Natal Pertama Kali Tanpa Papa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Natal adalah peristiwa sukacita bagi seluruh manusia. Sukacita sebab Tuhan Yesus lahir kedunia menjadi sama dengan manusia. Allah rela mengirimkan Putra tunggalnya untuk mengerjakan karya keselamatan bagi umat kesayangannya.

Secara umum peristiwa Natal pasti membawa kebahagian juga bagi saya seperti halnya tahun-tahun sebelumnya. Namun untuk tahun 2010 ini, Natal menjadi peristiwa pertama kali bagi saya untuk merayakannya tanpa kehadiran orang terkasih, yakni Papa atau Opa.

Berangkat dari ketidak inginan untuk merasakan kesedihan yang berlarut saya merencanakan untuk mengajak Mama dan anggota keluarga lain merayakan Natal dengan cara yang sedikit berbeda. Saya sudah membicarakannya dengan istri jauh-jauh hari sebelum Minggu Advent tiba. Apabila biasanya sehabis doa malam natal kami menanti kedatangan tetangga dan sanak saudara, untuk tahun 2010 ini, saya mengajak mama dan ponakan berkunjung kerumah saudara, cucu, ponakan dari keluarga mama dan papa. Aneh memang sebab biasanya yang muda akan datang kepada yang lebih tua atau dituakan. Ini malah terbalik yang tua mengunjungi yang muda dulu. Biarlah tahun ini hal itu saya singkirkan terlebih dahulu. Meskipun mungkin mendapat tantangan dari kakak dan abang saya namun tetap saja tanggal 25 Desember 2010 lalu, mama saya ajak “baronda” istilah dikami. Daripada duduk diam dirumah, menanti dan pikiran menerawang memikirkan kehilangan papa, opa, ada baiknya saya mengajak jalan-jalan di kota Jakarta.

Selain pergi baronda saat Natal, mama dan seluruh keluarga di Cimanggis dan Cibubur pada keesokan hari atau Natal hari kedua, saya ajak berangkat menuju ke Bukit Pelangi. Disini kami sebenarnya tak sekedar berkumpul saja ada rencana membicarakan hal lain. Selama ini kami selalu berkumpul hanya saat kedukaan saja, jadi ke depan saya memimpikan kami dapat melakukan kegiatan pertemuan rutin bukan saat duka cita namun saat yang normal. Bisa jadi berupa arisan keluarga atau sejenisnya dimana di dalamnya nanti akan disisipi unsur ibadah. Sebagai langkah awal rencananya ingin membuat ibadah Natal di tempat ini namun dikarenakan keterlambatan kedatangan kami ke Wisma di Sentul itu maka acara ibadah ditiadakan.

Meskipun tujuan berkumpulnya keluarga besar Papa, Mama tak tercapai namun paling tidak saya dapat mengesampingkan sementara di hari istimewa rasa kehilangan terhadap Papa yang masih dirasakan betul oleh kami terlebih kakak Fani dan Bang Herman.

Komentar dari mereka semua, waktu semalam katanya belum cukup untuk menginap di tempat seperti itu. Jadi saya masih melihat nilai positif kegiatan seperti ini, paling tidak kedepan acara kumpul keluarga dapat disusun dengan rapi dan lebih baik lagi.

Natal 2010 adalah Natal pertama kali tanpa Papa. Untuk mengurangi rasa kehilangan, cara seperti ini setidaknya berhasil. Saya yakin Papa akan sangat senang melihat anak cucunya berkumpul dihari bahagia. Saya tahu benar Papa suka sekali kegiatan kumpul basudara seperti yang pernah ia rintis dengan pembentukan HOIRIWA, sebuah perkumpulan masyarakat Pulau Kisar di Jakarta.

Selamat Natal Keluarga ku….Tuhan Memberkati !

Iklan

About oomwil

from Budi Kemuliaan to Cijantung, Serang Banten, Semarang, Cimanggis, Depok, Ambon

Posted on 29/12/2010, in Keluarga. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: