Pelayanan Publik Yang Buruk

Tak sempat membuat kaca mata kemarin akhirnya hari ini saya berkesempatan pergi memesan kaca mata untuk diri sendiri. Saya sudah cukup lama tak mengenakannya. Namun demikian saya masih dapat melihat dengan cukup baik. Setibanya saya bersama isteri dan anak di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat, saya langsung menuju ATM terlebih dahulu. Akan tetapi karena sering berganti saya lupa PIN kartu ATM. Akibat kesalahan memasukkan nomor PIN, kartu saya tentunya langsung terblokir. Kemudian saya menuju kantor layanan Bank Swasta yang menerbitkan kartu. Sempat terpikir pasti segala sesuatunya mudah. Tetapi saya keliru. Seorang Customer Service yang melayani memberi informasi bahwa untuk membuka blokir mesti membawa buku tabungan dan KTP. Jiah, mana ada sih orang pergi ke Mall membawa buku tabungan. Jelas ini mengecewakan. Saya tadinya berharap dengan mengisi selembar surat atau formulir segala sesuatu dapat terselesaikan namun ternyata tidak. Saya heran sekali dengan pelayan Bank itu. Belum lagi saya juga di kenakan biaya ganti kartu 25 ribu. Bah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bila memang disuruh bayar mengapa jadi dipersulit proses pergantiannya. Payah sekali. Lantas saya keluar ruangan Bank dengan perasaan dongkol. Tanpa mengucapkan apapun baik kepada CS apalagi Satpamnya. Setahu saya Bank lain tidak seperti itu. Bukti nyatanya sewaktu saya mengurus di kantor Cabang lain dekat perumahan petugas CS dengan senang hati membantu membuka blokir dan harap dicatat tanpa membayar seperakpun.Tidak berhenti sampai disana, kekesalan hati ternyata berlanjut. Saya pikir memasuki malam pergantian tahun perjalanan dengan menggunakan Kereta Api akan lancar. Dugaan saya kembali keliru. Kereta yang seharusnya tiba pukul 16.30 ternyata baru sampai di Stasiun Kota jam 17.00. Tambah lagi Kereta yang akan saya tumpangi itu ternyata kereta gabungan. Penumpang kereta Pakuan digabung dengan kereta Depok Ekspress. Astaga mengapa belum selesai juga perbaikan gerbong-gerbong kereta itu. Akhirnya penumpang berjubel di kereta itu sama persis dengan hari kerja biasa. Dan satu hal yang paling menyebalkan masih saja penumpang yang tak tahu diri. Beberapa orang ibu ditengah kepadatan penumpang sore itu mereka dengan santainya tetap saja duduk dengan menggunakan kursi lipat. Saya kesal sekali atas tingkah laku mereka. Mbok ya ibu-ibu berjilbab itu sudi berdiri seperti penumpang lain yang sedang berdesakan tapi sayang sekali mereka tidak memiliki hati sedikitpun. Saya berharap sekali dapat menjatuhkan diri keatas mereka namun tidak terjadi. Seorang ibu berjilbab yang baik hati memberikan tempat duduknya kepada anak dan isteri mengatakan kepada isteri bahwa saya dilihat oleh anggota geng ibu-ibu yang duduk dengan kursi lipat. Saat itu saya siap jika memang harus berselisihan paham dengan kelompok atau geng penumpang yang dengan seenaknya sendiri ingin mencari kenikmatan ditengah kepadatan penumpang. Saya sudah seringkali menjumpai kelompok seperti ini. Mereka sudah dalam tahap mengganggu penumpang lain. Semoga saja mereka semua membeli tiket. Herannya indikasi seperti itu tak pernah berani di tegur oleh para petugas keamanan yang ada digerbong. Saya sudah pernah mengambil foto anggota geng seperti ini yang membayar kolektif. Wah payah sekali. Bagaimana ingin maju jika seperti ini terjadi disetiap gerbong. Keberadaan geng atau kelompok ini akan mudah dijumpai di gerbong 2 atau gerbong 7. Mereka akan mengambil tempat di dekat sambungan antar gerbong. Lengkap sudah layanan buruk kereta api diterima oleh penumpang hingga akhir tahun. Sayang sekali. Hari Kamis 30 Desember 2010 kemarin merupakan hari kekecewaan saya. Dua kali saya memperoleh perlakuan tidak layak oleh lembaga pelayanan umum. Pelayanan buruk diberikan oleh Bank dan Kereta Api. Saya memimpikan pelayanan prima akan diberikan oleh Bank dan Kereta api. Sayangnya kapan ya semua itu terwujud ?

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok

Posted on 31/12/2010, in ROKER. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. mbojosouvenir

    sebenarnya mereka menjalankan prosedur dengan meminta buku tabungan tersebut. Dan ini demi kebaikan bapak juga menurut saya, siapa tahu terjadi pencurian ID. Tapi kalo masalah bayar untuk ganti kartu itu perlu dipertanyakan, setahu saya, tinggal kita menunjukan KTP dan buku tabungan sudah cukup😀

  2. Terima kasih atas pencerahannya. Namanya lg dongkol saat itu bu jd anggap smuanya gak bener. Satu Bank tp beda layanan, beda cabang beda pelayanan. Makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: