Tanggal Satu Bulan Satu Tahun Satu Satu

Usai ibadah di Gereja Mahanaim Cilodong saya bersama dengan anak dan isteri langsung menuju rumah pertama. Tujuannya hanya satu yakni untuk melanjutkan tradisi di keluarga kami berkumpul di saat pergantian tahun. Apa yang selama ini telah diajarkan oleh Papa, Opa, Tete telah menjadi sebuah tekad kami untuk tetap melanjutkannya meskipun beliau sudah tidak bersama dengan kami lagi. Tak seperti malam Natal, ibadah keluarga dalam rangka pergantian tahun kali ini berlangsung lebih tertata dan jauh dari rasa kesedihan yang sebelumnya masih menyelimuti 2 orang kakak saya. Saya merasa senang sebab dengan begitu pergantian tahun dapat dimasuki dengan sebuah pengharapan penuh kepada Tuhan saja. Pada tahun baru kali ini semua berharap Tuhan akan memberikan berkat berkelimpahan lebih dari yang telah DIA berikan pada tahun berselang. Apa yang di lakukan bertahun-tahun dengan berkumpul bersama pada waktu menjelang pergantian tahun di keluarga saya merupakan peristiwa sakral yang tak boleh terlewatkan. Saya sendiri agak khawatir bila tidak sempat hadir. Apabila tidak dapat mengikuti sepertinya ada sesuatu yang hilang dan perasaan takut melangkahkan kaki masuk ke tahun yang baru. Entah mengapa perasaan itu senantiasa menggelayuti pikiran hati saya. Sepanjang ingatan saya hanya satu kali tidak mengikutinya. Alhasil semua yang dikerjakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Papa dan Mama waktu itu sedang berada di kampung, Pulau Kisar. Saya mengikuti kemah di Kopeng Salatiga bersama para mahasiswa pecinta alam di kampus. Pada waktu itu selain kemah saya bersama dengan teman teman berencana merayakan tahun baru di Puncak Merbabu. Namun tahukah bahwa ditengah perjalanan semua rombongan yang mendaki saat itu terbagi-bagi dalam beberapa kelompok. Kegagalan menjadi teman kami saat itu. Pendakian menuju puncak Merbabu gatot alias gagal total. Angin kencang menimpa kami di tengah perjalanan menuju puncak. Tidak ada satupun kelompok atau perseorangan yang berhasil mencapai puncak semua gagal. Cuaca buruk menyulitkan pendakian ditambah lagi jalur yang dilalui hampir-hampir tak terlihat oelh kami. Itu disebabkan oleh kebakaran yang melanda Gunung Merbabu. Sedih rasanya tidak dapat melanjutkan perjalanan. Hambatan paling besar adalah cuaca. Angin kencang bertiup diantara pepohonan yang dilalui seolah sedang memainkan sebuah orkestra. Bunyi suara angin cukup memekakan telinga. Wajah saya bersama teman teman sudah seperti seorang prajurit yang melakukan penyamaran. Coreng moreng sebab arang hitam sisa kebakaran menempel pada wajah kami masing-masing. Disamping itu sewaktu perjalanan pulang semua kelompok tidak kembali atau turun melalui jalan yang sebelumnya dilewati termasuk kelompok saya. Kami tidak turun di Kopeng akan tetapi akan menjauh dari dusun terakhir tempat berkemah. Meskipun tidak melalui jalur biasanya hal itu sempat membuat ciut kami. Betapa tidak baru kali ini saya mendaki kesasar. Untunglah ketika itu saya bersama 5 atau 6 orang dapat tiba dengan selamat di sebuah dusun. Dari sini lantas menumpang sebuah truck menuju Kopeng. Saya meyakini jika itu boleh terjadi atas kehendakNYA dan terutama sekali karena saya tidak berkumpul bersama keluarga dimalam pergantian tahun. Itu sebuah kesalahan besar menurut pikiran saya saat itu. Untuk memperbaiki hal tersebut segeralah saya mencari sebuah gereja di kaki Gunung Merbabu. Dalam hati hingga Salatiga juga tidak apa-apa yang penting saya ingin mohon ampun karena tidak duduk diam berdoa saat malam pergantian tahun. Untungnya gereja yang saya cari tidak jauh letaknya. Jaraknya hanya seharga seribu rupiah ketika itu. Tiba di sebuah bangunan, sepertinya lebih tepat disebut ruang serba guna karena saat saya intip melalui kaca jendela di dalam ruangan sama sekali tak ada bangku atau kursi. Belum ada satu jemaat pun yang hadir. Setelah tidak berapa lama barulah muncul satu persatu jemaat. Saat itulah saya membantu seorang Bapak untuk mengangkat bangku ke dalam. Kesulitan bahasa sempat membuat saya canggung. Jemaat yang hadir mungkin heran melihat saya yang datang ke tempat ibadah itu. Selain tidak fasih berbahasa jawa dari pakaian juga sekenanya. Saya pun saat ibadah diminta memperkenalkan diri. Buat saya terserah deh yang penting saya mendengar firman dan mohon ampun atas kesalahan saya tidak berdoa saat pergantian tahun. Ada seorang ibu dalam ibadah itu memberikan kesaksian bahwa ia melihat saya dalam mimpinya. Tambah kaget lagi mendengar kesaksiannya itu. Dia mengatakan bahwa ia mengangkat kembali saya ketika saya sedang dalam kesulitan. Tak ingat lagi saya apa yang diceriterakannya namun intinya saya dibawa kembali ke jalan Tuhan. Paling tidak kesaksiannya memberikan kekuatan baru buat saya setelah melakukan kesalahan. Model ibadah saat itu sejenis aliran Pentakosta tapi apapun itu saya berterima kasih karena Tuhan begitu baik buat saya. Ia tak membiarkan saya sampai tergeletak. Sekembalinya saya dari ibadah pagi itu telah menyegarkan jiwa. Saya merasakan pengampunan yang Tuhan berikan. Sejak saat itu saya tak lagi berani melewati malam pergantian tahun sebelum melaksanakan Doa bersama keluarga di rumah pertama saya atau rumah Opa. Doa bersama keluarga di malam pergantian tahun dilakukan bukan sekedar Tradisi namun terlebih dari hal itu ada kekuatan lebih bagi yang mengikutinya. Itu disebabkan oleh kekuatan Doa sebelum memasuki tahun yang baru menjadikan saya memiliki kekuatan lain, perasaan tenang dekat dengan Allah. Doa yang dipanjatkan juga merupakan sebuah ungkapan syukur dari pribadi yang memanjatkannya. Kekuatan doa saat malam tahun baru adalah kekuatan hakiki yang saya peroleh langsung dari Tuhan. Selamat datang tanggal Satu bulan Satu tahun Satu Satu Tuhan Memberkati !

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 01/01/2011, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: