari Komandan Kopassus Brigjen Sintong Pandjaitan sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). Selain menerima dana pembangunan dari kesatuan, gedung gereja Abraham juga menerima dana dari banyak donatur. Penerimaan dana dari donatur ini atas ijin Komandan Grup 1 dapat dijalankan meskipun tanpa disertai surat proposal atau sejenisnya ketika itu. Dalam pencarian dana dari donatur Papa saya hanya bermodalkan komunikasi intensif dengan pihak luar non TNI dibekali dengan sovenir Kopassus mulai dari Dompet Gantungan Kunci, Korek Api, Kaos Loreng Darah Mengalir dan sejenisnya. Sovenir itu semua dijadikan sebagai ucapan terima kasih bagi para donatur yang telah memberikan sumbangannya. Besarnya dana yang diperoleh dari jalur ini adalah Rp.24.010.738,-. Para donatur tidak hanya pihak swasta, Bupati Serangpun ketika itu memberikan donasi sebesar Rp. 1.000.000,-.

Pihak lain yang turut berperan besar dalam proses pembangunan gedung gereja Abraham adalah salah seorang putra dari Pahlawan Revolusi yakni Kapten Hotmamangaraja Pandjaitan (kalau tidak salah kini Mayjen TNI) dan tentunya Jenderal TNI Purnawirawan Luhut Pandjaitan. Mereka berdua inilah yang sangat membantu papa saya dalam proses pencarian dana dari pelbagai donatur terutama swasta di kota besar Jakarta. Salah seorang perwira yang juga memiliki peran dalam proses pembangunan gedung gereja Abraham adalah Letkol Inf F.L. Andaria yang pada saat itu memangku jabatan sebagai Dan Denpur 13 (Komandan Detasemen Tempur). Menurut ceritera papa yang masih teringat, dari beliau ini papa sering mengambil jatah beras pribadi beliau yang saat itu masih bujangan untuk diberikan kepada para pekerja bangunan gereja sehingga mengurangi biaya makan para tukang tersebut. Pihak-pihak lain yang tak dapat saya sebutkan disini juga memiliki peranan besar dalam pengadaan gedung ibadah ini tak harus dengan materi namun doa-doa yang disampaikan juga membuat pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan lancar meskipun sempat tertatih dalam persoalan dana.

Seperti disinggung diatas Papa saya baru turun tangan mencari dana ketika pembangunan gereja baru sampai pada tahap pondasi. Ia dipanggil oleh Dan Grup dan memerintahkan pencarian dana tanpa surat ijin dari kesatuan secarikpun. Untunglah tangan Tuhan bekerja dalam proses pembangunan ini sehingga akhirnya Gedung Gereja Abraham dapat berdiri dengan kokoh dan megah ditambah tiang lonceng gereja pada samping muka gereja berlambangkan IHS. Kata itu bukan kependekan dari Ini Hasil Sumbangan seperti plesetan para prajurit pada waktu itu. IHS adalah Isa Hummonium Salvator yang artinya Yesus Kristus Juruslamat Dunia. Dibawah tulisan IHS yang berfungsi sebagai ujung tiang lonceng, terdapat lambang atau Dhuaja Grup 1 Kopassus bertuliskan Eka Wastu Baladhika dengan tulisan berwarna kuning. Tiang lonceng ini sumbangan dari sebuah perusahaan namanya KHI (saya lupa kepanjangannya namun tidak jauh beda bidangnya usahanya dengan Krakatau Steel). Membawanya juga dari Cilegon ke Taman Serang perlu pengawalan khusus oleh sedikitnya 2 orang prajurit Kopassus.

Setelah melalui berbagai hambatan akhirnya tanggal 5 Februari 1986 Gedung Gereja Abraham diresmikan. Upacara peresmian dilakukan oleh Kolonel Inf Yusman Yutam ditandai dengan pembukaan selubung nama Abraham pada sebelah kiri pintu masuk gereja. Setelah itu dijalankan proses pengguntingan pita yang dilakukan oleh Ibu Yusman Yutam yang dilanjutkan dengan penyerahan kunci dari Dan Grup kepada Pdt F.S Katipana yang tiada lain adalah papa saya sendiri. Sedangkan prasasti peresmian gedung gereja telah ditanda tangani oleh Komandan Kopassus Brigjen Sintong Pandjaitan sebelumnya dan pada saat peresmian sudah ditanam pada tembok bagian kanan bagian depan gereja persis disamping pintu masuk.

Ibadah peresmian gedung gereja Abraham dilayani oleh Papa dan dihadiri tidak hanya oleh warga Kristiani Kompleks namun juga para PA/BA/TA Grup 1 Kopassus, Ibu Persit Kartika Chandra, Donatur se Kabupaten Serang dan Paduan Suara Musyafir dibawah pimpinan alm Letkol Manumpil. Panitia peresmian Gedung Gereja Abraham ketika itu adalah Kapten Inf Joy Sihotang. Tampak turut hadir mendampingi Komandan Grup adalah Letkol Sutiyoso yang ketika itu menjabat sebagai Wadan Grup 1 Kopassus.

Pentahbisan Gereja Abraham diawali prosesi membawa masuk Peralatan Perjamuan Kudus yang dilakukan oleh 3 orang Prajurit Kopassus. Pintu masuk gedung gereja dibuka oleh Papa sambil mengucapkan Dalam Nama Bapa Putra dan Roh Kudus. Di belakang para pembawa alat perjamuan masuk juga untuk mengikuti ibadah adalah para jemaat atau warga Kristiani Grup 1 Kopassus yang selama ini menantikan adanya gedung ibadah disusul Paduan Suara Musyafir dari GMIST dan undangan Kristiani lainnya.

Ibadah Pentahbisan pada kesempatan pagi hari itu berlangsung kurang lebih 45 menit. Terlihat di belakang mimbar sebuah backdrop berwarna merah dengan tulisan warna kuning berbunyi Aku menanam Apolos menyiram tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan.

Gedung gereja Abraham pada awal berdirinya memiliki ruang konsistori yang berada di belakang mimbar. Tersedia juga sebuah kamar ganti yang dapat dipergunakan untuk tempat istirahat bagi Pelayan Firman yang melayani dari luar kota di sisi sebelah kiri. Pada sisi sebelah kanan bagian belakang terdapat sebuah kamar mandi.

Gereja Abraham diawal berdirinya oleh Papa diajukan kepada Majelis Sinode GPIB. Alhasil keluarlah Surat Keputusan dari Majelis Sinode tertanggal 18 Mei 1986 No. 5981/MS.XIII-Jakarta 08-4-1986 yang menyatakan Gereja Abraham menjadi Pos Pelayanan GPIB Samaria Tangerang Jl. Raya Cilegon Taman Serang. Sejak saat itu pada setiap hari Minggu seorang Majelis dari GPIB Samaria akan turut melayani di gereja Abraham. Pelayanan seperti ini berlangsung hingga sekitar tahun 1990an. Setelah papa pensiun dari dinas ketentaraan dan pindah ke Kompleks Purnawirawan Kopassus Cimanggis sepertinya terjadi perubahan dalam pelayanan. Gereja Abraham tidak lagi masuk dalam lembaga GPIB. Saya tidak mengetahui apa saja yang menjadi penyebab.

Padahal pada waktu itu melalui Rapat Jemaat sebenarnya telah terpilih para anggota sebagai Majelis Jemaat sesuai ketentuannya dimana terdiri 5 orang Penatua dan 5 orang Diaken. Mereka adalah Letkol Inf. Johan Yunus Supit (Alm), Mayor Inf Harry Pisand, Mayor Inf M. Simbolon, Sertu J Manullang dan Kopda Willem Ombeng sebagai Penatua. Sedangkan 5 orang lain terpilih sebagai Diaken yakni Ny. Marhaeni Sihotang br.Tarigan, Ny. D Andarsih, Ny. Wita Wijaya, Ny. Kristin Kahiking Silety dan Nn. Tati Hartati. Meskipun mereka telah menjalankan tugas kewajibannya namun karena masih terdapat hambatan untuk pentahbisannya saat itu seperti ada yang Sesko, Latihan di Situlembang maka ke-10 Majelis ini belum sempat ditahbiskan.

Gedung Gereja Abraham meskipun berdiri di area Kompleks Grup 1 Kopassus sebagai tempat ibadah warga Kristiani Kopassus fungsinya juga dapat digunakan untuk beribadah oleh masyarakat umum Non TNI. Ibadah Minggu di Abraham bagi umum jan 09.00 – 10.00 dengan menggunakan Tata Ibadah GPIB (hingga sekitar 1990an).

Alasan papa dalam laporannya kenapa Gereja Abraham mesti terdaftar dalam sebuah organisasi gereja Tuhan Yesus Kristus adalah demi pengembangan dan pemahaman wawasan gerejawi. Selain itu akan terisolir dari persekutuan dan partisipasi secara aktif bersama gereja lain jika gereja Abraham berdiri sendiri.

Kini gedung gereja Abraham benar telah menjadi Gereja Katholik “Bapa Abraham”, Kopassus kemudian mendirikan gedung gereja disamping kiri gedung lama dan saat ini sudah berkembang menjadi tempat ibadah bagi sedikitnya 3 denominasi (GBI, GKPS,GPIB).

Aku menanam Apolos menyiram telah menjadi kenyataan. Tuhan telah memberikan pertumbuhan bagi gedung gereja Abraham

Gereja Abraham kini benar telah menjadi berkembang sesuai dengan tema peresmiannya. Apabila Allah bekerja semuanya sungguh luar biasa.

Papa sudah dimuliakan di rumah Bapa disurga. Namun karya besarnya untuk Tuhan hingga kini masih dapat di lihat oleh anak serta cucunya di Taman Serang Banten. Sekali lagi, tema pentahbisan Gereja Abraham “Aku Menanam Apolos Menyiram tetapi Allah Yang Memberikan Pertumbuhan” sungguh telah menjadi kenyataan.

Puji Tuhan Halleluya !

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 07/02/2011, in Pelayanan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Foto2 itu masih ada e om hebat dech God Bless

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: